Koleksi Puisi
by: Martin Lings
Manakala
mendekat, kehadiran-Nya yang abadi membuatku terjaga. Selagi kubernapas,
panggillah aku, tuntunlah daku ke taman di mana para Musai menyanyi dan menari.
Sais
Sang Raja berada di tengah samudra. Berdoa: ‘Oh Halkyon, mungkin istriku ‘kan
tahu aku telah kehilangan hidupku. Oh engkau, Ratu Surga, berdoalah bagi jiwaku
dan doamu ‘kan berarti. Tidur abadi; hening yang teramat sangat. Perempuan itu
menemukan jasad Sais di tepi air dan ia dekap lekas-lekas, dimana Ratus Surga
telah mengutus awas untuk menjemput mereka.
Seembus
napas: dan di ketinggian langit tenang berarak awak di atas awan. Bernapaslah,
dan biarkan limpahan gelagat hangatmu menyapu pastura dan belantara.
Kami
bersenandung tentang musim panas, dan Kamilah yang semayam di rimba-rimba
remang, bertukar pikir di puncak pepohonan, bertukar pikir.
Oh
manusia, apa yang akan kalian miliki, satu sama lain? Tubuh fana ini tiada layak menerima kemurahan hati
atas gubahanmu; memberi segala, menerima segala, menghimpun segala selamanya.
Dengan
Kebajikan di balik baik dan buruk, para Malaikat memandang kita terempas kesana
kemari. Namun dalam diri kita pula Dia nyatakan benih-Nya.
Kita,
jiwa-jiwa yang timpang, membanggakan penjelajahan ke ujung bentala. Kita buta,
kecuali jika kita tahankan pandangan dalam ketertawanan pada puncak masa lalu,
dimana Bintang-bintang kebijaksanaan bersinar.
Sebuah
taman menghijau dengan tanaman rambat. Air mengalir, yang madah jernihnya
enerbitkan tenteram di hati. Malam fasih, kesunyian nan lapang di bumi
terbentang. Yang Maha Pengasih dari yang Pengasih, kasihanilah kami!
Tangan
Sang Pencipta telah memurnikan bumi, tanda keabadian yang telah lama disimpan
untuk saat ini. Tiada habis serta abadi; surga mengarahkan pandang ke bumi.
Wahai musim semi – musim panas, kami menjarah rahasiamu seperti lebah menjarah
bunga-bunga.
Titik
balik matahari ialah musim panas tanpa musim semi, tanpa musim gugur. Warisan
manusia dari leluhur yang mulia: bumi miliki kita tetapi kita orang asing di
sana, bahkan ketika ruang dan waktu bersekutu demi sukacita kita, kita berada
separuh di rumah, separuh di penjara, teramat lega, namun tersisih oleh gelisah
yang indah. Dan kita, dunia-dunia kecil yang melebur menjelma satu dunia, ialah
pusat dari segala, dan segalanya adalah satu. Tengah musim panas jiwa kita,
cermin kedamaian kita.
Duhai
musim perpisahan, musim yang menjanjikan kedatangan kembali, dimana ujuang usia
adalah ujung masa muda. Masing-masingnya Adalah kepompong bagi kedatangan musim
semi. Tak hanya masa depan dan masa lalu, tetapi juga masa kini yang kau
renungkan. Engkaulah, melampaui segalanya, omega yang Adalah gapura di mana
alfa terbingkai, telah tiba yang pertama yang Adalah yang terakhir, sebab
engkau jualah musim benih, oh musim buah.
Dunia
dan kita Adalah para penjaga yang melewati sepanjang malam dengan siaga antara
tidur dan jaga. Janganlah siapa pun merasa angkuh dengan keindahan yang
disaksikannya. Namun demikian para pemimpi tetap terjaga. Bayang dari bayang
dari bayang wajah-Nya, gema dari gema sabda-Nya. Bayangannya berlalu,
hakikatnya tetap ada. Di hari itu, sang penantun Mazmur tak memiliki bayang
bagi cinta; dalam diri Yusuf, selamanya Yakub bersukacita. Wahai Kebenaran,
Penguasa Hari Mutlak, tuntunlah kami melintasi gelombang laut bayang-bayang
ini.
Malaikat
agung serta Nirmala, di tanganmu surga berada; kita adalah dua gelombang dari
Samudra belas kasih. Wahai kebenaran, wahai Cahaya, wahai misteri, janganlah
surut dari wajahku.
Jangan,
jangan pernah ucapkan selamat tinggal kepada keindahan; milikmulah sukacita
itu. Temukanlah keindahan itu di dalam dirimu: hakikat berkata surga ada dalam
diri kita; ia ‘kan menemukan siapa yang mencarinya. Jangan pernah ucapkan
selamat tinggal kepada keindahan, tetapi temuilah ia; telah ditetapkan pada
saat ini, di hari ini, di waktu ini.
Takdir
manusialah siang dan malam, gerak dan diam. Dan ruh Adalah kedamaian: yang
paling baik ialah berdiam di antara kedua tangannya, dibuai dan dibelai. Oh
jadilah engkau sang penari! Aku hanya ‘kan mengikuti kuasa-mu atas ruang dan
waktu bagiku. Tubuh sang penari Adalah kuil, diberkati banyak pintu, untuk
datang, pergi, seturut kehendakmu. Untuk-Mu, sang penari adalah cawan-Mu:
adalah anggur: mengingat-Mu, wahai Kebenaran. Petuahnya: ‘Janganlah mencari
‘tuk menjadi, tetapi jadilah, dengan sungguh jadilah dirimu sendiri’. Demikian
pula semestinya tarian itu ‘kan mengalir dari-Mu, kembali kepada-Mu, dimulai
dan diakhiri di dalam Yang Tak Terbatas.
Umat
Hindu tidak melepas kekasih mereka saat para kekasih itu wafat, mereka sangga
kekasih mereka dengan sesaji bagi Api Suci yang dinyalakan di atas altar. Dan
mereka memanjatkan doa: dari belenggu kelahiran dan kematian kembali,
bebaskanlah mereka denga tiada pengetahuan kecuali pengetahuan tentang-Mu. Umat
Yahudi mengaji kitab-kitab suci mereka, mempersembahkan telaah itu kepada
kerabat yang telah wafat, setiap hati---agar Ia senantiasa memberkati serta
melindungi Ibrahim, Ishak, Yakub, selamanya di bawah naungan sayap-Nya. Umat
Buddha melakukan langkah-langkah makbul dalam memalingkan kematian; mereka
ambil dua bejana. Gereja-gereja memahat batu-batu peringatan agar berdoa bagi
mereka yang telah tiada. Umat Muslim menyebut mereka yang telah wafat dengan
Rahmat, tiada nama-nama mereka diujarkan tanpa mengujarkan doa; dan melantukan
al-Qur’an, serta bersedekah. Mohonlah belas kasih bagi yang telah mati: belas
kasih bagi yang mati!
Buanglah
apa pun yang ada tetapi tiada; hanya akui apa yang telah dan yang tengah dan
yang akan terjadi; tetapi, demi mengejawantahkan diri yang lama, jadilah dirimu
yang baru, dengan menjadi dirimu sendiri.
Orfeus
dengan mesiknya membuat gunung-gunung bergetar; tetapi aku geming. Tiada
kuberdiri dekat sumur suci itu bersama Ibrahim dan Ismail, tak kusaksikan Yusuf
dalam kemuliannya. Tetapi kini tak lagi kukatakan: seandainya saja terjadi!
Mengapa
kita mendamba? Sebab sifat manusia menghendaku tak kurang dari segalanya.
Penawarnya: Surga, yang terbuka bagi yang tak terbatas.
Denganmu
kami mesti menyelaraskan diri, bukan kau menyelaraskan diri dengan kami. Sebab
engkau teramat purba, melampaui purbakala. Namun dalam diri Kamilah, bukan
dalam diri mereka, rahasiamu tersimpan utuh. Sebab hakikat pertama manusia
ialah tempat perjumpaan di mana dua dunia bersua.
Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!
Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


0 comments:
Post a Comment