Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts
Friday, October 10, 2025 0 comments

Sinopsis "Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai - Emha Ainun Nadjib" Bahasa Indonesia

 Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai
by: Emha Ainun Nadjib

Refleksi Ubudiah

Dalam hidup yang makin sengkarut, kaca kejiwaan kita menjadi buram oleh debu-debu kotoran. Maka, alangkah butuhnya kita akan guyuran hujan, alangkah dahaga kita akan pencahayaan—mungkin sehari lima kali tidaklah cukup bagi jiwa kita yang sering kali terasa sudah karatan.

Tafakur itu “staf”-nya iradat, “buruh”-nya kemauan hati, computer drive-nya kehendak-kehendak rohani. Rasulullah Saw mengungkapkan bahwa engkau harus lebih tahu, harus sungguh-sungguh menguasai permasalahan dunia di mana engkau hidup. Adapun pemimpin adalah orang yang lolos sesudah menyibak desakan-desakan. Salahkah kalau seorang ulama melakukan shalat Istikharah untuk memohon petunjuk siapa sebaiknya pemimpinnya?

Bedug, gendang besar, dengan pola-pola aransemen musikalnya yang bermacam-macam adalah bagian dari kenikmatan budaya keislaman kami, yang katanya itu bidah. Mendapati adzan tanpa kualitas (dibandingkan pendahulunya), hati saya berdoa; “Ya Allah! Yang hamba mohonkan hanyalah jangan sampai ada orang yang tidak kerasan dalam Islam gara-gara mendengar adzan yang demikian.” Dari Muhammadiyah-lah saya mengetahui bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan.

Ada jarak yang tidak terkirakan antara pengetahuan dengan ilmu. Jika ilmu, yakni penghayatan akan kebenaran bersenyawa dengan cinta, maka tercapailah tataran takwa. Dan takwa itulah target puasa. “Makan hanya ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang” adalah formula tentang kesehatan hidup. Maka, yang bernama “makan sejati” ialah makan yang sungguh-sungguh untuk perut. Puasa adalah penguraian “nafsu” dari “makan”.

Saya menyebut pahala sebagai salah satu “terminal”. Artinya, ia bukan sesuatu yang harus kita jauhi, melainkan justru kita datangi. Atau, lebih tepatnya kita singgahi, kemudian kita tinggalkan. Lantas ke mana? Ke “terminal cinta terakhir”. Siapa lagi Dia kalau bukan Allah. Kalau obsesi kita adalah pahala dan surga, dan kalau itu kita utamakan, “Ibadah kapitalis” itu namanya. Puasa hadir untuk mengingatkan kita pada cinta dan tuntutan-Nya.

Idulfitri adalah momentum tertinggi, dimana bergema takbir, sebagai jalan kembali ke hadirat-Nya. Id dan fitri berarti kembali dan fitrah, sehingga mengidulfitri berarti kembali mengalam. Hal ini mengingatkan kita pada Ibu, Ibu Quran (Ummul Quran), sebagai cikal bakal ajaran cinta, kasih sayang, kepengasuhan dan pengelolaan. Oleh karena itu, puasa adalah media autokritik bagi manusia, komunitas, kebudayaan, dan peradaban. Dengan demikian, prinsip utama realitas Idulfitri ialah muthahhar (manusia yang tersucikan). Dan, firman “Ibu Quran” adalah pintu gerbang intelektualitas, kemudian spiritualitas, untuk memasuki “gelombang Allah”: “Maha-Ibu” dari kehidupan.

Allahu Akbar berarti Allah-lah Mahasebab dari segala sebab (Musabbilal Asbab). Dari itu, “Allahu Akbar” adalah ucapan-ucapan spontan yang seyogianya terlontar dari mulut dan batin kita kapan saja dan di mana saja.

Di samping prinsip kuantitatif bahwa puasa adalah menahan diri dari makan, minum, seks, dan segala maksiat—tema kualitatifnya selalu adalah “menahan nafsu”: suatu persoalan psikologis. Untuk itu, “rohani” ini harus menjadi perhatian khusus kita, bahwa “diri” manusia amat sederhana, tapi sekaligus amat tidak sederhana.

Beberapa kali kita mengalami dan menghayati kefitrian natural: bahwa gelar, pangkat, status sosial, fungsi birokrasi, dan seterusnya itu hanyalah apa, sedangkan siapa kita adalah manusia. Dan puncak pelajaran dan ujian hidup adalah bagaimana lulus menjadi manusia?

Sambil bersyukur, bersalaman, dan bermaaf-maafan melebur segala dosa serta mungkin dengan sedikit berpesta, insya Allah ada baiknya kita isi juga Idulfitri ini dengan aktivitas ke-“dalam”: suatu introspeksi. Dari kaca cermin itu (Islam ialah kepasrahan) tampaklah redupnya cahaya kemusliman pada perilaku sosial budaya kita. Seyogianya seorang pemeluk agama memang mesti menguasai betul apa yang dipeluknya; merespons secara Islam terhadap situasi masyarakat. Islam itu bergantung kreativitas manusia yang memeluknya; apakah kita sudah cukup intens dalam memasrahkan diri kepada Allah?

Haji adalah puncak totalitas penyatuan antara tiga dimensi; kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Ketika kita berputar mengeliling Ka'bah, kita seolah-olah melakukan “tarian sunnatullah”. Tatkala para hamba Allah itu bersujud, yang mereka sembah bukanlah Kakbah, melainkan simbolisasi ahad dan wahid. Syahadat memfokuskan diafragma idealisme hidup; Shalat mencahayai jiwa; Zakat melatih kesadaran akan hak orang lain; Puasa membuat manusia jadi pendekar kehidupan; dan Haji adalah madu dari semuanya.

Dengan rasa cemburu yang baik, dari jauh kita mengucapkan selamat dan salut kepada para penempuh ibadah haji, yang kemudian memiliki kesanggupan untuk “ghasal” dan “iqamah” (madu): memandikan lingkungannya, menegakkan kebenaran di tengah masyarakatnya. Zakat menawarkan penyempurnaan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ibadah haji adalah sebuah workshop pencerahan diri, tercerahkan secara intelektual, spiritual, mental, serta moral.

Para haji, ketika melakukan ihram, berkesempatan untuk mengalami puncak “Idulfitri”: menyadari universalitas dan universalisme, mengajak manusia untuk kembali sungguh-sungguh menjadi manusia. Haji, karena tingkat kualitas kemanusiaannya, adalah the main agent of social change.

Islam dan Perspektif Sosial Kemasyarakatan

Perilaku orang nonMuslim tidak jarang lebih Islam dibanding perilaku kita yang Muslim syahadat fasih ini. Jadi, kita harus siap menilai Muslim-kafir lebih dari sekadar gincu bibirnya. Dengan demikian, kita bisa menemukan makna Ukhuwah Islamiah secara lebih luas.

Kehidupan sedang bergerak maju, menuju pencapaian-pencapaian modern yang mengagungkan dan menggiurkan; tapi salah satu yang kita songsong dengan gerak maju itu ialah proses penguraian kebudayaan. Pola masyarakat tradisonal yang agraris-homogen merupakan wadah yang amat menguntungkan untuk terbinanya “Ukhuwah Islamiah” di kalangan kaum Muslim.

Kalau dalam lakon drama dakwah tokoh Fulan yang jahiliah mendadak insyaf sesudah dipetuahi oleh Ustaz Karim dengan beberapa ayat dan hadis, itu berarti sutradaranya tak memahami strategi hidup dan kurang mengamati dialektika batin mental seseorang dengan lingkungan yang memberinya pengalaman-pengalaman. Pertumbuhan kehidupan yang kita alami ini belum menunjukkan bahwa kebudayaan dan kemanusiaan kita benar-benar telah bersembahyang.

Kita semua (saudaraku seakidah) selalu bersatu dalam tauhidillah dan tak sebuah macam makhluk pun yang mampu memisahkan kesatuan kita itu, kecuali kekeruhan rohani kita sendiri: “marodhun fii quluubinaa”. Maka, tak ada pilihan lain kecuali tawaduk. Dari itu tak bisa tidak harus dimulai dari kesediaan kita semua untuk memerangi berbagai marodhun di dalam diri kita sendiri.

Islam dan Perspektif Kemasyarakatan

Minggu 30 Juni 1990, Pak Kiai Gontor meplokramirkan drama kolosal ‘Bani Khidlir” diikuti oleh tiga ribu santri disertai kisah Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai. Gontor memang gawat, sistem pematangan santri yang solid, mobilitas kerja tinggi, dan keterbukaan yang tiada bandingnya.

Kaum santri tidak memerlukan idiom “santri cendekiawan” karena salah satu substansi kesantrian adalah kecendekiawanan. Sesungguhnya dengan “etos santri”, kaum santri adalah penghuni garda depan dari proses modernisasi. Di tengah keprihatinan tentang “terlibatnya” kaum santri tersebut, saya memandang Pesantren Gontor dengan optimis.

Pembangunan nasional yang murni sebaiknya tidak memusatkan keberangkatannya dari subjektivitas santri atau abangan, tetapi dari objektivitas pembangunan itu sendiri: kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, dan demokrasi. Di kalangan rakyat, santri dan abangan sudah dengan sendirinya terbiasa bekerja sama dalam pembangunan, sementara di kalangan birokrasi dan elite kekuasaan bisa mulai muncul aspirasi politik santri tanpa otomatis dicurigai sebagai antinasionalisme.

Seorang mubaligh yang letih memberikan khotbah dan ceramah memutuskan untuk berhenti mengkritik dan meminta orang-orang untuk mulai mengkritik diri sendiri disertai pertanyaan; apakah kita benar-benar ingin menegakkan sesuatu?!

Di antara berbagai kunjungan Idulfitri, saya mencatat silaturahmi ke Pondok Gontor, yang mengajarkan berendah hati (manusia sekadar bernilai “tiada” di hadapan Allah Yang Maha-ada), berbudi luhur (kependekaran untuk menaklukkan “kuda liar diri sendiri”), berpengetahuan luas (mendobrak segala tembok penjara kebodohan), dan berpikiran bebas (kreativitas dan demokrasi).

Dalam acara teater di Pesantren Tebuireng, Kiai Yusuf mengungkapkan bahwa wali sanga sukses berdakwah dengan teater, dimana ia berhasil menangkap ular berbisa. Dari itu, jangan hanya tahu teater thok tanpa kenal kebaikan dan kebenaran, jangan mau dakwah thok tanpa tahu estetika penyampaian.

Seorang Mubalig datang ke desa dengan membawa “SK Tajdid” tanpa “formal-survey” yang ilmiah. Mendapati Kiai pembaharuan memelihara anjing, kuungkapkan betapa baiknya memelihara anak yatim, bahwa agama bukan sekadar soal boleh dan tak boleh.

Betapa besar rasa syukurku kepada Allah jika datang seorang saudaraku menegurku dari kesesatan. Tapi Saudaraku, kapankah kita akan makin dewasa dan siap mengatasi kemelut zaman apabila harus berdebat soal-soal yang semestinya tak memerlukan perdebatan? Adapun bergurau itu bahwa di puncak tangisku aku tertawa, di puncak tawaku aku menangis.

Dari Abu Thalib dan Musailamah al-Kadzzab kita dapat melihat perjuangan syiar musik Islam yang terlalu sibuk dengan konsepsi intelektual dan kurang diimbangi oleh semangat kultural.

Tahun ini saya ikut memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw (1982), dan mendapati di sebuah masjid kampung seorang mubaligh sibuk menjual kaset selepas ceramah sementara Samroh tetap ditampilkan dan kemudian dipindahkan ke sisi masjid. Hal ini seakan Samroh tanjidor, mengingatkan kita yang sering kurang mampu menghargai manusia; apalagi “mencintai saudara-saudara seperti mencintai diri kita sendiri.”

Kiai Sudrun Gugat

Pengertian baku tentang sukses yang berlaku dan dipercaya oleh manusia modern hanya yang berasal dari filosofi dan ideologi—misalnya—materialisme, hedonisme, sekularisme, dengan “tarekat-tarekat” teknologisme dan industrialisme sebagai sarananya. Menang-kalahnya seseorang atau sukses-gagalnya seseorang tidak ditentukan oleh apakah ia kaya atau miskin, melainkan oleh kemenangan atau kekalahan mental orang itu terhadap kekayaan atau kemiskinan.

Kiai Sudrun mendirikan langgar. Semacam masjid kecil. Apa bukan musala namanya? Makna religiusnya memang sama saja. Masjid itu tempat bersujud. Musala itu tempat shalat. Menjadi orang Islam dan membangun budaya kaum Muslim terkadang memang dilematis. Kita butuh menunjukkan bahwa umat Islam ini punya eksistensi dan punya identitas khas.

Langgar Kiai Sudrun tak banyak diperhatikan orang hingga mereka dapati Sudrun kasadihan tidak ketulungan, mengungkapkan hadirnya Rasulullah Muhammad saw dan mempertanyakan sikap orang-orang atas kehadiran beliau.

Santri Delun secara khusus menemui Kiai Sudrun hanya untuk mendapati identitasnya dipertanyakan, dimana Kiai Sudrun kemudian mengungkapkan bahwa; guru yang bukan murid itu riya’ dan sombong, murid yang bukan guru itu goblok, kiai yang bukan santri itu sok, santri yang bukan kiai itu pasti tidak maju-maju, seorang bapak harus menaati anaknya; si bapak harus mendidik anaknya untuk menjadi pribadi yang pantas untuk ditaati.

Tengah malam, Sudrun tiba-tiba mendatangi saya sambil nggerundel, mengungkapkan bahwa sejuta orang beranggapan saya sedemikian pentingnya bagi mereka, hampir melebihi pentingnya Tuhan itu sendiri; maka akhirnya saya sendiri menomorsatukan diri, mengutamakan nama besar, melahap posisi, dan saya lupa bahwa saya tidaklah penting.

Akhirnya aku tahu bahwa ada perbedaan besar antara rasa sakit dengan penyakit. Lubang kuburanku menyadarkanku bahwa si bupati, si menteri, si bos besar, dan si pemimpin umat, seharusnya sudah sejak awal kukuburkan sendiri. Di hadapan Allah, baju itu tanggal. betapa terlambat aku mengakui bahwa pada hakikatnya aku ini tiada. Engkau sajalah yang sejati ada.

Sudrun selalu menangis, sebagaimana kalau ia bersujud selewat dua paruh malam. Ia berkata; “Pusatkanlah perhatian dan energi hidupmu kepada umatmu karena Allah lebih bersemayam di kandungan hati mereka dibanding hati pemimpin-pemimpinnya.” Ia kemudian bertanya; “Siapakah kamu?” dan mengungkapkan bahwa umat adalah fasilitas dari Tuhan, pemantul amanat-Nya.

Tatkala berkeliling menemui berbagai jemaah kaum Muslim di sebuah pulau, panitia yang membawa Kiai Sudrun memintanya agar memimpin doa khushushan, dimana doa-doa mereka sangat bersahaja.

Barangkali karena saking khusyuk dan getolnya memerankan diri sebagai khalifatullah fir-ardl, sebagai panitia atau takmir pengundang Sudrun menggunakan sikap dan pola manajemen sendiri. Mereka merubung tubuh Sudrun, bergelantungan di pundak dan lengannya, menjepit pinggangnya, mencabut rambut dan jenggotnya, terkadang menjegal kakinya.

Mengisi kuliah subuh di sebuah radio amatir, Sudrun menjadi lebih akrab dengan siaran-siaran radio lokal. Dimana ia mengungkapkan bahwa rock itu menggambarkan ghirroh, suatu semangat kejiwaan. Dari itu, diharapkan para pemusik Islam dapat menemukan ghirroh mereka sendiri.

Di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, diselenggarakan acara “pengajian puisi” secara rutin, dimana masyarakat dapat merasa sangat masyuk; menangis tersedu-sedu atau memekik-mekik menyesali dosa-dosanya.

Makhluk “manusia” dan makhluk “masyarakat”, dalam era kebudayaan dan pembangunan macam apa pun, tetap membutuhkan manifestasi dari kodrat fitrah mereka. Terlepas dari kemungkinan bahwa gejala tersebut sekadar merupakan langkah pengamanan diri secara psikologis dari orang-orang modern yang merasa banyak dosa?

Untuk urusan akademis di kampus, silakan pakai hukum kompetensi, tapi jangan terlalu dibawa-bawa keluar. Sekarang ini ‘abad reintegralisasi’, era ‘tauhid kebudayaan’, zaman multidisiplin pendekatan saling silang, penyadaran kembali terhadap kesalingterkaitan antar berbagai bidang.

Seperti juga banyak orang Islam yang lain, Kiai Sudrun sudah pernah “numpang shalat” di beberapa ratus masjid, dimana ia juga mengamati tipe-tipe pola-pola dan tema-tema khotbah. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang teduh dan menidurkan, dan ada juga yang berkobar-kobar penuh semangat, dimana khotbah-khotbah tersebut tak terkait dengan realitas sosial (khotbah antah-berantah).

Sudrun memenuhi undangan suatu kelompok masyarakat di pedalaman yang mengungkapkan bahwa masyarakatnya adalah ‘kerak’ sejarah; anak-anak terpilih selalu pergi meninggalkan mereka dan amat sedikit yang bersedia kembali pulang.

Dengan bil hikmah wal mau’idhah hassanah, Sudrun menemani anak-anak muda gitaran, menantang mereka berimprovisasi dan kemudian menciptakan lagu dan syair sendiri, diikuti dengan riset tradisi dan kasidah. Dan pada malam kelima dimana Sudrun tampil di acara Maulid Nabi di lapangan, anak-anak tersebut ia minta naik panggung.

Tak ada proses sejarah tanpa peran hidayah Allah, dan salah satu soal serius pada anak-anak muda ialah rasa terbuang, rasa diri sampah, tiadanya kepercayaan diri dan kepercayaan lingkungan. Pertumbuhan anak-anak muda pun terkait secara dialektis dengan problem menyeluruh dari lingkungan masyarakatnya.

Dewasa ini sastra sufi sedang ngetren, dimana terdapat sastra religius (sastra diniyah), sastra sufistik (tasawuf), serta sastra profetik (nubuwah). Sastra religius merupakan ungkapan kesadaran keilahian, yang jika dikhayati menjadi sufistik, dan jika menekankan pada tablig sosial nilai-nilai keilahian menjadi profetik.

Sebenarnya hidup ini hanyalah memilih ‘indallah ataukah ‘indannas, mata Allah atau mata manusia.” Kiai Sudrun suka memakai fabel, kisah-kisah binatang, untuk menyampaikan maksud-maksud dakwahnya, dimana ia mendapati hadirin pengajiannya makin meningkat disertai mendapatkan julukan Kiai Buntut.

Kiai Sudrun akhirnya menegaskan bahwa “wanita tidak boleh tampil”, dalam artian bahwa seorang wanita tidak boleh menonjolkan unsur-unsur kewanitaannya. Dimana pria yang sehat akal budinya hidup tidak terutama berdasar kesenangan, tapi kebaikan dan kesehatan.

Kiai Sudrun menjumpai suatu situasi umum yang merata, yakni keadaan “merasa miskin”. Namun, di suatu tempat Kiai Sudrun membantah itu dengan keras, mengungkapkan bahwa para organisator umatlah biang keladinya.

Dunia modern adalah produser utama anak-anak yatim, suatu tata hidup yang merenggangkan hubungan kasih kemanusiaan. Di negeri orang-orang berpengetahuan tinggi yang menyebut diri modern ini, dalam banyak hal, negara meyatimkan rakyatnya, pamong meyatimkan penduduknya, pemimpin meyatimkan umatnya, dan sebagai umat; siapakah bapak-ibu sejarah Anda?!

Mendapqti seorang pengemis yang membacakan ayat-ayat suci al-Qur’an, sahabat Sudrun mengungkapkan kesedihannya atas ekploitasi ayat suci untuk mencari nafkah. Hal ini mengingatkan Sudrun bahwa banyak dari pekerjaan orang Islam adalah mempermalukan Islam. Sahabat Sudrun kemudian mengungkit perihal panitia pembangunan masjid di jalan-jalan, dan Sudrun berkata; “Mereka mengemis dan membangun masjid, kita tidak mengemis dan tidak membangun masjid.”

Kiai Sudrun sedang amat rajin-rajinnya memacu dakwah bilisanil hal—dakwah dengan bahasa perbuatan, bahasa aktivitas, bahasa gerakan. Ia mengungkapkan perlunya umat Muslim untuk menyelenggarakan proses “reinstitusionalisasi” urusan-urusannya dengan mengadakan pojok-pojok aktivitas yang membumi di setiap masjid.

Azan itu mau dilantunkan dengan lagu apa pun dan bagaimanapun boleh, asal ia merangsang jiwa untuk memasuki rasa tauhid, dimana rendahnya mutu artistik azan-azan merupakan salah satu indikator dari keseluruhan dekadensi budaya keagamaan.

Kiai Sudrun dengan menggebu-gebu mengungkapkan bahwa; Kita harus ciptakan bukan hanya ‘orang Islam yang tidak miskin’, tapi juga ‘umat Islam yang tidak miskin’. Namun, ia mendapati orang-orang bersikap dingin dan canggung, dimana selepas acara seseorang memberitahunya bahwa orang yang menyambut kedatangannya adalah seorang rentenir.

Banyak orang iseng-iseng memanggil Sudrun dengan “Kiai”, dimana term “kiai” lebih terkait dengan kebudayaan Jawa dibanding dengan nilai Islam. Masalahnya: Sudrun merasa harus melawan “kulturalisme” semacam itu dan berkewajiban mendorong umat untuk lebih memakai objektivitas, serta lebih memprinsipi nilai-nilai religi di atas kultur.

Saat sedang berdiskusi dengan para jemaah kaum muda di sebuah masjid, beberapa orang berseragam mendadak muncul, mengarahkan Kiai Sudrun mengajak mereka ke beranda masjid untuk membicarakan perihal sopan santun dan pentingnya perizinan.

Baru tiba di kantor takmir masjid, utusan tiba untuk meminta Sudrun menemui Kapolresta, yang Sudrun terima dengan lapang dada, meminta Kapolresta untuk hadir bersama keluarganya. Selama pengajian, Sudrun seringkali menyebut namanya dengan nada gurau segar, sehingga keduanya saling tertawa selepas acara.

Karena sudah terlanjur menyanggupi, dalam keadaan sakit demam pun Kiai Sudrun berangkat. Ia tiba di mimbar seolah-olah sehat walafiat, segala sesuatunya beres.  Hanya saja ada diskusi aurat politik setelahnya, dimana Sudrun tidak punya uang sejumlah harga karcis kereta untuk kembali ke kota domisilinya.

Saat tengah memilih-milih kaus di sebuah toko, Kiai Sudrun terkejut mendapati tepukan seorang pemuda yang bertanya; “Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan Ekonomi Pancasila?” Segala sesuatu ada ruang dan waktunya.

Kalau kata ‘Arab dikurangi huruf ‘ain, yang tinggal adalah Rab. Rab itu artinya Tuhan. Penjelasannya: melalui proses religiusasi, universalisasi, serta transendensi dari segala tingkat budaya dan primordialitas, orang Arab tiba ke Rab. Inferioritas dan superioritas, dengan berbagai variasinya itu bagaikan anggota pasukan Abrahah yang menyerbu kesejatian Kakbah, ibadah haji, dan persaudaraan Muslimin maupun universal.

Subjek dan letak kepemimpinan ada pada keseluruhan makhluk dalam sistem semesta. Sesungguhnya, saya setuju pada “kecenderungan universalisasi Islam” model Gus Dur, yang menginginkan agar Islam diterapkan lebih sebagai “kata sifat” ketimbang “kata benda”. Untuk apa ada NU dan Muhammadiyah kalau organisasi keagamaan primordial seperti itu toh tidak elektif dan tidak cukup fungsional terhadap kebanyakan problem mendasar kehidupan kita? menyebarnya sikap dan pilihan politik umat Islam ke PPP, Golkar, maupun PDI, sebenarnya mencerminkan kenyataan bahwa konsep kepemimpinan umat Islam di Indonesia belum tertemukan.

Sosialisme adalah suatu sistem sosial yang merekayasa suatu komunitas dari format dan atmosfer kapitalisme ke komunisme. Bagaimana menjelaskan kepada rakyat dari negeri dengan trauma dahsyat revolusi 1965 ini bahwa sosialisme, komunisme, dan ateisme, misalnya, saudara kandung. Alhamdulil-Marx, bahwa kebanyakan rakyat kita relatif masih bisa didustai. Memerlukan agama tak berarti Anda harus memeluk suatu agama; Ia bisa berarti bisa memerlukan semacam “kerendahhatian” terhadap sesuatu yang lebih tinggi dan sejati. Agama boleh saja difungsikan sebagai semacam pohon pionir suatu serbuk yang tak berdiri sendiri sebagai pohon, tapi menabur dan menyifati pepohonan yang tumbuh—dengan nama apa pun. Apalagi sekarang adalah zaman ketika al-Islamu mahjubun bil-Muslimin; Islam ditutupi oleh pemeluk-pemeluknya sendiri.

Sesudah pertemuan yang melelahkan, saya berjalan ke masjid (sebuah gubug darurat) untuk ber-Isya’. Kami menangis dalam doa; “Doa kita adalah benih tanaman yang tak bisa tumbuh karena tanah perbuatan nyata hidup kita bukan tanah subur baginya.” Kalau boleh, aku ingin menyebutnya Masjid Al-Huzn; Masjid duka.

Kiai As’ad tak bersedia kembali dirumahsakitkan dan telah mengucapkan “Monggo!” kepada “nuwun sewu”-nya sang petugas maut, sambil mempersilahkan berkeliling-keliling pesantren menunggu “D-day” kewafatannya (4 Agustus 1990). Saya dihinggapi kecemasan, karena Gus Dur belum sempat sowan kepada beliau (tidak klop waktu dengan K.H. Ahmad Siddiq). Hal ini mengingatkan saya pada esai “Slilit sang Kiai”. Persoalannya mungkin bukan “harus dihapus itu lembaga musytasyar karena berlaku dominan dan intervensi”, melainkan “musytasyar yang bagaimana”; Kalau gigi kesakitan karena ada kerikil dalam nasi, jangan buang nasinya, tapi ambil dan buang kerikilnya saja.

Sering kali saya merasa ge-er bahwa jangan-jangan Pak Harto itu diam-diam memperhatikan omongan-omongan saya: “Kalau orang besar menempeleng orang kecil, ia kehilangan kebesarannya.” Jadi, kalau Pak Harto membuka pintu “hilangkan budaya membuka petunjuk”, jangan terlalu peduli apa asbabun nuzul-nya serta apa ‘illah politisnya.

Tatkala tokoh kita, Dr. Amien Rais, melemparkan ide mulia tentang zakat profesi, sekelompok ilmuwan fiqih menuduhnya “kafir”, sebab mewajibkan sesuatu yang tak wajib. Mungkin saja dia kufur dari level fiqih, namun meningkatkan diri ke tingkat akhlak dan cinta. Bukankah ayat-ayat tentang akhlak dan tentang cinta dalam Al-Quran jauh lebih banyak dibanding ayat-ayat fikih?!

Ilmu berasal dari bumi Allah, berpusat dari sumur firman (Al-Quran), yang diperoleh dari teknologi rohani: aku timbanya, zikir ibu talinya. Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa mendatangkan ibuku pada saat-saat terpenting dalam hidupku; Ia datang ketika partai memojokkanku untuk tampil di alun-alun Yogyakarta, juga saat ribut soal majalah yang menyebut-ku non-Islam. Seakan Ibu bergumam: “Aku yang ngandung anakku itu, ya Allah, akulah yang merasa sakit kalau ia disakiti ....”.

Bapak Haji Muhammad Soeharto, Presiden RI, menginstruksikan agar para gubernur berhati-hati terhadap tiga-ta: harta, tahta, dan wanita. Apakah itu adalah cermin betapa religiusnya bangsa kita?, adapun Sang Pencipta menyatakan bahwa “tidak ada paksaan dalam beragama”. Masalah sesungguhnya hanyalah “perempuan di atas piring”. Akan tetapi, itu suatu khusnul khothimah, dengan ditambah satu “ta” lagi; yakni mata-mata.

Terima kasih kepada Kepala Sekolah yang melarang siswinya yang memakai jilbab, sebab hal itu menjadi popularisasi jilbab. Hal ini menegaskan kenyataan dialektika, kalau tekanan-tekanan dilakukan: apa yang akan terjadi justru berlawanan.

Kematian Eyang Koko (Dr. Soedjatmoko), “embahnya” seluruh ilmuwan sosial di negeri ini, membuat kita semua menitikkan air mata. Eyang Koko telah lama ber-Isra—dalam arti mengembarai perspektif kosmopolitanisme. Maka, alam tafakur Eyang Koko kemudian ber-Mikraj. Dimana ia telah telah mengatakan sebait kata kepada kita semua, “Bangkitkan diri keagamaanmu, itulah jawaban satu-satunya bagi kebutuhan hari-hari di hadapanmu ....”

Ketika samudera manusia di Adisucipto men-subya-subya Panjenenganipun Paus Johannes Paulus II, saya dikagetkan dengan kedatangan Sayyidina Umar bin Khattab. Beliau membawa pedang raksasa, dan kemudian menanyakan; “Mana Sekaten!?”

Malam yang hanya bisa dibayangkan sebagai lebih baik daripada malam-malam seribu bulan; Khairun min alfi syahr. pada Lailatul Qadar, ditawarkan kepada kita previlese. Allah menerima permintaan Anda secara “ahistoris”. Dalam konteks iradat, pengampunan mendasarkan diri pada hisab, sementara dalam konteks qadar, Allah memberi grasi ….

Ketika Nabi Hud hidup, hanya beberapa dekade belaka sesudah zaman Adam, Idris, dan Nuh, manusia dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit. Peradaban anti tauhid level filosofi ala Namrudisme di antitesis oleh tauhidisme Ibrahimiyah. Peradaban anti tauhid pada skala filosofis, intelektual-strategi, serta kemudian skala kebudayaan-peradaban tersebut memuncak pada komplikasi peradaban jahilisme yang memerlukan insan kamil bernama Muhammad. Ketika abad demi abad berlalu sesudah Muhammad, jahilisme itu mengalami beberapa kali modifikasi bentuk, tapi esensi persoalannya sama; paradigma struktur Ka'bah sebagai terapinya.

Nilai-nilai Islam bisa berbeda atau bertentangan, bergantung anggota kelas sosial mana yang menginterpretasikannya. Pengembangan Islam itu sendiri dilakukan dengan “politik pedang”. Sikap apriori dan ketidakadilan pandangan Islam seperti itu ditunggangi pula oleh kaum orientalis; Islam jadi pelanduk.

Ketika tulisan ini saya ketik, 104 saudara kita telah terbang bersama para malaikat meninggalkan ufuk semesta; Bagaimana kita menyikapi kematian? Senjata kita hanya satu: pasrah, apa pun saja kita pasrahkan kepada-Nya; juga kebingungan, kecemasan, duka, atau pun kegembiraan.

Kisah unta sahabat Rasulullah mengungkapkan adanya perbedaan serius antara musibah dengan kesembronoan manusia. Hal ini juga bisa kita saksikan dalam musibah terowongan di Arab Saudi.

Salah satu doa Rasulullah, yang disebut di surat Al-Anbiya adalah, “Gusti, hakimilah dengan kebenaran ....” Oleh karena itu kita semua harus senantiasa belajar memperlakukan segala peristiwa dengan kebenaran dan keadilan. Dari itu, kita tidak boleh berpendapat Arab sama sekali tak bersalah; Memaafkan adalah memaafkan, kesalahan adalah kesalahan.

Beberapa tahun saya ikut menemani sejumlah anak muda Muslimin-Muslimat berkesenian, dan saya sering menyebut mereka “anak yatim”. Mereka itu tak ada yang menyirami sampai kemudian seorang ibu tua, seorang tokoh pemimpin Pusat Aisiyah, mengulurkan tangan. Ibunda sepuh itu percaya bahwa karya-karya seni budaya sudah saatnya dijadikan sebagai salah satu metode dakwah.

Imam Masjid Al-Aqsha (“alladzi barakna haulah?) mengemukakan kegembiraannya atas upaya solidaritas umat Islam Indonesia terhadap perjuangan Palestina. Meskipun segala kebatilan di Timur Tengah maupun di kampung kita sendiri sama-sama tidak bisa kita atasi, toh kita masih berhak untuk berdoa semoga “Pekan Palestina” ini tak berhenti sebagai romantisme kosong.

Keberadaan putra kiai yang mengikuti Festival Mobil Gila mencerminkan tingkat keadaan masyarakat kita yang sudah tak dipusingkan oleh kemiskinan, ketimpangan sosial, atau problem-problem lain.

Konsumerisme ialah keadaan ketika mekanisme konsumsi yang juga merupakan kasus ekonomi, kasus budaya, bahkan bisa dilatari atau ditujukan untuk proses-proses politik. Hal ini sebagaimana konflik terbuka antara Musa melawan Fir’aun (Q. S. ThoHa: 65-69). Landasan kriterianya bisa kita ambil; “Kuluu wasyrobuu, wa laa tusrifuu” (Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan).

Hari Lebaran saya kali ini ialah bercengkerama di sebuah pesantren, setelah enam belas tahun lebih tak ketemu Pak Kiai. Beliau mendadak berinisiatif untuk mengajak berkeliling, menyebut satu per satu, menjelaskan segala sesuatu yang kami datangi. Etos kesantrian di pondok ini selalu dipacu “berpikiran bebas”. Hal ini mengingat saya pada kultural “mafia Robin Hood”, dimana pak Kiai mendekati mereka “bilhikmah wal-mau’idhah hasanah”.

Gara-gara sebuah lembaga dakwah kampus menyelenggarakan Ramadan Pop, Maulid Pop, dan lain sebagainya, kini mewabah Pengajian Pop di kampung-kampung. “Pop” menggemakan

udara “pembebasan”, dengan adanya “aksesori” seperti pergelaran musik, pembacaan puisi, anak-anak muda memuisikan hadis dan dilagukan, dan seterusnya.

Hampir semalaman, di lesehan Malioboro, kami bercengkerama dengan seorang pejabat tinggi yang diam-diam digelari Kiai Kantong Bolong. Pertama, sudah pasti, karena hatinya lapang.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, April 18, 2025 0 comments

Sinopsis "Syarah Kitab al-Jami’ - Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam" Bahasa Indonesia

 Syarah Kitab al-Jami’
by: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam

1. Hak seorang muslim yang satu terhadap muslim yang lain ada enam: bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam untuknya; bila dia mengundangmu, maka penuhilah; bila dia meminta nasihat darimu, maka berilah nasihat; bila dia bersin dan mengucapkan 'alhamdulillah', maka bacakan untuknya 'yarhamukallah'; bila dia sakit, jenguklah; dan bila dia meninggal dunia, hantarkanlah (jenazahnya).

2. Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia) dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih patut dan agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.

3. Kebaikan itu (contohnya) akhlak yang baik, sedangkan dosa ialah sesuatu yang mengganggu di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.

4. Apabila kalian bertiga, maka janganlah yang dua orang berbisik tanpa menyertakan yang ketiga, atau sampai kalian bergabung dengan orang lain, karena yang demikian itu bisa membuatnya sakit hati.

5. Janganlah seseorang mengusir orang lain dari tempat duduknya, kemudian dia menduduki tempat tersebut. Tetapi, berikanlah kelonggaran dan keluasan.

6. Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka janganlah dia mencuci tangannya sebelum menjilatinya atau meminta orang lain menjilatinya.

7. Hendaklah yang muda mengucapkan salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, rombongan yang berjumlah sedikit kepada yang banyak.

8. Dibolehkan salah seorang dari satu rombongan yang lewat untuk mengucapkan salam mewakili teman-temannya dan boleh juga salah seorang dari satu rombongan yang diberi salam menjawabnya sebagai wakil dari teman-temannya.

9. Janganlah kalian mulai mengucap salam terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan apabila kalian menjumpai mereka di jalan, desaklah mereka ke bagian jalan yang sempit.

10. Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaklah mengucapkan: “Alhamdulillah”, dan saudaranya yang mendengar hal itu hendaknya mengucapkan: “Yarhamukallah”, adapun yang bersin menjawabnya dengan ucapan: “Yahdikumullah wa yushlihu baalakum.”

11. Jangan sampai salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri.

12. Apabila salah seorang di antara kalian memakai sandal hendaknya dia mendahulukan kaki kanan dan jika melepaskannya hendaknya dia mendahulukan kaki kiri. Jadikanlah kaki kanan yang lebih dahulu memakainya dan yang belakangan melepasnya.

13. Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal, hendaklah dia memakai keduanya atau melepas keduanya.

14. Allah swt tidak akan melihat orang yang melabuhkan pakaiannya karena kesombongan.

15. Apabila salah seorang dari kalian makan hendaklah dia makan dengan tangan kanannya, apabila dia minum hendaklah minum dengan tangan kanannya, karena setan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.

16. Makanlah, minumlah, kenakan pakaian, dan berinfaklah tanpa berlebihan dan tanpa perasaan tinggi hati.

17. Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan tetap dikenang baik setelah wafatnya, hendaklah dia menyambung kekerabatan.

18. Tidak akan masuk surga pemutus silaturahmi.

19. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kalian durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur hidup-hidup anak perempuan, mengabaikan kewajiban dan banyak menuntut haknya. Dan Ia membenci kalian berperilaku: menyukai gosip atau isu, banyak bertanya (sedikit beramal) dan menyia-nyiakan harta.

19. Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orangtua dan murka Allah juga tergantung pada murka kedua orangtua.

20. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak dianggap beriman seorang hamba sampai dia mencintai apa yang dicintai oleh tetangganya seperti dia mencintainya untuk dirinya sendiri.

21. Dosa-dosa terbesar: menjadikan sesuatu sebagai tandingan bagi Allah, membunuh anak, dan berzina dengan istri tetangga.

22. Termasuk dosa besar adalah seorang yang mencela kedua orangtuanya.

23. Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih tiga hari, keduanya saling bertemu namun yang satu membuang muka ke sini sementara yang lain membuang muka ke situ. Yang lebih baik dari keduanya adalah memulai salam.

24. Setiap kebaikan merupakan sedekah.

25. Janganlah kamu remehkan kebaikan sedikit pun, meski hanya berupa menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri.

26. Apabila kamu memasak daging maka perbanyaklah kuahnya, perhatikanlah para tetanggamu.

27. Barangsiapa memudahkan urusan orang lain, niscaya Allah akan memudahkan urusan-urusannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib-aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.

28. Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya.

29. Siapa saja yang meminta perlindungan dengan nama Allah, maka lindungilah dia. Siapa saja yang meminta sesuatu dengan menyebut nama Allah, maka berilah dia. Siapa saja yang pernah berbuat kebaikan kepada kalian, maka balaslah dia, jika kalian tidak mampu membalasnya; cukuplah dengan mendoakannya.

30. Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Dan diantara keduanya ada perkara-perkara samar, yang tidak diketahui kepastiannya oleh sebagian besar manusia. Maka siapa yang menjaga dirinya dari perkara samar tersebut, dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Sebaliknya siapa terjatuh dalam perkara samar, dia akan terjatuh dalam perkara yang haram. Sebagaimana penggembala yang menggembala di area terlarang, sangat mungkin ternaknya akan merumput di area tersebut. Ingatlah, setiap raja mempunyai (hima) area larangan. Ingatlah, area larangan Allah itulah perkara-perkara yang diharamkan oleh-Nya. Ingatlah, di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, jika ia baik, maka seluruh bagian tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Ingatlah, itulah hati.

31. Binasalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian, (yaitu orang yang) jika diberi dia ridha dan jika tidak diberi dia tidak ridha.

32. Jadilah engkau di dunia ini seperti perantau atau pengembara yang tengah melintas.

33. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.

34. Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, dan jika engkau hendak memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah.

35. Zuhudlah terhadap dunia; niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap kepunyaan manusia; niscaya manusia akan mencintaimu.

36. Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya, namun menyembunyikan diri.

37. Termasuk tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak menjadi tujuan hidupnya.

38. Tidak ada wadah milik keturunan Adam yang lebih buruk dari perutnya.

39. Setiap keturunan Adam pernah berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang mau bertaubat.

40. Diam itu hikmah, namun amat jarang yang melakukannya.

41. Berhati-hatilah kalian dari hasad karena hasad itu akan menghabiskan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.

42. Orang kuat itu adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.

43. Kezhaliman itu kegelapan pada Hari Kiamat.

44. Berhati-hatilah kalian dari kekikiran, karena kikirlah yang menghancurkan umat-umat sebelum kalian.

45. Salah satu hal yang dikhawatirkan Nabi atas umatnya adalah syirik kecil; riya’.

46. Tanda-tanda orang munafik; apabila berkata dusta, jika berjanji mengingkari, dan bila dipercaya khianat.

47. Memaki seorang muslim itu perbuatan fasik dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.

48. Waspadalah kalian dari prasangka, karena prasangka itu sedusta-dusta perkataan.

49. Diharamkan surga bagi seorang pemimpin yang berlaku curang.

50. Barang siapa mengurus umat dan mempersulit mereka, maka Allah akan mempersulitnya.

51. Apabila salah seorang dari kalian berkelahi, maka hendaklah menghindari bagian wajah.

52. Janganlah engkau marah! Janganlah engkau marah!

53. Neraka bagi mereka yang membelanjakan harta Allah tanpa semestinya.

54. Janganlah kalian saling berlaku zhalim.

55. Ghibah adalah membicarakan saudaramu dalam perkara yang dia benci.

56. Seorang muslim itu saudara muslim lainnya, sehingga terjaga; darah, harta, dan harga dirinya.

57. Rasulullah berdoa; “Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak, perbuatan, keinginan, dan penyakit, yang buruk.”

58. Janganlah engkau mendebat saudaramu, jangan mempermainkannya, dan jangan pula menjanjikan untuknya suatu janji lantas engkau mengingkarinya.

59. Dua sifat yang tidak akan pernah berkumpul pada diri seorang mukmin, yaitu; bakhil (kikir) dan perangai tercela.

60. Ada dua orang saling mencaci maki, dosa dari apa yang diucapkan keduanya ditimpakan kepada pihak yang memulai, selama pihak yang dizhalimi tidak melampaui batas.

61. Barangsiapa mencelakai seorang muslim, maka Allah pun akan membuatnya celaka. Barangsiapa mempersulit urusan kaum muslimin maka Allah pun akan mempersulitnya.

62. Orang mukmin bukan pencela, pelaknat, pelaku kekejian, dan suka berkata kotor.

63. Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal, karena mereka itu telah mendapat balasan dari perbuatannya.

64. Tidak akan masuk surga pengadu domba.

65. Barangsiapa menahan amarahnya, maka Allah akan menahan adzab-Nya dari dirinya.

66. Tidak akan masuk surga tukang tipu, orang bakhil, dan orang yang berperangai buruk.

67. Barangsiapa mencuri dengar pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak menyukainha, maka akan dituangkan ke dalam telinganya timah panas pada hari Kiamat.

68. Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri daripada aib-aib orang lain.

69. Barangsiapa merasa dirinya hebat dan cara berjalannya angkuh, maka dia akan menjumpai Allah dalam keadaan dimurkai.

70. Ketergesa-gesaan itu dari setan.

71. Kemalangan itu bersumber dari akhlak yang buruk.

72. Para tukang laknat tidak akan diizinkan memberi syafaat dan tidak akan dijadikan sebagai saksi pada hari kiamat.

73. Barangsiapa menjelek-jelekkan saudaranya karena satu dosa yang diperbuatnya, maka dia tidak akan mati sampai melakukan dosa yang sama.

74. Celakalah orang yang berbicara lalu dia bumbui dengan kedustaan untuk membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, kemudian celaka dia.

75. Kaffarah (denda) darimu untuk orang yang telah engkau ghibahi adalah engkau harus memohonkan ampunan baginya.

76. Golongan manusia yang paling dibenci di sisi Allah adalah mereka yang suka mencari musuh.

77. Peliharalah kejujuran, karena ia mengarahkan pada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan menuju surga. Begitu pula sebaliknya.

78. Waspadalah kalian terhadap prasangka, karena prasangka itu sedusta-dusta perkataan.

79. Hindarilah oleh kalian duduk-duduk di tepi jalan.

80. Barangsiapa yang dikehendaki Allah baginya kebaikan, niscaya Ia akan memahamkannya dalam urusan agama.

81. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam al-mizan (timbangan) selain akhlak mulia.

82. Malu itu sebagian dari iman.

83. Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.

84. Jika engkau ditimpa sesuatu musibah, maka jangan sampai engkau berkata, “Kalau saja saya melakukan yang demikian, niscaya akan terjadi yang demikian.” Lebih baik engkau katakan, “Allah-lah yang telah menakdirkan musibah ini, karena kata ‘kalau saja’ akan membuka pintu perbuatan setan.

85. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling berlaku tawadhu’.

86. Barangsiapa membela kehormatan saudaranya, maka Allah akan menghindarkan wajahnya dari api neraka pada Hari Kiamat.

87. Sedekah tidak mengurangi harta.

88. Sebarkanlah salam, sambung hubungan kekerabatan, berilah makan orang yang kelaparan, dan shalatlah di tengah malam saat manusia terlelap, niscaya kami akan masuk surga dengan selamat.

89. Agama itu kesetiaan; kesetiaan kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada para pemimpin kaum muslimin, dan kepada masyarakatnya.

90. Perkara yang paling banyak membuat masuk surga adalah takwa dan akhlak yang baik.

91. Sesungguhnya kalian tidak akan mampu membuat manusia merasa lapang dengan harta-harta kalian, namun dengan wajah yang ceria dan perangai yang baik.

92. Orang mukmin itu cermin bagi saudara mukmin yang lainnya.

93. Adalah baik Mukmin yang mau bergaul dengan orang-orang dan tetap bersabar menghadapi gangguan mereka.

94. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan penampilanku, maka baguskanlah akhlakku.

95. Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama hamba-Ku selama dia mengingat-Ku dan menggerakkan kedua bibirnya menyebut nama-Ku.

96. Tiada amalan keturunan Adam yang lebih dapat menyelamatkannya dari adzab Allah selain dzikrullah.

97. Tiada satu kaum pun yang bermajelis dan disitu mereka berdzikir kepada Allah, melainkan para malaikat akan mengelilinginya, diliputi oleh rahmat.

98. Tiada satu kaum pun duduk pada sebuah majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak pula bershalawat atas Nabi saw melainkan keberadaan mereka di majelis itu akan menjadi penyesalan pada Hari Kiamat.

99. Barangsiapa membaca laa ilaaha illallaah wahdahi laa syariika lahu (tidak ada ilah selain Allah yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya) sebanyak sepuluh kali, dia bagaikan membebaskan empat jiwa dari keturunan Ismail.

100. Barangsiapa mengucapkan; Subhanallaah wa bihamdihi (Mahasuci Allah dan segala puji hanya milik-Nha) sebanyak seratus kali, maka dosa-dosanya akan berguguran meskipun banyaknya sepertj buih di lautan.

101. Subhanallaahi wa bi jamdihi ‘adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midada kalimaatihi (Mahasuci Allah dan segala pujian hanya milik-Nya sebanyak jumlaj makjluk-Nya, sesuai dengan keridhaan Dzat-Nha, seberat timbangan ‘Arsy-Nha, dan sebanyak ju lah kalimat-kalimat-Nya) sepadan timbangannya dengan apa yang telah kamu baca seharian.

102. Amal shalih yang abadi adalah bacaan laa ilaaha illallah (tidak ada ilah selain Allah), subhanallah (Mahasuci Allah), Allahu akbar (Allah Mahabaesar), Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), dan laa haula wa laa quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan ziin Allah).

103. Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat, tidak masalah dari mana engkau memulainya; subhanallah (Mahasuci Allah), alhamdulillah (segala puji bagi Allah), laa ilaaha illallah (tidak ada ilah selain Allah), Allahu akbar (Allah Mahabesar).

104. La haula wa la quwwata illaa billaah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah) adalah harta karun dari perbendaharaan surga.

105. Sesungguhnya doa itu ibadah.

106. Doa di antara adzan dan iqamah tidak akan tertolak.

107. Sesungguhnya Rabb kalian itu Maha Pemalu lagi Mahamulia, Ia sangat malu terhadap hamba-Nya yang menengadahkan kedua tangan ke arah-Nya kemudian menariknya dengan tangan hampa.

108. Rasulullah itu jika menengadahkan tangannya dalam berdoa, beliau tidak menariknya hingga mengusapkan ke wajah.

109. Orang yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat adalah yang paling banyak bershalawat untukku.

110. Inilah penghulu istighfar, hendaknya setiap hamba mengucapkan: Ya Allah, Engkau-lah Rabb -ku, tiada ilah yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, Engkau-lah yang telah menciptakanku. Dan aku ini adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian dan ikatan dengan-Mu sekemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah aku perbuat. Aku mengakui akan nikmat-Mu atasku dan Aku mengakui pula segala dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku, karena tiada yang dapat mengampuni seluruh dosa kecuali Engkau.

111. Rasulullah tidak pernah meninggalkan kalimat ini baik pagi maupun petang: Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keselamatan dalam urusan agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. ya Allah, tutupilah aibku dan berilah kepadaku keamanan dari segala yang mengkhawatirkan. Ya Allah, jagalah diriku dari arah depanku, dari arah belakangku, dari arah kananku, dari arah kiriku, serta dari arah atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari terbenamkan dari arah bawahku.

112. Rasulullah dahulu biasa berdoa: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, dari berubahnya kesehatanku (menajdi sakit), dari kematian mendadak, dan dari seluruh murka-Mu.

113. Dahulu Rasulullah biasa berdoa: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utang yang menumpuk, dari tekanan musuh, dan dari musibah yang menggembirakan musuh-musuh.

114. Barangsiapa berdoa dengan; “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan persaksianku bahwa Engkau-lah Allah yang tiada sesembahan yang benar selain Engkau, Yang Maha Esa, tempat bergantung segala makhluk, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada satu pun makhluk yang setara dengan-Nya”, niscaya Allah akan mengijabahinya.

115. Dahulu jika telah tiba waktu subuh Rasulullah biasa berdoa: “Ya Allah, hanya dengan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, hanya dengan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore, hanya dengan pertolongan-Mu kami hidup, hanya dengan pertolongan-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu-llah kami akan dibangkttkan.” Dan jika memasuki waktu sore beliau juga membaca doa yang sama, tetapi beliau mengatakan pada akhir doa: —dan hanya kepada-Mu-lah kami akan dikembalikan.

116. Doa Rasulullah yang paling sering dipanjatkan adalah: “Ya Rabb kami, berilah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari adzab neraka.”

117. Dahulu Nabi biasa berdoa: “Ya Allah, ampunilah kesalahan-kesalahanku, kebodohanku, tindakanku yang melampaui batas, dan apa saja yang Engkau lebih tahu tentangnya dariku. Ya Allah, ampunilah kesalahanku karena aku terlalu bersemangat, banyak bersendau-gurau, yang aku sengaja, maupun yang tidak aku sengaja, karena semua itu memang ada padaku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu, yang akan datang, yang aku sembunyikan, yang aku tarnpakkan, dan apa saja yang Engkau lebih tahu dariku. Engkau-lah Al'Muqaddim serta Al-Mu'akhkhir, dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

118. Rasulullah selalu berdoa: Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang menjadi penjaga semua urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang di situ ada penghidupanku, perbaikilah untukku akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali, jadikanlah kehidupan ini penambah kebaikanku, dan jadikanlah kematian sebagai istirahatku dari semua kejahatan.

119. Dahulu Rasulullah biasa berdoa: Ya Allah, jadikan untukku bermanfaat apa saja yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajari aku apa saja yang bermanfaat bagiku, serta karuniakan untukku ilmu yang bermanfaat.

120. Dahulu Rasulullah biasa berdoa: Ya Allah, jadikan untukku bermanfaat apa saja yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajari aku apa saja yang bermanfaat bagiku, serta tambahkanlah untukku pengetahuan, segala puji hanya bagi Allah di setiap keadaan dan aku berlindung kepada-Nya dari keadaannya penduduk neraka.

121. Nabi pernah mengajarkan pada Aisyah doa berikut: Ya Allah, aku memohon kepada'Mu semua jenis kebaikan, cepat maupun lambat, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Aku berlidung kepada-Mu dari semua jenis kejahatan, cepat maupun lambat, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba-Mu dan nabi-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang diminta perlindungan darinya oleh hamba-Mu dan nabi-Mu. Ya Allah, aku mohon dari-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan ke arahnya, baik perkataan maupun perbuatan. Aku mohon perlindungan kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan ke arahnya, baik perkataan atau perbuatan. Aku mohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan setiap keputusan yang Engkau putuskan untukku merupakan keputusan yang baik.

122. Dua kalimat yang paling disukai oleh ar-Rahman, ringan diucapkan namun berat di timbangan, yaitu: subhanallahi wa bi bamdihi subhanallahil 'azhiim (Mahasuci Allah dan segala puji hanya milik-Nya, Mahasuci Allah yang Mahaagung).

 

Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, November 22, 2024 0 comments

Sinopsis "Api Sejarah Jilid 1 - Ahmad Mansur Suryanegara" Bahasa Indonesia

 Api Sejarah Jilid 1
by: Ahmad Mansur Suryanegara

Besar kemungkinan bahwa Islam dibawa para wirausahan Arab ke Asia Tenggara pada abad pertama dari Tarikh Hijriah atau abad ke-7 M. Hubungan niaga antara Arab dan Cina telah terjalin sebelum Rasulullah Saw lahir, dan kapal-kapal dagang Islam berlayar sampai Samodra Persia (India). Upaya Barat dalam mempertahankan penjajahannya ialah dengan mematahkan potensi pasar yang dikuasai umat Islam, sebagaimana pendistorsian penulisan sejarah Wali Sanga. Hal ini ditegaskan dengan ditemukannya mata uang Islam di wilayah Eropa, Inggris, dan Rusia, namun langka dalam informasi sejarahnya, dan di Indonesia pun ditemukan Mata Uang Islam abad ke-15, mata uang dinar Kesultanan Goa abad ke-17, juga mata uang perak VOC yang bernuansa Islam abad ke-18. Kekuatan penyebaran Islam terletak pada; penguasaan pasar, kemasjidan dan Pendidikan, kekuasaan politik (kesultanan), penguasaan maritim dengan niaga lautnya, dan kesadaran Hukum Islam. Betapa dahsyatnya produk dakwah para dai dan wirausahawan mala lalu, mampu menjangkau wilayah yang sangat luas: luas daratan Indonesia 1.904.307,7 km2, sama luasnya dengan jumlah luas Belanda + Belgia + Jerman + Perancis + Italia + Spanyol. Sejak nabi pertama (Adamm as) hingga Nabi terakhir (Muhammad saw), seluruhnya menyatakan diri sebagai muslim (QS. 2: 136 dan 3: 84), di antaranya disebut sebagai Ulul Azmi; Nuh (dituliskan namanya dalam al-Qur’an 43 kali), Ibrahim (67 kali), Musa (136 kali), Isa (25 kali), dan Muhammad (5 kali). Penyebutan tersebut sebagai koreksi al-Qur’an terhadap Taurat (Musa), Zabur (Daud), dan Injil (Isa), sebab Islam adalah agama yang dibawa oleh 25 Nabi dan Rasul.

Wahyu Allah disampaikan Malaikat Jibril kepada seorang wirausahawan yang ummi, Muhammad, di sebuah bukit gersang; Jabal Nur dengan guanya, Gua Hira. Gerak sejarah Islam (kelompok kecil minoritas yang penuh kreativitas) tidak dari istana ke sitana, melainkan dari pasar ke pasar. Ketandusan Jazirah Arabia dijawab oleh Rasulullah saw dengan 40 ayat tentang lautan atau maritim sebagai “wasiat politik kelautan”, dimana Islam di Indonesia dikembangkan dengan jalan damai. Sulaiman as-Sirafi mengatakan bahwa terdapat wirausahawan Muslim di Sula (Sulawesi) pada abad ke-2 H, ditegaskan dengan nama Maluku yang berasal dari al-Muluk, dan Toba yang berasal dari Thayyiba. Ketika berusia 12 tahun, Muhammad ikut serta berniaga ke Syiria dan mendapat sambutan hangat dari Bahira di Busra, dimana beliau mulai berkhalwat di Gua Hira pada usia 30 tahun tanpa menghentikan perniagaannya. Muhammad bin Abdullah lahir pada 570 M di Makkah, menerima wahyu pertama (QS 96: 1-5) pada Ramadhan 610 M, dan terakhir (QS 5: 3) Dzulhijjah 632 M, dimana mushaf al-Qur’anul Karim terkumpul pada kekhalifahan Utsman (24-36 H / 644-656 M). Penolakam kaum Quraisy Makkah atas agama Tauhid mengungkapkan bahwa setiap upaya dakwah akan selalu mendapatkan perlawanan (QS 6: 112 dan 25: 31) diikuti dengan makar, dimana Rasulullah mengingatkan Abu Bakar; “La tahzan innallaha ma’anaa” (QS 9: 40). Setibanya di Yatsrib, Nabi memberikan nama Madinatun Nabi (Kota Nabi), diikuti dengan membangun komunitas politik keagamaan berupa Piagam Madinah (622 M). Untuk menegakkan tata kehidupan masyarakat Madinah, Rasulullah membangun Masjid Quba, dimana kiblat kemudian beralih dari Masjidil Aqsha ke Ka’bah, Masjidil Haram. Islam mengajarkan perang sebagai tindakan mempertahankan diri terhadap agresi yang dilancarkan Quraisy Makkah (QS 2: 194), hingga tercapailah Futuh Makkah (20 Ramadhan 8 H/630 M), sehingga konta niaga antara Nusantara dan Arabia terjalin kembali. Islam memberikan tempat yang mulia dan perlindungan terhadap wanita atau istri (QS 4: 37). Selepas Futuh Makkah, Rasulullah melaksanakan amnesti umum untuk menghilangkan rasa permusuhan dan menjawab ancaman dari luar; Kekaisaran Nasrani Romawi dan Majusi Persia. Seratus tahun kemudian, pengaruh Islam telah membentang jauh keluar dari Jazirah Arab (di Barat; Eropa hingga Prancis, di Timur; India dan China serta Nusantara, di Utara; Rusia Selatan, dan di Selatan; Afrika Selatan) sebagai praktek penguasaan bahari atau maritim (40 ayat al-Qur’an tentang kelautan). Dibawah kekhalifahan Abu Bakar (11-13 H), disibukkan dengan penumpasan gerakan nabi palsu (Tulaynah dan Musailamah) dan upaya pemadaman gerakan kesukuan (pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal). Dibawah kekhalifahan Umar bin khaththab (13-24H), Islam berhasil menandingi kekuatan maritim Kekaisaran Persia dan Romawi (Palestina dan Syiria pada 15H, Persia pada 17H, Mesir pada 20H), dimana dalam prosesnya diberlakukan sistem pembagian tanah di luar Jazirah Arab dan Kalender Islam. Dibawah kekhalifahan Utsman bin Affan (24-36H), al-Qur’an dibentuk dalam satu mushaf (30 juz, 114 surah, 540 halaman, dengan simbol angka 19), dimana al-Qur’anul Karim memiliki 54 nama. Dibawau kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (36-41H), pusat pemerintahan Islam dipindahkan ke Kufah, Irak, sebagai wilayah yang subur dan pelabuhan niaga yang ramai. Kekuatan maritim Islam semakin berkembang pada masa Umayah I (41-133H) di Damaskus dan Umayah II (7711-1031M) di Cordova, sementara Dinasti Abbasiyah (133-656H) di Bahgdad. Kemakmuran Khilafah Abbasiyah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) membangkitkan kalangan Syi’ah membangun Khilafah Fayimiyah di Mesir (969-1171M), dan berdirinya Kesultanan Turki (1055-1924M). Invasi Mongol dibawah pimpinan anak Genghis Khan; Hulagu (656H), menjadikan Dinasti Genghis Khan memeluk agama Islam, sebagaimana munculnya Kesultanan Moghul di India (1526M) dan sikap ke-Islam-an Raja Baraka Khan (1256-1267M), dimana bangsa Mongol berpartisipasi aktif dalam pengembangan Islam di Cina, Rusia, dan India. Pada masa Khilafah Umayah serta Abbasiyah, muncul pakar hukum yang dikenal sebagai Ahli Fikih: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Pengaruh Islam terhadap Bangsa Arab, Mongol, dan Barat, merupakan pengaruh ajaran wahyu Muhammad yang ummi, yang diangkat sebagai Rasul di sebuah Gua Hira di Jabal Nur. Pengaruh dari perkembanhan kekuasaan politik dan ajaran Islam di Timur Tengah, India, dan Cina, melahirkan kekuasaan politik Islam di Nusantara Indonesia.

Hakikat gerakan dakwah awal Rasulullah saw sangat sederhana, namun ternyata penegakan hakikat kehidupan secata kodrati selalu dihadapkan pada adanya lawan. Islam masuk ke Nusantara Indonesia melalui; Gujarat abad ke-13M (Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje), Makkah abad ke-7M (Prof. Dr. Buya Hamka), Persia (Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat), Cina (Prof. Dr. Slamet Muljana), Maritim ke-7M (N.A. Baloch). Perkembangan Islam di Nusantara tidak lepas dari motivasi kekuasaan, dimana para Boepati merasa terancam oleh kedatangan imperialis Barat, diikuti dengan masuknya ajaran tasawwuf pada masa perkembangannya. Angka tahun nisan Syaikh Mukaidin 670M dan Berita Cina Dinasti Tang perihal pemukiman Arab Muslim di Sumatra pada 674M, ditegaskan oleh keterangan Syaikh ar-Rabwah bahwa wirausahawan Muslim memasuki kepulauan ini pada masa Khalifah Utsman bin Affan (644-656M). Ada perbedaan antara masuknya agama Islam (7M) dan perkembangan agama Islam (13M) di Nusantara, disertai dengan strategi pemerintah kolonial Belanda yang anti Islam melalui penulisan sejarah. Hal ini sebagaimana berdirinya Kesoeltanan Samodra Pasai 19 tahun sebelum Keradjaan Hindoe Madjapahit (1275), juga keberadaan nisan Soeltanah Fatimah binti Maimun (11M). Wirausahawan membawa Islam ke Nusantara dalam toleransi, sebagaimana adanya makam-makam Jawa Muslim di dekat situs istana Keradjaan Hindoe Madjapahit. Dengan demikian, masuknya Islam dan perkembangan Islam ke Nusantara Indonesia diawali oleh wirausahawan Arab, diikuti wiraniagawan India dan Cina, dimana Ulama dan Santri tidak pernah absen dalam setiap perjuangan membela tanah air.

Rasulullah sebagai uswatun hasanah dengan wahyu Allah, ditampilkan sebagai pemimpin pembaruan yang membangkitkan kesadaran kebersamaan dalam perbedaan (QS. 49: 13). Kesejarahan Adam dan Hawa mengungkapkan bahwa awal peristiwa kesejarahan dibangkitkan oleh kelompok kecil yang kreatif (a tiny creative minority), yang kemudian terbentuk masyarakat Islam yang memerlukan Khalifah (QS. 2: 30). Sebagaimana kaum Anshor yang landreform (penyerahan tanah) secara sukarela. Dalam Surah al-Baqarah, Allah mengungkapkan bahwa masyarakat yang heterogen–meskipun dibawah pimpinan Rasulullah–selalu terdapat tiga golongan masyarakat: beriman, kafir, dan munafik. Sebagaimana diteladankan Rasulullah, perang bukan hanya pertarungan sistem persenjataan fisik teknik, namun juga sistem persenjataan sosial. Rasulullah mencontohkan: kehidupan yang tandus sebagai pemotivator, usaha sebagai bentuk melepaskan diri dari ketergantungan materi, energi spiritual sebagai pendaya gerak kehidupan jasmani, menciptakan perdamaian, hakikat keselamatan hidup dengan belajar. Tantangan penjajahan barat (Keradjaan Katolik Portoegis dan Spanjol 16 M dijawab oleh Ulama dan Santri dengan masyarakat pesantrennya, bersama para sultan dan kekuasaan politik Islam. Kalangan orientalis mengungkapkan bahwa Islam dikembangkan dengan pedang, sebagaimana penulisan sejarah Islam di India, juga Indonesia (sebagaimana Kesoeltanan Demak), terlepas dari matius 10: 34. Genghis Khan berhasil melemahkan Turki Seljuk, namun Turki Ottoman berhasil bangkit, memengaruhi Dinasti Genghis Khan memeluk agama Islam. Bangsa Mongol meluaskan Islam ke India, Rusia, dan Cina, sehingga di Nusantara Indonesia pun bangkit kekuasaan politik Islam (kesultanan). Dalam CPCN (Carita Purwaka Caruban Nagari) karya Pengeran Arya Cirebon (1720) diungkapkan bahwa proses Islamisasi keluarga Praboe Siliwangi terjadi melalui pernikahan Islam. Hal ini menegaskan bahwa proses Islamisasi melalui jalan niaga dan pernikahan merupakan ciri umum spesifikasi Islam. Wirausahawan Muslim bertindak sebagai pelaku pasar, diikuti dengan kebutuhan pendidikan generasi muda, yang menghasilkan komunitas baru: Kekuasaan Politik Islam. Hali ini ditegaskan dengan adanya kekuasaan politik Islam di Aceh pada abad 9 M dan di Leran Gresik pada abad ke-11 M, dimana Keradjaan Katolik Portoegis menduduki Malaka pada 1511 M dan Protestan Belanda menduduki Jayakarta pada 1619 M. Imperialisme Barat dilahirkan dari Perjanjian Tordesilas Spanjol, 7 Juni 1494 M, setelah jatuhnya Granada dari tangan umat Islam. Terusirnya imperialis Keradjaan Katolik Portoegis dari Kalapa (1527M) dan Kesoeltanan Ternate (1575M) mengungkapkan bahwa gerakan imperialis maupun nasionalis dimotivasi oleh keyakinan agama. Pada abad ke-17 M datanglah gelombang kedua imperialis Barat, yakni Protestan Belanda dan Inggris, menjadikan Indonesia sebagai arena Perang Agama Katolik lawan Protestan sebagaimana di Eropa. Protestan dan Calvinisme melahirkan Kapitalisme dan berhasil melumpuhkan Katolik (1870M), dampak buruk terhadap buruh proletar melahirkan Komunisme, dan tumbangnya Tsar Nicholas II melahirkan Zionisme. Amerika Serikat terlahir dari Protestan Revolution (19 April 1775), pernah mengadakan kontak dagang di Agam SumBa sebelum Perang Padri (1821-1837 M), memaksa Jepang membuka negara; Indonesia diduduki Balatentara Dai Nippon (1942-1945), dan menyumbang $100jt untuk Israel. Realitas Sejarah Imperialis Barat di Eropa, berangkat dari Perang Agama antar Salib, Agama Katolik kontra Agama Protestan dan Calvinisme. Setelah Perjanjian Westphalia (1648 M), Goebernoer Djenderal Reyniers mengeluarkan Ordonansi Agama 1651 (melarang aktivitas non Protestan), dilanjutkan oleh Campoeijs (1684-1691). Nusantara Indonesia dijadikan arena Perang Agama Segitiga, perang Katolik-Protestan sekaligus penjajah melawan pribumi Islam. Di bawah kondisi tantangan imperialis Protestan Belanda, Soeltan Agoeng Mataram (1613-1645) bekerjasama dengan Dipati Oekoer melancarkan serangan ke Batavia (1628-1629), begitu juga Soeltan Ageng Tirtajasa Banten (1651-1683), juga pemberontakan Troenodjojo (1675-1680 M) dengan dukungan Soeltan Hasanoeddin Goa (1653-1669). VOC di Batavia melakukan pembunuhan terhadap bangsa Cina pada 1740 M. Napoleon Bonaparte menguasai Keradjaan Protestan Belanda dan mengangkat adiknya, Louis sebagai Radja (1806), dimanan VOC berakhir pada 1800 M disebabkan korupsi. Daendels dikirim untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, namun gagal, sehingga EIC (East Indian Company) dibawah pimpinan Raffles berkuasa di Pulau Jawa (1811-1816). Mendapati hal itu, Soeltan Jamengkoe Boeana II memberontak, begitu juga cucunya; Pangeran Diponegoro. Dengan memanfaatkan kelemahan imperialis Belanda dalam penguasaan laut, Kesoeltanan Aceh, Ambon, Ternaye, Makassar, Banjarmasin, dan Palembang, melanjutkan hubungan niaganya dengan Kesultanan Turki atau Kesultanan Mongol di India serta Cina. Mendapati hal itu, penjajah Protestan Belanda memberikan tanggapan keras, sehingga memicu pemberontakan dari Kapten Pattimura di Ambon, Perang Padri Imam Bondjol di Sumba, Perang Diponegoro di Yogyakarta,dan pemberobtakan, Soeltan Mohammad Safioeddin di Banten. Tertindih hutang berat kepada EIC, van den Bosch menciptakan natura (Sistem Tanam Paksa), 1830-1919 M, sekaligus sebagai upaya melumpuhkan Ulama dan Santri di kalangan petani. Hal ini disertai dengan penggunaan kekuatan Pangreh Pradja Pribumi, yang bergantung pada dana Taokeh Cina. Menanggapi hal itu, para ulama membangun organisasi perlawanan melalui gerakan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah, dimana perlawanan Hadji Wasjid di Cilegon (1888 M) bersamaan dengan Perang Batak (1872-1906 M) dan Perang Atjeh (1873-1914 M). Pembangunan tata kota pun berhubungan dengan keuntungan dari Tanam Paksa, dengan mengutamakan wilayah hunian penjajah. Hal ini ditegaskan dengan menjadikan kereta api sebagai Benteng Stelsel, dan Bandung sebagai kota kedua dalam pertahanan militer. Perpecahan Eropa sebagai negara-negara kecil sesama Salin (Katolik dan Protestan), mengungkapkan bagaimana keadaan Islam Nusantara Indonesia di hadapan penjajah. Wilayah pribumi Islam ditandai dengan adanya pohon beringin di tengah alun-alun sebagai simbol Syajaratul Thayiibah, sementara pohon cemara sebagai tanda kemurkaan Allah (QS. 34: 16). Area hunian pun dibagi-bagi antar etnis, begitu juga dengan pendirian sekolah, untuk memecah belah pribumi Islam. Politik Asosiasi melalui kebijakan diskriminatif disertai Politik Etis dalam program pendidikan dilakukan sebagai bentuk pembodohan terhadap pribumi. Keradjaan Protestan Belanda meluaskan kekuasaannya ke luar Pulau Jawa disebabkan; keuntungan Tanam Paksa, keruntuhan Negara Gereja Vatikan, dan penguasaan Kerajaan Anglikan Protestan Inggris atas Terusan Suez. Hal ini memicu Perang Padri (1821-1837 M), Perang Lampung (1832-1833 M), Perang Banjarmasin, Perang Batak (1872-1907 M), dan Perang Atjeh ( 1873-1914). Penguasaan Keradjaan Anglikan Protestan Inggris atas Terusan Suez (the key of India), meruntuhkan Keradjaan Katolik Prancis, terjajahnya Australia, Perang Mesir-Turki, juga Perang Turki-Rusia. Perjanjian London 1870 dan Perjanjian November 1871 mengungkapkan bahwa sejarah Indonesia merupakan sejarah Internasional. Jamaluddin al-Afghany (penggerak Pan Islamisme) memperingatkan bagaimana pandangan Barat terhadap Islam, sebagaimana dukungan mereka terhadap Saud dan pendirian Negara Israel. Pendirian PNI oleh Boeng Karno menunjukkan kuatnya pengaruh Syarikat Islam di masyarakat Indonesia, dan simbol Patung Diponegoro di Monumen Nasional pun menegaskan bahwa Ulama dan Santri sebagai pelopor perjuangan bangsa Indonesia. Perang Atjeh (1873-1914) merupakan hasil provokasi pemerintah kolonial Belanda dengan bantuan Oeleebalang, yang diikuti dengan perang gerilya (-1942) dibawah pimpinan Tjoet Nja Dhien, istri dari Teoekoe Oemar, menewaskan sekitar 17.000 serdadu Belanda. Dalam prosesnya, Prof. Snouck Hurgronje, pakar agama Islam dan bahasa Arab, ikut membantu pihak Belanda. Ulama dan umat Islam menjawab tantangan imperialisme modern dengan menjadikan pasar sebagai arena pembangkitan kesadaran nasional, sebagaimana berdirinya Sjarikat Dagang Islam (SDI, 1905).

— 281-434 (hilang)

Untuk menanggapi problematika masyarakat, Hadji Samanhoedi mendirikan Sjarikat Islam pada 16 Oktober 1905, yang diperjuangkan oleh Oemar Said Tjokroaminoto dan memperoleh pengakuan sebagai Badan Hukum pada 10 September 1912. Hal ini diikuti oleh KH Achmad Dahlan, yang mendirikan Persjarikatan Moehammadijah pada 18 November 1912, menyampaikan ajaran Islam dengan mengangkat harkat anak yatim dan kaum dhuafa melalui pembangunan sekolah dan pengaktifan MPKO. Gerakan tersebut berkembang cepat, dengan diikuti oleh beberapa organisasi. Menanggapi hal itu, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan Staat blad 1932, No. 494. Kuatnya Sjarikat Islam sebagai partai, terkendala oleh kepemimpinan yang sekaligus sebagai pimpinan Persjarikatan Moehammadijah, disertai dengan masalah furu’. Di Majalengka, KH Abdoelhalim mendirikan Hajatoel Qoeloeb (1911M), berubah menjadi Persjarikatan Oelama (1917M), dan kemudian menjadi Nahdlatoel Oelama (1926M). Sebelum NO (31 Januari), didirikan Nahdlatoel Wathan (1914) di Surabaya oleh Abdoel Wahab Chasboellah dan Mas Mansoer, yang memperoleh Badan Hukum pada 1916 M. Menanggapi debat fiqih di Nusantara Indonesia, diadakanlah al-Islam Congres Pertama, sementara Sjarekat Islam mengatasi timbulnya ideologi komunis, dimana penegakan kekhalifahan dibawah Kerajaan Arabia (Raja Husein dan Raja Ali, Ahli Sunnah wal Jama’ah) berubah menjadi Keradjaan Saudi Arabia (Raja Ibnu Saud, Wahabisme, yang mendapatkan dukungan Keradjaan Protestan Anglikan Inggris). Kegagalan Muktamar Khalifah di Kairo Mesir, diikuti dengan kegagalan Muktamar al-Islam Sedunia, melahirkan Nahdlatoel Oelama (Kebangkitan Ulama, 31-01-1926). Di Lombok, KH Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan Pondok Pesantren Daroennahdlatain Nahdlatoel Wathan (1935M), dimana beliau menjadi anggota Konstituante Fraksi Masjumi. Pertentangan furu dan khilafah, mengarahkan ulama untuk membangun sistem pendidikan pesantren modern, sebagaimana Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (12 Rabiul Awwal 1345H/1926M) di Ponorogo, Madiun. Atas prakarsa Hadji Zamzam dan Hadji Joenoes, pada 30 Muharram 1342H berdiri Persatoen Islam, dengan Ahmad Hassan sebagai guru utama. Dalam perkembangannya, Persatoean Islam meloncat ke arah politik dan menolak partai politik dengan asas kebangsaan, dimana A. Hassan menjadi Menteri Agama Negara Pasoendan (negara boneka bikinan van Mook). Hal ini berbeda dengan muridnya, Mohammad Natsir, yang aktif pula di Partai Islam Indonesia (PII), dan menjadi Perdana Menteri NKRai (17 Agustus 1950M), dimana Khutbah Jumat di Masjid Persatoean Islam dilaksanakan dalam dua macam bahasa terjemahan. Dalam gerak juang Pembangkit Kesadaran Nasional Indonesia, para ulama dibuang ke Tanah Merah (Digul, Papua) dengan tuduhan PKI, yang didirikan orang-orang Belanda pada 1920M. Di kalangan pemuda Islam, muncul Jong Islamieten Bond (JIB) dibawah pimpinan R. Sjamsoerdjal (5 Jumadil Akhir 1343H/1925M), yang mengadakan kongres di Jogyakarta (Desember 1925,1927) dan Surakarta (Desember 1926). Partai Sjarikat Islam juga mendirikan organisasi khusus wanita SPI (1924), Comite Persatoean Indonesia (1926), Perserikatan Nasional Indonesia (1927). Ir. Soekarno mendirikan PNI (Perserikatan Nasional Indonesia, 4 Juli 1927), dan kemudian mendirikan PPPKI (17 Desember 1927) bersama denhan PSII, dimana Boedi Oetomo (anggota PPPKI sekaligus Jong Java) berupaya menegakkan Djawa Raja. Pada Rabiul Akhir 1347/1928M, PSII mendirikan Madjlis Oelama Indonesia. Organisasi Islam tersebut telah menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi organisasinya, yang semula dikenal sebagai bahasa Melayu Pasar. Mendapati keadaan Jong Java, R. Sjamsoeridjal keluar dan mendirikan Jonh Islamieten Bond (JIB, 5 Jumadil Akhir 1343 H), yang mendorong lahirnya Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI, 1926) dan Jong Indonesia (1927), dimana kedunya banyak berperan dalam Kongres Pemoeda II yang melahirkan Soempah Pemuda (28 Oktober 1928). Perlu dicatat bahwa Dr. Soekiman Wirjosandjojo merupakan pelopor pengubah istilah India, Hindia, atau Indische, menjadi Indonesia (11 Januari 1925), sekaligus pengesah Lambang Garuda Pancasila (1951). Pada awal masuknya agama Islam ke Nusantara Indonesia (abad ke-7M/1H), bahasa Melayu disebut pula sebagai bahasa Melayu Pasar, yang dituliskan dengan huruf Arab Melayu. Para Ulama juga mengenalkan Sang Saka Merah Putih (sekapur sirih dan seulas pinang, bubur merah putih, dan pembangunan rumah) sebagai Bendera Rasulullah saw (Kitab al-Fitan, sarung pedang Ali dan Khalid, juga karpet masjid). Kepeloporan Pemuda Pemudi Islam: Oemar Said Tjokroaminoto, Hadji Agoes Salim, Abdoel Moeis, dan Soekiman Wirjosandjojo, juga Kartini, Dewi Sartika, dan Rahmah Joenoesijah. Pembuangan para pemimpin partai yang radikal, memperkuat Partai Sjarikat Islam Indonesia dan Partai Islam Indonesia. Menanggapi hijrah sebagai asas, Partai Islam Indonesia (PII) dikukuhkan kembali, dan MIAI (1937) dibentuk untuk menanggapi Ordonansi Perkawinan. Hal ini mengarahkan PSII membentuk BAPEPPI (1938), dimana Parindra dan Gerindo bersikap kooperatif terhadap Belanda, diikuti oleh Parpindo. Dalam prosesnya, terjadi penghinaan terhadap Rasulullah saw melalui Madjalah Bangoen milik Parindra (Boedi Oetomo). Setelah mengadakan Kongres al-Islam Indonesia I di Surakarta (1358H/1939M), MIAI memiliki 17 anggota (ormas dan parpol). MIAI yang awalnya menggunakan nama KAII dalam kongresnya, kemudian diganti menjadi KMI, yang menuntut Indonesia berparlemen melalui GAPI. Menjelang Perang Dunia II (1939M), perjuangan ulama dihadang oleh organisasi kebatinan non-Islam dan partai-partai yang bekerjasama dengan penjajah. Kongres Rakyat Indonesia II (13-09-1941) membicarakan masalah ekonomi dan kemudian menjadi MRI dibawah pimpinan GAPI, MIAI, dan PVPN. Pada 16-11-1942, Mr. Sartono melakukan kudeta terhadap MRI, membuat PSII, POO, dan MIAI keluar dari GAPI dan MRI. Pada 8 Maret 1942, Belanda menyerahkan Indonesia tanpa syarat pada Letnan Jenderal Imamura (Panglima Balatentara Djepang) di Kalijati Subang Jawa Barat.

Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!

Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


 
;