Friday, August 22, 2025

Sinopsis "Koleksi Puisi - Martin Lings" Bahasa Indonesia

 Koleksi Puisi
by: Martin Lings

Manakala mendekat, kehadiran-Nya yang abadi membuatku terjaga. Selagi kubernapas, panggillah aku, tuntunlah daku ke taman di mana para Musai menyanyi dan menari.

Sais Sang Raja berada di tengah samudra. Berdoa: ‘Oh Halkyon, mungkin istriku ‘kan tahu aku telah kehilangan hidupku. Oh engkau, Ratu Surga, berdoalah bagi jiwaku dan doamu ‘kan berarti. Tidur abadi; hening yang teramat sangat. Perempuan itu menemukan jasad Sais di tepi air dan ia dekap lekas-lekas, dimana Ratus Surga telah mengutus awas untuk menjemput mereka.

Seembus napas: dan di ketinggian langit tenang berarak awak di atas awan. Bernapaslah, dan biarkan limpahan gelagat hangatmu menyapu pastura dan belantara.

Kami bersenandung tentang musim panas, dan Kamilah yang semayam di rimba-rimba remang, bertukar pikir di puncak pepohonan, bertukar pikir.

Oh manusia, apa yang akan kalian miliki, satu sama lain? Tubuh fana ini tiada layak menerima kemurahan hati atas gubahanmu; memberi segala, menerima segala, menghimpun segala selamanya.

Dengan Kebajikan di balik baik dan buruk, para Malaikat memandang kita terempas kesana kemari. Namun dalam diri kita pula Dia nyatakan benih-Nya.

Kita, jiwa-jiwa yang timpang, membanggakan penjelajahan ke ujung bentala. Kita buta, kecuali jika kita tahankan pandangan dalam ketertawanan pada puncak masa lalu, dimana Bintang-bintang kebijaksanaan bersinar.

Sebuah taman menghijau dengan tanaman rambat. Air mengalir, yang madah jernihnya enerbitkan tenteram di hati. Malam fasih, kesunyian nan lapang di bumi terbentang. Yang Maha Pengasih dari yang Pengasih, kasihanilah kami!

Tangan Sang Pencipta telah memurnikan bumi, tanda keabadian yang telah lama disimpan untuk saat ini. Tiada habis serta abadi; surga mengarahkan pandang ke bumi. Wahai musim semi – musim panas, kami menjarah rahasiamu seperti lebah menjarah bunga-bunga.

Titik balik matahari ialah musim panas tanpa musim semi, tanpa musim gugur. Warisan manusia dari leluhur yang mulia: bumi miliki kita tetapi kita orang asing di sana, bahkan ketika ruang dan waktu bersekutu demi sukacita kita, kita berada separuh di rumah, separuh di penjara, teramat lega, namun tersisih oleh gelisah yang indah. Dan kita, dunia-dunia kecil yang melebur menjelma satu dunia, ialah pusat dari segala, dan segalanya adalah satu. Tengah musim panas jiwa kita, cermin kedamaian kita.

Duhai musim perpisahan, musim yang menjanjikan kedatangan kembali, dimana ujuang usia adalah ujung masa muda. Masing-masingnya Adalah kepompong bagi kedatangan musim semi. Tak hanya masa depan dan masa lalu, tetapi juga masa kini yang kau renungkan. Engkaulah, melampaui segalanya, omega yang Adalah gapura di mana alfa terbingkai, telah tiba yang pertama yang Adalah yang terakhir, sebab engkau jualah musim benih, oh musim buah.

Dunia dan kita Adalah para penjaga yang melewati sepanjang malam dengan siaga antara tidur dan jaga. Janganlah siapa pun merasa angkuh dengan keindahan yang disaksikannya. Namun demikian para pemimpi tetap terjaga. Bayang dari bayang dari bayang wajah-Nya, gema dari gema sabda-Nya. Bayangannya berlalu, hakikatnya tetap ada. Di hari itu, sang penantun Mazmur tak memiliki bayang bagi cinta; dalam diri Yusuf, selamanya Yakub bersukacita. Wahai Kebenaran, Penguasa Hari Mutlak, tuntunlah kami melintasi gelombang laut bayang-bayang ini.

Malaikat agung serta Nirmala, di tanganmu surga berada; kita adalah dua gelombang dari Samudra belas kasih. Wahai kebenaran, wahai Cahaya, wahai misteri, janganlah surut dari wajahku.

Jangan, jangan pernah ucapkan selamat tinggal kepada keindahan; milikmulah sukacita itu. Temukanlah keindahan itu di dalam dirimu: hakikat berkata surga ada dalam diri kita; ia ‘kan menemukan siapa yang mencarinya. Jangan pernah ucapkan selamat tinggal kepada keindahan, tetapi temuilah ia; telah ditetapkan pada saat ini, di hari ini, di waktu ini.

Takdir manusialah siang dan malam, gerak dan diam. Dan ruh Adalah kedamaian: yang paling baik ialah berdiam di antara kedua tangannya, dibuai dan dibelai. Oh jadilah engkau sang penari! Aku hanya ‘kan mengikuti kuasa-mu atas ruang dan waktu bagiku. Tubuh sang penari Adalah kuil, diberkati banyak pintu, untuk datang, pergi, seturut kehendakmu. Untuk-Mu, sang penari adalah cawan-Mu: adalah anggur: mengingat-Mu, wahai Kebenaran. Petuahnya: ‘Janganlah mencari ‘tuk menjadi, tetapi jadilah, dengan sungguh jadilah dirimu sendiri’. Demikian pula semestinya tarian itu ‘kan mengalir dari-Mu, kembali kepada-Mu, dimulai dan diakhiri di dalam Yang Tak Terbatas.

Umat Hindu tidak melepas kekasih mereka saat para kekasih itu wafat, mereka sangga kekasih mereka dengan sesaji bagi Api Suci yang dinyalakan di atas altar. Dan mereka memanjatkan doa: dari belenggu kelahiran dan kematian kembali, bebaskanlah mereka denga tiada pengetahuan kecuali pengetahuan tentang-Mu. Umat Yahudi mengaji kitab-kitab suci mereka, mempersembahkan telaah itu kepada kerabat yang telah wafat, setiap hati---agar Ia senantiasa memberkati serta melindungi Ibrahim, Ishak, Yakub, selamanya di bawah naungan sayap-Nya. Umat Buddha melakukan langkah-langkah makbul dalam memalingkan kematian; mereka ambil dua bejana. Gereja-gereja memahat batu-batu peringatan agar berdoa bagi mereka yang telah tiada. Umat Muslim menyebut mereka yang telah wafat dengan Rahmat, tiada nama-nama mereka diujarkan tanpa mengujarkan doa; dan melantukan al-Qur’an, serta bersedekah. Mohonlah belas kasih bagi yang telah mati: belas kasih bagi yang mati!

Buanglah apa pun yang ada tetapi tiada; hanya akui apa yang telah dan yang tengah dan yang akan terjadi; tetapi, demi mengejawantahkan diri yang lama, jadilah dirimu yang baru, dengan menjadi dirimu sendiri.

Orfeus dengan mesiknya membuat gunung-gunung bergetar; tetapi aku geming. Tiada kuberdiri dekat sumur suci itu bersama Ibrahim dan Ismail, tak kusaksikan Yusuf dalam kemuliannya. Tetapi kini tak lagi kukatakan: seandainya saja terjadi!

Mengapa kita mendamba? Sebab sifat manusia menghendaku tak kurang dari segalanya. Penawarnya: Surga, yang terbuka bagi yang tak terbatas.

Denganmu kami mesti menyelaraskan diri, bukan kau menyelaraskan diri dengan kami. Sebab engkau teramat purba, melampaui purbakala. Namun dalam diri Kamilah, bukan dalam diri mereka, rahasiamu tersimpan utuh. Sebab hakikat pertama manusia ialah tempat perjumpaan di mana dua dunia bersua.


Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


0 comments:

Post a Comment

 
;