Anggukan Ritmis Kaki Pak
Kiai
by: Emha
Ainun Nadjib
Refleksi
Ubudiah
Dalam hidup yang makin sengkarut,
kaca kejiwaan kita menjadi buram oleh debu-debu kotoran. Maka, alangkah
butuhnya kita akan guyuran hujan, alangkah dahaga kita akan pencahayaan—mungkin
sehari lima kali tidaklah cukup bagi jiwa kita yang sering kali terasa sudah
karatan.
Tafakur itu “staf”-nya iradat,
“buruh”-nya kemauan hati, computer drive-nya kehendak-kehendak rohani.
Rasulullah Saw mengungkapkan bahwa engkau harus lebih tahu, harus
sungguh-sungguh menguasai permasalahan dunia di mana engkau hidup. Adapun
pemimpin adalah orang yang lolos sesudah menyibak desakan-desakan. Salahkah
kalau seorang ulama melakukan shalat Istikharah untuk memohon petunjuk siapa
sebaiknya pemimpinnya?
Bedug, gendang besar, dengan
pola-pola aransemen musikalnya yang bermacam-macam adalah bagian dari
kenikmatan budaya keislaman kami, yang katanya itu bidah. Mendapati adzan tanpa
kualitas (dibandingkan pendahulunya), hati saya berdoa; “Ya Allah! Yang hamba
mohonkan hanyalah jangan sampai ada orang yang tidak kerasan dalam Islam
gara-gara mendengar adzan yang demikian.” Dari Muhammadiyah-lah saya mengetahui
bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan.
Ada jarak yang tidak terkirakan
antara pengetahuan dengan ilmu. Jika ilmu, yakni penghayatan akan kebenaran
bersenyawa dengan cinta, maka tercapailah tataran takwa. Dan takwa itulah
target puasa. “Makan hanya ketika lapar
dan berhenti sebelum kenyang” adalah formula tentang kesehatan hidup. Maka,
yang bernama “makan sejati” ialah makan yang sungguh-sungguh untuk perut. Puasa
adalah penguraian “nafsu” dari “makan”.
Saya menyebut pahala sebagai salah
satu “terminal”. Artinya, ia bukan sesuatu yang harus kita jauhi, melainkan
justru kita datangi. Atau, lebih tepatnya kita singgahi, kemudian kita
tinggalkan. Lantas ke mana? Ke “terminal cinta terakhir”. Siapa lagi Dia kalau
bukan Allah. Kalau obsesi kita adalah pahala dan surga, dan kalau itu kita
utamakan, “Ibadah kapitalis” itu namanya. Puasa hadir untuk mengingatkan kita
pada cinta dan tuntutan-Nya.
Idulfitri adalah momentum tertinggi,
dimana bergema takbir, sebagai jalan kembali ke hadirat-Nya. Id dan fitri
berarti kembali dan fitrah, sehingga mengidulfitri berarti kembali mengalam.
Hal ini mengingatkan kita pada Ibu, Ibu Quran (Ummul Quran), sebagai cikal
bakal ajaran cinta, kasih sayang, kepengasuhan dan pengelolaan. Oleh karena
itu, puasa adalah media autokritik bagi manusia, komunitas, kebudayaan, dan
peradaban. Dengan demikian, prinsip utama realitas Idulfitri ialah muthahhar
(manusia yang tersucikan). Dan, firman “Ibu Quran” adalah pintu gerbang
intelektualitas, kemudian spiritualitas, untuk memasuki “gelombang Allah”:
“Maha-Ibu” dari kehidupan.
Allahu Akbar berarti Allah-lah
Mahasebab dari segala sebab (Musabbilal Asbab). Dari itu, “Allahu Akbar” adalah
ucapan-ucapan spontan yang seyogianya terlontar dari mulut dan batin kita kapan
saja dan di mana saja.
Di samping prinsip kuantitatif bahwa
puasa adalah menahan diri dari makan, minum, seks, dan segala maksiat—tema
kualitatifnya selalu adalah “menahan nafsu”: suatu persoalan psikologis. Untuk
itu, “rohani” ini harus menjadi perhatian khusus kita, bahwa “diri” manusia
amat sederhana, tapi sekaligus amat tidak sederhana.
Beberapa kali kita mengalami dan
menghayati kefitrian natural: bahwa gelar, pangkat, status sosial, fungsi
birokrasi, dan seterusnya itu hanyalah apa, sedangkan siapa kita adalah
manusia. Dan puncak pelajaran dan ujian hidup adalah bagaimana lulus menjadi
manusia?
Sambil bersyukur, bersalaman, dan
bermaaf-maafan melebur segala dosa serta mungkin dengan sedikit berpesta, insya
Allah ada baiknya kita isi juga Idulfitri ini dengan aktivitas ke-“dalam”:
suatu introspeksi. Dari kaca cermin itu (Islam ialah kepasrahan) tampaklah
redupnya cahaya kemusliman pada perilaku sosial budaya kita. Seyogianya seorang
pemeluk agama memang mesti menguasai betul apa yang dipeluknya; merespons
secara Islam terhadap situasi masyarakat. Islam itu bergantung kreativitas
manusia yang memeluknya; apakah kita sudah cukup intens dalam memasrahkan diri
kepada Allah?
Haji adalah puncak totalitas
penyatuan antara tiga dimensi; kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Ketika kita
berputar mengeliling Ka'bah, kita seolah-olah melakukan “tarian sunnatullah”.
Tatkala para hamba Allah itu bersujud, yang mereka sembah bukanlah Kakbah,
melainkan simbolisasi ahad dan wahid. Syahadat memfokuskan diafragma idealisme
hidup; Shalat mencahayai jiwa; Zakat melatih kesadaran akan hak orang lain;
Puasa membuat manusia jadi pendekar kehidupan; dan Haji adalah madu dari
semuanya.
Dengan rasa cemburu yang baik, dari
jauh kita mengucapkan selamat dan salut kepada para penempuh ibadah haji, yang
kemudian memiliki kesanggupan untuk “ghasal” dan “iqamah” (madu): memandikan
lingkungannya, menegakkan kebenaran di tengah masyarakatnya. Zakat menawarkan
penyempurnaan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ibadah haji adalah sebuah
workshop pencerahan diri, tercerahkan secara intelektual, spiritual, mental,
serta moral.
Para haji, ketika melakukan ihram,
berkesempatan untuk mengalami puncak “Idulfitri”: menyadari universalitas dan
universalisme, mengajak manusia untuk kembali sungguh-sungguh menjadi manusia.
Haji, karena tingkat kualitas kemanusiaannya, adalah the main agent of social
change.
Islam
dan Perspektif Sosial Kemasyarakatan
Perilaku orang nonMuslim tidak
jarang lebih Islam dibanding perilaku kita yang Muslim syahadat fasih ini.
Jadi, kita harus siap menilai Muslim-kafir lebih dari sekadar gincu bibirnya.
Dengan demikian, kita bisa menemukan makna Ukhuwah Islamiah secara lebih luas.
Kehidupan sedang bergerak maju,
menuju pencapaian-pencapaian modern yang mengagungkan dan menggiurkan; tapi
salah satu yang kita songsong dengan gerak maju itu ialah proses penguraian
kebudayaan. Pola masyarakat tradisonal yang agraris-homogen merupakan wadah
yang amat menguntungkan untuk terbinanya “Ukhuwah Islamiah” di kalangan kaum
Muslim.
Kalau dalam lakon drama dakwah tokoh
Fulan yang jahiliah mendadak insyaf sesudah dipetuahi oleh Ustaz Karim dengan
beberapa ayat dan hadis, itu berarti sutradaranya tak memahami strategi hidup
dan kurang mengamati dialektika batin mental seseorang dengan lingkungan yang
memberinya pengalaman-pengalaman. Pertumbuhan kehidupan yang kita alami ini
belum menunjukkan bahwa kebudayaan dan kemanusiaan kita benar-benar telah
bersembahyang.
Kita semua (saudaraku seakidah)
selalu bersatu dalam tauhidillah dan tak sebuah macam makhluk pun yang mampu
memisahkan kesatuan kita itu, kecuali kekeruhan rohani kita sendiri: “marodhun
fii quluubinaa”. Maka, tak ada pilihan lain kecuali tawaduk. Dari itu
tak bisa tidak harus dimulai dari kesediaan kita semua untuk memerangi berbagai
marodhun di dalam diri kita sendiri.
Islam
dan Perspektif Kemasyarakatan
Minggu 30 Juni 1990, Pak Kiai Gontor
meplokramirkan drama kolosal ‘Bani Khidlir” diikuti oleh tiga ribu santri
disertai kisah Anggukan Ritmis Kaki Pak
Kiai. Gontor memang gawat, sistem pematangan santri yang solid, mobilitas
kerja tinggi, dan keterbukaan yang tiada bandingnya.
Kaum santri tidak memerlukan idiom
“santri cendekiawan” karena salah satu substansi kesantrian adalah
kecendekiawanan. Sesungguhnya dengan “etos santri”, kaum santri adalah penghuni
garda depan dari proses modernisasi. Di tengah keprihatinan tentang “terlibatnya”
kaum santri tersebut, saya memandang Pesantren Gontor dengan optimis.
Pembangunan nasional yang murni
sebaiknya tidak memusatkan keberangkatannya dari subjektivitas santri atau
abangan, tetapi dari objektivitas pembangunan itu sendiri: kesejahteraan
rakyat, keadilan sosial, dan demokrasi. Di kalangan rakyat, santri dan abangan
sudah dengan sendirinya terbiasa bekerja sama dalam pembangunan, sementara di
kalangan birokrasi dan elite kekuasaan bisa mulai muncul aspirasi politik
santri tanpa otomatis dicurigai sebagai antinasionalisme.
Seorang mubaligh yang letih
memberikan khotbah dan ceramah memutuskan untuk berhenti mengkritik dan meminta
orang-orang untuk mulai mengkritik diri sendiri disertai pertanyaan; apakah
kita benar-benar ingin menegakkan sesuatu?!
Di antara berbagai kunjungan
Idulfitri, saya mencatat silaturahmi ke Pondok Gontor, yang mengajarkan
berendah hati (manusia sekadar bernilai “tiada” di hadapan Allah Yang
Maha-ada), berbudi luhur (kependekaran untuk menaklukkan “kuda liar diri
sendiri”), berpengetahuan luas (mendobrak segala tembok penjara kebodohan), dan
berpikiran bebas (kreativitas dan demokrasi).
Dalam acara teater di Pesantren
Tebuireng, Kiai Yusuf mengungkapkan bahwa wali sanga sukses berdakwah dengan
teater, dimana ia berhasil menangkap ular berbisa. Dari itu, jangan hanya tahu
teater thok tanpa kenal kebaikan dan kebenaran, jangan mau dakwah thok tanpa
tahu estetika penyampaian.
Seorang Mubalig datang ke desa
dengan membawa “SK Tajdid” tanpa “formal-survey” yang ilmiah. Mendapati Kiai
pembaharuan memelihara anjing, kuungkapkan betapa baiknya memelihara anak
yatim, bahwa agama bukan sekadar soal boleh dan tak boleh.
Betapa besar rasa syukurku kepada
Allah jika datang seorang saudaraku menegurku dari kesesatan. Tapi Saudaraku,
kapankah kita akan makin dewasa dan siap mengatasi kemelut zaman apabila harus
berdebat soal-soal yang semestinya tak memerlukan perdebatan? Adapun bergurau
itu bahwa di puncak tangisku aku tertawa,
di puncak tawaku aku menangis.
Dari Abu Thalib dan Musailamah
al-Kadzzab kita dapat melihat perjuangan syiar musik Islam yang terlalu sibuk
dengan konsepsi intelektual dan kurang diimbangi oleh semangat kultural.
Tahun ini saya ikut memperingati
Maulid Nabi Muhammad Saw (1982), dan mendapati di sebuah masjid kampung seorang
mubaligh sibuk menjual kaset selepas ceramah sementara Samroh tetap ditampilkan
dan kemudian dipindahkan ke sisi masjid. Hal ini seakan Samroh tanjidor,
mengingatkan kita yang sering kurang mampu menghargai manusia; apalagi
“mencintai saudara-saudara seperti mencintai diri kita sendiri.”
Kiai
Sudrun Gugat
Pengertian baku tentang sukses yang
berlaku dan dipercaya oleh manusia modern hanya yang berasal dari filosofi dan
ideologi—misalnya—materialisme, hedonisme, sekularisme, dengan
“tarekat-tarekat” teknologisme dan industrialisme sebagai sarananya. Menang-kalahnya
seseorang atau sukses-gagalnya seseorang tidak ditentukan oleh apakah ia kaya
atau miskin, melainkan oleh kemenangan atau kekalahan mental orang itu terhadap
kekayaan atau kemiskinan.
Kiai Sudrun mendirikan langgar.
Semacam masjid kecil. Apa bukan musala namanya? Makna religiusnya memang sama
saja. Masjid itu tempat bersujud. Musala itu tempat shalat. Menjadi orang Islam
dan membangun budaya kaum Muslim terkadang memang dilematis. Kita butuh
menunjukkan bahwa umat Islam ini punya eksistensi dan punya identitas khas.
Langgar Kiai Sudrun tak banyak
diperhatikan orang hingga mereka dapati Sudrun kasadihan tidak ketulungan,
mengungkapkan hadirnya Rasulullah Muhammad saw dan mempertanyakan sikap
orang-orang atas kehadiran beliau.
Santri Delun secara khusus menemui
Kiai Sudrun hanya untuk mendapati identitasnya dipertanyakan, dimana Kiai
Sudrun kemudian mengungkapkan bahwa; guru yang bukan murid itu riya’ dan
sombong, murid yang bukan guru itu goblok, kiai yang bukan santri itu sok,
santri yang bukan kiai itu pasti tidak maju-maju, seorang bapak harus menaati
anaknya; si bapak harus mendidik anaknya untuk menjadi pribadi yang pantas
untuk ditaati.
Tengah malam, Sudrun tiba-tiba
mendatangi saya sambil nggerundel,
mengungkapkan bahwa sejuta orang beranggapan saya sedemikian pentingnya bagi
mereka, hampir melebihi pentingnya Tuhan itu sendiri; maka akhirnya saya
sendiri menomorsatukan diri, mengutamakan nama besar, melahap posisi, dan saya
lupa bahwa saya tidaklah penting.
Akhirnya aku tahu bahwa ada
perbedaan besar antara rasa sakit dengan penyakit. Lubang kuburanku
menyadarkanku bahwa si bupati, si menteri, si bos besar, dan si pemimpin umat,
seharusnya sudah sejak awal kukuburkan sendiri. Di hadapan Allah, baju itu tanggal.
betapa terlambat aku mengakui bahwa pada hakikatnya aku ini tiada. Engkau
sajalah yang sejati ada.
Sudrun selalu menangis, sebagaimana
kalau ia bersujud selewat dua paruh malam. Ia berkata; “Pusatkanlah perhatian
dan energi hidupmu kepada umatmu karena Allah lebih bersemayam di kandungan
hati mereka dibanding hati pemimpin-pemimpinnya.” Ia kemudian bertanya;
“Siapakah kamu?” dan mengungkapkan bahwa umat adalah fasilitas dari Tuhan,
pemantul amanat-Nya.
Tatkala berkeliling menemui berbagai
jemaah kaum Muslim di sebuah pulau, panitia yang membawa Kiai Sudrun memintanya
agar memimpin doa khushushan, dimana doa-doa mereka sangat bersahaja.
Barangkali karena saking khusyuk dan
getolnya memerankan diri sebagai khalifatullah fir-ardl, sebagai panitia atau
takmir pengundang Sudrun menggunakan sikap dan pola manajemen sendiri. Mereka
merubung tubuh Sudrun, bergelantungan di pundak dan lengannya, menjepit
pinggangnya, mencabut rambut dan jenggotnya, terkadang menjegal kakinya.
Mengisi kuliah subuh di sebuah radio
amatir, Sudrun menjadi lebih akrab dengan siaran-siaran radio lokal. Dimana ia
mengungkapkan bahwa rock itu menggambarkan ghirroh, suatu semangat kejiwaan.
Dari itu, diharapkan para pemusik Islam dapat menemukan ghirroh mereka sendiri.
Di wilayah pesisir utara Pulau Jawa,
diselenggarakan acara “pengajian puisi” secara rutin, dimana masyarakat dapat
merasa sangat masyuk; menangis tersedu-sedu atau memekik-mekik menyesali
dosa-dosanya.
Makhluk “manusia” dan makhluk
“masyarakat”, dalam era kebudayaan dan pembangunan macam apa pun, tetap
membutuhkan manifestasi dari kodrat fitrah mereka. Terlepas dari kemungkinan
bahwa gejala tersebut sekadar merupakan langkah pengamanan diri secara psikologis
dari orang-orang modern yang merasa banyak dosa?
Untuk urusan akademis di kampus,
silakan pakai hukum kompetensi, tapi jangan terlalu dibawa-bawa keluar.
Sekarang ini ‘abad reintegralisasi’, era ‘tauhid kebudayaan’, zaman
multidisiplin pendekatan saling silang, penyadaran kembali terhadap
kesalingterkaitan antar berbagai bidang.
Seperti juga banyak orang Islam yang
lain, Kiai Sudrun sudah pernah “numpang shalat” di beberapa ratus masjid,
dimana ia juga mengamati tipe-tipe pola-pola dan tema-tema khotbah. Terkadang
eksentrik dan mengharukan, terkadang teduh dan menidurkan, dan ada juga yang
berkobar-kobar penuh semangat, dimana khotbah-khotbah tersebut tak terkait
dengan realitas sosial (khotbah antah-berantah).
Sudrun memenuhi undangan suatu
kelompok masyarakat di pedalaman yang mengungkapkan bahwa masyarakatnya adalah
‘kerak’ sejarah; anak-anak terpilih selalu pergi meninggalkan mereka dan amat
sedikit yang bersedia kembali pulang.
Dengan bil hikmah wal mau’idhah hassanah, Sudrun menemani anak-anak muda
gitaran, menantang mereka berimprovisasi dan kemudian menciptakan lagu dan
syair sendiri, diikuti dengan riset tradisi dan kasidah. Dan pada malam kelima
dimana Sudrun tampil di acara Maulid Nabi di lapangan, anak-anak tersebut ia
minta naik panggung.
Tak ada proses sejarah tanpa peran
hidayah Allah, dan salah satu soal serius pada anak-anak muda ialah rasa
terbuang, rasa diri sampah, tiadanya kepercayaan diri dan kepercayaan
lingkungan. Pertumbuhan anak-anak muda pun terkait secara dialektis dengan problem
menyeluruh dari lingkungan masyarakatnya.
Dewasa ini sastra sufi sedang
ngetren, dimana terdapat sastra religius (sastra diniyah), sastra sufistik
(tasawuf), serta sastra profetik (nubuwah). Sastra religius merupakan ungkapan
kesadaran keilahian, yang jika dikhayati menjadi sufistik, dan jika menekankan
pada tablig sosial nilai-nilai keilahian menjadi profetik.
Sebenarnya hidup ini hanyalah
memilih ‘indallah ataukah ‘indannas, mata Allah atau mata manusia.” Kiai Sudrun
suka memakai fabel, kisah-kisah binatang, untuk menyampaikan maksud-maksud
dakwahnya, dimana ia mendapati hadirin pengajiannya makin meningkat disertai
mendapatkan julukan Kiai Buntut.
Kiai Sudrun akhirnya menegaskan
bahwa “wanita tidak boleh tampil”, dalam artian bahwa seorang wanita tidak
boleh menonjolkan unsur-unsur kewanitaannya. Dimana pria yang sehat akal
budinya hidup tidak terutama berdasar kesenangan, tapi kebaikan dan kesehatan.
Kiai Sudrun menjumpai suatu situasi
umum yang merata, yakni keadaan “merasa miskin”. Namun, di suatu tempat Kiai
Sudrun membantah itu dengan keras, mengungkapkan bahwa para organisator umatlah
biang keladinya.
Dunia modern adalah produser utama
anak-anak yatim, suatu tata hidup yang merenggangkan hubungan kasih
kemanusiaan. Di negeri orang-orang berpengetahuan tinggi yang menyebut diri
modern ini, dalam banyak hal, negara meyatimkan rakyatnya, pamong meyatimkan
penduduknya, pemimpin meyatimkan umatnya, dan sebagai umat; siapakah bapak-ibu
sejarah Anda?!
Mendapqti seorang pengemis yang
membacakan ayat-ayat suci al-Qur’an, sahabat Sudrun mengungkapkan kesedihannya
atas ekploitasi ayat suci untuk mencari nafkah. Hal ini mengingatkan Sudrun
bahwa banyak dari pekerjaan orang Islam adalah mempermalukan Islam. Sahabat
Sudrun kemudian mengungkit perihal panitia pembangunan masjid di jalan-jalan,
dan Sudrun berkata; “Mereka mengemis dan membangun masjid, kita tidak mengemis
dan tidak membangun masjid.”
Kiai Sudrun sedang amat
rajin-rajinnya memacu dakwah bilisanil hal—dakwah dengan bahasa perbuatan,
bahasa aktivitas, bahasa gerakan. Ia mengungkapkan perlunya umat Muslim untuk
menyelenggarakan proses “reinstitusionalisasi” urusan-urusannya dengan mengadakan
pojok-pojok aktivitas yang membumi di setiap masjid.
Azan itu mau dilantunkan dengan lagu
apa pun dan bagaimanapun boleh, asal ia merangsang jiwa untuk memasuki rasa
tauhid, dimana rendahnya mutu artistik azan-azan merupakan salah satu indikator
dari keseluruhan dekadensi budaya keagamaan.
Kiai Sudrun dengan menggebu-gebu
mengungkapkan bahwa; Kita harus ciptakan bukan hanya ‘orang Islam yang tidak
miskin’, tapi juga ‘umat Islam yang tidak miskin’. Namun, ia mendapati
orang-orang bersikap dingin dan canggung, dimana selepas acara seseorang memberitahunya
bahwa orang yang menyambut kedatangannya adalah seorang rentenir.
Banyak orang iseng-iseng memanggil
Sudrun dengan “Kiai”, dimana term “kiai” lebih terkait dengan kebudayaan Jawa
dibanding dengan nilai Islam. Masalahnya: Sudrun merasa harus melawan
“kulturalisme” semacam itu dan berkewajiban mendorong umat untuk lebih memakai
objektivitas, serta lebih memprinsipi nilai-nilai religi di atas kultur.
Saat sedang berdiskusi dengan para
jemaah kaum muda di sebuah masjid, beberapa orang berseragam mendadak muncul,
mengarahkan Kiai Sudrun mengajak mereka ke beranda masjid untuk membicarakan
perihal sopan santun dan pentingnya perizinan.
Baru tiba di kantor takmir masjid,
utusan tiba untuk meminta Sudrun menemui Kapolresta, yang Sudrun terima dengan
lapang dada, meminta Kapolresta untuk hadir bersama keluarganya. Selama
pengajian, Sudrun seringkali menyebut namanya dengan nada gurau segar, sehingga
keduanya saling tertawa selepas acara.
Karena sudah terlanjur menyanggupi,
dalam keadaan sakit demam pun Kiai Sudrun berangkat. Ia tiba di mimbar
seolah-olah sehat walafiat, segala sesuatunya beres. Hanya saja ada diskusi aurat politik
setelahnya, dimana Sudrun tidak punya uang sejumlah harga karcis kereta untuk
kembali ke kota domisilinya.
Saat tengah memilih-milih kaus di
sebuah toko, Kiai Sudrun terkejut mendapati tepukan seorang pemuda yang
bertanya; “Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan Ekonomi Pancasila?” Segala
sesuatu ada ruang dan waktunya.
Kalau kata ‘Arab dikurangi huruf
‘ain, yang tinggal adalah Rab. Rab itu artinya Tuhan. Penjelasannya: melalui
proses religiusasi, universalisasi, serta transendensi dari segala tingkat
budaya dan primordialitas, orang Arab tiba ke Rab. Inferioritas dan superioritas,
dengan berbagai variasinya itu bagaikan anggota pasukan Abrahah yang menyerbu
kesejatian Kakbah, ibadah haji, dan persaudaraan Muslimin maupun universal.
Subjek dan letak kepemimpinan ada
pada keseluruhan makhluk dalam sistem semesta. Sesungguhnya, saya setuju pada
“kecenderungan universalisasi Islam” model Gus Dur, yang menginginkan agar
Islam diterapkan lebih sebagai “kata sifat” ketimbang “kata benda”. Untuk apa
ada NU dan Muhammadiyah kalau organisasi keagamaan primordial seperti itu toh
tidak elektif dan tidak cukup fungsional terhadap kebanyakan problem mendasar
kehidupan kita? menyebarnya sikap dan pilihan politik umat Islam ke PPP,
Golkar, maupun PDI, sebenarnya mencerminkan kenyataan bahwa konsep kepemimpinan
umat Islam di Indonesia belum tertemukan.
Sosialisme adalah suatu sistem
sosial yang merekayasa suatu komunitas dari format dan atmosfer kapitalisme ke
komunisme. Bagaimana menjelaskan kepada rakyat dari negeri dengan trauma
dahsyat revolusi 1965 ini bahwa sosialisme, komunisme, dan ateisme, misalnya,
saudara kandung. Alhamdulil-Marx, bahwa kebanyakan rakyat kita relatif masih
bisa didustai. Memerlukan agama tak berarti Anda harus memeluk suatu agama; Ia
bisa berarti bisa memerlukan semacam “kerendahhatian” terhadap sesuatu yang
lebih tinggi dan sejati. Agama boleh saja difungsikan sebagai semacam pohon
pionir suatu serbuk yang tak berdiri sendiri sebagai pohon, tapi menabur dan
menyifati pepohonan yang tumbuh—dengan nama apa pun. Apalagi sekarang adalah
zaman ketika al-Islamu mahjubun bil-Muslimin; Islam ditutupi oleh
pemeluk-pemeluknya sendiri.
Sesudah pertemuan yang melelahkan,
saya berjalan ke masjid (sebuah gubug darurat) untuk ber-Isya’. Kami menangis
dalam doa; “Doa kita adalah benih tanaman yang tak bisa tumbuh karena tanah
perbuatan nyata hidup kita bukan tanah subur baginya.” Kalau boleh, aku ingin
menyebutnya Masjid Al-Huzn; Masjid duka.
Kiai As’ad tak bersedia kembali
dirumahsakitkan dan telah mengucapkan “Monggo!” kepada “nuwun sewu”-nya sang
petugas maut, sambil mempersilahkan berkeliling-keliling pesantren menunggu
“D-day” kewafatannya (4 Agustus 1990). Saya dihinggapi kecemasan, karena Gus
Dur belum sempat sowan kepada beliau (tidak klop waktu dengan K.H. Ahmad
Siddiq). Hal ini mengingatkan saya pada esai “Slilit sang Kiai”. Persoalannya
mungkin bukan “harus dihapus itu lembaga musytasyar karena berlaku dominan dan
intervensi”, melainkan “musytasyar yang bagaimana”; Kalau gigi kesakitan karena
ada kerikil dalam nasi, jangan buang nasinya, tapi ambil dan buang kerikilnya
saja.
Sering kali saya merasa ge-er bahwa
jangan-jangan Pak Harto itu diam-diam memperhatikan omongan-omongan saya:
“Kalau orang besar menempeleng orang kecil, ia kehilangan kebesarannya.” Jadi,
kalau Pak Harto membuka pintu “hilangkan budaya membuka petunjuk”, jangan
terlalu peduli apa asbabun nuzul-nya serta apa ‘illah politisnya.
Tatkala tokoh kita, Dr. Amien Rais,
melemparkan ide mulia tentang zakat profesi, sekelompok ilmuwan fiqih
menuduhnya “kafir”, sebab mewajibkan sesuatu yang tak wajib. Mungkin saja dia
kufur dari level fiqih, namun meningkatkan diri ke tingkat akhlak dan cinta. Bukankah
ayat-ayat tentang akhlak dan tentang cinta dalam Al-Quran jauh lebih banyak
dibanding ayat-ayat fikih?!
Ilmu berasal dari bumi Allah,
berpusat dari sumur firman (Al-Quran), yang diperoleh dari teknologi rohani:
aku timbanya, zikir ibu talinya. Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa
mendatangkan ibuku pada saat-saat terpenting dalam hidupku; Ia datang ketika
partai memojokkanku untuk tampil di alun-alun Yogyakarta, juga saat ribut soal
majalah yang menyebut-ku non-Islam. Seakan Ibu bergumam: “Aku yang ngandung
anakku itu, ya Allah, akulah yang merasa sakit kalau ia disakiti ....”.
Bapak Haji Muhammad Soeharto,
Presiden RI, menginstruksikan agar para gubernur berhati-hati terhadap tiga-ta:
harta, tahta, dan wanita. Apakah itu adalah cermin betapa religiusnya bangsa
kita?, adapun Sang Pencipta menyatakan bahwa “tidak ada paksaan dalam
beragama”. Masalah sesungguhnya hanyalah “perempuan di atas piring”. Akan
tetapi, itu suatu khusnul khothimah, dengan ditambah satu “ta” lagi; yakni
mata-mata.
Terima kasih kepada Kepala Sekolah
yang melarang siswinya yang memakai jilbab, sebab hal itu menjadi popularisasi
jilbab. Hal ini menegaskan kenyataan dialektika, kalau tekanan-tekanan
dilakukan: apa yang akan terjadi justru berlawanan.
Kematian Eyang Koko (Dr.
Soedjatmoko), “embahnya” seluruh ilmuwan sosial di negeri ini, membuat kita
semua menitikkan air mata. Eyang Koko telah lama ber-Isra—dalam arti
mengembarai perspektif kosmopolitanisme. Maka, alam tafakur Eyang Koko kemudian
ber-Mikraj. Dimana ia telah telah mengatakan sebait kata kepada kita semua,
“Bangkitkan diri keagamaanmu, itulah jawaban satu-satunya bagi kebutuhan
hari-hari di hadapanmu ....”
Ketika samudera manusia di
Adisucipto men-subya-subya Panjenenganipun Paus Johannes Paulus II, saya
dikagetkan dengan kedatangan Sayyidina Umar bin Khattab. Beliau membawa pedang
raksasa, dan kemudian menanyakan; “Mana Sekaten!?”
Malam yang hanya bisa dibayangkan
sebagai lebih baik daripada malam-malam seribu bulan; Khairun min alfi syahr.
pada Lailatul Qadar, ditawarkan kepada kita previlese. Allah menerima
permintaan Anda secara “ahistoris”. Dalam konteks iradat, pengampunan mendasarkan
diri pada hisab, sementara dalam konteks qadar, Allah memberi grasi ….
Ketika Nabi Hud hidup, hanya
beberapa dekade belaka sesudah zaman Adam, Idris, dan Nuh, manusia dikelilingi
oleh gedung-gedung pencakar langit. Peradaban anti tauhid level filosofi ala
Namrudisme di antitesis oleh tauhidisme Ibrahimiyah. Peradaban anti tauhid pada
skala filosofis, intelektual-strategi, serta kemudian skala
kebudayaan-peradaban tersebut memuncak pada komplikasi peradaban jahilisme yang
memerlukan insan kamil bernama Muhammad. Ketika abad demi abad berlalu sesudah
Muhammad, jahilisme itu mengalami beberapa kali modifikasi bentuk, tapi esensi
persoalannya sama; paradigma struktur Ka'bah sebagai terapinya.
Nilai-nilai Islam bisa berbeda atau
bertentangan, bergantung anggota kelas sosial mana yang menginterpretasikannya.
Pengembangan Islam itu sendiri dilakukan dengan “politik pedang”. Sikap apriori
dan ketidakadilan pandangan Islam seperti itu ditunggangi pula oleh kaum
orientalis; Islam jadi pelanduk.
Ketika tulisan ini saya ketik, 104
saudara kita telah terbang bersama para malaikat meninggalkan ufuk semesta;
Bagaimana kita menyikapi kematian? Senjata kita hanya satu: pasrah, apa pun
saja kita pasrahkan kepada-Nya; juga kebingungan, kecemasan, duka, atau pun
kegembiraan.
Kisah unta sahabat Rasulullah
mengungkapkan adanya perbedaan serius antara musibah dengan kesembronoan
manusia. Hal ini juga bisa kita saksikan dalam musibah terowongan di Arab
Saudi.
Salah satu doa Rasulullah, yang
disebut di surat Al-Anbiya adalah, “Gusti, hakimilah dengan kebenaran ....”
Oleh karena itu kita semua harus senantiasa belajar memperlakukan segala
peristiwa dengan kebenaran dan keadilan. Dari itu, kita tidak boleh berpendapat
Arab sama sekali tak bersalah; Memaafkan adalah memaafkan, kesalahan adalah
kesalahan.
Beberapa tahun saya ikut menemani
sejumlah anak muda Muslimin-Muslimat berkesenian, dan saya sering menyebut
mereka “anak yatim”. Mereka itu tak ada yang menyirami sampai kemudian seorang
ibu tua, seorang tokoh pemimpin Pusat Aisiyah, mengulurkan tangan. Ibunda sepuh
itu percaya bahwa karya-karya seni budaya sudah saatnya dijadikan sebagai salah
satu metode dakwah.
Imam Masjid Al-Aqsha (“alladzi
barakna haulah?) mengemukakan kegembiraannya atas upaya solidaritas umat Islam
Indonesia terhadap perjuangan Palestina. Meskipun segala kebatilan di Timur
Tengah maupun di kampung kita sendiri sama-sama tidak bisa kita atasi, toh kita
masih berhak untuk berdoa semoga “Pekan Palestina” ini tak berhenti sebagai
romantisme kosong.
Keberadaan putra kiai yang mengikuti
Festival Mobil Gila mencerminkan tingkat keadaan masyarakat kita yang sudah tak
dipusingkan oleh kemiskinan, ketimpangan sosial, atau problem-problem lain.
Konsumerisme ialah keadaan ketika
mekanisme konsumsi yang juga merupakan kasus ekonomi, kasus budaya, bahkan bisa
dilatari atau ditujukan untuk proses-proses politik. Hal ini sebagaimana
konflik terbuka antara Musa melawan Fir’aun (Q. S. ThoHa: 65-69). Landasan
kriterianya bisa kita ambil; “Kuluu wasyrobuu, wa laa tusrifuu” (Makan dan
minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan).
Hari Lebaran saya kali ini ialah
bercengkerama di sebuah pesantren, setelah enam belas tahun lebih tak ketemu
Pak Kiai. Beliau mendadak berinisiatif untuk mengajak berkeliling, menyebut
satu per satu, menjelaskan segala sesuatu yang kami datangi. Etos kesantrian di
pondok ini selalu dipacu “berpikiran bebas”. Hal ini mengingat saya pada
kultural “mafia Robin Hood”, dimana pak Kiai mendekati mereka “bilhikmah
wal-mau’idhah hasanah”.
Gara-gara sebuah lembaga dakwah
kampus menyelenggarakan Ramadan Pop, Maulid Pop, dan lain sebagainya, kini
mewabah Pengajian Pop di kampung-kampung. “Pop” menggemakan
udara “pembebasan”, dengan adanya
“aksesori” seperti pergelaran musik, pembacaan puisi, anak-anak muda memuisikan
hadis dan dilagukan, dan seterusnya.
Hampir semalaman, di lesehan
Malioboro, kami bercengkerama dengan seorang pejabat tinggi yang diam-diam
digelari Kiai Kantong Bolong. Pertama, sudah pasti, karena hatinya lapang.
Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!
Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


0 comments:
Post a Comment