Merawat Luka Batin
by: dr.
Jiemi Ardian, Sp.KJ
Depresi memang tidak logis. Ia
bukan hanya gangguan perasaan, tetapi juga otak dan tubuh mengalami respons
“sakit” karenanya. Gejala dan tanda depresi; perasaan-pikiran-perilaku yang
terganggu, juga hilangnya kemampuan merasakan kesenangan. Pada otak orang yang
mengalami depresi, hipokampus berukuran lebih kecil dengan amigdala yang lebih
aktif. Pengobatan depresi memiliki 3 fase; fase aku (6-12 minggu), fase
lanjutan (4-9 bulan), dan fase pemeliharaan (1-2 tahun). Untuk memahami depresi
lebih dalam, kita perlu memahami perbedaan antara kesedihan (reaksi emosional
normal), berkabung (kesedihan yang mewarnai keseharian), dan depresi
(ketidakberhargaan diri). Depresi selalu kompleks, sekompleks istilah
biopsikososial, adapun beberapa pemicunya; genetik, kematian (denial, numbness,
sjock, and angry), konflik, perundungan, pengalaman buruk semasa kecil,
peristiwa buruk, stres, penyakit, penyalahgunaan obat, isolasi, dan cara
merespon situasi (fokuskan energi pada hal-hal yang bisa kita kendalikan). Dari
itu; belajarlah menyukai diri sendiri (self-esteem), secara sehat berhubungan
dengan orang lain, berpikir logis dan realistis, berhati-hati dalam
menerjemahkan sensasi fisik, mengenali dan mengakui masalah, pengasuhan yang
baik, juga karakteristik yang baik. Jika Anda mengalami depresi; temuilah
psikiater, pelajari tentang depresi, dan kembangkan sikap “mengasihi diri
sendiri”.
Salah satu alasan mengapa depresi
terasa sangat menyakitkan karena ia menyebabkan kita memercayai pikiran
terburuk tentang diri kita dan dunia kita. Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
hadir untuk memerangi pola berpikir tidak adaptif tersebut; meneliti pikiran
sendiri, menyadari bahwa cara kita berpikir menentukan apa yang kita rasakan
(peristiwa pencetus - pikiran otomatis - perasaan dan perilaku), mengenali
pikiran otomatis lebih dekat (pikiran bukan realitas), mengenal perasaan lebih
dekat (perasaan itu warna, semua emosi memiliki peran tersendiri, manusia tidak
mengetahui perasaan orang lain, rasa sakit emosional itu penting, emosi tidak
menentukan siapa kita).
Manusia berpikir, merasa, dan
bertindak dengan cara yang sangat kompleks. Filter mental (generalisasi,
delesi, dan distorsi) sangat mempengaruhi cara kita melihat realitas. Pola
pikir orang yang merasa depresi; cara pandang negatif terhadap diri sendiri,
pengalaman, dan terhadap masa depan. Pikiran hanyalah sebagian dari diri kita,
yang perlu kita telaah dengan jujur dan penuh keterbukaan. Sebuah situasi dan
perasaan tidaklah hitam putih; penilaian kita adalah opini semata, bukan fakta.
Orang yang rentan terhadap depresi sering memiliki aturan, tujuan, atau
harapan, yang tidak fleksibel (kejarlah pertumbuhan bukan kesempurnaan). Jangan
tenggelam dalam satu sudut pandang selektif; “Adakah perspektif lain dari
peristiwa ini?”. Cara melawan kebiasaan berpikir sinis adalah dengan menjadi
realistis. Untuk mengatasi generalisasi yang malah menyakiti semua pihak,
spesifikasi menegaskan bahwa tidak semua hal bisa disamaratakan. Untuk
mengatasi kebiasaan berpikir malapetaka (asumsi buruk) [worst case scenario],
pahamilah bahwa berkah dan musibah datang silih berganti. Untuk mengatasi
kebiasaan berpikir personalisasi (menyalahkan diri sendiri), pahamilah bahwa
setiap orang memiliki beban dan tanggungjawab untuk kebahagiaannya sendiri.
Cara melawan kebiasaan berpikir tenggelam dalam emosi adalah dengan memahami
bahwa perasaan bukan realitas. Cara melawan kebiasaan berpikir melompat ke
kesimpulan adalah dengan memahami semuanya secara terperinci. Cara melawan
kebiasan berpikir ruminasi adalah dengan hidup di saat ini dan berada di sini.
Perasaan sedih, kecewa, kesal,
takut, atau ragu, memberitahu bahwa kita perlu melakukan sesuatu. Reaksi kita
terhadap ketidakbahagiaan bisa mengubah kesedihan yang seharusnya singkat
menjadi ketidakbahagiaan yang menetap. Dari itu, mari kita belajar untuk
melihat alternatif dalam memandang masalah yang sama dengan mengganti cara
berpikir (adaptif). Pemikiran yang sehat dan realistis berarti kita mampu
melihat situasi sebagaimana adanya. Latihan mencatat pikiran terbukti efektif
untuk meningkatkan mood; ukur intensitas emosi, renungkan pikiran Anda, dan cek
kebenarannya. Ketimbang menilai kebenaran pikiran kita, gantilah pernyataan
kata “harus” menjadi “ingin”, dan kata “tidak boleh” menjadi “saya tidak mau”.
Menuliskan pemikiran kritis tentang diri kita adalah salah satu cara terbaik
untuk memahami sikap menyalahkan diri sendiri. Jadwal tidur tetap, mengonsumsi
makanan yang tepat, dan rutin berolahraga, diketahui dapat membantu memperbaiki
gejala depresi. begitu juga latihan gerakan mata, relaksasi otot progresif,
pernapasan teratur 4-7-8, TUAS (Tunda + Undur + Amati + Sadari).
Ketika pikiran dipenuhi pola pikir
depresi, kita tidak sepenuhnya sadar, dan latihan mindfulness dapat mengatasi
hal tersebut. Ada masalah nyata yang bisa diselesaikan dengan pikiran doing dan ada masalah perasaan yang
hanya perlu ditenangkan (being).
Mindfulness merupakan usaha memusatkan perhatian kesadaran dari luar diri ke
dalam diri, ia meningkatkan konsentrasi dan perhatian kita serta memampukan
kita untuk benar-benar melihat apa yang terjadi dengan perspektif yang lebih
besar. Untuk itu, kita perlu bersedia untuk menghadirkan diri kita seutuhnya
pada saat ini, di sini. Menyadari tubuh adalah cara yang ampuh untuk
menjadi lebih sadar. Akhirnya, mindfulness membebaskan kita dari pikiran
otomatis. Mengatasi stres dengan berusaha menghilangkannya atau menghindarinya
hanya akan menciptakan stres yang baru; hanya dengan mengamati dan mengenal
perasaan kita sebagaimana adanya, maka perasaan tersebut akan perlahan mereda
dan tidak lagi mengontrol hidup kita. Latihan mindfulness juga bisa dilakukan
dalam bernapas, duduk seimbang, dan berjalan damai.
Pikiran atau niat untuk menyakiti
diri sendiri seringkali muncul ketika sedang mengalami depresi; ingatlah bahwa rasa
sakit itu bisa berkurang dengan tetap tidak melukai diri sendiri. Tips
praktis; distraksi, pikiran tentang harapan, dan bantuan profesional. Dorongan
bunuh diri biasanya didorong oleh kebutuhan untuk melarikan diri dari perasaan
yang sangat negatif atau keputusasaan untuk sesuatu yang berubah. Untuk itu,
kita membutuhkan ruang aman, mengidentifikasi masalah secara spesifik,
menemukan solusi alternatif, mengidentifikasi perasaan (latihan; hal baik dalam
hidup), mengidentifikasi pikiran (latihan; saat-saat bahagia), juga menyanggah
pemikiran dan asumsi negatif (latihan; tantang pikiran bunuh diri).
Pulih dari depresi bukanlah hal
yang mustahil, bahkan sangat mungkin apabila kita menjaga kebiasaan baik untuk
mencegah kambuhnya depresi. Mempertahankan irama tubuh (sirkadian); Tidur dan
olahraga yang cukup, memungkinkan berkurangnya relapse (kambuhnya depresi).
Tips lainnya; sertakan orang yang kita sayangi (caregiver), tetapkan tujuan
pribadi, hidup bersama keseimbangan (kesehatan, keluarga, sosial, pekerjaan,
rohani, juga kreativitas dan waktu luang). Tahapan penerimaan caregiver
depresi; pengabaian, rasionalisasi, penyangkalan, ketakutan, rasa bersalah, dan
kemarahan. Beberapa cara membantu orang dengan depresi: terima perasaan mereka,
terhubunglah dengan orangnya (bukan dengan depresinya), berkomunikasilah dengan
sehat (empatik dan jelas), bertanggungjawablah pada perasan diri sendiri,
refleksikan perasaan, berikan pesan positif, dan bantu mereka menemukan solusi
mereka sendiri. Setiap keluarga adalah sebuah kesatuan. Penting juga
bagi caregiver untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan sendiri. Hal yang harus
dilakukan jika kerabat ingin bunuh diri: bicarakan dengan terbuka, terima
perasaan mereka, bantu mereka mengidentifikasi ketakutannya, beri penilaian
konsekuensi, temani mereka, dan dorong mereka mencari bantuan profesional.
Terimakasih atas Pembelian Buku Original-nya!!
Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact