Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Saturday, August 1, 2026 0 comments

The Brothers Karamazov (Fyodor Dostoevsky)


THE BROTHERS KARAMAZOV
Karya: Fyodor Dostoevsky

 

BAGIAN I

――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――

Buku I: Keluarga Kecil yang Buruk

Bagaimana mungkin seseorang menjelaskan sosok Fyodor Pavlovich Karamazov tanpa rasa jijik sekaligus keheranan yang mendalam? Lelaki tua ini bukan sekadar orang jahat; ia adalah sesosok makhluk absurd yang secara sadar memilih untuk tenggelam dalam kebusukan. Ia menelantarkan anak-anak kandungnya sendiri seolah-olah mereka adalah benda yang tak sengaja terjatuh dari kantongnya.

Dan kini, bertumbuhlah tiga jiwa yang membawa darah kutukan yang sama:

• Dmitri, si sulung yang jiwanya terkoyak di antara hasrat hewani yang membakar dan kehausan akan kehormatan;

• Ivan, sang pemuda rasional yang benaknya dingin bagaikan es, yang mempertanyakan keadilan Tuhan hingga ke batas kegilaan; serta

• Alyosha, si pemuda lembut yang melarikan diri ke balik dinding biara—bukan karena takut pada dunia, melainkan karena kebaikan hatinya yang begitu murni tak sanggup melihat manusia saling menghancurkan.

 

Buku II: Pertemuan yang Tidak Layak

Di dalam sel biara yang tenang, di hadapan Tetua Zosima yang memancarkan kedamaian suci, keluarga Karamazov berkumpul dengan dalih menyelesaikan perselisihan uang. Namun, dapatkah jiwa yang kotor menahan diri untuk tidak menuduhkan kebusukannya di tempat suci? Fyodor Pavlovich mulai bertingkah bagaikan badut liar, sengaja mempermalukan dirinya dan anak-anaknya.

Namun di tengah kekacauan yang menyesakkan itu, terjadi sesuatu yang membekukan darah semua orang: Tetua Zosima tiba-tiba bangkit, berlutut, dan bersujud hingga dahinya menyentuh lantai di hadapan Dmitri. Itu bukanlah penghormatan kepada sang pemuda, melainkan sebuah pertanda gaib atas penderitaan dan jalan salib dahsyat yang kelak harus dipikul oleh jiwa Dmitri yang bergolak.

 

Buku III: Orang-orang yang Dikuasai Nafsu

Betapa mengerikannya ketika ayah dan anak bertarung berebut wanita yang sama! Grushenka—seorang wanita yang mampu menyalakan api kesenangan sekaligus kehancuran dalam diri pria—menjadi pusat gravitasi dari kegilaan ini. Dmitri, dengan dada yang sesak oleh cemburu dan dendam, memuntahkan seluruh pengakuan dosa yang mengerikan kepada Alyosha:

"Aku jatuh ke dalam jurang, Alyosha, dan aku menikmatinya!"

Sementara itu, di balik bayang-bayang dapur, tersenyum Smerdyakov—anak haram yang terbuang dan berpenyakit epilepsi—yang mendengarkan setiap kebencian mereka sambil merajut niat rahasia yang jauh lebih dingin dan beracun daripada yang bisa dibayangkan oleh siapapun.

 

BAGIAN II

――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――

Buku IV: Gejolak Batin

Jiwa manusia adalah medan perang, dan luka-lukanya terpapar di setiap sudut kota. Alyosha berjalan di antara jeritan histeris orang-orang dewasa yang sombong—seperti Katerina Ivanovna yang menyiksa dirinya sendiri dalam martir cinta yang palsu kepada Dmitri.

Namun yang paling meremukkan hati Alyosha justru terjadi di jalanan kumuh: seorang anak sekolah kecil bernama Ilyusha, dengan mata memerah dan tubuh gemetar, menggigit jari Alyosha dengan penuh kebencian. Anak itu tidak membenci Alyosha, melainkan mencoba membela kehormatan ayahnya yang miskin yang telah dihina dan diseret secara kejam oleh Dmitri di depan umum.

 

Buku V: Pro dan Kontra

Di sebuah kedai remang-remang yang bising, Ivan memperlihatkan jurang kegelapan di dalam pikirannya kepada Alyosha. Dengan logika yang tajam dan tanpa ampun, Ivan mempertanyakan Tuhan: Jika Tuhan itu Maha Pengasih, mengapa Ia mengizinkan anak-anak kecil yang tak berdosa menderita dan menjerit ketakutan?

Melalui karyanya, "Legenda Inquisitor Agung", Ivan menggambarkan Kristus yang kembali ke bumi namun ditangkap oleh gereja-Nya sendiri karena Kristus dianggap memberi terlalu banyak kebebasan moral yang tak sanggup dipikul oleh manusia yang lemah. "Aku tidak menolak Tuhan, Alyosha," bisik Ivan dengan dingin, "Aku hanya dengan penuh rasa hormat mengembalikan tiket masuk ke surga-Nya."

 

Buku VI: Rahib Rusia

Sebagai balasan atas kebenaran dingin Ivan yang merusak, Tetua Zosima membisikkan kebenaran lain dari pembaringan kematiannya: kebenaran tentang Cinta Kasih yang Aktif. Ketahuilah bahwa setiap kita bertanggung jawab atas dosa semua orang dan segala hal di bumi ini, bukan hanya atas dosa-dosa kita sendiri.

Dengan napas terakhirnya, sang rahib meminta Alyosha untuk keluar dari biara—bukan untuk bersembunyi dari dosa, melainkan untuk berjalan di tengah kegelapan dunia dan menjadi penghibur bagi mereka yang menderita.

 

BAGIAN III

――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――

Buku VII: Alyosha

Bahkan iman yang paling murni pun harus melewati api ujian. Ketika Tetua Zosima wafat, semua orang berharap akan terjadi mukjizat. Namun yang terjadi justru sebaliknya: jasad sang rahib mulai membusuk dan mengeluarkan bau menyengat. Orang-orang yang dangkal bersorak menuduhnya penipu, dan jiwa Alyosha terguncang hebat oleh keraguan.

Namun, dalam kerapuhannya, Alyosha menemui Grushenka. Di sana, di dalam diri wanita "berdosa" yang dihina semua orang itu, Alyosha justru menemukan benih kasih dan kepedulian yang begitu murni, yang menyembuhkan jiwanya kembali.

 

Buku VIII: Mitya

Akal sehat telah hilang, digantikan oleh kegilaan yang tak tertahankan! Dmitri berlari kencang menerobos kegelapan malam bagaikan orang kesetanan. Tangannya menggenggam alu kuningan, dadanya sesak oleh keputusasaan demi mendapatkan tiga ribu rubel. Ia harus mendapatkan uang itu, atau ia akan mati! Ia melompati pagar rumah ayahnya, melihat lelaki tua itu mengintip dari jendela... Lalu, kegelapan dan darah!

Beberapa jam kemudian, di desa Mokroye, Dmitri meluapkan tawa dan keputusasaannya dalam pesta mabuk-mabukan yang liar bersama Grushenka—sebelum akhirnya pintu didobrak dan polisi menyerbunya atas tuduhan pembunuhan keji terhadap ayahnya sendiri.

 

Buku IX: Penyelidikan Awal

Interogasi berlangsung sepanjang malam, menyiksa dan menguliti jiwa Mitya. Ia menangis, ia bersumpah demi langit dan bumi: "Aku memang menginginkan kematiannya, aku memang berniat membunuhnya, tapi bukan aku yang memukulnya!" Namun siapa yang percaya pada pengakuan seorang pembuat onar ketika semua bukti menunjuk padanya?

Dalam keletihan yang luar biasa, Mitya tertidur di atas kursi pemeriksaan dan bermimpi tentang seorang bayi yang menangis di tengah padang salju yang dingin. Saat terbangun, jiwanya berubah: ia sadar bahwa meskipun ia tidak membunuh ayahnya, ia bersalah atas semua dosa manusia, dan ia siap menderita untuk menebusnya.

 

BAGIAN IV

――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――

Buku X: Anak-anak Sekolah

Kisah beralih pada kepolosan yang terluka. Ilyusha kecil kini terbaring sakit parah di ambang kematian. Di sekeliling pembaringannya, berkumpullah anak-anak sekolah yang dipimpin oleh Kolya Krasotkin—seorang anak cerdas yang berusaha bersikap dewasa untuk menutupi kelembutan hatinya.

Alyosha hadir di antara mereka, bukan sebagai guru yang menggurui, melainkan sebagai sahabat yang merajut benih-benih empati di hati anak-anak itu, mengajari mereka bahwa satu kenangan indah dan penuh kasih di masa kecil sanggup menyelamatkan jiwa seseorang di masa depan.

 

Buku XI: Brother Ivan Fyodorovich

Rasionalitas Ivan akhirnya hancur membusuk dari dalam. Smerdyakov, dengan senyum dinginnya yang mengerikan, membisikkan kebenaran di kamar Ivan: "Kaulah yang membunuhnya, Tuan. Akulah yang memukulnya, tapi kau yang mengajariku bahwa jika Tuhan tidak ada, maka segala hal diizinkan." Pikiran Ivan sendiri telah menjadi belati yang membunuh ayahnya!

Malam itu, dalam demam tinggi dan kegilaan skizofrenia, Ivan didatangi oleh Iblis—bukan iblis bersayap, melainkan iblis medioker berpakaian lusuh yang duduk di sofa sambil mengejek dan menertawakan segala intelektualisme kosong milik Ivan.

 

Buku XII: Kesalahan Peradilan

Ruang sidang menjadi panggung sandiwara moral manusia. Para jaksa dan pengacara hebat bertarung menggunakan logika, psikologi, dan retorika yang memukau. Mereka menganalisis jiwa Dmitri dengan sangat cerdas, namun logika mereka justru memutarbalikkan fakta. Ivan yang gila mencoba mengaku di persidangan, namun dianggap hanya bualan delusi demam.

Para juri, yang dibutakan oleh prasangka dan fakta-fakta permukaan, menjatuhkan vonis bersalah. Sebuah ironi tragis: hukum manusia bekerja dengan sempurna secara logika, namun secara hakiki telah melakukan kejahatan besar.

 

EPILOG

――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――

Epilog: Harapan di Atas Duka

Dmitri akan dikirim ke Siberia, namun Alyosha dan Ivan telah merencanakan pelarian baginya. Novel ini ditutup bukan di ruang sidang yang dingin, melainkan di pemakaman Ilyusha kecil. Alyosha mengumpulkan anak-anak sekolah di dekat batu besar.

Dengan suara yang penuh kehangatan, ia berkhotbah untuk terakhir kalinya: mengimbau mereka untuk tidak pernah melupakan kasih sayang ini, melupakan Ilyusha, dan tidak takut pada hidup. Dan anak-anak itu bersorak bersama Alyosha, menyongsong masa depan dengan benih kebaikan yang telah tertanam abadi di jiwa mereka.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:

- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].

- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, November 28, 2025 0 comments

Sinopsis "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" Bahasa Indonesia

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
by: Brian Khrisna

Seperti malam-malam lain, aku pulang selepas lembur. Tak ada yang menantiku di rumah. Dulu, kupikir merantau ke Ibukota akan mengubah hidupku menjadi lebih baik. Ternyata justru menjadi kota yang membuatku benar-benar ingin berhenti menjalani hidup.

Namaku Ale, umurku 37 tahun, dan aku didiagnosis depresi akut tiga bulan lalu. Tidak ada yang Istimewa di hidupku. Bentuk badanku yang tinggi 189 cm dengan berat badan 138 kg dan kulit hitam ini membuat orang-orang enggan mendekat lebih lama. Orang yang kuanggap teman, mempunyai banyak teman baik dan aku bukan salah satunya. Setelah ditelusuri oleh psikiaterku, ternyata bibit depresiku ini sudah muncul sejak aku kecil. ‘Genderuwo’ dan ‘babon’ adalah kata-kata yang paling sering disematkan kepadaku. Dengan meniup api lilin di kue ulangtahun yang terakhir, aku bertekad akan bunuh diri 24 jam dari sekarang.

Pukul tujuh pagi di hari yang sama, aku memutuskan untuk bolos kerja hari ini. Pukul sembilan, kubersihkan kamar. Pukul sepuluh, kubersihkan diri. Pukul sebelas, kutulis surat kematian. Pukul dua belas, aku mengajak satpam untuk makan siang bersama. Pukul satu siang, aku mengambil sisa tabunganku lalu pergi mengunjungi psikiater. Pukul empat sore, aku menyempatkan mampir ke pet shop, kemudian duduk di taman kota. Selepas azan maghrib, aku pergi ke tempat karaokean, diikuti dengan mabuk dan berjoget sepuasnya di tengah area dansa hingga mereka mengusirku. Setelah sempat tertidur, aku mengambil botol obat yang akan menjadi algojoku, dimana kudapati tulisan “dikonsumsi sesudah makan.” Bayangan betapa nikmatnya seporsi mie ayam, mengarahkanku pergi ke luar hanya untuk mendapati mie ayam-nya tutup.

Aku ingin mati, tapi ingin mie ayam juga. Hal ini mengarahkanku ke rumah si penjual, Pak Jo, yang tenyata baru saja meninggal dunia. Aku yang ingin mati ini, malah membantu prosesi kematian orang lain; Tuhan benar-benar maha bercanda. Dalam perjalanan pulang, kuputuskan untuk membeli rokok di sebuah warung hanya untuk mendapati diriku ditangkap oleh intel.

Aku di gelandang dengan kasar sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam sel tahanan. Dua hari kemudian, orang baru datang dengan santainya, sebagai penguasa sel kami, namanya Murad. Napi baru tiba dengan angkuh, membuatnya babak belur dihajar Murad. Ia kemudian menghampiriku dengan sikap ganasnya, menanyakan bagaimana bisa aku berakhir di sini. Beberapa hari kemudian, Murad menceritakan kisahnya, membuatku kahirnya mengertai apa yang terjadi, dimana Murad berpesan bahwa lebih mudah bagi kita yang hidup dan besar di jalanan untuk menjadi orang jahat daripada menjadi orang baik. Besoknya, aku pun dibebaskan, begitu juga dengan Murad yang mengajakku untuk bekerja padanya. Aku yang sempat terdiam, mendapati pukulan dari Murad diikuti arahan, dan aku pun meminta untuk menelpon Ibu terlebih dahulu.

Kami tiba di dekat palang kereta api, menyusuri gang hingga tiba di sebuah gapura dengan sebuah logo burung cangak. Esok harinya, Murad membangunkanku dengan kasar dan mengataiku, mengajakku untuk ikut melihatnya melakukan penagihan sebelum menyuruhku untuk melakukan hal yang sama. Sikap pengecutku membuatku mendapatkan pukulan demi pukulan dari Murad, yang akhirnya menyadarkanku untuk bersikap tak takut mati. Dan pada pertarungan antara geng Murad dengan geng saingan, aku bersikap tak takut mati di hadapan gerombolan musuh, yang terkejut melihat sikapku dan merasa ciut. Rumor pun mulai beredar di kalangan geng perihal diriku. Di saat cuti, kudapati Murad sempoyongan, diikuti adiknya, yang ternyata bekerja di Lanyard, tempatku bekerja. Mendapati sikap sang adik kepadaku, Murad memberikan sikap persahabatan, dan kemudian memberikan tato penghormatan di punggungku. Hari-hari berjalan biasa, Aku pun menempelkan tanganku di atas nama “Blek” seperi yang selalu Murad lakukan.

Murad kembali hanya mengajakku, dan ternyata menuju salah satu klub malam, dimana Murad mendapati sapaan hangat dari Mami Louisse. Setelah transaksi, Murad meminta barang baru dan pergi membawa gendis ke tempat yang telah disiapkan. Di saat Mami Louisse pergi, aku berbincang-bincang dengan Juleha. Mengetahui kisah cintaku, Mami mengungkapkan bahwa di hadapan orang yang tepat kita tak perlu memohon apa-apa. Bahwa aku sendiri belum bisa mencintai diri sendiri. Tak lama kemudian, aku bertemu dengan Ipul, yang segera mengajakku pergi.

Ipul membawaku ke kontrakannya, menyeduhkan kopi untukku dan menceritakan kisahnya disertai rasa terimakasih yang dalam, membuatku tertegun. Ipul juga menceritakan bahwa beberapa orang di kantor menanyakan keberadaanya, membuatku menyadari bahwa hal-hal yang kita anggap kecil bisa berarti besar buat orang lain. Mendapati keadaanku, Ipul mengungkapkan bahwa hidup akan lebih mudah jika kita bisa belajar menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai berkah yang asing. Selepas sholat shubuh, aku menemani Ipul mengantarkan kue bolu pada Bu Murni, yang menatapku dengan sikap dingin dan tidak berkata sepatah kata pun. Sementara Ipul segera pulang ke rumahnya untuk menghadapi Murad, aku mendapati Bu Murni memberikan sikap hangat disertai permintaan maaf padaku. Mendapati tangisanku, Bu Murni memberikan pelukan hangat, mengusap punggungku dan berpesan agar aku mencari seseorang yang rasa cintanya sebesar rasa cintaku kepadanya. Aku pun memutuskan untuk mengantarkan kue bolu ke tempat-tempat penjualan, dimana dalam prosesnya aku bertemu Pak Uju, penjual layangan yang mengungkapkan terimakasihnya padaku. Rasa penasaran Pak Uju mengarahkan kami saling bertukar cerita, dimana Pak Uju menceritakan kisahnya disertai filosofi layangan.

Dalam perjalanan pulang, kembali ke kontrakan, aku berpapasan dengan seorang penjual buta, Pak Jipren, yang ternyata satu arah denganku. Aku pun memenuhi permintaanya untuk menemaninya pulang. Dalam prosesnya, Pak Jipren menerima tawaran makan dari seorang pemilik warung, dimana aku bertemu kembali dengan teman sma. Dalam kekesalan, aku pergi ke toilet umum untuk meredakan amarah hanya untuk mendapati Pak Jipren mempertanyakan keadaanku, mengarahkanku untuk meluapkan semua rasa kemarahan. Aku kemudian menceritakan kisahku pada Pak Jipren, yang mengungkapkan bahwa sometimes we need close our eyes to truly see the world. Kami pun akhirnya melewati TPU dan tiba di tempat tinggal para tunanetra. Hal ini mengajarkanku bahwa yang paling penting bukanlah melihat melalui mata melainkan melihat melalui rasa.

Aku sekarang duduk di tempat semua ini bermula, membiarkan hujan membasuh seluruh jiwa Ruslan Abdul Wardhana. Setelah mengecek ponsel, aku memacu motorku menjauhi kantor, pergi menyusuri hari-hari dimana Tuhan menuntunku. Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunya kemampuan untuk menerima.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, October 24, 2025 0 comments

Sinopsis "The 5 AM Club - Robin Sharma" Bahasa Indonesia

 The 5 AM Club
by: Robin Sharma

Kejatuhan seorang pengusaha sukses, mengarahkannya pergi menghadiri seminar–dan mengalami terobosan baru yang akan menyelamatkan dirinya–atau menemukan kedamaian, lewat kematian.

Sang pembicara mengungkapkan bahwa “Hidup terlalu singkat untuk menjalani peran kecil dengan bakat besar Anda,” bahwa banyak di antara kita mati pada usia tiga puluh tahun dan dikubur pada usia delapan puluh tahun. Sang pemikat mengingatkan agar tidak membiarkan kepedihan masa lalu menghambat kejayaan masa depan, bahwa “Ide tidak akan berharga sama sekali kecuali didukung oleh penerapan (Kelas dunia dimulai ketika zona nyaman Anda berakhir : Sulit itu pertanda bagus).

Pengusaha, seniman, dan tunawisma, membicarakan perihal sang pemikat dan kematiannya. Si seniman menyukai semua ucapan sang pemikat dan mengungkapkan frasa; “Ketika kekuatan cinta mengalahkan cinta kekuatan, dunia akan mengenal kedamaian.” Sementaraitu, si tunawisma mengungkapkan bahwa ia menyadari kebenaran kata-kata sang pemikat, dan si pengusaha mulai menemukan tekad dalam diri bahwa petualangan sangat istimewa sebentar lagi akan dimulai.

Kepada si seniman, pria tunawisma mengungkapkan pentingnya untuk selalu berada di seputar kualitas terbaik. Si seniman mengungkapkan bahwa ia menyukai perkataan sang Pemikat soal keyakinan prajurit Sparta; “orang yang lebih banyak berkeringat saat latihan lebih sedikit berdarah dalam peperangan,” juga tentang pentingnya menerapkan rutinitas pagi kelas dunia. Mendapati kegagalan si pengusaha, si tunawisma mengungkapkan bahwa kegagalan sebenarnya adalah perkembangan yang tersamar, semenatara si pelukis mengungakapkan bahwa ia lebih suka menjalani hidup yang lebih berisiko (penuh makna). Pria tunawisma mengungkapkan bahwa kita salah meyakini materi dari luar akan mengisi kekosongan dalam diri. The 5AM CLUB; Bagaimana Anda bisa memiliki kualitas kelas dunia jika tidak meluangkan waktu setiap pagi untuk menjadikan diri Anda berkualitas kelas dunia?! (Bangun pukul 5 pagi adalah Ibu dari Semua Rutinitas).

Pria tunawisma menawarkan keduanya untuk menjalani The 5AM CLUB bersamanya, dengan menekankan nilai-nilai; komitmen, disiplin, kesabaran, dan usaha. Si seniman dan si pengusaha berbicara satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran si tunawisma. Si tunawisma tengah membayangkan diri idaman (salah satu POS harian) ketika si seniman dan si pengusaha hendak menyatakan kesediaan mereka.

Si pengusaha dan si pelukis berada di tempat yang dijanjikan dengan sikap sedikit skeptis hingga sebuah Rolls-Royce datang menjemput mereka, dimana si sopir menceritakan sedikit tentang tuannya; Tuan Riley. Setibanya di hangar pribadi, keduanya mengetahui bahwa mereka akan pergi ke Mauritius. Setibanya di sana, sebuah mobil SUV membawa kami menuju perumahan tepi pantai, dimana dalam prosesnya kami menerima plat aturan. Keduanya akhirnya tiba di hadapan Tuan Riley yang ternyata adalah sosok sang Pemikat.

Mendapati penuturan si pengusaha, sang Pemikat mengucapkan selamat datang dan mengungkit bagaimana ulat menjadi kupu-kupu. Sang Pemikat mengungkapkan bahwa kekuatan (kekayaan) sejati tidak pernah datang dari luar, sebagaimana Gandhi dan Teresa, yang menyadari satu tujuan utama dari kehidupan yang terukir indah adalah kontribusi. Sang Pemikat mengungkapkan identitasnya sebagai penasihat Tuan Riley, menekankan Pola Pikir 2x3x dan pentingnya istirahat.

Stone Riley menyapa kedua tamunya, mengungkapkan bahwa ketepatan (waktu) adalah sifat keluarga raja, mengenakan kaos bertuliskan “Ide tidak bekerja sampai Anda mengerjakannya.” sambil menikmati sinar matahari, ia mengungkapkan bahwa Jika tidak bangun pagi, Anda tidak akan memperoleh kemajuan dalam hal apa pun, bahwa hal itu meningkatkan “The Flow State”. Si pengusaha terbangun dari mimpi buruk dan menceritakan kisahnya sebagai Raksasa dan Bajak Laut pada si seniman.

Pukul 5 pagi di tepi pantai, tiga anggota The 5AM Club mendapati sebuah botol berisikan surat, mengarahkan Tuan Riley mengungkapkan bahwa awal dari transformasi adalah peningkatan persepsi, bahwa orang-orang terbaik memberikan perhatian obsesif sampai ke detail paling kecil. Hal yang paling penting: Anda harus bekerja optimal setiap hari (evolusi peningkatan bertahap).

Berpikir tentang kematian membuat Anda menjalani hidup dengan cara yang Anda rasa benar serta memperhatikan keajaiban kecil yang muncul setiap harinya. Si miliuner kemudian mengungkapkan perihal empat fokus pembuat sejarah; penggunaan modal IQ dengan membuat ulang naskah cerita pribadi, bebas dari pengalih perhatian dengan berfokus hanya pada hal terpenting, latihan keahlian pribadi; setiap hari dari dalam diri (melalui Pola Pikir, Pola Hati, Pola Kesehatan, dan Pola Jiwa), dan fondasi penumpukan hari dengan 1% waktu sebagai koreksi dan perbaikan.

Pengusaha wanita berjanji pada diri untuk menjalani sisa hidupnya dengan meniru keunggulan, ketahanan, dan kebaikan maksimal. Sementara si seniman mengungkapkan bahwa ia kembali merasa percaya diri dan menyatakan perasaannya sepenuh hati. Si miliuner membawa si seniman dan si pengusaha menuju Agra, India.

Sambil menyaksikan keindahan Taj Mahal, si miliuner menerima kain sulaman bertuliskan The 5-3-1 Creed of Willpower Warrior; “Secara teratur melakukan hal yang sulit tetapi penting dan terasa tidak nyaman adalah cara prajurit dilahirkan.” Taj Mahal menjadi suatu perumpamaan untuk tetap berkomitmen pada kebiasaan baru melalui kesulitan apa pun (waktu, komitmen, pengorbanan, dan kesabaran). Perbaikan kecil, setiap hari, yang tampaknya tidak signifikan, ketika dilakukan secara konsisten sepanjang waktu, akan membuahkan hasil yang mengejutkan. Tindakan pemicu → ritual → imbalan → pengulangan → kebiasaan seumur hidup. Protokol penerapan kebiasaan berlangsung 66 hari; 22 hari penghancuran, 22 hari penerapan, dan 22 hari integrasi.

Perjalanan menuju Roma mengingatkan si miliuner pada mendiang istrinya, Vanessa. Ia pergi ke sana untuk mengajarkan formula 20/20/20 pada kedua muridnya, dengan diawali wishbone. Penundaan adalah tindakan membenci diri sendiri, jadi terapkanlah formula 20/20/20: bergerak (bernapas dalam-dalam), merenung (jurnal meditasi), dan bertumbuh (belajar secara daring). Tips 5AM: setel alarm pada 05.30. Si miliuner menerima sebuah jual dan menjilatinya, mengungkapkan bahwa mereka akan pergi ke kebun anggur di Afrika Selatan. Si miliuner kemudian mengungkapkan pentingnya jurnal (buku harian), diikuti dengan Pola Pikir 2x3x. Menggunakan skuter, si miliuner membawa keduanya ke makam bangsa Roma, dan mendapati Sang Pemikat juga berada di sana, mengungkapkan bahwa kekurangan atau kelebihan tidur terbukti mempersingkat masa hidup (7,5 jam). Sang pemikat kemudian menyerahkan gulungan berisi rincian ritual sebelum tidur. Pesawat nirawak tiba dengan rincian bagian harian, mengingatkan si miliuner bahwa harta terbaik dalam kehidupan terletak pada momen paling sederhana. Di tengah perjalanan, dua pria bersenjata menyerang mereka, memberikan peringatan keras pada si pengusaha, namun pasukan si miliuner tiba untuk menghentikan mereka. Mendapati tidak adanya si seniman, si pengusaha segera melakukan pencarian dan berhadapan dengan salah satu pria bersenjata. Keesokan harinya, si miliuner mengungkapkan kabar baik pada si pengusaha dan si seniman, diikuti penyerahan karya seni dengan diagram: Sepuluh Taktik Kegeniusan Abadi; aturan gelembung ketat fokus total, aturan 90/90/1, metode 60/10, lima konsep harian, latihan fisik kedua, dua protokol pemijatan, universitas lalu lintas, teknik tim impian, sistem desain mingguan, dan murid 60 menit. Mendapati hadiah si miliuner, si seniman pun membacakan puisinya untuk si pengusaha.

Di perkebunan anggur di Franschhoek, Afrika Selatan, Stone Riley menunjukkan model pembelajaran siklus kembar kinerja elite: fokus mental, energi fisik, kekuatan tekad pribadi, talenta asli, dan waktu sehari-hari. Si miliuner mengungkapkan bahwa pertumbuhan terjadi saat Anda beristirahat; tekanan x pengisian = pertumbuhan + ketahanan. Dengan model pembelajaran kegembiraan sebagai gps, hati Anda tahu tempat Anda harusnya berada: untuk menciptakan keajaiban di dunia, miliki keajaiban dalam diri anda sendiri; kumpulkan pengalaman ajaib, bukan hal-hal bersifat materi; kegagalan memperbesar rasa ketakutan; penggunaan kekuatan utama yang tepat menciptakan utopia pribadi anda; hindari orang jahat; uang adalah buah dari kedermawanan; kesehatan yang optimal memaksimalkan kekuatan anda untuk menciptakan keajaiban; terus tingkatkan standar kehidupan Anda menuju kelas dunia; cinta yang dalam menghasilkan kegembiraan yang tak terkalahkan; surga di atas bumi adalah sebuah keadaan, bukan tempat; hari esok itu sebuah bonus, bukan hak.

Setibanya di Cape Town, Afrika, mereka dibawa ke Pulau Robben untuk melihat sel penjara tempat Nelson Mandela dikurung. Di sana, mereka disambut seorang pemandu wisata, yang merupakan penggemar berat sang pemikat, dan memiliki pengalaman pribadi dengan sang legenda. Si pemandu wisata mengungkapkan bahwa Mandela merupakan seorang pemimpin sejati, seorang pemaaf yang tulus. Sang pemikat pun mengungkapkan perihal Siklus Manusia Pahlawan; 7 kebajikan pengubah dunia (keberanian, pemberian maaf, integritas, pemahaman, ketulusan, kesopanan, dan kerendahan hati).

Beberapa bulan setelah kunjungannya ke Pulau Robben, Stone Riley meninggal dunia.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, September 19, 2025 0 comments

Sinopsis "Book’s Kitchen - Kim Jee-hye" Bahasa Indonesia

 Book’s Kitchen
by: Kim Jee-hye

Hujan es menjelang fajar di ranting pohon bunga plum, Yu-jin menyentuh kertas gambar 3D-nya yang akhirnya berhasil diwujudkan di dunia nyata; Soyang-ri Book’s Kitchen (book cafe & book’s stay).

Da-in debut sebagai penyanyi dengan nama panggung “Diane” dan berhasil mendapatkan status Adik Perempuan Nasional tiga tahun setelahnya. Tiba-tiba, Da-in merasa sosoknya di televisi bagaikan cangkang kosong. Da-in teringat neneknya, yang sangat optimistis dan suka berjalan-jalan menikmati sinar matahari. Ia datang ke Soyang-ri sepeninggal sang nenek dan mendapati hanok tempat tinggal neneknya telah berubah menjadi Soyang-ri Book’s Kitchen, dengan pohon plum yang masih sama. Mendapati keberadaan Da-in, Yu-jin menyapa hangat, dimana Da-in kemudian menceritakan kisahnya. Mendapati pertanyaan Da-in, Yu-jin menceritakan bagaimana ia membeli tanah tersebut. Mengetahui Penulis Seo Jin-ah tidak bisa datang, Yu-jin menawarkan Da-in untuk menginap di sana. Memenuhi keinginan Da-in, Yu-jin menyiapkan kantong tidur untuk melihat bintang. Melihat keberadaan bintang-bintang menyadarkan Yu-jin akan rahasia langit, dan ia mengungkapkan hal itu pada Da-in, mengingatkan Yu-jin akan pemandangan matahari terbit di Gunung Mai. Manajer Da-in tiba sekitar tengah malam dengan membawa berbagai jenis roti kesukaan Da-in, dan mereka membicarakan perihal buku yang hendak dipajang. Da-in meninggalkan Soyang-ri Book’s Kitchen dan menerima hadiah buku terbungkus kertas bermotif polkadot dari Yu-jin.

Setelah empat tahun bekerja, Na-yun mengalami slump. Dan saat ini, ia menerima ajakan kedua temannya menuju Soyang-ri. Si-woo mengungkapkan kedatangan teman-temannya pada Yu-jin, yang menanggapinya dengan resah, dimana mereka menikmati kebersamaan di teras lantai 2. Mereka bangun pagi untuk melihat matahari terbit dengan bersepeda menuju danau, dimana mereka juga merayakan ulangtahun Na-yun. Na-yun memutuskan untuk ikut serta dalam acara mengirim surat bersama buku Tsubaki Stationery Store di Malam Natal.

Choi So-hee sudah tiga tahun menjadi pengacara di sebuah biro hukum kecil di Seocho-dong setelah menjalani tiga tahun sebagai asisten hakim, dimana ia hendak mengajukan diri menjadi hakim. So-hee memutuskan untuk melakukan reservasi ke Soyang-ri Book’s Kitchen, mendengarkan lagu “Over the Rainbow” dalam film The Wizard of Oz di ruang kerja lantai 1. Si-woo bingung mendapati tanggapan So-hee perihal Soyang-ri, sementara Yu-jin dan Hyeong-jun pergi ke Soyang-ri Jazz Music Festival meskipun tengah hujan lebat. Di festival, Yu-jin mendapati keberadaan So-hee, dan menyapanya selesai acara. Sambil menikmati penekuk dan eskrim, ketiganya membicarakan festival tersebut, dimana So-hee bertanya pada Hyeong-jun. Memecah keheningan, So-hee mengungkapkan bahwa ia menderita kanker tiroid dan hendak menjalani operasi. Menanggapi kisah So-hee, Yu-jin mengungkapkan bahwa ia beruntung, sementara Hyeong-jun menceritakan kisahnya di Australia.

Untuk pertama kalinya, di Soyang-ri Book’s Kitchen, Se-rin menyiapkan upacara pernikahan luar ruangan atas permintaan adiknya; Ji-hun. Di acara tersebut, Ji-hun memperkenalkan Ma-ri (sahabat masa kecilnya) pada Se-rin, yang kemudian memberikan keduanya brosur klub membaca malam; “Where the Crawdads Sing”. Dalam acara tersebut, Ji-hun mengajak Ma-ri jalan-jalan menuju tempat yang telah disiapkan oleh Se-rin. Di sana, Ji-hun dengan hati-hati mengungkapkan perasaannya pada Ma-ri, sehingga Mari-pun mengungkapkan bahwa ia menderita Ripley Syndrome.

Min Su-hyeok, 20 tahun, tumbuh besar dengan riang dan berpikir hidup ini indah, meski ada rasa takut pada sang ayah. Berkat dukungan sang ibu, ia belajar musikal di New York. Namun tak pernah berhasil memproduksi satu pun pertunjukan, mengarahkannya bekerja di perusahaan sang ayah. Hal ini memicu kecemasan dalam dirinya, yang diikuti dengan kematian mendadak sang ibu. Berpikir tentang kematian, mengarahkan Su-hyeok pergi mengunjungi Galeri Seni Suhwajin. Mendapati keberadaan Su-hyeok yang menanyakan keberadaan restoran, Si-woo mengajaknya untuk sarapan bersama di penginapan. Su-hyeok menghabiskan dua mangkuk nasi dan memutuskan untuk mencuci piring sebagai bentuk terimakasih. Ia kemudian mengunjungi book cafe, dimana buku Anne of Green Gables mengingatkannya pada sang adik, sehingga ia pun membeli beberapa buku. Sang kurator menyambut kedatangan Su-hyeok dengan hangat, dimana tema pameran kali ini adalah “New York”. Su-hyeok ikut membantu dalam acara mengumpulkan kastanye di pegunungan, mengarahkannya untuk menginap di sana, dan Si-woo pun menawarkan kamarnya. Ketiganya makan malam bersama, dimana Yu-jin dan Si-woo menceritakan kisah masa kecil mereka, mengarahkan Su-hyeok menceritakan keterpurukannya secara tersirat. Su-hyeok yang bangun kesiangan menerima sapaan hangat dari Yu-jin dan Si-woo, dimana ia kemudian pergi berjalan-jalan dengan berkendara. Su-hyeok pun akhirnya kembali ke Seoul.

Yu-jin membuka folder “Soyang-ri Book’s Kitchen_Foto” dalam rangka rapat besok dan melihat video Su-hyeok. Yu-jin terkejut mendapati kedatangan seniornya, teringat kembali masa kelam di perusahaan. Si-woo menyelinap datang dan meletakkan sepiring biskuit coklat di meja, dan keduanya pun saling mengingat kebersamaan mereka, mengarahkan mereka saling meminta maaf satu sama lain. Senior kemudian mengungkapkan kedatangannya untuk meminta bantuan Yu-jin perihal perpustakaan kantor barunya.

Ji-hun mengingat kembali percakapannya dengan Ma-ri, yang datang sepuluh hari setelah peristiwa kunang-kunang untuk memberikan hadiah untuknya. Na-yun menerima paket di depan pintu apartemen studionya pada sore 24 Desember, dimana ia juga menerima undangan malam natal. Se-rin menyambut hangat kedatangan Chan-wook dan Na-yun, yang mempertanyakan hubungannya dengan Si-woo. So-hee melangkah hati-hati memasuki kebun Soyang-ri Book’s Kitchen, dan menerima sambutan hangat dari Yu-jin, dimana ia juga membawa beberapa buku termasuk buku cerita buatannya sendiri. Hyeong-jun datang, diikuti dengan Si-woo yang mengungkapkan bahwa Hyeong-jun telah menulis lirik lagu OST. Si-woo dan Yu-jin menyambut hangat kedatangan Su-hyeok, yang membawa ice wine, selepas bertemu dengan sang ayah di makam sang ibu. Dengan mengangkat cangkir espresso-nya, Yu-jin menceritakan kisah masa kecilnya, dan Su-hyeok pun menceritakan kisahnya.

Malam hari di Hawaii, Da-in  teringat pada langit malam yang dilihatnya di Soyang-ri Book’s Kitchen, dan ia pun mulai menuliskan pesan untuk sang Nenek; sebuah lagu instrumental.

Di Teheran-ro, Seoul, Yu-jin membantu seniornya mendekorasi perpustakaan kantor, yang diberi nama “Jalan Hati”, dan alarm di ponsel memperlihatkan foto-foto hari ini setahun yang lalu.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, June 20, 2025 0 comments

Sinopsis "Jadi Netizen Harus Beriman - Remaja Islam Online" Bahasa Indonesia

 Jadi Netizen Harus Beriman
by: Remaja Islam Online

Kehidupan saat ini begitu memprihatinkan karena para generasi penerus bangsa diracuni oleh dampak negatif 4.0, hal ini menegaskan pentingnya nilai keagamaan untuk anak zaman sekarang.

Aku salah satu pengguna aplikasi Instagram dengan username unik yang hampir tidak dapat dibaca, dimana kudapati sebuah video buram dengan sebuah komentar kotor yang hampir mencapai lima ribu lebih like comment. Aku pun bertanya dalam hati; “Bagaimana bisa mereka langsung menyimpulkan hal yang belum tentu benar?” Aku pun meninggalkan saran komentar hanya untuk mendapati datangnya pesan-pesan kasar. Sebulan setelah berita itu heboh, sebuah posting-an foto dari sahabatku membuatku langsung menangis.

Aku kesal dengan sikap sahabatku, aku tahu dia itu shalihah, tetapi apa perlu setiap hari ia selalu menceramahiku? Dia melarangku memposting berita-berita viral, juga menyuruhku untuk menghapus foto tanpa hijab-ku yang baru saja diunggah. Setelah memaki-nya, aku merasakan kehilangan, dan postingan sosmed (“Hijab itu wajib; cantik itu relatif”, “Satu langkah anak perempuan keluar rumah tanpa menutup aurat; satu langkah pula ayahnya ke neraka”) menyadarkanku akan kebenaran ucapan sahabatku itu.

Kata Netizen merupakan gabungan dari kata Internet dan Citizen; pengguna internet, dimana iman seseorang memengaruhi perilaku orang tersebut. Dari itu, selayaknya netizen yang beriman tidak memproduksi hoax (berita-berita yang tidak dapat dibuktikan).

Masa kecilku merupakan sebuah kenangan indah, dan perpindahan ke luar negeri mempertemukanku dengan smartphone. “Jempolmu Harimaumu”, begitulah kiranya komentar buruk di akun sosialku, semua bebas mencela; menghakimi tanpa tahu kejadian nyatanya. Menyadari depresiku, mama berbicara pada papa, yang memberikan tanggapan keras sehingga terjadi pertengkaran. Aku pun kabur dan bertemu dengan guru privatku, menyadarkanku bahwa kasih sayang berarti saling berbagi dalam kondisi apa pun. Dari itu, jadilah netizen yang senantiasa menebar kebaikan sesuai dengan aturan-Nya.

Alkisah persahabatan lima pemuda yang hidup merantau, dimana dua di antaranya bermaksud me-repost foto editan salah satu di antara mereka hingga yang lain dengan tegas mengungkapkan bahwa menyebarkan foto dan informasi yang tidak benar akan menyakiti dan melukai perasaan orang lain. Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani pernah berkata; “Aku lebih menghargai orang beradab daripada orang berilmu, Iblis pun lebih tinggi ilmunya dari manusia.”

Sebagai mahasiswa, Dara berhubungan baik dengan Lara, dimana ia mulai menggunakan hijab dan menghapus foto lamanya di medsos. Ia pun berhasil memberikan jawaban yang baik pada temannya yang bertanya berkat bantuan Lara, yang juga mengungkapkan pentingnya menjaga perasaan orang lain dalam hubungan sosial.

Disalahkan terus menerus oleh sang kakek, seorang gadis mungil menulis status pribadi yang mengarahkan sang paman memberikan penjelasan. Gadis mungil tersebut pun mulai memperbaiki sikapnya. Berkatalah baik atau diam, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat: 12.

Seperti biasa aku terbangun pukul lima pagi, namun adanya kawan-kawan yang datang menginap dan bermain game semalaman mengarahkanku ikut-ikutan bangun lewat dari jam sembilan. Apalagi mereka juga suka berkomen negatif kepada orang yang hanya mereka tau di media sosial; Untung saja sekarang sudah ada peraturan perundang-undangan yang mengatur hal tersebut.

Hidup di era digital membuat seseorang terlena akan nikmatnya dunia, tak bersyukur atas kemudahan yang Allah beri; handphone. Kayla dengan enggan menanggapi komentar Dewi perihal postingan di Insta, diikuti dengan QS. al-Hujurat: 12. Saat menghadiri seminar bersama, Dewi kembali menyodorkan postingan perihal keburukan orang, sehingga Kayla dengan tegas memberikan teguran, mengungkapkan kekhawatirannya tidak bisa bertemu di surganya Allahi.

Susiana sangat bersemangat berangkat ke kampus untuk mengikuti seminar dosen idola, Pak Syafi’i, tentang bagaimana menjadi netizen yang beriman dalam menghadapi beberapa informasi-informasi yang menyesatkan alias hoaks. Saat sesi tanya jawab, Lany terlebih dahulu bertanya, sehingga Susiana mengurungkan niatnya. Susiana pun mengunjungi kantor Pak Syafi’i dalam rangka konsultasi dan mendapati Neni juga melakukan hal yang sama.

Di sebuah warung, Rahmad mengomentari sebuah trending topic, yang memicu kemarahan Agus, dan Imam menengahi dengan mengungkapkan bahwa berita itu harus dipahami dahulu baru dikomentari.

Mendapati komentar Aliza yang mengkritik pemerintah, aku dengan tegas memberikan teguran disertai pelafalan QS. an-Nisa’: 59.

Tidak aktif di media sosial, Abidah terkejut mendapati penuturan teman-temannya perihal postingan Vano, membuatnya menjadi gunjingan para murid. Hari-hari berlalu dan rumor mulai menghilang, dimana Vano kemudian mengungkapkan perasaan sukanya pada Abidah, yang mengungkapkan pentingnya bijak dalam bermedia sosial.

Dengan membawa buku, aku berjalan-jalan dalam cuaca yang bersahabat di Seoul, mengingatkanku pada masa dimana aku disukai anak-anak karena informasi hingga aku memberikan informasi palsu.

Getaran ponsel tak kunjung berhenti disebabkan chat room kelas, mengarahkanku pada layar komputer yang berisi berita bunuh diri seorang artis belia; Carys, sahabatku dulu. Ke-iri-an mengarahkanku untuk membuat akun anonim menyebarkan segala keburukanmu yang kukarang sendiri, yang ternyata memicu komunitas pembenci dan mengarah pada cyber bullying.

Mendapati penuturan Razi, Azzahra mengungkapkan bahwa merendahkan orang lain sama saja dengan merendahkan diri sendiri. Razi pun tersadar dan memutuskan untuk meminta maaf, dimana Azzahra juga mengingatkannya untuk berpikir dulu sebelum berkomentar.

Budi gelisah di tempat tidur karena telah melakukan kesalahan. Sementara itu, Mbok Sari (sang ibu) tengah asyik dengan akun Pesbuk Mawar Janda Kembang-nya di Warung Cinta Bersemi Kembali-nya. Setibanya di rumah, Mbok Sari terkejut mendapati dua orang polisi hendak membawa anaknya.

Dua tahun menabung untuk membeli laptop akhirnya tercapai dengan bantuan orangtua, mengarahkanku belajar menjadi hacker dengan tujuan menghapus komentar-komentar jahad. Mengetahui hal itu, Ibu mengingatkanku bahwa kita tidak boleh merasa menjadi yang paling benar dan melakukan apa-apa semaunya.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, February 21, 2025 0 comments

Sinopsis "The Poppy War (Perang Opium) - R.K. Fuang" Bahasa Indonesia

The Poppy War (Perang Opium)
by: R.K. Fuang

Rin (Fang Runin) harus mengikuti proktor ketat sebagai peserta ujian calon siswa universitas. Dua tahun yang lalu, Rin yang baru berusia empat belas tahun, mendapati orangtua asuhnya (pedagang opium) menyerahkannya pada Makcomblang Liew, mengarahkan Rin pergi menemui Tutor Feyrik. Rin berusaha mendapatkan pertolongan Tutor Feyrik agar bisa mengikuti Keju dengan menunjukkan kemampuannya, diakhiri dengan beberapa bungkus opium. Setuju dengan tawaran Rin, Tutor Feyrik pergi menemui Bibi Fang, yang awalnya dengan tegas memberikan penolakan. Rin pun menetapkan jadwal ketat; menyelesaikan sedikitnya dua buka setiap minggu dan melakukan rotasi dua mata pelajaran setiap harinya (sejarah, matematika, logika, dan literatur klasik). Sesudah mengikuti tes, Rin merasa putus asa, sehingga ia pun berdoa, untuk pertama kalinya. Pengumuman hasil pun tiba, dan Rin mendapati Tutor Feyrik menangis.

Tahun ini, kaum bangsawan Tikany merasa malu, dan seminggu kemudian ia dibebaskan dari semua tuduhan. Bersama dengan Tutor Feyrik, Rin berangkat dengan biaya transpor dari kantor hakim. Karavan mereka menghabiskan waktu tiga minggu di jalan, dimana Tutor Feyrik menceritakan kisah-kisah petualangannya di Sinegard. Rombongan mereka akhirnya tiba di ibukota, disambut oleh para penawar jasa, dimana Rin kemudian mendapati seorang anak tertabrak kereta. Terlepas dari keadaan kotanya, Akademi Sinegard bagaikan istana, dimana Tobi menyambut mereka berkeliling. Setelah surat-surat pendaftaran selesai, Rin mengantar kepergian Tutor Feyrik dengan menahan tangis. Sekembalinya ke Akademi, Rin mendapati salah seorang siswa mengejek gurunya, dan ia pun meninjunya.

Bersama dengan siswa-siswa tahun pertama lainnya, Rin mendengarkan sambutan Jima Lain, grandmaster sekaligus komandan Pasukan Cadangan Sinegard. Mengikuti arahan Raban, Rin mendapati dirinya satu kamar dengan Niang dan Venka. Di kelas Master Jun, Venka menunjukkan kemampuannya sementara Niang kelihatan bingung. Dalam pelajaran sejarah, Master Yim mengungkapkan betapa menyedihkannya kami dalam Perang Opium. Di kantin, Rin berkenalan dengan Kitay, dimana mereka kemudian mengikuti kelas Adat dan Pengetahuan, mengarahkan mereka pada sebuah taman tertutup.

Pelajaran-pelajaran hanya semakin bertambah tingkat kesulitannya seiring berjalannya minggu, dan Rin mulai terbiasa menjalankan rutinitas belajar terus menerus. Musim gugur tiba dan Master Jun mengajarkan teknik menggunakan tongkat di luar ruangan, dimana mereka bertemu dengan Master Jiang dan mendengarkan kisah Sunzi mengajari para selir. Di Kelas Pertempuran,  Rin dkk belajar dibawah arahan murid Jun; Kureel dan Jeeha, dimana setelahnya Rin terlibat perselisihan dengan Nezha yang memamerkan seni keluarganya. Mempermalukan Nezha membuat Rin diasingkan oleh teman-temannya kecuali Kitay. Memenuhi panggilan Raban, Rin dkk pergi menyaksikan pertarungan Altan Trengsin (seorang Speer) dengan para penantangnya; Bo Kobin, Kureel, dan Tobi. Hari berikutnya, semua yang dibicarakan siswa tahun pertama hanya Altan, dan Master Yim pun menceritakan tentang kaum Speer. Di kelas Master Jun, Rin harus berhadapan dengan Nezha menggunakan tongkat dan tak bisa berbuat banyak. Mendapati hal itu, Jun menskors Nezha selama satu minggu, dan memerintahkan Rin untuk tidak lagi mengikuti kelasnya.

Rin keluar dari kelas dengan terhuyung, disertai perasaan sedih, diikuti dengan kemarahan. Mala harinya, ia terbangun dengan celana berlumuran darah. Keesokan harinya, Rin hanya berbaring kesakitan, sehingga ia memutuskan untuk meminum ramuan penghancur rahim. Setelah empat hari, Rin kembali ke kelas dan mendapati para master merendahkannya. Rin menenggelamkan diri dalam studinya, menikmati penderitaannya. Sebulan kemudian, Rin mulai menduduki peringkat teratas dalam ujian dan menerima pujian dari para master. Dalam pelajaran strategi, Rin memberikan solusi keras, sehingga ia dipanggil ke ruang guru. Mendapati pujian Master Irjah dan harapannya, Rin mengungkapkan perihal Master Jun, dimana ia sendiri sering ke perpustakaan untuk membaca buku seni beladiri, juga menyaksikan pertandingan.

Di taman pelajaran Adat dan Pengetahuan, Rin dapat mencoba mempraktekkan apa yang ia baca, dimana ia kemudian mendapati Master Jiang memergokinya, dan memutuskan untuk memberikan bantuan. Mengikuti Master Jiang, Rin pergi ke luar akademi dan menjalani latihan dengan menggendong babi (Sunzi) naik gunung. Jiang instruktur tarung yang efektif walau tidak konvensional, mengarahkan Rin membangun memori otot. Di hari terakhir menggendong Sunzi, Jiang melayangkan pukulan keras pada Rin, yang meretakkan pijakan mereka. Dalam kegembiraan, Jiang meminta Rin untuk mengambil jurusan Adat dan Pengetahuan. Rin berusaha meminta maaf pada Jiang, yang terus menerus menghindarinya, dan ujian semester pun tiba. Mendekati Turnamen Akbar, Rin mendapati keberadaan Altan di taman. Dalam ujian lisa, Rin menerima pertanyaan dari Jiang, dimana ia kemudian berhadapan dengan Han di Turnamen Akbar. Setelah mengalahkan Venka, Rin harus berhadapan dengan Nezha di final. Pertandingan berlangsung sengit, dan Nezha yang terluka memberikan serangan-serangan mematikan, membuat Rin ikut terluka dan memberikan serangan yang juga mematikan. Rin terbangun di hadapan Jiang, yang menyesali apa yang terjadi, mengarahkan Rin memilih jurusan Adat dan Pengetahuan.

Liburan Festival Musim Panas, Rin menerima ajakan Kitay untuk menginap di estat keluarganya. Dalam ketakjuban mendapati hidangan makanan, Kitay menceritakan kisah tentang ayahnya, sebagai tangan kanan sang Maharani. Selepas sarapan, Kitay dan Rin berjalan-jalan ke pasar di pusat kota, dimana Rin menerima hadiah dari Kitay dan menonton pertunjukan wayang pada malam harinya. Festival Musim Panas mencapai puncaknya dengan parade di pusat kota Sinegard, dimana setiap Klan hadir, juga sang Maharani.

Sebagai murid magang tahun kedua, Rin belajar dibawah arahan Master Jiang, master Adat dan Pengetahuan, dimana ia juga masih belajar pada master lainnya. Menghadapi pengajaran Jiang, Rin menutup mulut dan mengikuti saja, dimana setiap pertanyaan yang diajukan mengarahkan Rin pada perpustakaan, bahwa tak satu pun pemikirannya tentang bagaimana dunia bekerja adalah benar. Meditasilah yang terburuk. Rin memenuhi ajakan Jiang mendaki ke Gunung Wudang, dimana ia membawa bunga poppy dan membicarakan tentang kebenaran dewa. Setelah berminggu-minggu hanya menyiram tanaman, Rin mempertanyakan sikap Jiang. Setelah kelulusan Altan, Nezha menjadi bintang sekolah sebagai juara ring yang tak terkalahkan, sementara Rin tidak mendapatkan izin untuk ikut serta. Dia akhir tahun kedua, krisis diplomatik terjadi, dimana Han bersitegang dengan Nezha karenanya. Setelah berhasil bermeditasi selama satu jam, lalu lima jam, Rin memenuhi permintaan Jiang untuk bermeditasi ke puncak gunung, dimana ia bermeditasi berhari-hari hingga sosok seorang perempuan muncul, mengarahkannya ke alam para dewa. Ketika membuka mata, Rin mendapati Jiang berada di hadapannya, menanyakan apa yang terjadi.

Kapal Kaisar Ryohai berpatroli di perbatasan Nikan, dimana Tyr bersembunyi dalam bayang-bayang hingga Maharani Su Daji tiba dan menyuruh ya keluar. Di Pegunungan Wudang, Sang Pelihat mengungkapkan apa yang dilihatnya pada Altan, dan Rin merasakan bisikan Phoenix. Di hari ketujuh bulan ketujuh, Federasi Mugen menyatakan perang dengan Kekaisaran Nikan. Akademi pun diubah menjadi perkemahan militer, dimana Rin ikut serta dalam tugas mengungsikan penduduk. Prajurit Sinegard berada dibawah kepemimpinan Jima, Rin mengusulkan untuk menggunakan kekuatan para Dewa.

Pasukan Federasi mendatangi gerbang kota, dan Rin merasakan ketakutan melihatnya. Jebakan tak berarti banyak, dan pasukan Federasi pun membanjiri kota, dimana Rin pun memberikan perlawanan. Mengikuti arahan, Rin pergi ke gerbang timur dan bekerjasama dengan Nezha. Di hadapan Jenderal musuh, Rin dan Nezha diselamatkan oleh Jiang, yang kemudian memanggil Dewa. Dengan runtuhnya gerbang timur, sang jenderal bangkit dan memburu mereka, memaksa Rin menelan biji poppy setelah menyaksikan kematian Nezha. Dengan kekuatan Phoenix, Rin menghabisi sang jenderal, lalu tak sadarkan diri, terbangun di hadapan Maharani.

Ditempatkan di ruang isolasi, Rin yang akhirnya sadarkan diri, mendapati Master Jun sebagai yang berwenang, dimana ia menerima kunjungan dari Niang dan Kitay. Irjah kemudian datang dan mengungkapkan bahwa Rin akan ditempatkan di Cike, dengan Altan sebagai komandannya. Rin kemudian pergi bersama Altan menuju Khurdalain, menemui anggota lainnya yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Dalam prosesnya, Rin mendapatkan pelatihan dari Altan, yang mempertanyakan pelatihan Jiang. Mengikuti Qara, Altan dan Rin memasuki Khurdalain, dimana Jun datang untuk mengadukan Ramsa. Rin mendapati dirinya sekamar dengan Qara, yang kemudian membawanya menemui Enki dan mendapatkan jatah biji poppy. Mereka kemudian mengambil jatah makan, dan Rin berkenalan dengan anggota Cike lainnya, dimana Suni tiba dengan keliaran, sehingga Latan pun berusaha menghentikannya.

Rin menemani Ramsa mengubah jalan-jalan Khurdalain menjadi lini pertahanan. Rin mengumpulkan pasukannya dan menjelaskan rencana untuk mengambil alih persedian Federasi yang dikirim melalui sungai. Mengikuti arahan Altan, Ramsa melancarkan roket-roketnya, diikuti dengan panah Qara, dengan Baji dan Suni menyambut pasukan Federasi yang berusaha melarikan diri. Memenuhi perintah Altan, Rin pun maju hanya untuk terjatuh, dan Altan menunjukkan kengeriannya. Dengan terbunuhnya kapten Federasi, Altan memerintahkan pasukannya untuk mundur, dimana ia pergi menemui Panglima perang yang lain sementara yang lain melakukan perayaan. Dalam prosesnya, Qara mengungkapkan kisah kejatuhan Speer dibawah kepemimpinan Tearza.

Para penduduk merayakan kemenangan dan memberikan dukungan mereka pada para panglima, diikuti dengan kedatangan delegasi Federasi dengan bendera putih. Altan diberi wewenang dan menerima kedatangan mereka, menyerahkan hadiah kepada para penduduk sementara ia berbicara dengan para delegasi, dimana ledakan terjadi tak lama kemudian.

Ledakan di pusat kota, diikuti dengan kebakaran selama tiga hari di Zhabei. Kerusuhan pun sering terjadi, dan Altan bermaksud untuk melakukan pembalasan yang mustahil. Hari-hari pun berlalu, dan pasukan pendukung pun tiba; Divisi Tujuh (Panglima Perang Naga).

Rin dan Nezha terlibat perbincangan hingga Enki tiba, mengarahkan Rin pergi menemui Altan yang mengungkapkan kemarahannya. Saat tengah berjaga, kericuhan terjadi dari dalam tembok, yang ternyata disebabkan oleh Chimei, dan Rin pergi untuk menghadapinya bersama Nezha. Setelah melewati tumpukan mayat, Rin dan Nezha mendapati seorang gadis kecil di bawah kereta (Khudali), yang ternyata merupakan chimei. Mendapati Nezha tak berdaya di hadapan chimei, Rin berusaha menyerang wajah chimei, yang kemudian menampakkan wajah kesegi.

Rin memberitahukan pesan Divisi 5 pada Altan, dimana mereka kemudian mendapati suara jeritan Qara, mengarahkan Altan pergi menyelamatkan seseorang (Chaghan) dari kejaran Federasi. Saat makan bersama, Rin menanyakan perihal Chaghan pada Baji dan Unegen, dimana Chaghan menampakkan diri dan memperkenalkan diri dengan angkuh.

Divisi Tujuh bekerjasama dengan Cike menghadapi pasukan Federasi di dermaga, dimana mereka berhasil memukul mundur Federasi hanya untuk mendapati serangan gas beracun, dimana Nezha terperangkap. Sementara para penduduk pergi meninggalkan kota, para petinggi mengadakan rapat, dimana Rin mempertanyakan sikap Altan, yang kemudian memberikan teguran tegas padanya.

Rin menemui Chaghan untuk meminta bantuan, mengarahkan mereka bertemu dengan si wanita, yang kemudian diusir oleh Chaghan. Rin mengikuti Chaghan menuju Ruang Divinasi dan bertemu dengan Talwu, Dewi Penjaga Hensagram. Dengan wajah cemas, Chaghan langsung menemui Altan, yang segera pergi menemui tawanan untuk mendapatkan kepastian.

Dalam perjalanan menuju Golyn Niis, Rin mengkhawatirkan perkataan Talwu, dimana ia mempertanyakan kepatuhan Chaghan pada Altan. Meskipun masih jauh dari kota, perahu kami tak bisa bergerak karena terhadang mayat-mayat. Dengan berlari, kami akhirnya tiba di Golyn Niis, yang telah menjadi kota mayat, dimana mayat-mayat tersebut menunjukkan kekejaman Federasi. Rin mendapati keberadaan divisi dua di sana, sehingga ia pun memanggil-manggil nama Kitay. Di hadapan Altan, Kitay menceritakan apa yang terjadi. Sementara Rin dan yang lainnya berusaha mencari orang-orang yang selamat, Altan pergi membakar mayat, dimana Rin kemudian mengetahui keselamatan Venka di rumah relaksasi. Di hadapan kata-kata Venka, Rin terbungkam dan memutuskan untuk bersumpah membalaskan dendamnya.

Aku mempertanyakan sikap Altan hanya untuk mendapati Ramsa memarahiku. Setelah dua minggu menyaring puing-puing, Rin masih tak mampu untuk makan, dimana ia kemudian mendapati perseteruan antara Chaghan dan Altan. Mengetahui kepergian Chaghan, Rin segera mengejar dan mendapatkan penjelasan yang menyakitkan. Sebelum berangkat, Rin memberitahu Kitay sebagai bentuk peringatan. Dengan mengendarai kuda tua, Rin dan Altan berangkat menuju Chuluu Korikh. Merasakan keberadaan Jiang, Rin segera mengambil langkah dan mendapati Jiang memberikan peringatan keras. Altan kemudian membangunkan Feylin, yang menertawakan kedatangannya dan berusaha pergi. Pasukan Federasi kemudian tiba.

Rin terbangun dalam keadaan terikat dan menyadari dirinya berada di dalam kereta, dimana Altan juga berada di sana. Setelah perlawanan singkat, Rin dan Altan terbangun di fasilitas riset, dimana Dr. Shiro menyapa mereka dengan hangat, meminta Rin untuk mengeluarkan api sementara ia menyiksa Altan. Setelah menceritakan kisah perbudakan Speer oleh Nikan, Shiro menyiksa Rin. Altan yang sadarkan diri meminta Rin untuk mengakhiri penderitaannya, dimana Shiro tiba dengan mengungkapkan tindakan Maharani. Dalam kemarahan, Rin meminta api pada Altan, yang kemudian membawanya pada kekuatan leluhur. Sekembalinya ke dunia nyata, Rin dan Altan membakar kerangkeng mereka, membunuh Shiro dan berusaha melarikan diri dari fasilitas riset. Keduanya berhasil tiba di dermaga, dimana Altan mengarahkan Rin untuk mengikuti rasi bintang phoenix sementara ia menghancurkan fasilitas riset.

Rin berenang dalam lautan, mengarahkannya menuju panteon hingga akhirnya kembali sadar dan diarahkan menuju reruntuhan kuil. Di sana, Rin kembali menerima peringatan dari hantu Mai’rinnen Tearza sebelum berhadapan dengan Dewa Phoenix.

Rin mendapati dirinya terbangun di sebuah kabin, yang ternyata berada di tengah lautan, dengan Ramsa yang menyambut kepulihannya, begitu juga dengan Kitay, yang mengungkapkan apa yang terjadi pada Mugen hanya untuk mendapati Rin hendak berhadapan dengan Maharani. Di kabin, Rin mempertanyakan perbuatannya pada Qara yang memberikan tanggapan keras. Setelah memberikan pemakaman untuk Altan, Rin terlibat perseteruan dengan Chaghan, yang mengungkapkan bahwa Rin merupakan pemimpin Cike saat ini.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:

- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].

- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


 
;