Jadi Netizen Harus Beriman
by: Remaja Islam Online
Kehidupan
saat ini begitu memprihatinkan karena para generasi penerus bangsa diracuni
oleh dampak negatif 4.0, hal ini menegaskan pentingnya nilai keagamaan untuk
anak zaman sekarang.
Aku salah
satu pengguna aplikasi Instagram dengan username unik yang hampir tidak dapat
dibaca, dimana kudapati sebuah video buram dengan sebuah komentar kotor yang
hampir mencapai lima ribu lebih like
comment. Aku pun bertanya dalam hati; “Bagaimana bisa mereka langsung
menyimpulkan hal yang belum tentu benar?” Aku pun meninggalkan saran
komentar hanya untuk mendapati datangnya pesan-pesan kasar. Sebulan setelah
berita itu heboh, sebuah posting-an
foto dari sahabatku membuatku langsung menangis.
Aku kesal
dengan sikap sahabatku, aku tahu dia itu shalihah, tetapi apa perlu setiap hari
ia selalu menceramahiku? Dia melarangku memposting berita-berita viral, juga
menyuruhku untuk menghapus foto tanpa hijab-ku yang baru saja diunggah. Setelah
memaki-nya, aku merasakan kehilangan, dan postingan sosmed (“Hijab itu wajib;
cantik itu relatif”, “Satu langkah anak perempuan keluar rumah tanpa menutup
aurat; satu langkah pula ayahnya ke neraka”) menyadarkanku akan kebenaran
ucapan sahabatku itu.
Kata Netizen
merupakan gabungan dari kata Internet dan Citizen; pengguna internet, dimana
iman seseorang memengaruhi perilaku orang tersebut. Dari itu, selayaknya
netizen yang beriman tidak memproduksi hoax (berita-berita yang tidak dapat
dibuktikan).
Masa kecilku
merupakan sebuah kenangan indah, dan perpindahan ke luar negeri mempertemukanku
dengan smartphone. “Jempolmu Harimaumu”, begitulah kiranya komentar buruk di
akun sosialku, semua bebas mencela; menghakimi tanpa tahu kejadian nyatanya.
Menyadari depresiku, mama berbicara pada papa, yang memberikan tanggapan keras
sehingga terjadi pertengkaran. Aku pun kabur dan bertemu dengan guru privatku,
menyadarkanku bahwa kasih sayang berarti saling berbagi dalam kondisi apa pun.
Dari itu, jadilah netizen yang senantiasa menebar kebaikan sesuai dengan
aturan-Nya.
Alkisah
persahabatan lima pemuda yang hidup merantau, dimana dua di antaranya bermaksud
me-repost foto editan salah satu di
antara mereka hingga yang lain dengan tegas mengungkapkan bahwa menyebarkan
foto dan informasi yang tidak benar akan menyakiti dan melukai perasaan orang
lain. Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani pernah berkata; “Aku lebih menghargai orang
beradab daripada orang berilmu, Iblis pun lebih tinggi ilmunya dari manusia.”
Sebagai
mahasiswa, Dara berhubungan baik dengan Lara, dimana ia mulai menggunakan hijab
dan menghapus foto lamanya di medsos. Ia pun berhasil memberikan jawaban yang
baik pada temannya yang bertanya berkat bantuan Lara, yang juga mengungkapkan
pentingnya menjaga perasaan orang lain dalam hubungan sosial.
Disalahkan
terus menerus oleh sang kakek, seorang gadis mungil menulis status pribadi yang
mengarahkan sang paman memberikan penjelasan. Gadis mungil tersebut pun mulai
memperbaiki sikapnya. Berkatalah baik atau diam, sebagaimana ditegaskan dalam
QS. Al-Hujurat: 12.
Seperti biasa
aku terbangun pukul lima pagi, namun adanya kawan-kawan yang datang menginap
dan bermain game semalaman mengarahkanku ikut-ikutan bangun lewat dari jam
sembilan. Apalagi mereka juga suka berkomen negatif kepada orang yang hanya
mereka tau di media sosial; Untung saja sekarang sudah ada peraturan
perundang-undangan yang mengatur hal tersebut.
Hidup di era
digital membuat seseorang terlena akan nikmatnya dunia, tak bersyukur atas
kemudahan yang Allah beri; handphone. Kayla dengan enggan menanggapi komentar
Dewi perihal postingan di Insta, diikuti dengan QS. al-Hujurat: 12. Saat
menghadiri seminar bersama, Dewi kembali menyodorkan postingan perihal
keburukan orang, sehingga Kayla dengan tegas memberikan teguran, mengungkapkan
kekhawatirannya tidak bisa bertemu di surganya Allahi.
Susiana
sangat bersemangat berangkat ke kampus untuk mengikuti seminar dosen idola, Pak
Syafi’i, tentang bagaimana menjadi netizen yang beriman dalam menghadapi
beberapa informasi-informasi yang menyesatkan alias hoaks. Saat sesi tanya
jawab, Lany terlebih dahulu bertanya, sehingga Susiana mengurungkan niatnya.
Susiana pun mengunjungi kantor Pak Syafi’i dalam rangka konsultasi dan
mendapati Neni juga melakukan hal yang sama.
Di sebuah
warung, Rahmad mengomentari sebuah trending topic, yang memicu kemarahan Agus,
dan Imam menengahi dengan mengungkapkan bahwa berita itu harus dipahami dahulu
baru dikomentari.
Mendapati
komentar Aliza yang mengkritik pemerintah, aku dengan tegas memberikan teguran
disertai pelafalan QS. an-Nisa’: 59.
Tidak aktif
di media sosial, Abidah terkejut mendapati penuturan teman-temannya perihal
postingan Vano, membuatnya menjadi gunjingan para murid. Hari-hari berlalu dan
rumor mulai menghilang, dimana Vano kemudian mengungkapkan perasaan sukanya
pada Abidah, yang mengungkapkan pentingnya bijak dalam bermedia sosial.
Dengan
membawa buku, aku berjalan-jalan dalam cuaca yang bersahabat di Seoul,
mengingatkanku pada masa dimana aku disukai anak-anak karena informasi hingga
aku memberikan informasi palsu.
Getaran
ponsel tak kunjung berhenti disebabkan chat
room kelas, mengarahkanku pada layar komputer yang berisi berita bunuh diri
seorang artis belia; Carys, sahabatku dulu. Ke-iri-an mengarahkanku untuk
membuat akun anonim menyebarkan segala keburukanmu yang kukarang sendiri, yang
ternyata memicu komunitas pembenci dan mengarah pada cyber bullying.
Mendapati
penuturan Razi, Azzahra mengungkapkan bahwa merendahkan orang lain sama saja
dengan merendahkan diri sendiri. Razi pun tersadar dan memutuskan untuk meminta
maaf, dimana Azzahra juga mengingatkannya untuk berpikir dulu sebelum
berkomentar.
Budi gelisah
di tempat tidur karena telah melakukan kesalahan. Sementara itu, Mbok Sari
(sang ibu) tengah asyik dengan akun Pesbuk Mawar Janda Kembang-nya di Warung
Cinta Bersemi Kembali-nya. Setibanya di rumah, Mbok Sari terkejut mendapati dua
orang polisi hendak membawa anaknya.
Dua tahun
menabung untuk membeli laptop akhirnya tercapai dengan bantuan orangtua,
mengarahkanku belajar menjadi hacker dengan tujuan menghapus komentar-komentar
jahad. Mengetahui hal itu, Ibu mengingatkanku bahwa kita tidak boleh merasa
menjadi yang paling benar dan melakukan apa-apa semaunya.
Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!
Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact