Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
by: Brian Khrisna
Seperti
malam-malam lain, aku pulang selepas lembur. Tak ada yang menantiku di rumah.
Dulu, kupikir merantau ke Ibukota akan mengubah hidupku menjadi lebih baik.
Ternyata justru menjadi kota yang membuatku benar-benar ingin berhenti
menjalani hidup.
Namaku
Ale, umurku 37 tahun, dan aku didiagnosis depresi akut tiga bulan lalu. Tidak
ada yang Istimewa di hidupku. Bentuk badanku yang tinggi 189 cm dengan berat
badan 138 kg dan kulit hitam ini membuat orang-orang enggan mendekat lebih
lama. Orang yang kuanggap teman, mempunyai banyak teman baik dan aku bukan
salah satunya. Setelah ditelusuri oleh psikiaterku, ternyata bibit depresiku
ini sudah muncul sejak aku kecil. ‘Genderuwo’ dan ‘babon’ adalah kata-kata yang
paling sering disematkan kepadaku. Dengan meniup api lilin di kue ulangtahun
yang terakhir, aku bertekad akan bunuh diri 24 jam dari sekarang.
Pukul
tujuh pagi di hari yang sama, aku memutuskan untuk bolos kerja hari ini. Pukul
sembilan, kubersihkan kamar. Pukul sepuluh, kubersihkan diri. Pukul sebelas,
kutulis surat kematian. Pukul dua belas, aku mengajak satpam untuk makan siang
bersama. Pukul satu siang, aku mengambil sisa tabunganku lalu pergi mengunjungi
psikiater. Pukul empat sore, aku menyempatkan mampir ke pet shop, kemudian
duduk di taman kota. Selepas azan maghrib, aku pergi ke tempat karaokean,
diikuti dengan mabuk dan berjoget sepuasnya di tengah area dansa hingga mereka
mengusirku. Setelah sempat tertidur, aku mengambil botol obat yang akan menjadi
algojoku, dimana kudapati tulisan “dikonsumsi sesudah makan.” Bayangan betapa
nikmatnya seporsi mie ayam, mengarahkanku pergi ke luar hanya untuk mendapati
mie ayam-nya tutup.
Aku
ingin mati, tapi ingin mie ayam juga. Hal ini mengarahkanku ke rumah si
penjual, Pak Jo, yang tenyata baru saja meninggal dunia. Aku yang ingin mati
ini, malah membantu prosesi kematian orang lain; Tuhan benar-benar maha
bercanda. Dalam perjalanan pulang, kuputuskan untuk membeli rokok di sebuah
warung hanya untuk mendapati diriku ditangkap oleh intel.
Aku
di gelandang dengan kasar sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam sel tahanan. Dua
hari kemudian, orang baru datang dengan santainya, sebagai penguasa sel kami,
namanya Murad. Napi baru tiba dengan angkuh, membuatnya babak belur dihajar
Murad. Ia kemudian menghampiriku dengan sikap ganasnya, menanyakan bagaimana
bisa aku berakhir di sini. Beberapa hari kemudian, Murad menceritakan kisahnya,
membuatku kahirnya mengertai apa yang terjadi, dimana Murad berpesan bahwa
lebih mudah bagi kita yang hidup dan besar di jalanan untuk menjadi orang jahat
daripada menjadi orang baik. Besoknya, aku pun dibebaskan, begitu juga dengan
Murad yang mengajakku untuk bekerja padanya. Aku yang sempat terdiam, mendapati
pukulan dari Murad diikuti arahan, dan aku pun meminta untuk menelpon Ibu
terlebih dahulu.
Kami
tiba di dekat palang kereta api, menyusuri gang hingga tiba di sebuah gapura
dengan sebuah logo burung cangak. Esok harinya, Murad membangunkanku dengan
kasar dan mengataiku, mengajakku untuk ikut melihatnya melakukan penagihan
sebelum menyuruhku untuk melakukan hal yang sama. Sikap pengecutku membuatku
mendapatkan pukulan demi pukulan dari Murad, yang akhirnya menyadarkanku untuk
bersikap tak takut mati. Dan pada pertarungan antara geng Murad dengan geng
saingan, aku bersikap tak takut mati di hadapan gerombolan musuh, yang terkejut
melihat sikapku dan merasa ciut. Rumor pun mulai beredar di kalangan geng
perihal diriku. Di saat cuti, kudapati Murad sempoyongan, diikuti adiknya, yang
ternyata bekerja di Lanyard, tempatku bekerja. Mendapati sikap sang adik
kepadaku, Murad memberikan sikap persahabatan, dan kemudian memberikan tato
penghormatan di punggungku. Hari-hari berjalan biasa, Aku pun menempelkan
tanganku di atas nama “Blek” seperi yang selalu Murad lakukan.
Murad
kembali hanya mengajakku, dan ternyata menuju salah satu klub malam, dimana
Murad mendapati sapaan hangat dari Mami Louisse. Setelah transaksi, Murad
meminta barang baru dan pergi membawa gendis ke tempat yang telah disiapkan. Di
saat Mami Louisse pergi, aku berbincang-bincang dengan Juleha. Mengetahui kisah
cintaku, Mami mengungkapkan bahwa di hadapan orang yang tepat kita tak perlu
memohon apa-apa. Bahwa aku sendiri belum bisa mencintai diri sendiri. Tak lama
kemudian, aku bertemu dengan Ipul, yang segera mengajakku pergi.
Ipul
membawaku ke kontrakannya, menyeduhkan kopi untukku dan menceritakan kisahnya
disertai rasa terimakasih yang dalam, membuatku tertegun. Ipul juga
menceritakan bahwa beberapa orang di kantor menanyakan keberadaanya, membuatku
menyadari bahwa hal-hal yang kita anggap kecil bisa berarti besar buat orang
lain. Mendapati keadaanku, Ipul mengungkapkan bahwa hidup akan lebih mudah jika
kita bisa belajar menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai berkah yang asing.
Selepas sholat shubuh, aku menemani Ipul mengantarkan kue bolu pada Bu Murni,
yang menatapku dengan sikap dingin dan tidak berkata sepatah kata pun. Sementara
Ipul segera pulang ke rumahnya untuk menghadapi Murad, aku mendapati Bu Murni
memberikan sikap hangat disertai permintaan maaf padaku. Mendapati tangisanku,
Bu Murni memberikan pelukan hangat, mengusap punggungku dan berpesan agar aku
mencari seseorang yang rasa cintanya sebesar rasa cintaku kepadanya. Aku pun
memutuskan untuk mengantarkan kue bolu ke tempat-tempat penjualan, dimana dalam
prosesnya aku bertemu Pak Uju, penjual layangan yang mengungkapkan
terimakasihnya padaku. Rasa penasaran Pak Uju mengarahkan kami saling bertukar
cerita, dimana Pak Uju menceritakan kisahnya disertai filosofi layangan.
Dalam
perjalanan pulang, kembali ke kontrakan, aku berpapasan dengan seorang penjual
buta, Pak Jipren, yang ternyata satu arah denganku. Aku pun memenuhi
permintaanya untuk menemaninya pulang. Dalam prosesnya, Pak Jipren menerima
tawaran makan dari seorang pemilik warung, dimana aku bertemu kembali dengan
teman sma. Dalam kekesalan, aku pergi ke toilet umum untuk meredakan amarah
hanya untuk mendapati Pak Jipren mempertanyakan keadaanku, mengarahkanku untuk
meluapkan semua rasa kemarahan. Aku kemudian menceritakan kisahku pada Pak
Jipren, yang mengungkapkan bahwa sometimes we need close our eyes to truly see
the world. Kami pun akhirnya melewati TPU dan tiba di tempat tinggal para tunanetra.
Hal ini mengajarkanku bahwa yang paling penting bukanlah melihat melalui
mata melainkan melihat melalui rasa.
Aku
sekarang duduk di tempat semua ini bermula, membiarkan hujan membasuh seluruh
jiwa Ruslan Abdul Wardhana. Setelah mengecek ponsel, aku memacu motorku
menjauhi kantor, pergi menyusuri hari-hari dimana Tuhan menuntunku. Aku belajar
bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi
mempunya kemampuan untuk menerima.
Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!
Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.




- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact