Friday, November 28, 2025

Sinopsis "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" Bahasa Indonesia

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
by: Brian Khrisna

Seperti malam-malam lain, aku pulang selepas lembur. Tak ada yang menantiku di rumah. Dulu, kupikir merantau ke Ibukota akan mengubah hidupku menjadi lebih baik. Ternyata justru menjadi kota yang membuatku benar-benar ingin berhenti menjalani hidup.

Namaku Ale, umurku 37 tahun, dan aku didiagnosis depresi akut tiga bulan lalu. Tidak ada yang Istimewa di hidupku. Bentuk badanku yang tinggi 189 cm dengan berat badan 138 kg dan kulit hitam ini membuat orang-orang enggan mendekat lebih lama. Orang yang kuanggap teman, mempunyai banyak teman baik dan aku bukan salah satunya. Setelah ditelusuri oleh psikiaterku, ternyata bibit depresiku ini sudah muncul sejak aku kecil. ‘Genderuwo’ dan ‘babon’ adalah kata-kata yang paling sering disematkan kepadaku. Dengan meniup api lilin di kue ulangtahun yang terakhir, aku bertekad akan bunuh diri 24 jam dari sekarang.

Pukul tujuh pagi di hari yang sama, aku memutuskan untuk bolos kerja hari ini. Pukul sembilan, kubersihkan kamar. Pukul sepuluh, kubersihkan diri. Pukul sebelas, kutulis surat kematian. Pukul dua belas, aku mengajak satpam untuk makan siang bersama. Pukul satu siang, aku mengambil sisa tabunganku lalu pergi mengunjungi psikiater. Pukul empat sore, aku menyempatkan mampir ke pet shop, kemudian duduk di taman kota. Selepas azan maghrib, aku pergi ke tempat karaokean, diikuti dengan mabuk dan berjoget sepuasnya di tengah area dansa hingga mereka mengusirku. Setelah sempat tertidur, aku mengambil botol obat yang akan menjadi algojoku, dimana kudapati tulisan “dikonsumsi sesudah makan.” Bayangan betapa nikmatnya seporsi mie ayam, mengarahkanku pergi ke luar hanya untuk mendapati mie ayam-nya tutup.

Aku ingin mati, tapi ingin mie ayam juga. Hal ini mengarahkanku ke rumah si penjual, Pak Jo, yang tenyata baru saja meninggal dunia. Aku yang ingin mati ini, malah membantu prosesi kematian orang lain; Tuhan benar-benar maha bercanda. Dalam perjalanan pulang, kuputuskan untuk membeli rokok di sebuah warung hanya untuk mendapati diriku ditangkap oleh intel.

Aku di gelandang dengan kasar sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam sel tahanan. Dua hari kemudian, orang baru datang dengan santainya, sebagai penguasa sel kami, namanya Murad. Napi baru tiba dengan angkuh, membuatnya babak belur dihajar Murad. Ia kemudian menghampiriku dengan sikap ganasnya, menanyakan bagaimana bisa aku berakhir di sini. Beberapa hari kemudian, Murad menceritakan kisahnya, membuatku kahirnya mengertai apa yang terjadi, dimana Murad berpesan bahwa lebih mudah bagi kita yang hidup dan besar di jalanan untuk menjadi orang jahat daripada menjadi orang baik. Besoknya, aku pun dibebaskan, begitu juga dengan Murad yang mengajakku untuk bekerja padanya. Aku yang sempat terdiam, mendapati pukulan dari Murad diikuti arahan, dan aku pun meminta untuk menelpon Ibu terlebih dahulu.

Kami tiba di dekat palang kereta api, menyusuri gang hingga tiba di sebuah gapura dengan sebuah logo burung cangak. Esok harinya, Murad membangunkanku dengan kasar dan mengataiku, mengajakku untuk ikut melihatnya melakukan penagihan sebelum menyuruhku untuk melakukan hal yang sama. Sikap pengecutku membuatku mendapatkan pukulan demi pukulan dari Murad, yang akhirnya menyadarkanku untuk bersikap tak takut mati. Dan pada pertarungan antara geng Murad dengan geng saingan, aku bersikap tak takut mati di hadapan gerombolan musuh, yang terkejut melihat sikapku dan merasa ciut. Rumor pun mulai beredar di kalangan geng perihal diriku. Di saat cuti, kudapati Murad sempoyongan, diikuti adiknya, yang ternyata bekerja di Lanyard, tempatku bekerja. Mendapati sikap sang adik kepadaku, Murad memberikan sikap persahabatan, dan kemudian memberikan tato penghormatan di punggungku. Hari-hari berjalan biasa, Aku pun menempelkan tanganku di atas nama “Blek” seperi yang selalu Murad lakukan.

Murad kembali hanya mengajakku, dan ternyata menuju salah satu klub malam, dimana Murad mendapati sapaan hangat dari Mami Louisse. Setelah transaksi, Murad meminta barang baru dan pergi membawa gendis ke tempat yang telah disiapkan. Di saat Mami Louisse pergi, aku berbincang-bincang dengan Juleha. Mengetahui kisah cintaku, Mami mengungkapkan bahwa di hadapan orang yang tepat kita tak perlu memohon apa-apa. Bahwa aku sendiri belum bisa mencintai diri sendiri. Tak lama kemudian, aku bertemu dengan Ipul, yang segera mengajakku pergi.

Ipul membawaku ke kontrakannya, menyeduhkan kopi untukku dan menceritakan kisahnya disertai rasa terimakasih yang dalam, membuatku tertegun. Ipul juga menceritakan bahwa beberapa orang di kantor menanyakan keberadaanya, membuatku menyadari bahwa hal-hal yang kita anggap kecil bisa berarti besar buat orang lain. Mendapati keadaanku, Ipul mengungkapkan bahwa hidup akan lebih mudah jika kita bisa belajar menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai berkah yang asing. Selepas sholat shubuh, aku menemani Ipul mengantarkan kue bolu pada Bu Murni, yang menatapku dengan sikap dingin dan tidak berkata sepatah kata pun. Sementara Ipul segera pulang ke rumahnya untuk menghadapi Murad, aku mendapati Bu Murni memberikan sikap hangat disertai permintaan maaf padaku. Mendapati tangisanku, Bu Murni memberikan pelukan hangat, mengusap punggungku dan berpesan agar aku mencari seseorang yang rasa cintanya sebesar rasa cintaku kepadanya. Aku pun memutuskan untuk mengantarkan kue bolu ke tempat-tempat penjualan, dimana dalam prosesnya aku bertemu Pak Uju, penjual layangan yang mengungkapkan terimakasihnya padaku. Rasa penasaran Pak Uju mengarahkan kami saling bertukar cerita, dimana Pak Uju menceritakan kisahnya disertai filosofi layangan.

Dalam perjalanan pulang, kembali ke kontrakan, aku berpapasan dengan seorang penjual buta, Pak Jipren, yang ternyata satu arah denganku. Aku pun memenuhi permintaanya untuk menemaninya pulang. Dalam prosesnya, Pak Jipren menerima tawaran makan dari seorang pemilik warung, dimana aku bertemu kembali dengan teman sma. Dalam kekesalan, aku pergi ke toilet umum untuk meredakan amarah hanya untuk mendapati Pak Jipren mempertanyakan keadaanku, mengarahkanku untuk meluapkan semua rasa kemarahan. Aku kemudian menceritakan kisahku pada Pak Jipren, yang mengungkapkan bahwa sometimes we need close our eyes to truly see the world. Kami pun akhirnya melewati TPU dan tiba di tempat tinggal para tunanetra. Hal ini mengajarkanku bahwa yang paling penting bukanlah melihat melalui mata melainkan melihat melalui rasa.

Aku sekarang duduk di tempat semua ini bermula, membiarkan hujan membasuh seluruh jiwa Ruslan Abdul Wardhana. Setelah mengecek ponsel, aku memacu motorku menjauhi kantor, pergi menyusuri hari-hari dimana Tuhan menuntunku. Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunya kemampuan untuk menerima.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


0 comments:

Post a Comment

 
;