The Poppy War (Perang Opium)
by: R.K. Fuang
Rin (Fang Runin) harus mengikuti proktor
ketat sebagai peserta ujian calon siswa universitas. Dua tahun yang lalu, Rin
yang baru berusia empat belas tahun, mendapati orangtua asuhnya (pedagang
opium) menyerahkannya pada Makcomblang Liew, mengarahkan Rin pergi menemui
Tutor Feyrik. Rin berusaha mendapatkan pertolongan Tutor Feyrik agar bisa
mengikuti Keju dengan menunjukkan kemampuannya, diakhiri dengan beberapa
bungkus opium. Setuju dengan tawaran Rin, Tutor Feyrik pergi menemui Bibi Fang,
yang awalnya dengan tegas memberikan penolakan. Rin pun menetapkan jadwal
ketat; menyelesaikan sedikitnya dua buka setiap minggu dan melakukan rotasi dua
mata pelajaran setiap harinya (sejarah, matematika, logika, dan literatur
klasik). Sesudah mengikuti tes, Rin merasa putus asa, sehingga ia pun berdoa,
untuk pertama kalinya. Pengumuman hasil pun tiba, dan Rin mendapati Tutor
Feyrik menangis.
Tahun ini, kaum bangsawan Tikany merasa
malu, dan seminggu kemudian ia dibebaskan dari semua tuduhan. Bersama dengan
Tutor Feyrik, Rin berangkat dengan biaya transpor dari kantor hakim. Karavan
mereka menghabiskan waktu tiga minggu di jalan, dimana Tutor Feyrik
menceritakan kisah-kisah petualangannya di Sinegard. Rombongan mereka akhirnya
tiba di ibukota, disambut oleh para penawar jasa, dimana Rin kemudian mendapati
seorang anak tertabrak kereta. Terlepas dari keadaan kotanya, Akademi Sinegard
bagaikan istana, dimana Tobi menyambut mereka berkeliling. Setelah surat-surat
pendaftaran selesai, Rin mengantar kepergian Tutor Feyrik dengan menahan
tangis. Sekembalinya ke Akademi, Rin mendapati salah seorang siswa mengejek
gurunya, dan ia pun meninjunya.
Bersama dengan siswa-siswa tahun pertama
lainnya, Rin mendengarkan sambutan Jima Lain, grandmaster sekaligus komandan
Pasukan Cadangan Sinegard. Mengikuti arahan Raban, Rin mendapati dirinya satu
kamar dengan Niang dan Venka. Di kelas Master Jun, Venka menunjukkan
kemampuannya sementara Niang kelihatan bingung. Dalam pelajaran sejarah, Master
Yim mengungkapkan betapa menyedihkannya kami dalam Perang Opium. Di kantin, Rin
berkenalan dengan Kitay, dimana mereka kemudian mengikuti kelas Adat dan
Pengetahuan, mengarahkan mereka pada sebuah taman tertutup.
Pelajaran-pelajaran hanya semakin
bertambah tingkat kesulitannya seiring berjalannya minggu, dan Rin mulai
terbiasa menjalankan rutinitas belajar terus menerus. Musim gugur tiba dan
Master Jun mengajarkan teknik menggunakan tongkat di luar ruangan, dimana
mereka bertemu dengan Master Jiang dan mendengarkan kisah Sunzi mengajari para
selir. Di Kelas Pertempuran, Rin dkk
belajar dibawah arahan murid Jun; Kureel dan Jeeha, dimana setelahnya Rin
terlibat perselisihan dengan Nezha yang memamerkan seni keluarganya.
Mempermalukan Nezha membuat Rin diasingkan oleh teman-temannya kecuali Kitay.
Memenuhi panggilan Raban, Rin dkk pergi menyaksikan pertarungan Altan Trengsin
(seorang Speer) dengan para penantangnya; Bo Kobin, Kureel, dan Tobi. Hari
berikutnya, semua yang dibicarakan siswa tahun pertama hanya Altan, dan Master
Yim pun menceritakan tentang kaum Speer. Di kelas Master Jun, Rin harus
berhadapan dengan Nezha menggunakan tongkat dan tak bisa berbuat banyak.
Mendapati hal itu, Jun menskors Nezha selama satu minggu, dan memerintahkan Rin
untuk tidak lagi mengikuti kelasnya.
Rin keluar dari kelas dengan terhuyung,
disertai perasaan sedih, diikuti dengan kemarahan. Mala harinya, ia terbangun
dengan celana berlumuran darah. Keesokan harinya, Rin hanya berbaring
kesakitan, sehingga ia memutuskan untuk meminum ramuan penghancur rahim.
Setelah empat hari, Rin kembali ke kelas dan mendapati para master
merendahkannya. Rin menenggelamkan diri dalam studinya, menikmati
penderitaannya. Sebulan kemudian, Rin mulai menduduki peringkat teratas dalam
ujian dan menerima pujian dari para master. Dalam pelajaran strategi, Rin
memberikan solusi keras, sehingga ia dipanggil ke ruang guru. Mendapati pujian
Master Irjah dan harapannya, Rin mengungkapkan perihal Master Jun, dimana ia
sendiri sering ke perpustakaan untuk membaca buku seni beladiri, juga
menyaksikan pertandingan.
Di taman pelajaran Adat dan Pengetahuan,
Rin dapat mencoba mempraktekkan apa yang ia baca, dimana ia kemudian mendapati
Master Jiang memergokinya, dan memutuskan untuk memberikan bantuan. Mengikuti
Master Jiang, Rin pergi ke luar akademi dan menjalani latihan dengan
menggendong babi (Sunzi) naik gunung. Jiang instruktur tarung yang efektif
walau tidak konvensional, mengarahkan Rin membangun memori otot. Di hari
terakhir menggendong Sunzi, Jiang melayangkan pukulan keras pada Rin, yang
meretakkan pijakan mereka. Dalam kegembiraan, Jiang meminta Rin untuk mengambil
jurusan Adat dan Pengetahuan. Rin berusaha meminta maaf pada Jiang, yang terus
menerus menghindarinya, dan ujian semester pun tiba. Mendekati Turnamen Akbar,
Rin mendapati keberadaan Altan di taman. Dalam ujian lisa, Rin menerima
pertanyaan dari Jiang, dimana ia kemudian berhadapan dengan Han di Turnamen
Akbar. Setelah mengalahkan Venka, Rin harus berhadapan dengan Nezha di final.
Pertandingan berlangsung sengit, dan Nezha yang terluka memberikan serangan-serangan
mematikan, membuat Rin ikut terluka dan memberikan serangan yang juga
mematikan. Rin terbangun di hadapan Jiang, yang menyesali apa yang terjadi,
mengarahkan Rin memilih jurusan Adat dan Pengetahuan.
Liburan Festival Musim Panas, Rin menerima
ajakan Kitay untuk menginap di estat keluarganya. Dalam ketakjuban mendapati
hidangan makanan, Kitay menceritakan kisah tentang ayahnya, sebagai tangan
kanan sang Maharani. Selepas sarapan, Kitay dan Rin berjalan-jalan ke pasar di
pusat kota, dimana Rin menerima hadiah dari Kitay dan menonton pertunjukan
wayang pada malam harinya. Festival Musim Panas mencapai puncaknya dengan
parade di pusat kota Sinegard, dimana setiap Klan hadir, juga sang Maharani.
Sebagai murid magang tahun kedua, Rin
belajar dibawah arahan Master Jiang, master Adat dan Pengetahuan, dimana ia
juga masih belajar pada master lainnya. Menghadapi pengajaran Jiang, Rin
menutup mulut dan mengikuti saja, dimana setiap pertanyaan yang diajukan
mengarahkan Rin pada perpustakaan, bahwa tak satu pun pemikirannya tentang
bagaimana dunia bekerja adalah benar. Meditasilah yang terburuk. Rin memenuhi
ajakan Jiang mendaki ke Gunung Wudang, dimana ia membawa bunga poppy dan
membicarakan tentang kebenaran dewa. Setelah berminggu-minggu hanya menyiram
tanaman, Rin mempertanyakan sikap Jiang. Setelah kelulusan Altan, Nezha menjadi
bintang sekolah sebagai juara ring yang tak terkalahkan, sementara Rin tidak
mendapatkan izin untuk ikut serta. Dia akhir tahun kedua, krisis diplomatik
terjadi, dimana Han bersitegang dengan Nezha karenanya. Setelah berhasil
bermeditasi selama satu jam, lalu lima jam, Rin memenuhi permintaan Jiang untuk
bermeditasi ke puncak gunung, dimana ia bermeditasi berhari-hari hingga sosok
seorang perempuan muncul, mengarahkannya ke alam para dewa. Ketika membuka
mata, Rin mendapati Jiang berada di hadapannya, menanyakan apa yang terjadi.
Kapal Kaisar Ryohai berpatroli di
perbatasan Nikan, dimana Tyr bersembunyi dalam bayang-bayang hingga Maharani Su
Daji tiba dan menyuruh ya keluar. Di Pegunungan Wudang, Sang Pelihat
mengungkapkan apa yang dilihatnya pada Altan, dan Rin merasakan bisikan
Phoenix. Di hari ketujuh bulan ketujuh, Federasi Mugen menyatakan perang dengan
Kekaisaran Nikan. Akademi pun diubah menjadi perkemahan militer, dimana Rin
ikut serta dalam tugas mengungsikan penduduk. Prajurit Sinegard berada dibawah
kepemimpinan Jima, Rin mengusulkan untuk menggunakan kekuatan para Dewa.
Pasukan Federasi mendatangi gerbang kota,
dan Rin merasakan ketakutan melihatnya. Jebakan tak berarti banyak, dan pasukan
Federasi pun membanjiri kota, dimana Rin pun memberikan perlawanan. Mengikuti
arahan, Rin pergi ke gerbang timur dan bekerjasama dengan Nezha. Di hadapan
Jenderal musuh, Rin dan Nezha diselamatkan oleh Jiang, yang kemudian memanggil
Dewa. Dengan runtuhnya gerbang timur, sang jenderal bangkit dan memburu mereka,
memaksa Rin menelan biji poppy
setelah menyaksikan kematian Nezha. Dengan kekuatan Phoenix, Rin menghabisi
sang jenderal, lalu tak sadarkan diri, terbangun di hadapan Maharani.
Ditempatkan di ruang isolasi, Rin yang
akhirnya sadarkan diri, mendapati Master Jun sebagai yang berwenang, dimana ia
menerima kunjungan dari Niang dan Kitay. Irjah kemudian datang dan
mengungkapkan bahwa Rin akan ditempatkan di Cike, dengan Altan sebagai
komandannya. Rin kemudian pergi bersama Altan menuju Khurdalain, menemui
anggota lainnya yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Dalam prosesnya, Rin
mendapatkan pelatihan dari Altan, yang mempertanyakan pelatihan Jiang.
Mengikuti Qara, Altan dan Rin memasuki Khurdalain, dimana Jun datang untuk
mengadukan Ramsa. Rin mendapati dirinya sekamar dengan Qara, yang kemudian
membawanya menemui Enki dan mendapatkan jatah biji poppy. Mereka kemudian
mengambil jatah makan, dan Rin berkenalan dengan anggota Cike lainnya, dimana
Suni tiba dengan keliaran, sehingga Latan pun berusaha menghentikannya.
Rin menemani Ramsa mengubah jalan-jalan
Khurdalain menjadi lini pertahanan. Rin mengumpulkan pasukannya dan menjelaskan
rencana untuk mengambil alih persedian Federasi yang dikirim melalui sungai.
Mengikuti arahan Altan, Ramsa melancarkan roket-roketnya, diikuti dengan panah
Qara, dengan Baji dan Suni menyambut pasukan Federasi yang berusaha melarikan
diri. Memenuhi perintah Altan, Rin pun maju hanya untuk terjatuh, dan Altan
menunjukkan kengeriannya. Dengan terbunuhnya kapten Federasi, Altan memerintahkan
pasukannya untuk mundur, dimana ia pergi menemui Panglima perang yang lain
sementara yang lain melakukan perayaan. Dalam prosesnya, Qara mengungkapkan
kisah kejatuhan Speer dibawah kepemimpinan Tearza.
Para penduduk merayakan kemenangan dan
memberikan dukungan mereka pada para panglima, diikuti dengan kedatangan
delegasi Federasi dengan bendera putih. Altan diberi wewenang dan menerima
kedatangan mereka, menyerahkan hadiah kepada para penduduk sementara ia
berbicara dengan para delegasi, dimana ledakan terjadi tak lama kemudian.
Ledakan di pusat kota, diikuti dengan
kebakaran selama tiga hari di Zhabei. Kerusuhan pun sering terjadi, dan Altan
bermaksud untuk melakukan pembalasan yang mustahil. Hari-hari pun berlalu, dan
pasukan pendukung pun tiba; Divisi Tujuh (Panglima Perang Naga).
Rin dan Nezha terlibat perbincangan hingga
Enki tiba, mengarahkan Rin pergi menemui Altan yang mengungkapkan kemarahannya.
Saat tengah berjaga, kericuhan terjadi dari dalam tembok, yang ternyata
disebabkan oleh Chimei, dan Rin pergi untuk menghadapinya bersama Nezha.
Setelah melewati tumpukan mayat, Rin dan Nezha mendapati seorang gadis kecil di
bawah kereta (Khudali), yang ternyata merupakan chimei. Mendapati Nezha tak
berdaya di hadapan chimei, Rin berusaha menyerang wajah chimei, yang kemudian
menampakkan wajah kesegi.
Rin memberitahukan pesan Divisi 5 pada
Altan, dimana mereka kemudian mendapati suara jeritan Qara, mengarahkan Altan
pergi menyelamatkan seseorang (Chaghan) dari kejaran Federasi. Saat makan
bersama, Rin menanyakan perihal Chaghan pada Baji dan Unegen, dimana Chaghan
menampakkan diri dan memperkenalkan diri dengan angkuh.
Divisi Tujuh bekerjasama dengan Cike
menghadapi pasukan Federasi di dermaga, dimana mereka berhasil memukul mundur
Federasi hanya untuk mendapati serangan gas beracun, dimana Nezha terperangkap.
Sementara para penduduk pergi meninggalkan kota, para petinggi mengadakan
rapat, dimana Rin mempertanyakan sikap Altan, yang kemudian memberikan teguran
tegas padanya.
Rin menemui Chaghan untuk meminta bantuan,
mengarahkan mereka bertemu dengan si wanita, yang kemudian diusir oleh Chaghan.
Rin mengikuti Chaghan menuju Ruang Divinasi dan bertemu dengan Talwu, Dewi
Penjaga Hensagram. Dengan wajah cemas, Chaghan langsung menemui Altan, yang
segera pergi menemui tawanan untuk mendapatkan kepastian.
Dalam perjalanan menuju Golyn Niis, Rin
mengkhawatirkan perkataan Talwu, dimana ia mempertanyakan kepatuhan Chaghan
pada Altan. Meskipun masih jauh dari kota, perahu kami tak bisa bergerak karena
terhadang mayat-mayat. Dengan berlari, kami akhirnya tiba di Golyn Niis, yang
telah menjadi kota mayat, dimana mayat-mayat tersebut menunjukkan kekejaman
Federasi. Rin mendapati keberadaan divisi dua di sana, sehingga ia pun
memanggil-manggil nama Kitay. Di hadapan Altan, Kitay menceritakan apa yang
terjadi. Sementara Rin dan yang lainnya berusaha mencari orang-orang yang
selamat, Altan pergi membakar mayat, dimana Rin kemudian mengetahui keselamatan
Venka di rumah relaksasi. Di hadapan kata-kata Venka, Rin terbungkam dan
memutuskan untuk bersumpah membalaskan dendamnya.
Aku mempertanyakan sikap Altan hanya untuk
mendapati Ramsa memarahiku. Setelah dua minggu menyaring puing-puing, Rin masih
tak mampu untuk makan, dimana ia kemudian mendapati perseteruan antara Chaghan
dan Altan. Mengetahui kepergian Chaghan, Rin segera mengejar dan mendapatkan
penjelasan yang menyakitkan. Sebelum berangkat, Rin memberitahu Kitay sebagai
bentuk peringatan. Dengan mengendarai kuda tua, Rin dan Altan berangkat menuju
Chuluu Korikh. Merasakan keberadaan Jiang, Rin segera mengambil langkah dan mendapati
Jiang memberikan peringatan keras. Altan kemudian membangunkan Feylin, yang
menertawakan kedatangannya dan berusaha pergi. Pasukan Federasi kemudian tiba.
Rin terbangun dalam keadaan terikat dan
menyadari dirinya berada di dalam kereta, dimana Altan juga berada di sana.
Setelah perlawanan singkat, Rin dan Altan terbangun di fasilitas riset, dimana
Dr. Shiro menyapa mereka dengan hangat, meminta Rin untuk mengeluarkan api
sementara ia menyiksa Altan. Setelah menceritakan kisah perbudakan Speer oleh
Nikan, Shiro menyiksa Rin. Altan yang sadarkan diri meminta Rin untuk
mengakhiri penderitaannya, dimana Shiro tiba dengan mengungkapkan tindakan
Maharani. Dalam kemarahan, Rin meminta api pada Altan, yang kemudian membawanya
pada kekuatan leluhur. Sekembalinya ke dunia nyata, Rin dan Altan membakar
kerangkeng mereka, membunuh Shiro dan berusaha melarikan diri dari fasilitas
riset. Keduanya berhasil tiba di dermaga, dimana Altan mengarahkan Rin untuk
mengikuti rasi bintang phoenix sementara ia menghancurkan fasilitas riset.
Rin berenang dalam lautan, mengarahkannya
menuju panteon hingga akhirnya kembali sadar dan diarahkan menuju reruntuhan
kuil. Di sana, Rin kembali menerima peringatan dari hantu Mai’rinnen Tearza
sebelum berhadapan dengan Dewa Phoenix.
Rin mendapati dirinya terbangun di sebuah
kabin, yang ternyata berada di tengah lautan, dengan Ramsa yang menyambut
kepulihannya, begitu juga dengan Kitay, yang mengungkapkan apa yang terjadi
pada Mugen hanya untuk mendapati Rin hendak berhadapan dengan Maharani. Di
kabin, Rin mempertanyakan perbuatannya pada Qara yang memberikan tanggapan
keras. Setelah memberikan pemakaman untuk Altan, Rin terlibat perseteruan
dengan Chaghan, yang mengungkapkan bahwa Rin merupakan pemimpin Cike saat ini.
Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!
Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


0 comments:
Post a Comment