Friday, October 10, 2025

Sinopsis "Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai - Emha Ainun Nadjib" Bahasa Indonesia

 Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai
by: Emha Ainun Nadjib

Refleksi Ubudiah

Dalam hidup yang makin sengkarut, kaca kejiwaan kita menjadi buram oleh debu-debu kotoran. Maka, alangkah butuhnya kita akan guyuran hujan, alangkah dahaga kita akan pencahayaan—mungkin sehari lima kali tidaklah cukup bagi jiwa kita yang sering kali terasa sudah karatan.

Tafakur itu “staf”-nya iradat, “buruh”-nya kemauan hati, computer drive-nya kehendak-kehendak rohani. Rasulullah Saw mengungkapkan bahwa engkau harus lebih tahu, harus sungguh-sungguh menguasai permasalahan dunia di mana engkau hidup. Adapun pemimpin adalah orang yang lolos sesudah menyibak desakan-desakan. Salahkah kalau seorang ulama melakukan shalat Istikharah untuk memohon petunjuk siapa sebaiknya pemimpinnya?

Bedug, gendang besar, dengan pola-pola aransemen musikalnya yang bermacam-macam adalah bagian dari kenikmatan budaya keislaman kami, yang katanya itu bidah. Mendapati adzan tanpa kualitas (dibandingkan pendahulunya), hati saya berdoa; “Ya Allah! Yang hamba mohonkan hanyalah jangan sampai ada orang yang tidak kerasan dalam Islam gara-gara mendengar adzan yang demikian.” Dari Muhammadiyah-lah saya mengetahui bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan.

Ada jarak yang tidak terkirakan antara pengetahuan dengan ilmu. Jika ilmu, yakni penghayatan akan kebenaran bersenyawa dengan cinta, maka tercapailah tataran takwa. Dan takwa itulah target puasa. “Makan hanya ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang” adalah formula tentang kesehatan hidup. Maka, yang bernama “makan sejati” ialah makan yang sungguh-sungguh untuk perut. Puasa adalah penguraian “nafsu” dari “makan”.

Saya menyebut pahala sebagai salah satu “terminal”. Artinya, ia bukan sesuatu yang harus kita jauhi, melainkan justru kita datangi. Atau, lebih tepatnya kita singgahi, kemudian kita tinggalkan. Lantas ke mana? Ke “terminal cinta terakhir”. Siapa lagi Dia kalau bukan Allah. Kalau obsesi kita adalah pahala dan surga, dan kalau itu kita utamakan, “Ibadah kapitalis” itu namanya. Puasa hadir untuk mengingatkan kita pada cinta dan tuntutan-Nya.

Idulfitri adalah momentum tertinggi, dimana bergema takbir, sebagai jalan kembali ke hadirat-Nya. Id dan fitri berarti kembali dan fitrah, sehingga mengidulfitri berarti kembali mengalam. Hal ini mengingatkan kita pada Ibu, Ibu Quran (Ummul Quran), sebagai cikal bakal ajaran cinta, kasih sayang, kepengasuhan dan pengelolaan. Oleh karena itu, puasa adalah media autokritik bagi manusia, komunitas, kebudayaan, dan peradaban. Dengan demikian, prinsip utama realitas Idulfitri ialah muthahhar (manusia yang tersucikan). Dan, firman “Ibu Quran” adalah pintu gerbang intelektualitas, kemudian spiritualitas, untuk memasuki “gelombang Allah”: “Maha-Ibu” dari kehidupan.

Allahu Akbar berarti Allah-lah Mahasebab dari segala sebab (Musabbilal Asbab). Dari itu, “Allahu Akbar” adalah ucapan-ucapan spontan yang seyogianya terlontar dari mulut dan batin kita kapan saja dan di mana saja.

Di samping prinsip kuantitatif bahwa puasa adalah menahan diri dari makan, minum, seks, dan segala maksiat—tema kualitatifnya selalu adalah “menahan nafsu”: suatu persoalan psikologis. Untuk itu, “rohani” ini harus menjadi perhatian khusus kita, bahwa “diri” manusia amat sederhana, tapi sekaligus amat tidak sederhana.

Beberapa kali kita mengalami dan menghayati kefitrian natural: bahwa gelar, pangkat, status sosial, fungsi birokrasi, dan seterusnya itu hanyalah apa, sedangkan siapa kita adalah manusia. Dan puncak pelajaran dan ujian hidup adalah bagaimana lulus menjadi manusia?

Sambil bersyukur, bersalaman, dan bermaaf-maafan melebur segala dosa serta mungkin dengan sedikit berpesta, insya Allah ada baiknya kita isi juga Idulfitri ini dengan aktivitas ke-“dalam”: suatu introspeksi. Dari kaca cermin itu (Islam ialah kepasrahan) tampaklah redupnya cahaya kemusliman pada perilaku sosial budaya kita. Seyogianya seorang pemeluk agama memang mesti menguasai betul apa yang dipeluknya; merespons secara Islam terhadap situasi masyarakat. Islam itu bergantung kreativitas manusia yang memeluknya; apakah kita sudah cukup intens dalam memasrahkan diri kepada Allah?

Haji adalah puncak totalitas penyatuan antara tiga dimensi; kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Ketika kita berputar mengeliling Ka'bah, kita seolah-olah melakukan “tarian sunnatullah”. Tatkala para hamba Allah itu bersujud, yang mereka sembah bukanlah Kakbah, melainkan simbolisasi ahad dan wahid. Syahadat memfokuskan diafragma idealisme hidup; Shalat mencahayai jiwa; Zakat melatih kesadaran akan hak orang lain; Puasa membuat manusia jadi pendekar kehidupan; dan Haji adalah madu dari semuanya.

Dengan rasa cemburu yang baik, dari jauh kita mengucapkan selamat dan salut kepada para penempuh ibadah haji, yang kemudian memiliki kesanggupan untuk “ghasal” dan “iqamah” (madu): memandikan lingkungannya, menegakkan kebenaran di tengah masyarakatnya. Zakat menawarkan penyempurnaan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ibadah haji adalah sebuah workshop pencerahan diri, tercerahkan secara intelektual, spiritual, mental, serta moral.

Para haji, ketika melakukan ihram, berkesempatan untuk mengalami puncak “Idulfitri”: menyadari universalitas dan universalisme, mengajak manusia untuk kembali sungguh-sungguh menjadi manusia. Haji, karena tingkat kualitas kemanusiaannya, adalah the main agent of social change.

Islam dan Perspektif Sosial Kemasyarakatan

Perilaku orang nonMuslim tidak jarang lebih Islam dibanding perilaku kita yang Muslim syahadat fasih ini. Jadi, kita harus siap menilai Muslim-kafir lebih dari sekadar gincu bibirnya. Dengan demikian, kita bisa menemukan makna Ukhuwah Islamiah secara lebih luas.

Kehidupan sedang bergerak maju, menuju pencapaian-pencapaian modern yang mengagungkan dan menggiurkan; tapi salah satu yang kita songsong dengan gerak maju itu ialah proses penguraian kebudayaan. Pola masyarakat tradisonal yang agraris-homogen merupakan wadah yang amat menguntungkan untuk terbinanya “Ukhuwah Islamiah” di kalangan kaum Muslim.

Kalau dalam lakon drama dakwah tokoh Fulan yang jahiliah mendadak insyaf sesudah dipetuahi oleh Ustaz Karim dengan beberapa ayat dan hadis, itu berarti sutradaranya tak memahami strategi hidup dan kurang mengamati dialektika batin mental seseorang dengan lingkungan yang memberinya pengalaman-pengalaman. Pertumbuhan kehidupan yang kita alami ini belum menunjukkan bahwa kebudayaan dan kemanusiaan kita benar-benar telah bersembahyang.

Kita semua (saudaraku seakidah) selalu bersatu dalam tauhidillah dan tak sebuah macam makhluk pun yang mampu memisahkan kesatuan kita itu, kecuali kekeruhan rohani kita sendiri: “marodhun fii quluubinaa”. Maka, tak ada pilihan lain kecuali tawaduk. Dari itu tak bisa tidak harus dimulai dari kesediaan kita semua untuk memerangi berbagai marodhun di dalam diri kita sendiri.

Islam dan Perspektif Kemasyarakatan

Minggu 30 Juni 1990, Pak Kiai Gontor meplokramirkan drama kolosal ‘Bani Khidlir” diikuti oleh tiga ribu santri disertai kisah Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai. Gontor memang gawat, sistem pematangan santri yang solid, mobilitas kerja tinggi, dan keterbukaan yang tiada bandingnya.

Kaum santri tidak memerlukan idiom “santri cendekiawan” karena salah satu substansi kesantrian adalah kecendekiawanan. Sesungguhnya dengan “etos santri”, kaum santri adalah penghuni garda depan dari proses modernisasi. Di tengah keprihatinan tentang “terlibatnya” kaum santri tersebut, saya memandang Pesantren Gontor dengan optimis.

Pembangunan nasional yang murni sebaiknya tidak memusatkan keberangkatannya dari subjektivitas santri atau abangan, tetapi dari objektivitas pembangunan itu sendiri: kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, dan demokrasi. Di kalangan rakyat, santri dan abangan sudah dengan sendirinya terbiasa bekerja sama dalam pembangunan, sementara di kalangan birokrasi dan elite kekuasaan bisa mulai muncul aspirasi politik santri tanpa otomatis dicurigai sebagai antinasionalisme.

Seorang mubaligh yang letih memberikan khotbah dan ceramah memutuskan untuk berhenti mengkritik dan meminta orang-orang untuk mulai mengkritik diri sendiri disertai pertanyaan; apakah kita benar-benar ingin menegakkan sesuatu?!

Di antara berbagai kunjungan Idulfitri, saya mencatat silaturahmi ke Pondok Gontor, yang mengajarkan berendah hati (manusia sekadar bernilai “tiada” di hadapan Allah Yang Maha-ada), berbudi luhur (kependekaran untuk menaklukkan “kuda liar diri sendiri”), berpengetahuan luas (mendobrak segala tembok penjara kebodohan), dan berpikiran bebas (kreativitas dan demokrasi).

Dalam acara teater di Pesantren Tebuireng, Kiai Yusuf mengungkapkan bahwa wali sanga sukses berdakwah dengan teater, dimana ia berhasil menangkap ular berbisa. Dari itu, jangan hanya tahu teater thok tanpa kenal kebaikan dan kebenaran, jangan mau dakwah thok tanpa tahu estetika penyampaian.

Seorang Mubalig datang ke desa dengan membawa “SK Tajdid” tanpa “formal-survey” yang ilmiah. Mendapati Kiai pembaharuan memelihara anjing, kuungkapkan betapa baiknya memelihara anak yatim, bahwa agama bukan sekadar soal boleh dan tak boleh.

Betapa besar rasa syukurku kepada Allah jika datang seorang saudaraku menegurku dari kesesatan. Tapi Saudaraku, kapankah kita akan makin dewasa dan siap mengatasi kemelut zaman apabila harus berdebat soal-soal yang semestinya tak memerlukan perdebatan? Adapun bergurau itu bahwa di puncak tangisku aku tertawa, di puncak tawaku aku menangis.

Dari Abu Thalib dan Musailamah al-Kadzzab kita dapat melihat perjuangan syiar musik Islam yang terlalu sibuk dengan konsepsi intelektual dan kurang diimbangi oleh semangat kultural.

Tahun ini saya ikut memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw (1982), dan mendapati di sebuah masjid kampung seorang mubaligh sibuk menjual kaset selepas ceramah sementara Samroh tetap ditampilkan dan kemudian dipindahkan ke sisi masjid. Hal ini seakan Samroh tanjidor, mengingatkan kita yang sering kurang mampu menghargai manusia; apalagi “mencintai saudara-saudara seperti mencintai diri kita sendiri.”

Kiai Sudrun Gugat

Pengertian baku tentang sukses yang berlaku dan dipercaya oleh manusia modern hanya yang berasal dari filosofi dan ideologi—misalnya—materialisme, hedonisme, sekularisme, dengan “tarekat-tarekat” teknologisme dan industrialisme sebagai sarananya. Menang-kalahnya seseorang atau sukses-gagalnya seseorang tidak ditentukan oleh apakah ia kaya atau miskin, melainkan oleh kemenangan atau kekalahan mental orang itu terhadap kekayaan atau kemiskinan.

Kiai Sudrun mendirikan langgar. Semacam masjid kecil. Apa bukan musala namanya? Makna religiusnya memang sama saja. Masjid itu tempat bersujud. Musala itu tempat shalat. Menjadi orang Islam dan membangun budaya kaum Muslim terkadang memang dilematis. Kita butuh menunjukkan bahwa umat Islam ini punya eksistensi dan punya identitas khas.

Langgar Kiai Sudrun tak banyak diperhatikan orang hingga mereka dapati Sudrun kasadihan tidak ketulungan, mengungkapkan hadirnya Rasulullah Muhammad saw dan mempertanyakan sikap orang-orang atas kehadiran beliau.

Santri Delun secara khusus menemui Kiai Sudrun hanya untuk mendapati identitasnya dipertanyakan, dimana Kiai Sudrun kemudian mengungkapkan bahwa; guru yang bukan murid itu riya’ dan sombong, murid yang bukan guru itu goblok, kiai yang bukan santri itu sok, santri yang bukan kiai itu pasti tidak maju-maju, seorang bapak harus menaati anaknya; si bapak harus mendidik anaknya untuk menjadi pribadi yang pantas untuk ditaati.

Tengah malam, Sudrun tiba-tiba mendatangi saya sambil nggerundel, mengungkapkan bahwa sejuta orang beranggapan saya sedemikian pentingnya bagi mereka, hampir melebihi pentingnya Tuhan itu sendiri; maka akhirnya saya sendiri menomorsatukan diri, mengutamakan nama besar, melahap posisi, dan saya lupa bahwa saya tidaklah penting.

Akhirnya aku tahu bahwa ada perbedaan besar antara rasa sakit dengan penyakit. Lubang kuburanku menyadarkanku bahwa si bupati, si menteri, si bos besar, dan si pemimpin umat, seharusnya sudah sejak awal kukuburkan sendiri. Di hadapan Allah, baju itu tanggal. betapa terlambat aku mengakui bahwa pada hakikatnya aku ini tiada. Engkau sajalah yang sejati ada.

Sudrun selalu menangis, sebagaimana kalau ia bersujud selewat dua paruh malam. Ia berkata; “Pusatkanlah perhatian dan energi hidupmu kepada umatmu karena Allah lebih bersemayam di kandungan hati mereka dibanding hati pemimpin-pemimpinnya.” Ia kemudian bertanya; “Siapakah kamu?” dan mengungkapkan bahwa umat adalah fasilitas dari Tuhan, pemantul amanat-Nya.

Tatkala berkeliling menemui berbagai jemaah kaum Muslim di sebuah pulau, panitia yang membawa Kiai Sudrun memintanya agar memimpin doa khushushan, dimana doa-doa mereka sangat bersahaja.

Barangkali karena saking khusyuk dan getolnya memerankan diri sebagai khalifatullah fir-ardl, sebagai panitia atau takmir pengundang Sudrun menggunakan sikap dan pola manajemen sendiri. Mereka merubung tubuh Sudrun, bergelantungan di pundak dan lengannya, menjepit pinggangnya, mencabut rambut dan jenggotnya, terkadang menjegal kakinya.

Mengisi kuliah subuh di sebuah radio amatir, Sudrun menjadi lebih akrab dengan siaran-siaran radio lokal. Dimana ia mengungkapkan bahwa rock itu menggambarkan ghirroh, suatu semangat kejiwaan. Dari itu, diharapkan para pemusik Islam dapat menemukan ghirroh mereka sendiri.

Di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, diselenggarakan acara “pengajian puisi” secara rutin, dimana masyarakat dapat merasa sangat masyuk; menangis tersedu-sedu atau memekik-mekik menyesali dosa-dosanya.

Makhluk “manusia” dan makhluk “masyarakat”, dalam era kebudayaan dan pembangunan macam apa pun, tetap membutuhkan manifestasi dari kodrat fitrah mereka. Terlepas dari kemungkinan bahwa gejala tersebut sekadar merupakan langkah pengamanan diri secara psikologis dari orang-orang modern yang merasa banyak dosa?

Untuk urusan akademis di kampus, silakan pakai hukum kompetensi, tapi jangan terlalu dibawa-bawa keluar. Sekarang ini ‘abad reintegralisasi’, era ‘tauhid kebudayaan’, zaman multidisiplin pendekatan saling silang, penyadaran kembali terhadap kesalingterkaitan antar berbagai bidang.

Seperti juga banyak orang Islam yang lain, Kiai Sudrun sudah pernah “numpang shalat” di beberapa ratus masjid, dimana ia juga mengamati tipe-tipe pola-pola dan tema-tema khotbah. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang teduh dan menidurkan, dan ada juga yang berkobar-kobar penuh semangat, dimana khotbah-khotbah tersebut tak terkait dengan realitas sosial (khotbah antah-berantah).

Sudrun memenuhi undangan suatu kelompok masyarakat di pedalaman yang mengungkapkan bahwa masyarakatnya adalah ‘kerak’ sejarah; anak-anak terpilih selalu pergi meninggalkan mereka dan amat sedikit yang bersedia kembali pulang.

Dengan bil hikmah wal mau’idhah hassanah, Sudrun menemani anak-anak muda gitaran, menantang mereka berimprovisasi dan kemudian menciptakan lagu dan syair sendiri, diikuti dengan riset tradisi dan kasidah. Dan pada malam kelima dimana Sudrun tampil di acara Maulid Nabi di lapangan, anak-anak tersebut ia minta naik panggung.

Tak ada proses sejarah tanpa peran hidayah Allah, dan salah satu soal serius pada anak-anak muda ialah rasa terbuang, rasa diri sampah, tiadanya kepercayaan diri dan kepercayaan lingkungan. Pertumbuhan anak-anak muda pun terkait secara dialektis dengan problem menyeluruh dari lingkungan masyarakatnya.

Dewasa ini sastra sufi sedang ngetren, dimana terdapat sastra religius (sastra diniyah), sastra sufistik (tasawuf), serta sastra profetik (nubuwah). Sastra religius merupakan ungkapan kesadaran keilahian, yang jika dikhayati menjadi sufistik, dan jika menekankan pada tablig sosial nilai-nilai keilahian menjadi profetik.

Sebenarnya hidup ini hanyalah memilih ‘indallah ataukah ‘indannas, mata Allah atau mata manusia.” Kiai Sudrun suka memakai fabel, kisah-kisah binatang, untuk menyampaikan maksud-maksud dakwahnya, dimana ia mendapati hadirin pengajiannya makin meningkat disertai mendapatkan julukan Kiai Buntut.

Kiai Sudrun akhirnya menegaskan bahwa “wanita tidak boleh tampil”, dalam artian bahwa seorang wanita tidak boleh menonjolkan unsur-unsur kewanitaannya. Dimana pria yang sehat akal budinya hidup tidak terutama berdasar kesenangan, tapi kebaikan dan kesehatan.

Kiai Sudrun menjumpai suatu situasi umum yang merata, yakni keadaan “merasa miskin”. Namun, di suatu tempat Kiai Sudrun membantah itu dengan keras, mengungkapkan bahwa para organisator umatlah biang keladinya.

Dunia modern adalah produser utama anak-anak yatim, suatu tata hidup yang merenggangkan hubungan kasih kemanusiaan. Di negeri orang-orang berpengetahuan tinggi yang menyebut diri modern ini, dalam banyak hal, negara meyatimkan rakyatnya, pamong meyatimkan penduduknya, pemimpin meyatimkan umatnya, dan sebagai umat; siapakah bapak-ibu sejarah Anda?!

Mendapqti seorang pengemis yang membacakan ayat-ayat suci al-Qur’an, sahabat Sudrun mengungkapkan kesedihannya atas ekploitasi ayat suci untuk mencari nafkah. Hal ini mengingatkan Sudrun bahwa banyak dari pekerjaan orang Islam adalah mempermalukan Islam. Sahabat Sudrun kemudian mengungkit perihal panitia pembangunan masjid di jalan-jalan, dan Sudrun berkata; “Mereka mengemis dan membangun masjid, kita tidak mengemis dan tidak membangun masjid.”

Kiai Sudrun sedang amat rajin-rajinnya memacu dakwah bilisanil hal—dakwah dengan bahasa perbuatan, bahasa aktivitas, bahasa gerakan. Ia mengungkapkan perlunya umat Muslim untuk menyelenggarakan proses “reinstitusionalisasi” urusan-urusannya dengan mengadakan pojok-pojok aktivitas yang membumi di setiap masjid.

Azan itu mau dilantunkan dengan lagu apa pun dan bagaimanapun boleh, asal ia merangsang jiwa untuk memasuki rasa tauhid, dimana rendahnya mutu artistik azan-azan merupakan salah satu indikator dari keseluruhan dekadensi budaya keagamaan.

Kiai Sudrun dengan menggebu-gebu mengungkapkan bahwa; Kita harus ciptakan bukan hanya ‘orang Islam yang tidak miskin’, tapi juga ‘umat Islam yang tidak miskin’. Namun, ia mendapati orang-orang bersikap dingin dan canggung, dimana selepas acara seseorang memberitahunya bahwa orang yang menyambut kedatangannya adalah seorang rentenir.

Banyak orang iseng-iseng memanggil Sudrun dengan “Kiai”, dimana term “kiai” lebih terkait dengan kebudayaan Jawa dibanding dengan nilai Islam. Masalahnya: Sudrun merasa harus melawan “kulturalisme” semacam itu dan berkewajiban mendorong umat untuk lebih memakai objektivitas, serta lebih memprinsipi nilai-nilai religi di atas kultur.

Saat sedang berdiskusi dengan para jemaah kaum muda di sebuah masjid, beberapa orang berseragam mendadak muncul, mengarahkan Kiai Sudrun mengajak mereka ke beranda masjid untuk membicarakan perihal sopan santun dan pentingnya perizinan.

Baru tiba di kantor takmir masjid, utusan tiba untuk meminta Sudrun menemui Kapolresta, yang Sudrun terima dengan lapang dada, meminta Kapolresta untuk hadir bersama keluarganya. Selama pengajian, Sudrun seringkali menyebut namanya dengan nada gurau segar, sehingga keduanya saling tertawa selepas acara.

Karena sudah terlanjur menyanggupi, dalam keadaan sakit demam pun Kiai Sudrun berangkat. Ia tiba di mimbar seolah-olah sehat walafiat, segala sesuatunya beres.  Hanya saja ada diskusi aurat politik setelahnya, dimana Sudrun tidak punya uang sejumlah harga karcis kereta untuk kembali ke kota domisilinya.

Saat tengah memilih-milih kaus di sebuah toko, Kiai Sudrun terkejut mendapati tepukan seorang pemuda yang bertanya; “Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan Ekonomi Pancasila?” Segala sesuatu ada ruang dan waktunya.

Kalau kata ‘Arab dikurangi huruf ‘ain, yang tinggal adalah Rab. Rab itu artinya Tuhan. Penjelasannya: melalui proses religiusasi, universalisasi, serta transendensi dari segala tingkat budaya dan primordialitas, orang Arab tiba ke Rab. Inferioritas dan superioritas, dengan berbagai variasinya itu bagaikan anggota pasukan Abrahah yang menyerbu kesejatian Kakbah, ibadah haji, dan persaudaraan Muslimin maupun universal.

Subjek dan letak kepemimpinan ada pada keseluruhan makhluk dalam sistem semesta. Sesungguhnya, saya setuju pada “kecenderungan universalisasi Islam” model Gus Dur, yang menginginkan agar Islam diterapkan lebih sebagai “kata sifat” ketimbang “kata benda”. Untuk apa ada NU dan Muhammadiyah kalau organisasi keagamaan primordial seperti itu toh tidak elektif dan tidak cukup fungsional terhadap kebanyakan problem mendasar kehidupan kita? menyebarnya sikap dan pilihan politik umat Islam ke PPP, Golkar, maupun PDI, sebenarnya mencerminkan kenyataan bahwa konsep kepemimpinan umat Islam di Indonesia belum tertemukan.

Sosialisme adalah suatu sistem sosial yang merekayasa suatu komunitas dari format dan atmosfer kapitalisme ke komunisme. Bagaimana menjelaskan kepada rakyat dari negeri dengan trauma dahsyat revolusi 1965 ini bahwa sosialisme, komunisme, dan ateisme, misalnya, saudara kandung. Alhamdulil-Marx, bahwa kebanyakan rakyat kita relatif masih bisa didustai. Memerlukan agama tak berarti Anda harus memeluk suatu agama; Ia bisa berarti bisa memerlukan semacam “kerendahhatian” terhadap sesuatu yang lebih tinggi dan sejati. Agama boleh saja difungsikan sebagai semacam pohon pionir suatu serbuk yang tak berdiri sendiri sebagai pohon, tapi menabur dan menyifati pepohonan yang tumbuh—dengan nama apa pun. Apalagi sekarang adalah zaman ketika al-Islamu mahjubun bil-Muslimin; Islam ditutupi oleh pemeluk-pemeluknya sendiri.

Sesudah pertemuan yang melelahkan, saya berjalan ke masjid (sebuah gubug darurat) untuk ber-Isya’. Kami menangis dalam doa; “Doa kita adalah benih tanaman yang tak bisa tumbuh karena tanah perbuatan nyata hidup kita bukan tanah subur baginya.” Kalau boleh, aku ingin menyebutnya Masjid Al-Huzn; Masjid duka.

Kiai As’ad tak bersedia kembali dirumahsakitkan dan telah mengucapkan “Monggo!” kepada “nuwun sewu”-nya sang petugas maut, sambil mempersilahkan berkeliling-keliling pesantren menunggu “D-day” kewafatannya (4 Agustus 1990). Saya dihinggapi kecemasan, karena Gus Dur belum sempat sowan kepada beliau (tidak klop waktu dengan K.H. Ahmad Siddiq). Hal ini mengingatkan saya pada esai “Slilit sang Kiai”. Persoalannya mungkin bukan “harus dihapus itu lembaga musytasyar karena berlaku dominan dan intervensi”, melainkan “musytasyar yang bagaimana”; Kalau gigi kesakitan karena ada kerikil dalam nasi, jangan buang nasinya, tapi ambil dan buang kerikilnya saja.

Sering kali saya merasa ge-er bahwa jangan-jangan Pak Harto itu diam-diam memperhatikan omongan-omongan saya: “Kalau orang besar menempeleng orang kecil, ia kehilangan kebesarannya.” Jadi, kalau Pak Harto membuka pintu “hilangkan budaya membuka petunjuk”, jangan terlalu peduli apa asbabun nuzul-nya serta apa ‘illah politisnya.

Tatkala tokoh kita, Dr. Amien Rais, melemparkan ide mulia tentang zakat profesi, sekelompok ilmuwan fiqih menuduhnya “kafir”, sebab mewajibkan sesuatu yang tak wajib. Mungkin saja dia kufur dari level fiqih, namun meningkatkan diri ke tingkat akhlak dan cinta. Bukankah ayat-ayat tentang akhlak dan tentang cinta dalam Al-Quran jauh lebih banyak dibanding ayat-ayat fikih?!

Ilmu berasal dari bumi Allah, berpusat dari sumur firman (Al-Quran), yang diperoleh dari teknologi rohani: aku timbanya, zikir ibu talinya. Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa mendatangkan ibuku pada saat-saat terpenting dalam hidupku; Ia datang ketika partai memojokkanku untuk tampil di alun-alun Yogyakarta, juga saat ribut soal majalah yang menyebut-ku non-Islam. Seakan Ibu bergumam: “Aku yang ngandung anakku itu, ya Allah, akulah yang merasa sakit kalau ia disakiti ....”.

Bapak Haji Muhammad Soeharto, Presiden RI, menginstruksikan agar para gubernur berhati-hati terhadap tiga-ta: harta, tahta, dan wanita. Apakah itu adalah cermin betapa religiusnya bangsa kita?, adapun Sang Pencipta menyatakan bahwa “tidak ada paksaan dalam beragama”. Masalah sesungguhnya hanyalah “perempuan di atas piring”. Akan tetapi, itu suatu khusnul khothimah, dengan ditambah satu “ta” lagi; yakni mata-mata.

Terima kasih kepada Kepala Sekolah yang melarang siswinya yang memakai jilbab, sebab hal itu menjadi popularisasi jilbab. Hal ini menegaskan kenyataan dialektika, kalau tekanan-tekanan dilakukan: apa yang akan terjadi justru berlawanan.

Kematian Eyang Koko (Dr. Soedjatmoko), “embahnya” seluruh ilmuwan sosial di negeri ini, membuat kita semua menitikkan air mata. Eyang Koko telah lama ber-Isra—dalam arti mengembarai perspektif kosmopolitanisme. Maka, alam tafakur Eyang Koko kemudian ber-Mikraj. Dimana ia telah telah mengatakan sebait kata kepada kita semua, “Bangkitkan diri keagamaanmu, itulah jawaban satu-satunya bagi kebutuhan hari-hari di hadapanmu ....”

Ketika samudera manusia di Adisucipto men-subya-subya Panjenenganipun Paus Johannes Paulus II, saya dikagetkan dengan kedatangan Sayyidina Umar bin Khattab. Beliau membawa pedang raksasa, dan kemudian menanyakan; “Mana Sekaten!?”

Malam yang hanya bisa dibayangkan sebagai lebih baik daripada malam-malam seribu bulan; Khairun min alfi syahr. pada Lailatul Qadar, ditawarkan kepada kita previlese. Allah menerima permintaan Anda secara “ahistoris”. Dalam konteks iradat, pengampunan mendasarkan diri pada hisab, sementara dalam konteks qadar, Allah memberi grasi ….

Ketika Nabi Hud hidup, hanya beberapa dekade belaka sesudah zaman Adam, Idris, dan Nuh, manusia dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit. Peradaban anti tauhid level filosofi ala Namrudisme di antitesis oleh tauhidisme Ibrahimiyah. Peradaban anti tauhid pada skala filosofis, intelektual-strategi, serta kemudian skala kebudayaan-peradaban tersebut memuncak pada komplikasi peradaban jahilisme yang memerlukan insan kamil bernama Muhammad. Ketika abad demi abad berlalu sesudah Muhammad, jahilisme itu mengalami beberapa kali modifikasi bentuk, tapi esensi persoalannya sama; paradigma struktur Ka'bah sebagai terapinya.

Nilai-nilai Islam bisa berbeda atau bertentangan, bergantung anggota kelas sosial mana yang menginterpretasikannya. Pengembangan Islam itu sendiri dilakukan dengan “politik pedang”. Sikap apriori dan ketidakadilan pandangan Islam seperti itu ditunggangi pula oleh kaum orientalis; Islam jadi pelanduk.

Ketika tulisan ini saya ketik, 104 saudara kita telah terbang bersama para malaikat meninggalkan ufuk semesta; Bagaimana kita menyikapi kematian? Senjata kita hanya satu: pasrah, apa pun saja kita pasrahkan kepada-Nya; juga kebingungan, kecemasan, duka, atau pun kegembiraan.

Kisah unta sahabat Rasulullah mengungkapkan adanya perbedaan serius antara musibah dengan kesembronoan manusia. Hal ini juga bisa kita saksikan dalam musibah terowongan di Arab Saudi.

Salah satu doa Rasulullah, yang disebut di surat Al-Anbiya adalah, “Gusti, hakimilah dengan kebenaran ....” Oleh karena itu kita semua harus senantiasa belajar memperlakukan segala peristiwa dengan kebenaran dan keadilan. Dari itu, kita tidak boleh berpendapat Arab sama sekali tak bersalah; Memaafkan adalah memaafkan, kesalahan adalah kesalahan.

Beberapa tahun saya ikut menemani sejumlah anak muda Muslimin-Muslimat berkesenian, dan saya sering menyebut mereka “anak yatim”. Mereka itu tak ada yang menyirami sampai kemudian seorang ibu tua, seorang tokoh pemimpin Pusat Aisiyah, mengulurkan tangan. Ibunda sepuh itu percaya bahwa karya-karya seni budaya sudah saatnya dijadikan sebagai salah satu metode dakwah.

Imam Masjid Al-Aqsha (“alladzi barakna haulah?) mengemukakan kegembiraannya atas upaya solidaritas umat Islam Indonesia terhadap perjuangan Palestina. Meskipun segala kebatilan di Timur Tengah maupun di kampung kita sendiri sama-sama tidak bisa kita atasi, toh kita masih berhak untuk berdoa semoga “Pekan Palestina” ini tak berhenti sebagai romantisme kosong.

Keberadaan putra kiai yang mengikuti Festival Mobil Gila mencerminkan tingkat keadaan masyarakat kita yang sudah tak dipusingkan oleh kemiskinan, ketimpangan sosial, atau problem-problem lain.

Konsumerisme ialah keadaan ketika mekanisme konsumsi yang juga merupakan kasus ekonomi, kasus budaya, bahkan bisa dilatari atau ditujukan untuk proses-proses politik. Hal ini sebagaimana konflik terbuka antara Musa melawan Fir’aun (Q. S. ThoHa: 65-69). Landasan kriterianya bisa kita ambil; “Kuluu wasyrobuu, wa laa tusrifuu” (Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan).

Hari Lebaran saya kali ini ialah bercengkerama di sebuah pesantren, setelah enam belas tahun lebih tak ketemu Pak Kiai. Beliau mendadak berinisiatif untuk mengajak berkeliling, menyebut satu per satu, menjelaskan segala sesuatu yang kami datangi. Etos kesantrian di pondok ini selalu dipacu “berpikiran bebas”. Hal ini mengingat saya pada kultural “mafia Robin Hood”, dimana pak Kiai mendekati mereka “bilhikmah wal-mau’idhah hasanah”.

Gara-gara sebuah lembaga dakwah kampus menyelenggarakan Ramadan Pop, Maulid Pop, dan lain sebagainya, kini mewabah Pengajian Pop di kampung-kampung. “Pop” menggemakan

udara “pembebasan”, dengan adanya “aksesori” seperti pergelaran musik, pembacaan puisi, anak-anak muda memuisikan hadis dan dilagukan, dan seterusnya.

Hampir semalaman, di lesehan Malioboro, kami bercengkerama dengan seorang pejabat tinggi yang diam-diam digelari Kiai Kantong Bolong. Pertama, sudah pasti, karena hatinya lapang.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


0 comments:

Post a Comment

 
;