Friday, December 22, 2023 0 comments

Sinopsis "The Midnight Library - Matt Haig" Bahasa Indonesia

 The Midnight Library
by: Matt Haig

Sembilan belas tahun sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora Seed berbicara dengan Mrs. Elm sambil bermain catur.

Dua puluh tujuh jam sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora Seed mendapati bel pintunya berbunyi, dan mendapati Ash, mengungkapkan bahwa Voltaire (kccuingnya) telah mati.

Sembilan setengah jam sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora datang terlambat untuk sif sorenya di String Theory, dimana Neil mempertanyakan keadaan Nora, mengungkapkan kekhawatirannya, dan memutuskan untuk melepas Nora.

Sembilan jam sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora mengeluyur berkeliling Bedford; kota ban-berjalan keputusasaan.

Delapan jam sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora memasuki kios koran dan majalah untuk berteduh, dimana ia bertemu dengan Ravi, sahabat kakaknya, yang mengungkapkan bahwa kakaknya, Joe, berada di kota. Ravi mengungkapkan kekecewaan dengan tegas pada Nora, yang juga membalasnya dengan tegas.

Tujuh jam sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora mengirimkan pesan pada manta sahabatnya Izzy. Dimana ia melewati bioskop, tempat film Ryan Bailey yang baru tengah diputar.

Lima jam sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora menerima telepon dari Doreen yang mengungkapkan perihal kepergian Leo, untuk berhenti dari les piano-nya. Empat jam sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora bertemu dengan Mr. Banerjee, yang mengungkapkan bahwa tak lagi membutuhkannya untuk mengambilkan obat. Dua jam sebelum ia memutuskan untuk mati, ia membuka sebotol anggur, meninggalkan pesan suara pada kakaknya, Joe, dan kemudian menulis surat kematian.

Mendapati keberadaan sebuah bangunan, dan jam arloji yang tetap menunjukkan angka 00:00:00, Nora memutuskan untuk memasuki bangunan dan mendapati banyak rak buku di mana-mana.

Saat hendak mengambil sebuah buku, seorang pustakawati memintanya untuk berhati-hati, ia seperti Mrs. Elm.

Mrs. Elm mengungkapkan bahwa ia tengah berada di Perpustakaan Tengah Malam, yang akan menjauhkannya dari kematian.

Rak-rak di kedua sisi Nora mulai bergerak, dan Mrs. Elm memberikan intruksi bahwa setiap buku merupakan sebuah versi hidup Nora dan kemudian menyerahkan sebuah buku padanya.

Nora membaca Buku Penyesalan, yang berisi setiap penyesalan sejak ia lahir, dari penyesalan kecil sehari-hari ke penyesalan mendalam.

Ia bertemu Dan selagi tinggal bersama Izzy di Tooting. Terhanyut dengan antusiasme Dan dan bertunangan. Namun, ia tersadar tidak ingin menikah dengan Dan. ia tidak ingin memfotokopi pernikahan orangtuanya.

Mengikuti arahan Mrs. Elm, aku memutuskan untuk kembali ke kehidupan dimana aku masih bersama dengan Dan, dan Mrs. Elm pun memilihkan sebuah buku bertuliskan Kehidupanku, kemudian menyuruhku untuk membaca baris pertama buku tersebut.

Di sebuah pedesaan, Nora mendapati sebuah pub dengan nama The Three Horseshoes, beberapa orang menyapa saat keluar dan ia pun memasuki pub tersebut, mendapati seekor kucing dengan nama Voltaire, dan Dan yang menatapnya datar. Setelah melihat artikel berjudul Pemilik Pub Mewujudkan Impian dua tahun lalu, Nora menerima pesan dari Izzy disertai foto. Setibanya di kamar tidur, Dan menyapanya dengan sedikit hambar, menanyakan keanehannya, dan menyebut Erin, membuat Nora mempertanyakan kebahagiaannya, juga kebahagiaan Dan.

Status terakhir yang diunngah Nora: Pernahkan kau berpikir bagaimana aku berakhir di sini? seolah-olah kau berada dalam labirin dan sepenuhnya tersesat dan semua itu salahmu karena kaulah yang mengambil setiap belokan?

Nora tengah berada di sisi lain perpustakaan, sementara Mrs. Elm tengah bermain catur. Dan pertanyaan Mrs. Elm tentang Voltaire, membuat Nora ingin mengetahui bagaimana kehidupannya yang baik dalam menjaga Voltaire.

Nora berada di apartement-nya, berusaha mencari keberadaan Voltarie hanya untuk mendapati Voltaire telah mati. Ia pun kembali ke perpustaakan dan Mrs. Elm berusaha memberikan penjelasan; Satu-satunya cara untuk belajar adalah dengan hidup. Dilanda kebosanan, Nora memutuskan untuk melihat kehidupannya di Australia bersama Izzy.

Nora mendapati dirinya tengah berenang di kolam air asin, di Bronte Beach, Sydney. Ia mencari pakaian ganti dengan mengikuti nomor gelang yang menunjuk loker nomor 57. Seorang laki-laki menanyakan keadaannya, dan Nora berusaha menjawab sewajar mungkin, dimana ia kemudian berusaha mencaritahu apa yang terjadi, terutama melalui Instagram; dengan sebuah puisi berjudul API. Akhirnya Nora tiba di apartementnya dan menyadari bahwa ia seorang mahasiswi di usia 35 tahun, dengan seorang teman penganut teori konspirasi yang tinggal bersamanya, Jojo, yang kemudian memberitahunya apa yang terjadi pada Izzy.

Pustakawati tersenyum datar, dan Nora yang menyadari keterjebakannya teringat akan tes ikan zebra. Mempertanyakan apa yang ia sukai, mengarahkan Nora pada masa dimana ia menjadi atlet renang atas keinginan sang ayah, sehingga ia ingin mengetahui bagaimana kehidupan tersebut.

Nora terbangun berkat alarm ponsel pukul 06.30, dimana ia mendapati jadwal Nora Seed OBE, kehidupan yang sukses, dengan tubuh yang bugar, dan Halaman Wikipedia atas namanya. Nora mengetahui bahwa ia telah meraih beberapa medali emas, pensiun di usia 28 tahun, dan sekarang bekerja untuk BBC di London. Ia kemudian menerima telepon dari Nadia, yang ternyata merupakan istri baru ayahnya, dan Nora pun terlibat perbincangan dengan sang ayah. Di Lobi, Joe (sang kakak) menyambut Nora dengan hangat bersama dua orang lainnya.

Bersama dengan Joe, Nora berada di ruangang yang disebut Ruang Tunggu VIP, dimana ia kemudian terlibat perbincangan dengan Joe, mencaritahu apa yang terjadi di kehidupan tersebut, mengarahkannya pada momen di mana sang ibu meninggal.

Nora mengungkapkan kekhawatirannya pada Joe, dan kemudian memikirkan musik. Di hadapan seribu orang, Nora menceritakan tentang pohon kehidupan, nasehat-nasehat mrs. Elm, dan penegasan bahwa kesuksesan merupakan sebuah delusi.

Nora mendapati Mrs. Elm sibuk di depan komputer dan berkata; kesalahan sistem", dimana ia mengarahkan Nora pada kehidupan glasiolog.

Ia terbangun di ranjang kecil di sebuah kabin kecil di atas kapal, dengan Ingrid Skirbekk sebagai teman sekamarnya.

Saat sarapan bersama beberapa ilmuwan peneliti, Nora disapa oleh Hugo Lefevre, yang mengungkapkan menyukai makalah Nora, dan mereka pun terlibat perbincangan.

Nora berada di sebuah lanskap Arktik, di Pulau Beruang, dimana mereka berpencar dengan barang persiapan masing-masing. Ia teringat obrolannya dengan Ash ketika di rumah sakit, tempat ibu Nora dirawat. Dalam kesunyian, Walrus menampakkan diri, diikuti dengan kawanannya, dan sosok yang lebih besar datang dari arah berlawanan.

Nora segera melakukan tindakan yang telah diajarkan yakni berteriak-teriak sambil memukul sendok pengaduk ke panic kecil, dimana ia kemudian meneriakkan perpustaan. Akhirnya, pada momen itu; Ia tidak ingin mati.

Ia syok. Ia syok gara-gara menyadari ia sebetulnya ingin hidup.

Ia mulai merasa kualitas medioker dan kekecewaan merupakan takdirnya, yang tampaknya berulang dalam setiap generasi, sebagaimana apa yang menimpa kakek dari pihak ibunya, juga ibunya, begitu juga dengan Ayah Nora, Geoff, juga Nenek Nora dari ayahnya.

Butuh dua jam untuk kembali ke pelbuhan kecil di Longyearbyen, dimana orang-orang terkesan dengan kisah Nora, begitu juga Ingrid, yang mengajaknya untuk merayakan hal itu dengan makanan enak. Di sana, Hugo mempertanyakan sikap Nora dan kemudian mengungkapkan bahwa ia juga mengunjungi kehidupan-kehidupan.

Nora selalu kesulitan menerima dirinya sendiri. kini, ia membayangkan seperti apa rasanya menerima dirinya sendiri sepenuhnya.

Hugo mengungkapkan kisahnya sebagai seorang slider, dimana ia telah bertemu dengan slider-slider lainnya. Hugo mengungkapkan perihal kehidupan mereka sebagai Kehidupan Schrodinger, dan bahwa ia telah menjalani hampir tiga ratus kehidupan, dengan salah satunya sebagai suami dari Nora.

Di tengah sensasi yang menyenangkan, Nora teringat kata-kata Camus: Aku mungkin tidak yakin dengan apa yang betul-betul menarik bagiku, tapi aku amat sangat yakin dengan apa yang tidak menarik bagiku., diikuti dengan: Kalau sesuatu akan terjadi padku, aku ingin ada di sana?

Nora mempertanyakan identitas Mrs. Elm, yang kemudian mengungkapkan bahwa Nora harus menemukan kehidupan yang tepat untuk dihuni, dimana Nora memikirkan akses terdekatnya pada kebahagiaan adalah musik.

Nora mendapati seorang wanita mengelapi mukanya, dengan Ravi memegang stik drum, tanpa Joe di sana, dan Nora pun berusaha membawakan lagu Bridge Over Troubled Water.

Di hadapan puluhan ribu penggemar, Nora bagaikan Cleopatra yang tengah ketakuran, dimana ia melihat sebuah tato di lengan bawahnya bertuliskan: Semua hal indah liar dan bebas. Ia pun bernyanyi, Ravi memujinya dan memintanya membawakan Howl, yang segera Nora tolak. Di mobil, Joanna memberikan informasi, dimana Nora tetap berhubungan dengan Izzy, dan menerima telpon dari Ryan Bailey.

Ryan Bailey mengungkapkan salam perpisahan, yang menyadarkan Nora bahwa ia di kehidupan ini telah mencampakkan bintang film papan atas. Dan bus akhirnya tiba di hotel terbaik di Brasil.

Nora memenuhi permintaan beberapa fan sebelum akhirnya memasuki hotel, dimana ia diperkenalkan pada Marcelo, seorang podcast music: O Som. Setibanya di kamar suite, Nora menahan diri untuk tidak berujar wow, dimana terhidang nampan perak penuh keik madu Brasil.

Nora menghadapi wawancara dengan baik, bahkan terlalu baik, hingga ia akrhinya mengetahui apa yang terjadi pada kakaknya, Joe.

Nora memutuskan untuk berhenti karena semua itu terlalu menyakitkan, dimana Nora kemudian mendapati perpustakaan bergetar hebat, sehingga ia pun menerima saran Mrs. Elm bahwa pengalaman-pengalaman buruk pun memiliki tujuan.

Di tengah ingatan saat berumur tujuh belas tahun di Sungai, Nora memikirkan kata ekuidistan.

Ingatan itu membuat Nora menyadari bahwa kehidupan-kehidupan yang telah dicobanya merupakan perwujudan dari mimpi orang lain. Dimana Nora kemudian menemani Mrs. Elm bermain catur dan memilih kehidupan dimana ia bekerja dengan hewan-hewan.

Nora menikmati kehidupannya bekerja di tempat penampungan anjing, dengan sambutan hangat dari Pauline, dan seorang pacar bernama Dylan, yang bergaul akrab dengan anjing-anjing.

Bersama Dylan, Nora pergi ke sebuah restoran di Castle Road, di belokan dekat String Theory, yang tidak lagi beroperasi. Dalam prosesnya, Nora juga bertemu dengan Ash, yang menerima sapaannya dengan bingung.

Makan malam bersama Dylan di La Cantina, mengingatkan Nora saat bersama Dan. sembari makan taco kacang hitam, mereka membicarakan anjing dan sekolah, dimana Dylan mengungkapkan bahwa ia bertemu Mrs. Elm tempo hari.

Nora kembali ke rumah Dylan untuk menonton film Ryan Bailey; Last Chance Saloon, dimana ia mendapati rumah tersebut dipenuhi anjing, sehingga Nora menyadari bahwa rasa suka itu ada batasnya.

Dengan bantuan Mrs. Elm, Nora berada di kehidupan dengan nama Nora Martinez, ia menikah dengan pria berdarah Amerika-Meksiko bernama Eduardo, yang memeiliki perkebunan anggur kecil di California.

Nora memahami sesuatu, bahwa yang penting ialah tidak pernah menyerah dengan gagasan akan ada sebuah kehidupan di suatu tempat yang bisa dinikmati. Ia pun mengambil banyak buku di rak-rak dan mencicipi banyak kehidupan berbeda. Masalahnya, semakin banyak kehidupan yang dijalaninya, semakin sulit baginya untuk betah di mana pun, hingga akhirnya Nora mulai kehilangan jati dirinya.

Nora berada di Perpustakaan Tengah Malam yang gelap, dengan Mrs. Elm yang cemas, dimana filsafat mengarahkan Nora mengingat akan kebaikan, dan Ash.

Nora mendapati dirinya berada di sebuah ranjang yang gelap bersama seorang pria, Ash. Ia pun segera beranjak keluar kamar dengan mambawa ponselnya hanya untuk mendapati seorang anak Perempuan berumur sekitar empat tahun memanggilnya Mummy dan mengungkapkan bahwa ia mendapatkan mimpi buruk.

Nora bermain tanya-jawab dengan anak perempuan tersebut. Ia bernama Molly, memberitahu Nora apa yang ia ketahui.

Setelah sapaan pagi dari Ash, yang kemudian pergi jogging, Nora menyadari betapa bagusnya kehidupan ini, terutama setelah ia mengecek email dan barang-barangnya di rumah.

Nora menyadari bahwa ia bisa bahagia di kehidupan ini, dimana ia mendapati Ash sebagai orang yang baik, mengkhawatirkan keadaannya. Nora seringkali khawatir ia mungkin kembali ke Perpustakaan Tengah Malam, dimana ia pun akhirnya bercinta dengan Ash dan menceritakan perihal dunia pararel.

Selama liburan tengah semester, Nora sekeluarga mengunjungi Joe dan Ewan di Hammersmith, dimana Joe terlihat sehat, dan Nora menanyakan perihal kekecewaan Joe tentang band.

Minggu-minggu berlalu, Nora mulai merasa sesuatu yang luar biasa mulai terjadi, ia mulai mengingat hal-hal sebagiamana kepingan puzzle. Ia juga sangat suka menghabiskan waktu bersama Molly, yang tengah gemar menaiki sepeda roda tiga, dan sempat terjatuh, dimana Nora pun menyadari bahwa ini bukanlah kehidupannya.

Di Panti Wreda Oak Leaf, Nora menyadari keberadaan Mr. Banerjee yang tidak mengenalinya, dimana Nora kemudian mendapatkan kabar bahwa Louise Elm telah meninggal dunia beberapa minggu sebelumnya.

Nora melangkah keluar ke Shakespeare Road, dimana ia melewati rumah Mr. Banerjee yang sekarang ternyata ditempati oleh Kerry-Anne. Di jalan utama, Nora mendapati keributan, dan Leo, murid les piano, merupakan pelaku yang tengah ditangkap polisi.

Nora mendapati String Theory juga tutup, dimana ia teringat akan masa remajanya bersama Joe bercanda tentang HMP Bedford. Dalam perjalanan pulang ke Cambridge, Nora memberitahu dirinya sendiri bahwa ini kehidupan terbaik.

Nora segera memasuki rumah dan menemui Ash, juga Molly, yang tengah asyik bermain sepeda roda tiga di belakang rumah. Ia mengungkapkan betapa ia mencitai mereka.

Di Perpustakaan Tengah Malam, Nora meminta Mrs. Elm untuk mengembalikannya ke kehidupan itu, atau variasi terdekatnya, dan langit-langit mulai runtuh, buku-buku terbakar, dan waktu kembali berjalan. Mendapati Nora mengungkapkan Aku tidak inging mati, Mrs. Elm mengarahkannya menuju gang kesebelas disertai sebuah pena plastic warna jingga.

Nora pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Mrs. Elm, dimana ia harus berusaha sekuat tenaga sebelum akhirnya mendapatkan buku hijau itu, dan akhirnya ia tuliskan: AKU HIDUP.

Pada satu menit dan 27 detik selepas tengah malam, Nora Seed muncul dalam keadaan muntah dan terseret-seret pergi ke luar untuk meminta pertolongan, hingga ia roboh di keset Mr. Banerjee.

Hidup. Sartre pernah menulis, dimulai di sisi lain keputus-asaan. Dan Nora berada di ranjang rumah sakit, menjawab pertanyaan perawat dan memposting dengan judul Satu Hal yang Kupelajari (Ditulis oleh Bukan Siapa-siapa Yang Telah Menjadi Semua Orang).

Masalah sebenarnya bukanlah kehidupan-kehidupan yang kita sesali tidak kita jalani, melainkan rasa sesal itu sendiri. kita hanya perlu menjadi satu orang, satu eksistensi. Hal yang mustahil, kurasa, terjadi lewat menjalani hidup.

Joe datang menjenguk dengan membawa majalah National Geographic, mengungkapkan penyesalannya disertai keterpurukannya. Nora menerima pesan dari Izzy dan membuka laman International Polar Research Institute di Facebook. Ia pun diizinkan pulang, sempat melihat Ash di tempat parkir, dan ikut senang dengan rencana kakaknya untuk menjadi sound engineer dan berkenalan dengan Ewan. Dari balik jendela, Mr. Banerjee melihatnya dengan berseri-seri.

Nora mendapati segala sesuatunya terasa berbeda.. karena ia hidup. Nora sangat bersemangat mendengar kabar dari Doreean dan mengungkapkan betapa Leo sangat berbakat dalam piano.  Nora pun teringat akan paradoks gunung berapi (sumber kehancuran tetapi juga kehidupan).

Mrs. Elm kelihatan jauh lebih tua daripada waktu di Perpustakaan Tengah Malam, dan Nora mengungkapkan bahwa ia memberi les piano dan membantu di penampungan tunawisma, dimana ia bersedia untuk selalu menyediakan waktu satu jam untuk bermain catur.


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, October 27, 2023 0 comments

Sinopsis "Sang Penguasa - Niccolo Machiavelli" Bahasa Indonesia

 Sang Penguasa
by: Niccolo Machiavelli

Niccola Machiavelli menghadiahkan sebuah buku (Sang Penguasa) pada yang mulia Lorenzo De’ Medici disertai sebuah surat pengantar.

I: Semua negara dan wilayah kekuasaan tempat umat manusia bernaung berbentuk suatu negara republik atau suatu kerajaan.

II: Bagi kerajaan warisan yang bersifat turun-temurun; cukup untuk tidak melalaikan lembaga-Iembaga yang didirikan oleh nenek moyang raja dan kemudian menyesuaikan kebijaksanaan dengan situasi yang ada.

III: Negara-negara yang setelah ditaklukkan dipersatukan dengan suatu kerajaan yang sudah ada; : pertama, keluarga wangsa raja yang lama harus ditumpas habis; kedua, jangan membuat perubahan-perubahan entah dalam hukum maupun sistem perpajakan mereka. Tetapi kalau orang menguasai daerah-daerah yang berbeda bahasa, hukum, dan adat-istiadatnya, maka penguasa baru harus tinggal di wilayah tersebut, serta mendirikan koloni-koloni sebagai kunci wilayah tersebut, diikuti dengan melakukan pembelaan pada negara-negara yang lemah.

IV: Alasan mengapa Kerajaan Darius yang ditaklukkan Alexander tidak memberontak terhadap para penggantinya setelah kematiannya: semua kerajaan yang dikenal dalam sejarah diatur menurut salah satu dari dua cara, yaitu diatur oleh seorang raja yang ditaati oleh semua penduduk dan para menterinya atau diatur oleh seorang raja dan para bangsawan yang tinggi rendah kedudukan mereka ditentukan oleh garis keturunan mereka yang sudah lama ada. Contoh mutakhir mengenai dua macam pemerintahan tersebut diberikan oleh bangsa Turki dan raja Prancis.

V: Jika negara yang baru saja direbut sudah terbiasa hidup bebas dan mengikuti hukum mereka sendiri, ada tiga cara untuk memerintahnya secara aman. Pertama, dengan menghancurkannya; kedua, dengan secara pribadi bermukim di negara tersebut; dan ketiga, dengan mendirikan suatu oligarki yang akan menjamin negara tersebut tetap bersahabat dengan Anda. Contoh-contoh diberikan oleh bangsa Sparta dan bangsa Romawi.

VI: Orang-orang yang berhasil menjadi penguasa karena daya upaya sendiri dan bukan karena nasib mujur adalah Musa, Cyrus, Romulus, Theseus, dan orang-orang lain seperti mereka, juga Hiero dari Syracuse. Mereka harus bekerja keras untuk memperkuat kedudukannya, tetapi kemudian dengan mudah dapat mempertahankannya.

VII: Penduduk biasa yang menjadi penguasa hanya karena nasib mujur tanpa mengalami kesulitan apa pun untuk naik jenjang tersebut, besar sekali kesulitan yang dihadapinya dalam mempertahankan kekuasaannya. Hal ini ditegaskan oleh kisah Francesco Sforza, penguasa Milan, dan Cesare Borgia, pangeran Valentino.

VIII: Ada dua cara menjadi penguasa tanpa nasib baik atau pun kemampuan, yakni (1) dengan cara jahat dan keji dan (2) rakyat biasa menjadi penguasa di kota kelahirannya sendiri atas persetujuan sesama warga masyarakatnya. Contoh yang pertama ialah Agathocles, raja Syracuse, dan Oliverotto dari From dalam pemerintahan Paus Alexander VI. Karena itu perlu diingat bahwa kalau mau merebut suatu negara, penguasa baru haruslah menentukan berat penderitaan yang ia anggap perlu dibebankan pada rakyat.

IX: Seorang rakyat biasa yang menjadi penguasa karena jasa baik sesama (kekuasaan konstitusional), melalui dukungan rakyat atau bangsawan. Ia yang menjadi penguasa karena dukungan para bangsawan akan menghadapi kesulitan yang lebih besar daripada orang yang diangkat menjadi penguasa karena dukungan rakyat, sebagaimana Nabis, seorang raja bangsa Sparta, berhasil bertahan terhadap kepungan Yunani dan Romawi. Dari itu, seorang raja yang bijaksana harus menemukan cara-cara bagaimana rakyatnya dalam keadaan apa pun, selalu  menggantungkan diri padanya dan pada kekuasaannya.

X: Dalam membahas sifat kerajaan-kerajaan ini, perlu dipertimbangkan satu hal lain, yaitu, apakah raja mempunyai kedudukan sedemikian rupa sehingga, dalam keadaan bahaya, ia dapat berdiri sendiri atau apakah ia harus selalu meminta bantuan dan perlindungan orang lain. Hal ini sebagaimana kota=kota di Jerman yang menikmati kebebasan penuh. Dari itu, seorang raja yang memiliki suatu kota yang kuat dan tidak dibenci rakyatnya, tidak dapat diserang.

XI: Negara-negara gerejani didirikan dengan keuletan atau keberuntungan tetapi dikelola tanpa menggunakan kedua hal tersebut. Pendeknya pemerintahan Paus mengakibatkan kekuasaan mereka tidak begitu dihargai di Italia hingga muncullah Alexander VI.

XII: Dasar setiap negara ialah hukum dan pasukan yang baik. Pengalaman telah menunjukkan bahwa hanya para raja dan negara republik yang memiliki angkatan perang berhasil baik dan pasukan bayaran hanyalah mendatangkan kekalahan. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh Kerajaan Roma dan Sparta, juga Swiss, sementara Chrtago merupakan contoh dalam hal ketergantungan pada pasukan bayaran, juga Sforza atas Milan dan kehinaan Italia oleh Charles.

XIII: Kalau meminta negara tetangga untuk membantu dan mempertahankan negara dengan pasukannya, pasukan itu disebut pasukan bantuan, dan pasukan ini sama tidak bergunanya seperti tentara bayaran. Hal ini sebagaimana dicontohkan Paus Julius II, Hiero dari Syracuse, juga keruntuhan kekaisaran Romawi.

XIV: Raja hendaknya tidak mempunyai sasaran ataupun kesibukan lain, kecuali mempelajari perang dan organisasi dan disiplinnya, karena itulah satu-satunya seni yang dibutuhkan seorang pemimpin. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Francesco Sforza, Philopoemen, dan Cyrus.

XV: Raja harus cukup bijaksana untuk menghindari skandal sehubungan dengan keburukan-keburukan perilaku yang akan menghancurkan negara.

XVI: Seorang raja tidak perlu bertindak murah hati untuk membuat dirinya tersohor, kecuali kalau ia mau mempertaruhkan dirinya; jika ia bijaksana, ia tidak akan berkeberatan dianggap sebagai seorang yang kikir.

XVII: Manusia mencintai menurut kehendak bebasnya, tetapi takut terhadap kehendak raja, dan seorang raja harus mengandalkan apa yang ada padanya, bukannya pada apa yang ada pada orang lain. Ia hanya harus menghindari dirinya dibenci.

XVIII: Sebagaimana Alexander VI, seorang raja tidak perlu memiliki semua sifat baik (penuh perhatian, setia akan janji, bersih, dna alim), tetapi ia harus bersikap seakan-akan memilikinya.

XIX: Kisah bangsa Canneschi menegaskan bahwa seorang raja dicintai oleh rakyatnya tidak perlu khawatir terhadap adanya pembangkangan. Negara yang diperintah dengan baik dan raja yang bijaksana selalu berusaha keras untuk tidak membuat para bangsawan berputusasa dan berusaha memuaskan dan membahagiakan rakyatnya, sebagaimana Kerajaan Prancis.

XX: Mengenai benteng, ia bisa berguna atau tidak, tergantung pada keadaan, dimana benteng yang terbaik yang perlu dibangun ialah menghindari jangan sampai dibenci oleh rakyat.

XXI: Seorang raja harus berusaha agar dari setiap tindakannya, keagungan dan kemuliaan diperolehnya. Dan seorang raja dijunjung tinggi kalau ia menyatakan dirinya secara terang-terangan memihak atau menentang seseorang. Perlu dicatat di sini bahwa seorang raja jangan pernah masuk persekutuan yang agresif dengan seseorang yang lebih kuat daripada dirinya sendiri, kecuali kalau memang terpaksa

XXII: Kesan yang diperoleh pertama kali mengenai seorang raja dan kebijaksanaannya ialah kalau orang melihat orang-orang yang ada disekelilingnya. Dari itu, penting bagi raja untuk bijaksana dalam memilih para menterinya melalu rasa percaya satu sama lain.

XXIII: Nasihat yang bijaksana, dari mana pun datangnya, tergantung pada kebijaksanaan raja, dan bukan kebijaksanaan raja tergantung pada nasihat yang baik.

XXIV: Raja-raja Italia, seperti raja 'Napels, pangeran Milan, dan sebagainya, yang telah kehilangan negaranya, kita akan melihat bahwa mereka semua memiliki kelemahan yang sama dalam hal pengaturan angkatan perang mereka, beberapa dari antara mereka menimbulkan rasa permusuhan di kalangan rakyat atau kalau rakyat memihak mereka, dan mereka tidak tahu cara menjalin persekutuan dengan para bangsawan.

XXV: Benar nasib mujur menguasai separuh dari perbuatan-perbuatan kita, tetapi separuh tindakan lainnya dibiarkan untuk kita atur sendiri. Dan sebagaimana Paus Julius II, lebih baik bersikap impulsif daripada berhati-hati.

XXVI: Setelah membahas segala sesuatu yang saya utarakan, saya bertanya pada diri sendiri, apakah bukan saatnya sekarang ini Italia memilih seorang raja baru?


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, September 29, 2023 0 comments

Sinopsis "Man’s Search for Meaning - Viktor E. Frankl" Bahasa Indonesia

 Man’s Search for Meaning
by: Viktor E. Frankl

Buku ini sekadar cacatan berbagai pengalaman pribadi, penderitaan yang tak putus-putus sebagaimana ditanggung oleh para tawanan Nazi. Mari kita ambil contoh kasus tentang rencana pengangkutan yang secara resmi diumumkan untuk memindahkan sejumlah tawanan tertentu ke kamp lain; tetapi umumnya hampir dapat dipastikan bahwa tujuan akhirnya adalah kamar gas. Setiap orang hanya dikendalikan satu pemikiran: bertahan hidup demi keluarga yang menunggi mereka di rumah, dan menyelamatkan kawan-kawan. Saya, tawanan nomor 119.104, hampir sepanjang waktu ditugaskan untuk menggali dan membuat lintasan jalan kereta api. Sekali waktu, saya menggali sebuah terowongan, tanpa bantuan siapa pun, untuk menempatkan pupa utama saluran air di bawah sebuah jalan, dimana saya mendapatkan sebuah kupon premium (12 batang rokok / 12 mangkuk sup). Seribu lima ratus tawanan menempuh perjalanan dengan kereta api selama beberapa hari: setiap gerbong berisi 80 tawanan, dan berhenti di Auschwitz. Dalam kondisi delusion of reprieve, kami terkurund di dalam barah yang barangkali dibangun untuk menampung dua ratus tawanan, dengan seperlima ons roti sebagai jatah makan untuk empat hari. Dengan meninggalkan barang bawaan di kereta, kami berbaris untuk ditunjuk ke kanan atau ke kiri, dimana 90% ke kiri, yakni ke ruang “mandi”. Kemudian, kami diliputi rasa humor yang menyakitkan; kami tahu bahwa kami tidak bisa kehilangan apa-apa lagi kecuali hidup kami yang benar-benar telanjang. Para tawanan di Auschwitz yang sudah melalui periode syok pertama, tidak lagi takut terhadap kematian. Dua minggu di kamp konsentrasi (fase kedua), kami menyaksikan kematian (pasien), tanpa perasaan apa pun (apati), dan ini terjadi berulang-ulang setiap ada (pasien) yang meninggal. Bagian yang paling menyakitkan dari pukulan adalah hinaan yang menyertainya. Meskipun sempat berselisih dengan seorang Capo, seorang Capo menyukai saya karena saran-saran psikoterapis yang saya berikan dan menempatkan saya di barisan pertama; kebaikan hati seperti itu sangat penting. Karena beratnya kekurangan gizi yang diderita para tawanan (sup encer sekali sehari, ditambah sedikit roti), satu persatu penghuni gubuk meninggal dunia; “Tubuh ini, tubuh saya, sudah benar-benar seperti sesosok mayat.” Waktu yang paling sulit dari dua puluh empat jam kehidupan di kamp adalah saat-saat bangun pagi, ketika sirene tengah malam berbunyi tiga kali. Secara umum, para tawanan juga mengalami apa yang disebut "hibernasi budaya," dengan dua kekecualian, politik dan agama. Satu pikiran membuat saya termenung:Manusia diselamatkan oleh cinta dan di dalam cinta.” Ketika kehidupan batin tawanan mulai meningkat, dia juga menyadari keindahan seni dan alam yang sebelumnya tidak dia sadari. Upaya untuk mengembangkan rasa humor dan memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang lucu merupakan suatu muslihat, bagian dari pelajaran tentang seni kehidupan. Sejalan dengan itu, hal-hal yang sangat sepele pun dapat memberikan kebahagiaan yang amat besar. Saya bersedia menjadi tenaga medis sukarela di sebuah kamp yang dihuni penderita tifus, karena menyadari bahwa kalau memang harus mati, setidaknya kematian saya punya arti. Semua orang benar-benar sudah berubah menjadi hanya sekadar nomor: hidup atau mati-sama sekali tidak penting; kehidupan si "nomor" sama sekali tidak relevan. Ketika para tawanan yang sakit siap dikirim ke "kamp istirahat", nama saya (artinya, nomor tawanan saya) tercantum dalam daftar, dimana tidak ada satu tawanan pun yang yakin bahwa tujuan konvoi ini benar-benar ke kamp istirahat. Hari terakhir kami di kamp konsentrasi, aku kembali bermkasud untuk melarikan diri bersama seorang teman, namun Palang Merah Internasional tiba, diikuti dengan serdadu SS yang memasukkan para tawanan ke truk, dan medan pertempuran sampai ke kamp kami. Apa pun bisa dirampas dari manusia. kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia--kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan. kebebasan untuk memilih  jalannya sendiri. Seorang pria yang tidak bisa melihat akhir dari "eksistensi sementaranya" tidak akan bisa meraih tujuan tertinggi dalam hidupnya. Seorang filsuf Jerman; Spinoza berkata: “Emosi, yang sedang menderita, tidak akan lagi menderita setelah kita membuat gambaran yang jelas dan benar dari penderitaan tersebut.” Tawanan yang sudah kehilangan kepercayaan akan masa depan--masa depannya sendiri--sedang menuju ke arah kehancuran. Kondisi tersebut membawa dampak yang membahayakan bagi daya tahan tubuh mereka, dan akibatnya sebagian besar tawanan meninggal. Pentingnya harapan tersebut sesuai dengan ungkapan; “Dia yang tahu "mengapa" ia hidup, akan mampu menghadapi "bagaimana" dalam bentuk apa pun” (Nietzsche). Tindakan sabotase bisa dijatuhi hukuman gantung, dan pencurian kentang di gudang membuat 2.500 tawanan memilih untuk berpuasa. Dalam prosesnya, saya diminta memberikan ceramah, dimana saya menegaskan pentingnya makna hidup melalui ungkapan Nietzsche: "Was mich nicht umbringt, macht mich starker" (Segala sesuatu yang tidak membunuh saya, membuat saya jadi lebih kuat). Adapun para penjaga kamp, mereka biasanya memang memiliki sifat sadis, namun ada juga beberapa yang bahkan tidak pernah menyentuh kami. Dari itu bisa diungkapkan bahwa Kebaikan manusia bisa ditemukan pada setiap kelompok, meskipun di dalam kelompok yang secara keseluruhan kita kutuk sekalipun. Kita pun tiba pada tahap ketiga dari reaksi mental seorang tawanan: kondisi psikologis tawanan setelah dibebaskan, dimana mereka mengalami “depersonalisasi”, yang mengarah pada kerusakan kesehatan moral. Pengalaman puncak dari semuanya ialah bahwa setelah semua penderitaan yang dia jalani, tidak ada lagi yang perlu dia takutkan-kecuali Tuhannya.

Berbeda dengan psikoanalisis, logoterapi menerapkan metode yang tidak terlalu retrospektif dan tidak terlalu introspektif. Ia lebih memusatkan perhatian pada masa depan, atau pada pencarian makna hidup yang harus dilakukan oleh si pasien di masa depannya (pencarian makna hidup). Riset mengungkapkan bahwa 89 persen orang mengakui bahwa manusia membutuhkan "sesuatu" agar dia dapat hidup. Keinginan tersebut bisa menimbulkan frustasi (frustrasi eksistensial) yang bisa memicu neurosis (neurosis noogenik). Upaya mencari makna hidup bisa menimbulkan ketegangan batin--bukan keseimbangan batin--sebagai prasyarat kesehatan mental. Kehampaan eksistensial mengarah pada konformisme (ingin melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain) atau totalitarianism (melakukan apa pun yang diinginkan orang lain dari dirinya), dan bahkan bunuh diri. Yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna spesifik dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Karena itu, Logoterapi menganggap sikap bertanggung jawab sebagai hakikat utama eksistensi manusia. Menurut logoterapi, ada tiga cara yang bisa ditempuh manusia untuk menemukan makna hidup: (1) melalui pekerjaan atau perbuatan; (2) dengan mengalami sesuatu atau melalui seseorang; dan (3) melalui cara kita menyikapi penderitaan yang tidak bisa dihindari. Salah satu prinsip dasar dari logoterapi: perhatian utama manusia bukan untuk mencari kesenangan atau menghindari kesedihan, tetapi menemukan makna dalam hidupnya. Teknik logoterapi yang lazim disebut paradoxical intention (niat paradoksikal) menekankan bahwa kesenangan harus selalu dan harus tetap merupakan efek samping, dimana kesenangan tersebut akan hancur atau rusak dengan sendirinya jika dijadikan tujuan. Manusia memang makhluk yang terbatas, dan kebebasannya juga terbatas, dimana kebebasan manusia tidak terbebas dari kondisi, namun manusia bebas untuk menyikapi berbagai kondisi.

"Optimisme di tengah tragedi" berarti bahwa seseorang itu optimistis, dan tetap optimistis meskipun dia mengalami "tiga serangkai tragedi kehidupan"; (1) penderitaan (mengubahnya menjadi keberhasilan); (2) rasa bersalah (menjadikannya sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik); dan (3) kematian (menjadikannya sebagai dorongan untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab). Seperti yang sudah kita lihat, manusia bukan berusaha mencari kebahagiaan, melainkan mencari alasan untuk menjadi bahagia; dan kebahagiaan itu bisa diperoleh dengan mewujudkan potensi makna hidup yang merupakan bagian yang tersembunyi dalam setiap situasi. "Kalau pun akhir yang baik hanya terjadi dalam satu dari seribu kasus, siapa yang bisa menjamin bahwa kasus Anda cepat atau lambat tidak akan berakhir baik suatu hari nanti? Namun, pertama-tama Anda harus tetap hidup untuk melihat bahwa hari itu datang, sehingga sejak saat ini tanggung jawab untuk tetap hidup tidak meninggalkan Anda." Makna dalam logoterapi adalah apa (makna) yang terkandung dan tersembunyi dalam setiap situasi yang dihadapi seseorang sepanjang hidup mereka. Dalam Logoterapi, ada tiga jalan untuk menemukan makna hidup; melalui karya atau tindakan, melalui pengalaman atau mengenal seseorang, dan melalui penderitaan atau situasi tanpa harapan. Sebagai bukti hidup dari “argumenta ad hominem” (kekuatan jiwa manusia untuk menentang), Jerry Long berkata; “Leher saya memang patah, tetapi itu tidak akan mematahkan hidup saya.” Hiduplah seakan-akan Anda hidup untuk kedua kalinya, dan bertindaklah seakan-akan Anda sedang bersiap-siap untuk melakukan kesalahan yang pertama kalinya. Frankl mengungkapkan bahwa "Kita sendirilah yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kehidupan kepada kita, dan kita hanya dapat merespons semua itu dengan bertanggung jawab terhadap eksistensi kita."

*****

Tanggal 27 Januari 2006, bertepatan dengan peringatan 61 tahun pembebasan kamp kematian Auschwitz yang menewaskan 1,5 juta orang, untuk pertama kalinya dunia menjadi saksi atas peringatah Hari Holocaust lnternasional. Beberapa bulan kemudian, diperingati pula satu tahun kelahiran salah satu tulisan paling menonjol dari masa mengerikan itu, yangpertama kali diterbitkan di Jerman pada 1946 sebagai A  Psychologist Experiences the Concentration Camp dan kemudian menggunakan judul Say Yes to Life in Spite of Everything. Pada edisi-edisi selanjutnya kemudian dilengkapi dengan pengenalan terhadap logoterapi dan catatan mengenai optimisme di tengah tragedi, atau kiat untuk tetap optimis menghadapi rasa sakit, bersalah, dan kematian. Versi terjemahan lnggrisnya, yang pertama kali diterbitkan pada 1959, diberi judul Man's Search for Meaning. Dalam tulisannya, ia memperingatkan kita bahwa "dunia tengah berada dalam kondisi buruk, tetapi semuanya akan tetap memburuk, kecuali masing-masing dari kita melakukan yang terbaik."


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


 
;