Friday, March 8, 2024 0 comments

Sinopsis "Melawan Melalui Lelucon - Abdurrahman Wahid" Bahasa Indonesia

 Melawan Melalui Lelucon
Kumpulan Kolom Abdurrahman Wahid di TEMPO

BAB I: Agama dan Pesantren

Ucapan Nabi: “Beramallah bagi duniamu seolah-olah kau benar-benar akan hidup selamanya; dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau benar-benar akan mati esok,” membuktikan bahwa Islam memandang urusan duniawi sama pentingnya dengan urusan ukhrawi. Namun, penafsiran diktum membentuk modernisme parsial yang menghasillkan moralitas ganda sebagaimana kegairahan membangun ritus agama di tengah-tengah merajalelanya kemiskinan. Disaat tugas utama agama: mengangkat derajat manusia dari kemiskinan dan kehinaan, akankah agama mampu menjadi pendorong bagi pembangunan bangsa?!

Skeptisisme yang tak terucapkan akan adanya peranan agama dalam pembangunan kita, mengharapkan para agamawan; mengajak masyarakat merumuskan sendiri kebutuhan pokok mereka, menyadarkan mereka akan bahaya kesenjangan ekonomi, dan mengikutsertakan mereka dalam sumber-sumber ekonomi utama (modal, tanah, dan keterampilan teknis).

Sebagaimana ludruk dari Jombang, Islam datang ke Jawa; memicu interaksi antara budaya asli Jawa dan bidaya Islam yang baru datang. Dan untuk pergulatan sosial-budaya, adakah yang lebih tepat dari bala bantuan perwira berupa kiai sebagai “barisan opsir agamawan”?

Seorang peneliti yang merumuskan pemberantasan kemiskinan, diperlakukan sengir oleh para peserta latihan yang berasal dari berbagai pesantren. Hal ini mengungkapkan bahwa kerja di atas beraarti kewajiban mengembangkan Bahasa komunikasi yang dapat dipakai untuk menghubungi para agamawan secara santai dari hati ke hati. Manusia dapat menentukan jalan hidupnya sebagaimana dirumuskan dalam firman Allah; “Jangan kau lupakan bagiamu dari (harta) dunia,” dan sebangsanya.

Kunjungan ke Australia, membawa saya ke Gereja Wayside Chapel di King’s Cross (jantung kota metropolitan Sydney) dibawah pimpinan pendeta Ted Noff, yang mengungkapkan teologia gombal kebingungan Ilahi (Godly confusion). Meski begitu, gereja tersebut dapat menjadi kekuatan pendorong yang demikian positif bagi pelayanan kebutuhan local di pusat kehidupan malam. Hal ini menunjukkan bahwa lahirnya kepastian dari kebingungan teologia gombal hanyalah akibat belaka dari ketidakjelasan jawaban teologia yang sudah mapan dan penuh kepastian, dari agama-agama besar.

Gerakan sempalan di kalangan kaum muslimin muncul dari ketidakmampuan mencernakan dampak modernisasi yang semakin lama semakin maju, tetapi timpang jalannya. Hal ini sebagaimana kredo; “Tak ada agama tanpa masyarakat, tak ada masyarakat tanpa pimmpinan, dan tak ada pimpinan tanpa pemimpin.” Hendaklah Gerakan sempalan tidak diterapkan pada batang tubuh umat, perlakukanlah ia sebagai sesuatu yang wajar, dimana sikap wajar yang semakin bertambah akan meminimalkan kecenderungan bersempal-sempalan.

Istilah “imam” memiliki arti berlain-lainan dalam perkembangan sejarah Islam. Perlawanan keagamaan mengambil bentuk tidak hanya politis, seperti pada tradisi keimanan Syi’ah, melainkan juga kultural: yang dilambangkan dengan munculnya “imam ilmuwan” seperti al-Ghazali. Dengan sendirinya, lalu, dibutuhkan kepemimpinan untuk menyelenggarakan pemurnian ajaran agama. Hal ini terjadi karena kegagalan kepemimpinan umat untuk menyediakan proses pencernaan yang sehat dan jawaban yang wajar terhadap proses perubahan cepat yang dibawakan modernisasi yang sedang melanda selurh dunia Islam dewasa ini.

Banyak kiai memiliki sifat aneh, tetapi yang paling sering didapati adalah sikap egosentris mereka. Mungkin ini merupakan kompensasi kejiwaan untuk mengimbangi keharusan berpola hidup serba konformistis dengan sesama kiai. Juga mengimbangi “larutnya kepribadian” dalam tugas pelayanan mereka yang begitu total kepada kehidupan masyarakat. Dan dalam forum musyawarah hukum agama antara sesama kiai terletak “katup pelepas" untuk menunjukkan arti diri mereka dalam rutin kehidupan serba datar tersebut. Tidak heranlah jika upaya seperti itu pernah membawa kepada suatu kejadian yang berakibat positif, walaupun menggelikan.

Kasus “Fatwa Natal” dari MUI ternyata mengehebohkan, hingga Buya Hamka meletakkan jabatan sebagai ketua umum MUI. MUI memang dibuat hanya sekadar sebagai penghubung antara pemerintah dan umat pemeluk agama Islam. Karenanya, mengapakah MUI tidak memulai saja dari masalah-masalah dasar bangsa, sebagaimana kemiskinan, ketidakadilan, juga kebodohan?!

Alasan mengapa banyak pemuka Masyarakat Islam marah kalau mendengar sebutan “kaum fundamentalis” atau tersinggung kalau ada orang membicarakan “isyu negara Islam”, dikarenakan mereka yang mengidealisasi Islam sebagai alternatif satu-satunya terhadap segala macam isme, disertai dengan “mental banteng”; penutupan akan kemungkinan penyusupan gagasan yang akan merusak kemurnian Islam.

Suara bising kaset biasanya dihubungkan dengan musik kaum remaja, tanpa adanya unsur keagamaan. Namun, ada “persembahan” berirama yang menampilkan suara lantang, apalagi lepas tengah malam di saat orang sedang tidur lelap. Nabi Muhammad mengatakan bahwa kewajiban (agama) terhapus dari tiga macam manusia: mereka yang gila (hingga sembuh), mereka yang mabuk (hingga sadar), dan mereka yang tidur (hingga bangun). Jadi, tidak ada alasan untuk membangunkan orang yang sedang tidur agar bersembahyang—kecuali ada sebab yang sah menurut agama (Illat).

Penelitian dakwah mengungkapkan bahwa umumnya respoden menganggap hidup hanya untuk bekerja, sedikit sekali yang menjawab bahwa hidup ini untuk beramal dan mengabdi. Bukti paling nyata dari sikap memisahkan agama dari hidup ialah tidak bertautnya moralitas kemasyarakatan kita dengan ajaran agama, sebagaimana kesenjaganan si kaya dan si miskin yang semakin membesar. Ternyata, tujuan dakwah itu sendiri belum menjadi tujuan hidup bermasyarakat, sehingga efektivitas dakwah masih harus diteliti?

Sarjana X yang baru menamatkan studi di luar negeri terkejut mendapati ekspresi kemarahan orang-orang muslim atas wawasan ilmiah, mengarahkannya pada seorang guru tarekat yang mengungkapkan: “Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya.” Hal ini menunjukkan bahwa informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu terlalu “dilayani”, cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang “positif kontruktif”.

Terjemahan Alquran H.B. Jassin menuai serangan dan keberatan, sehingga diharapkan akan terjadi perdebatan terbuka. Permasalahannya sangat menarik untuk diketahui kejelasannya, seperti; Dapatkah dilakukan terjemahan tidak langsung atas Alquran tanpa penguasaan mendalam atas Bahasa Arab? Adakah pengaruh moralitas dan perilaku pribadi seorang penerjemah terhadap sah atau tidaknya karyanya?

Pondok pesantren terdiri dari dua patah kata: Pondok yang berasal dari kata Arab funduk (tempat warga tarekat menyepi, dan Pesantren yang merujuk pada asal-usul pra-Islam. Pesantren yang sebenarnya lembaga perkotaan mulai menjadi lembaga pedesaan, dari yang serba tarekat menjadi serba fiqih. Masalah pokoknya: dapatkah orientasi serba fiqh dipertahankan untuk jangka panjang?

Implikasi teriakan kondektur bis PPD di hari Minggu yang beralih menjadi “Kwitang! Kwitang!”, menunjukkan bahwa agama bertali-temali dengan sektor-sektor lain dalam kehidupan masyarakat, sebagaimana berkah haji. Dengan demikian, agama yang semula berfungsi sebagai ajaran, lalu berfungsi sebagai institusi atau kelembagaan. Dan bermulalah sebuah proses penduniawian kehidupan beragama: agama sama dengan acara-acara tertentu; sehingga bukan ajaran agamanya yang disucikan, diagungkan, dan disyahdukan, tetapi upacara-upacara yang mendukungnya.

Kumpulan sajak anak-anak di majalah Zaman, dengan kebanayakan berbentuk doa, merupakan bentuk potensi yang dimiliki untuk menatap masa depan dengan sehat dan baik (mampu melihat realitas kehidupan). Hal ini sebagaimana sajak dari Rudiawan Triwidodo dalam sajak Doa di Bibir Sumur.

Tidak disangka, penggunaan kerudung sebagai simbol menjadi titik sengketa, fokus sebuah konflik sosial. Ini tidak lain adalah pencerminan dari kuatnya tuntutan di kalangan remaja muslim agar ajaran Isalam dilaksanakan secara tuntas dan kosekuen, juga bagian dari meningkarnya kesadaran beragama di kalangan kaum remaja muslim dewasa ini. Tidak kurang pentingnya adalah juga kekecewaan mereka terhadap kegagalan elite kaum muslimun di seluruh dunia yang tidak mampu mengangkat derajat agama mereka di hadapan tantangan “pihak luar” terhadap Islam.

Setelah hampir sepuluh tahun, sejumlah mahasiswa kita yang belajar di Kawasan Timur Tengah datang ke Eropa Barat, dan rutinitas pekerjaan tanpa perubahan mengarahkan mereka mengambil identitas “perjuangan Islam”. Dan mereka segera mekar, melalui perkawinan dan datangnya orang-orang lain, dan didirikanlah Perhimpunan Pemuda Muslim Eropa, dimana mereka akhirnya mampu membuat mushalla (surau alias langgar) di Kota Den Haag.

Munawir Djadzali sebagai Menteri agama Kabinet Pembangunan IV, menulis tesis untuk gelar Master of Art tentang ada-tidaknya konsep kenegaraan dalam Islam, dimana ia menyangkal adanya kerangka kenegaraan dalam Islam. Hal itu mengundang reaksi keras para ulama al-Azhar, dan ia pun dikeluarkan dari peekerjaannya, bahkan bukunya pun disita. Memang, tidak mudah membicarakan ada-tidaknya konsep kenegaraan dalam Islam; belum adanya kesamaan pemahaman atas istilah-istilah yang digunakan, umapama saja “konsep”.

Mengafirkan orang jelas tindakan salah, sebagaimana makian murtad terhadap seorang pejabat tinggi yang menyatakan semua agama sama di negeri ini. Masalahnya, toh, akan terserah kepada Tuhan. Tapi, yang merisaukan adalah mudahnya sumpah serapah keluar dari para pengajur agama. Pertama kita harus mampu membedakan antara berjenis-jenis “kesamaan”, yang di mata agama dan yang di mata negara.

Islam mengalami perubahan-perubahan besar dalam sejarahnya, yang berujung pada ssstem pemerintahan monarki. Dan kebutuhan akan “penyatian” pandangan itu akhirnya menampilkan formalism Islam berbentuk “arabisasi total”. Salahkah kalau Islam “dipribumikan” sebagai manifestasi kehidupan?

Sebagai pemegang jabatan manajer sebuah usaha bisnis patungan dengan penanaman modal “kecil” dari salah satu negara Asia (non-Jepang), ia mengaku bersimpati pasa Masjumi; tetap tekun menjalankan perintah agama, sedapat mungkin tetap yakin bahwa moralitas lebih penting dari sukses material, dan merasa bahwa dengan pola hidup seperti ia tetap mampu merengkuh modernitas dalam arti penuh. Dan “seni”-nya adalah ketika ia menyatakan kepada lawan bicaranya yang NU akan afiliasinya itu: “Maaf, Pak, saya sebenarnya orang Masjumi, tetapi merasa perlu konsultasi dengan Bapak.”

Kata tarbiyah berarti pendidikan, namun di negeri ini dikhususkan untuk pendidikan agama Islam. Penyempitan arti terjadi sebagai kompensasi atas apa yang dirasa kekalahan, yang juga mencerminkan proses kompensatoris (‘penduniaan’ pendidikan). Dari itu, pendidikan agama menjadi ‘titik balik’ untuk merebut wilayah-wilayah yang sudah lepas melalui perguruan tinggi.

Penyataan bahwa negara Indonesia adalah “negara sekuler” (ada pembagian wewenang antara mana yang dibidang negara dan mana yang dibidang lembaga keagamaan), segera mendapatkan kritikan, dimana negara kita mengakui legitimasi peranan agama dalam kehidupan masyarakat. Masalahnya seferhana, tetapi ia menunjukkan masih rapuhnya kehidupan konstitusional kita.

Tiga orang intelektual muslim kita yang memiliki pendirian masing-masing mengalami persamaan nasib di negeri orang, yakni sama-sama menolak mengikuti konferensi yang menerima seorang tokoh separatis. Hal ini menunjukkan menangnya ikatan kebangsaan atas ikatan keagamaan, bahwa kepentingan nasional dapat menciptakan ikatan kebangsaan untuk mengkonkretkan hidup beragama.

Berbeda dengan oom senang, pamor bapak angkat masih cukup tinggi dalam masyarakat kita, terutama dalam masalah adopsi, dimana para ulama dan pemuka Islam memberikan penolakan. Apa Islam tidak mau tahu nasib orang yang menderita karena tak punya anak? Atau tidak kasihan melihat bayi-bayi yang tak akan terangkat nasibnya bila tidak diambil anak oleh orang lain yang bernasib lebih baik? Rigiditas atas kekakuan hukum Islam sering dikeluhkan orang. Sudah waktunya memikirkan sebuah pendekataan yang memperlakukan manusia secara lebih menyeluruh.

Para kiai di Rembang membuat skla prioritas ibadah, perihal ibdah haji tiap tahun seorang pedagang di saat ada yang lebih membutuhkan pembiayaan, pembangunan madrasah. Pedoman (kaidah)-nya ialah: “amal perbuatan yang berlanjut diutamakan atas amal perbuatan yang terhenti” (Asybah WaNaza’ir by as-Sayuti), juga kaidah: tasharruful imam manutun bil maslahah (“Kebijaksanaan si pengambil keputusan mengikuti kepentingan rakyat”).

Suatu hal yang langka selama hampir 50 tahun Indonesia merdeka terjadi: selama tiga tahun berturut-turut terjadi dua Idul Fitri. Yang menggembirakan adalah kenyataan bahwa suasana tidak diracuni oleh perbedaan hari berakhirnya puasa. Kondisi ini dalam kitab kuning, dikenal sebagai keadaan istikmal, dimana Shalat Id tidak wajib hukumnya.

BAB II: Tokoh

Kiai Muchit lebih sebagai wakil dari tipe “intelekulama” daripada “ulama-intelek”, dimana keduanya bergantung kepada keberanian moral untuk mempertahankan pendirian dan keyakinan. Kia Muchit harus ribu dengan kiai-kiai lain yang menentang WPA dan UUPBH, sehingga dipredikat sebagai kiai “nyentrik”, yang kembali harus berhadapan dengan kemarahan umat dalam Kasus Jenggawah.

Bung Hatta bukan  bagian dari perjuangan kita, begitulah kira-kira jalan pikiran berbagai macam Gerakan itu. dimana di akhir hayatnya, ia justru menjadi contoh dari seorang muslim tulen, yang penuh dengan jadwal waktu tetap untuk beribadat kepada Allah. Seminggu kemudian sejumlah mahasiswa muslim berbincang-bincang tentang besarnya impian orang seperti Bung Hatta: Indonesia merdeka—di saat belum ada tanda-tanda kemerdekaan sedikit pun.

Kiai Khasbullah Salim almarhum memang orang luar biasa. Ia harus berkelahi untuk mendirikan ranting NU di Desa Denanyar, dan terlibat perseteruan dengan Gerakan baru Darul Hadith ketika pindah ke Desa Rejosari. Terlepas dari score dua-nol, Kiai Khasbullah mengungkapkan perihal penuturan sang guru (almarhum Kiai Zaid Semelo) bahwa kenakalan pemimpin gerakan baru itu tidak usah digubris, nanti ‘kan hilang sendiri kenakalan itu kalau dia mati. Setidak-tidaknya, toleransi kepada gerakan-gerakan “sempalan” dalam Islam harus diperhitungkan sebagai salah satu jalan terbaik untuk mendewasakan sikap hidup umat secara keseluruhan.

Kiai Sobari sebagai gambaran kiai yang ikhlas tapi kolot, pergaulan luwes tapi pendirian kaku, menyanjung-nyanjung SMP-SMA atas tegaknya disiplin dan peraturan dibandingkan dengan Madrasah Aliyah yang belum sadar pada peraturan. Hal ini menunjukkan bahwa kiai ‘kolot’ ini memiliki logika dan rasionalitas mereka sendiri.

Kiai Adlan Ali, sebagai murid setia Kiai Hasyim Asy’ari, merupakan orang yang senang bergurau harus, banyak menjawab dengan mengelak, dan senantiasa menunjukkan kerendahan hati dalam bersikap dan bertutur kata. Pola sikap hidupnya penuh pembalikan pendirian (kalua dilihat sepintas lalu saja), sebagaimana mengikuti tarekat Kiai Ramli Rejoso sepeninggal sang guru, yang tidak mengizinkannya memasuki tarekat, dan kemudian memimpin tarekat sendiri. Hal ini ternyata merupakan bentuk ketundukan di dalam (inner obedience) yang tampak sebagai pengingkaran di luar (outer disobedience).

Kiai Abdul Razaq Makmun adalah profil tersendiri di antara “barisan” kiai di kalangan kaum Betawi. Tema pembicaraannya hanya berkisar pada pentingnya “menuntut ilmu”, dimana ia kemudian juga mengungkapkan tentang pentingnya transmigrasi.

Kiai Pantai utara Jawa memang terkenal keras sikapnya, kaku pendiriannya, dan ketat dalam perumusan pendirian keagamaannya. Dari itu, Kiai Wahab Sulang dari Rembang sempat membuat heboh disebabkan istrinya yang anggota DPRD mengikuti acara budaya nonsantri di pendopo kebupaten, dimana beliau juga membolehkan donor darah.

Kiai Iskandar masih muda, walaupun sering dituakan oleh orang-orang sekitarnya. Ia sudah terkenal dengan kejujuran finansilanya, menjadi clearing house soal perjodohan, juga wasit dalam sengketa harta, dimana ia menganut pembagian tegas antara “kita orang santri” dan “mereka yang bukan santri” (mengikuti hubungan monolitis kaum santri di pedesaan Jawa). Namun, kematian tetangga barunya, Pak Damin, pada malam jum’at dalam bulan puasa, membuatnya bersikap menyimpang.

Kiai Fatah dan Kiai Masudki adalah bersama-sama menghidupkan kegiatan keagamaan dan mengelola pesantren di desa Tambakberas, sebagai amanat dari Kiai Wahab Chasbullah. Kiai Fatah mengajar di madrasah sebagai “kiai full-timer”, sedangkan Kiai Masduki mengajar di surau-nya sendiri sebagai “kiai part-timer” (karena merangkap Bertani), dimana keduanya mengkhususkan pengabdian mereka pada upaya “menuntut ilmu”. Dapatkah mereka wariskan pola kehidupan saling berbeda, tetapi sama-sama bersemangat “menuntut ilmu” it?!

Seperti kecenderungannya yang begitu besar untuk tertawa sepenuh hati, Kiai Ali Krapyak memiliki pandangan serba optimistis tentang kehidupan dan tentang tempatnya sendiri dalam kehidupan ini. Walaupun bergaul dekat dengan banyak pejabat, sering kali ia mengambil sikap melawan dan menyanggah, sebagaimana kasus RUU perkawinan dan kasus liburan puasa. Disini, kita mendapati pribadi yang pragmatis, memelihara sekuat tenaga dari warisan masa lampau dan mengambil kehidupan kontemporer bagi kepentingan penyesuaian dengan kebutuhan.

Pantas kalau Kiai Syukri mencapati “tingkat nasional” dalam forum sesama ulama, sebagaimana pencarian titik temu pandangan perihal pembacaan al-Fatihah untuk arwah. Hal ini merupakan sikap “fihi qaulani” (dalam masalah ini ada dua pendapat), dan dalam fiqih dinamai “mengutamakan kemaslahatan memang penting, tetapi mencegah kerusakan jauh lebih penting lagi” (dar’ul mafasid aula minjalbil masalih).

Kiai Ali yang menjadi anggota DRP, tingkah lakunya merendah, selalu murah senyum. Walhasil, tidak memenuhi citra orang dinamis yang penuh inisiatif dan memiliki dorongan untuk berprestasi tinggi. Meski begitu beliau mengungkapkan bahwa menyediakan kebutuhan pokok manusia merupakan jihad. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang tempaknya lemah-lembut, suka mengalah, dan tidak pernah memaksakan pendirian pada orang lain, sebenarnya juga orang yang berpendirian teguh, diamana apa yang ia miliki merupakan pendapat yang dianggap paling benar—hingga sampai kepada keyakinan.

Terlepas dari penampilan eksekutif, Kiai Zainal Abidin Usman berkain sarung polecat yang sudar berumur, baju panjang dengan kancing yang hampir lepas, dan sandal plastic murah. Meski begitu, ia mengikuti “jalur umum ke-kiai-an” perihal perluasan jenis-jenis “wajib zakat”. Dimana kalau kita ingin mengembangkan zakat itu sendiri secara kuantitatif, apakah justru perlu diciptakan wajib zakat baru?!

Kehidupan dua dunianya Ustad Abdur Razak Khaidir dari Tegalparang menggambarkan munculnya seorang guru kite muda, yang ternyata mempersoalkan beberapa masalah yang cukup mendasar, seperti ibadah haji yang dikaitkannya dengan hikayat ahli hadis Abdullah ibnu Mubarak, juga pengungkapan bahwa “Kehidupan akhirat sangat tergantung dari kualitas hidup di dunia.”

Kiai Masyhuri Syahid sebagai murid dari Kiai Idris Tebuireng, dan kemudian dididik di al-Azhar, tidak hanya mengumandangkan masalah-masalah ukhrawi; “amar ma’ruf nahi munkar”, ia senang berdagang dalam berbagai usaha sosial bekerjasama dengan PPN (Pusat Produksi Nasional). Penafsiran “kontemporer”-nya atas ayat Alqur’an “Jika kalian mendapatkan teguran (baik), balaslah dengan teguran yang lebih baik” (wa idza huyyirum bitahiyyatinfa hayyu bi ahsana miha), dimana tahiyyah (teguran), menurut beliau, merupakan semua perbuatan yang menunjukkan penghargaan; sebagaimana orang membeli barang pada kita, maka kita harus membalasnya dengan meningkatkan kualitas barang yang kita tawarkan. Dari itu, kiai Masyhuri disebut sebagai “kiai dolar”.

Catatan harian Ahmad Wahib almarhum, ternyata, menimbulkan heboh juga, bahkan ada yang mencetusnya sebagai murtad. Penulis sendiri tidak setuju kalua buku ini di-“lenyapkan”, sebab semangat merumuskan kembali jawaban-jawaban Islam terhadap tantangan hidup haruslah dipelihara—terlepas dari ekses-ekses yang umumnya bersifat peremehan arti pendekatan tekstual terhadap ajaran agama yang sudah mapan.

Kunjungan V.S. Naipaul ke tempat “bagnsa muslim” Asia di tahun 1979 membawanya kepada sesuatu yang dicarinya sejak semula: Islam yang marah. Inti dari masalah yang dirisaukan Naipaul adalah gagalnya orang Islam untuk menyajikan jawaban yang modern atas tantangan kehidupan masa kini. Tidak mungkinkah lahir kesadaran akan perubahan total dalam pola kehidupan bermasyarakat, justru dari ketaatan terhadap ajaran yang bersifat ritualistis? Bukankah mungkin sekali ideologi yang kreatif dan dinamis dibangun dari penggalian kembali terhadap ajaran sendiri?

Nurcholish Madjid masih tetap bernada tinggi, menolak sikap apologetis, selera bacaan belum bervariasi, juga sudah senang memotret. Namun pandangan ilmiahnya berkembang, ia mengungkapkan bahwa Teolog garis keras (Ibn Taimiyah) masih menganggap perlunya filsafat naturalistis. Siapa tahu eksistensialisme, lawan bebuyutan legal-formalisme dalam berpikir, suatu ketika akan dapat diserap juga oleh pemikiran keagamaan Islam, Cak Nur tetap terbuka dan jujur pada pandangan, tetapi berubah dalam aspek kedalaman dan keluasan. Seperti al-Ghazali sebelum dan setelah menjadi sufi: tetap dalam keagungan ilmiah karena mempertahankan hak memeriksa segala-galanya melalui kemerdekaan berpikir.

Kiai Mas’ud menguasai peralatan hukum fiqh: teori hukum (usul fiqh) dan pendoman hukum (qawa ‘id fiqh), hingga layak disebut “syekh”, setelah Kiai Masduki 60-an tahun lalu. Orangnya sederhana: mengejar buku-buku teks agama yang secara tradisional digunakan di pesantren atau seharunya diajarkan di dalamnya, sebagaimana perburuan-nya atas naskah Kiai Ihsan dari pesantren Jampes (Kediri); Siraj al-Talibin dan Minhaj al-Irndad (yang “belum dicap”).

Kiai Sahal Kajen adalah perokok kelas berat, dimana beliau mengungkapkan untuk melihat dari berbagai sudut pandang dalam permasalahan: kawin lari. Beliau menerima “masukan baru” berupa proyek pengembangan Masyarakat seperti pelestarian lingkungan, memperkenalkan teknologi terapan, dan memulai usaha merintis. Kiai Abdullah Salam, yang begitu dihormati tokoh legendaris Embah Mangli, memberikan persetujuan penuh atas kerja-kerja beliau.

Pak Hasan lemah lembut dalam segala hal, ia terlibat dalam kegiatan “turun ke bawah” sebagaimana “aktivis pedesaan” dengan menyiapkan “lahan kemasyarakatan” seperti bio-mass. Sementara itu, Kiai Madun “menawarkan” pesantren asuhannya sebagai “pusat pengembangan masyarakat” melalui “Usaha Bersama” dan pelatihan keterampilan “yang sudah disempurnakan”. Isha mengungkapkan bahwa Pak Hasan memakai pendekatan umum, sementara Kiai Madun pendekatan khusus.

Kaum muslimin Betawi memang lebih dekat dengan budaya Arab dibanding dengan Kawasan-kawasan lain. Karena itu, tidak mengherankan jika ulama Betawi disebut mualim. Mualim Syafi’i adalah pelopor yang dengan gigih menetang kebijaksanaan mencari dana melalui perjudian, begitu juga penggusuran pekuburan dari Karet ke Tanah Kusir. Meski begitu ia justru bergaul erat dengan Ali Sadikin (sang gubernur). Hal ini mengungkapkan bahwa ia tahu batas peranan yang harus dimainkan, perlunya kesadaran peranan sendiri dalam kehidupan. Bukankah impuls demokratis itu muncul, justru, dari garis batas yang diletakkan agama sendiri, yaitu dalam tugas mengajar selaku mualim?!

Tiga pendekar dari Chicago; Nurcholish Madjid (“Islam yes, partai poitik no”), Amien Rais (orientasi “cara hidup Islami”), dan Ahmad Syafi’i Ma’arif (“Islam yes, partai poitik Islam yes”), sependapat dalam perlunya perubahan mendasar dalam pandangan hidup kaum muslimin: etos dan disiplin kerja serta etika sosial. Dalam merumuskan kelayakan upaya-upaya itulah terjadi “perbedaan dalam kesatuan” di antara mereka bertiga.

BAB III: Sosial Ekonomi

Sistem tebasan dalam panen padi memunculkan praktek pemborongan, yang lebih menguntungkan daripada system bawonan. Dalam rangka mengatasi pengangguran buruh tani, dibutuhkan pembatasan rotatif yang ketat atas areal sawah yang boleh dipanen dengan sistem tebasan di pinggiran atau perimeter kota dengan perbandian areal 60:40.

Lokakarya Teknologi Tepat Bagi Pedesaan pada Desember 1975 di Yogyakarta cukup unik juga. Terutama tiga peserta (seorang pendeta, seorang insinyur PTUL, dan seorang seniman) dengan ide berupa proyek bantuan 25.000 rumah sederhana bagi penduduk pedesaan. Hal ini mengingatkan kita pada pentingnya menegakkan prioritas produksi yang tidak merusak keseimbangan sumber-sumber alam sebagai bentuk dari teknologi yang tepat.

Baru-baru ini sebuah forum ilmiah mengusulkan agar agrobisnis dikembangkan di Indonesia. Ini merupakan suatu proses pertanian komersial yang janggal, yang membuat menderita rakyat kecil di negara berkembang dan hanya menguntungkan sejumlah importir yang memperoleh pelayanan Istimewa dari pemerintah. Kalau demikian, maka kita hanya bisa meneruskan pengembangan perusahaan-perusahaan perkebunan kita sebelum pada akhirnya dialihkan pada pemiliknya oleh koperasi.

John Kenneth Galbraith mengungkapkan bahwa di negara-begara melarat jumlah orang gemuk banyak didapati. Hal ini menunjukkan ketidaktahuan masyarakat akan kesadaran jumlah kalori yang dibutuhkan. Studi Ingrid Palmer mengungkapkan pentingnya kepemilikan tanah (lahan) sebagai indikator kecukupan dan kemiskinan, dengan minimal batas 0,25 hektar.

Apakah persamaan antara perebutan Piala Dunia sepakbola untuk tahun 1982 dan landreform? Baik perebutan Piala Dunia 1982 maupun perebutan tanah lahan pertanian sepanjang masa selalu dimenangkan oleh “tim negatif”.

Bung Hatta seorang idealis tulen, yang bahkan bersedia mengundurkan diri dari jabatan nomor dua di republik ini. Namun ia memiliki impian idealistis: membangun ekonomi yang bersendikan koperasi di bumi Nusantara. Para ekonom yang mengerti implikasi, semua memicingkan mata dan mengernyitkan dahi. Ternyata, perkembangannya menjadi lain, dimana omzet koperasi sudah terbilang triliunan rupiah. Mampukah koperasi beranjak dari kedudukan utopia belaka?

BAB IV: Sosial Politik

Munculnya golongan fungsional dengan pendekatan bersifat teknis, mudah berafiliasi dengan kelompok politik mana pun tanpa terlalu mempersoalkan ideologi politik. Untuk mengimbangi kecenderungan terpusatnya kekayaan pada keluarga industrialis belaka, diperlukan dialog terbuka dengan Lembaga-lembaga nonpemerintah.

Gambaran orang tentang kaum intelektual tidak selalu sama. Profil intelek pelupa yang dahulu banyak tidak disukai, sebagaimana PSI yang pernah dibubarkan Presiden Soekarno. Kini, mereka turut menangani soal-soal praktis, terutama di tingkat bawah, sebagaimana menteri-menteri intelektual ada juga yang turun ke pedesaan. Sikap dasar kaum intelektual masih tetap sama, namun pendekatan yang mereka lakukanlah yang berubah, dan mereka tetap disebut demikian manakala dilakukan dengan ketulusan.

“Sulit masuknya, mudah keluarnya,” merupakan moto Kiai Wahab sebagai Ra’is ‘Aam menghadapi tuduhan wakilnya, Kiasi Bisri, sekaligus iparnya, dalam permasalahan DPR-GR. Seperti biasa, Kiai Bisri tetap pada pendiriannya, sedangkan Kiai Wahab jalan terus. Tidak heranlah jika lalu terjadi metamorphosis pada waktu Kiai Wahab wafat dan Kiai Bisri menggantikannya sebagai Ra’is ‘Aam.

“Wah, sama-sama tidak benar, sama-sama seperti yang berkaki empat. Cuma yang satu kakinya ke atas yang satu lagi berkaki ke bawah”, kata seorang Tunisia kepada seorang Indonesia tentang demokrasi. Anekdot tersebut kembali terbetik di benak penulis ketika pers kita mulai meributkan sebuah gagasan untuk menciptakan partai tunggal di Indonesia.

Dalam Pemilihan Umum 1982 ini kontestan sama dengan peserta, dimana ketiga kontestan itulah yang harus menjadi tolak ukur sudah demokratis atau belumnya pemilu berlangsung; bukan proses jalannya pemilu itu sendiri, sehingga bisa tercapai harapan Panitia Pemilu Indonesia dan Kopkamtib: aman, tertib, tenang, dan damain (ATTD). Di sinilah Fosko Enam-enam muncul dengan gagasan: bersedia membantu semua kontestan pemilu, dimana langkanya hal itu justru membuat pemilu kita di masa Orde Baru ini (sejauh ini 1971-1981) sesuai dengan asas ATTD. Dari itu, fosko seharusnya juga memberikan bantuan pada “kontestan” keempat, yaitu kelompok Golput (dulu berarti putih, kini berubah menjadi putus harapan): mereka berjuang untuk memenangkan sesuatu dalam pemilu.

Dalam sebuah lokakarya, seorang tokoh terkemuka Gerakan nonpemerintah membuat analogi ornop (organinasi nonpemerintah) dengan budaya keraton di Jawa; untul-untul. Kecurigaan pun tak dapat dihindari, apalagi setelah mereka berpaling wajah, tidak lagi menggunakan istilah ornop, melainkan dipersolak dengan sebutan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Secara umum diterima “kebenaran”, Ken Arok merebut Keraton Singasari dari tangan Tunggul Ametung, orang yang mengawini ibunya dan berimplikasi membunuh ayahnya. Kenyataannya, factor keturunan atau tidak, untuk memperoleh kedudukan menjadi pemimpin di luar pemerintah dalam budaya Jawa, masih diperlukan pengesahan dan penerimaan oleh pihak yang berkuasa: zaman sekarang menggunakan SK dan “jasa-jasa baik pemerintah”, dahulu menggunakan lembu peteng. Karenanya, dapat dimengerti betapa risaunya para pejabat Republik yang masih bermental keraton kalua mendengar istilah opisisi. Hal ini menunjukkan pentingnya legitimasi pemerintah dalam segala hal.

BAB V: Luar Negeri

Di AS, berkat ketekunan dan kerja keras, Senator Kennedy berhasil memenangkan jabatan kepresidenan pada 1960 dan Menyusun sendiri kebijaksanaan pemerintahannya, dimana ia terbunuh di tahun 1963. Meski begitu, Jimmy Carter menempuh jalan yang sama dan berhasil memenangkan jabatan kepresidenan pada 1976 dan meneruskan kebijaksanaan tersebtu dengan patokan moral luar negeri: hak-hak asasi manusia. Sangat besar implikasi dari perubahan politih luar negeri AS bagi kita, mengingat mengalirnya arus modal. Karenanya, dari sekarang kita harus belajar melaksanakan hal itu; menghindari semua manifestasi dari etika sosial yang menurut hati nurani kita tidak baik dan tidak benar.

Menlu Andrew Peacock menyatakan—pada akhir lawatannya keliling dunia—bahwa ia menentang berdirinya kantor berita yang tunggal di negara-negara Nonblok. Sebab yang paling utama sebenarnya adalah politis, dimana masing-masing pihak tentu akan mendukung kantor berita yang berorientasi sama dengan filsafat politinya sendiri. Keanekaragaman pendapat akan menjamin arus berita yang beranekaragam pula.

Rusia adalah negeri yang terkenal dengan pembangkangannya kepada para penguasa lalim dan kejam, sebagaimana novel utama Pasternak; Doctor Zhivago, dimana pembangkangan itu dewasa ini juga dilakukan oleh para ilmuwan. “Demokratisasi” yang dibawakan Sadat di Mesir, ternyata, hanyalah pelabi belaka bagi berlakunya ketentuan-ketentuan “keamanan dalam negeri” via referendum. Seperti halnya kemerdekaan, demokrasi dalam artian sebenarnya, tidak akan datang begitu saja dengan sendirinya; ia haruslah dicapai dengan pengorbanan.

Sementara Billy Carter melihat jabatan politis tertinggi sebagai wadah orang yang tidak normal, Kennedy justru menganggapnya sebagai pekerjaan termulia. Pemisahan antara proses pengambilan keputusan di tingkat nasional dari proses penialaian masyarakat justru semakin memantapkan stabilitas politik, dan membuka pintu bagi penilaian secara terbuka akan semakin mendewasakan kehidupan politik dan pemerintahan kita.

Mitos yang menyatakan bahwa diperlukan waktu sangat panjang untuk memperkenalkan kesadaran mengatur diri sendiri di kalangan warga masyarakat terbawah terpatahkan melalui social engineering sebagaimana bus kota. Dan mitos tidak berdayanya kelompok “teknokrat” untuk “memegang setir” dalam suatu koalisi pemerintahan dengan pihak militer, tidak sepenuhnya terbukti di Irak yang kemudian dimpimpin oleh Saddam Hussein dari Partai Ba’ath. Hal ini menunjukan bawa penggunaan dana0dana yang ada untuk penyediaan kebutuhan dasar Masyarakat tidak akan berlangsung kalua tidak ada orientasi populis yang uckup kuat di kalangan pemerintah.

Presiden Sadat memutuskan untuk membenahi ekonomi sebagai hal yang paling pokok, sebab Mesir tidak kuat tidak berperang tanpa membenahi pembangunan. Hal ini dikarenakan membengkaknya sebuah sistem kepegawaian menjadi gurita birokratis yang menelan segala-galanya. Diawali dengan Impian “era baru” dimana tidak bolehnya orang menjadi kaya, diikuti dengan rumitnya birokrasi sebagaimana harunya memperoleh 57 tanda tangan.

Ayatollah Ruhollah Khomeini merupakan perwujudan kebebasan dan kemerdekaan bagi bangsanya, penegak sebuah “Kerajaan Tuhan yang mengambil inspirasinya dari Republik Plato. Berbeda dari “tokoh-tokoh polos” dalam sejarah, seperti George Washington dan Gandhi, kebesaran Khomeini dan Mao justru terletak pada kesimpangsiuran persepsi yang mereka timbulkan dalam benak umat manusia. Bukankah terlalu pagi bagi kita untuk mengukur Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan hanya dari perkembangan yang ditimbulkan oleh Khomeini?

Kesederhanaan bagunan segi delapan Kapel Rothko, ditambah fungsi jangka panjangnya yang vital dalam pemikiran kontemplatif di bidang keagamaan, memunculkan keharuan dan kesyahduan yang diperlukan manusia modern dalam pergumulannya dengan kehidupan.

Orang punya perkiraan masing-masing tentang perkembangan di Iran. Setelah jatuhnya Shah Reza Pahlevi, kaum mullah, Khomeini, dan bani Sadr, dimana Khomeini dipisahkan dari kaum mullah. Dan sepeninggal Ayatollah Behesti, bisakah Bani Sadr memberikan perlawanan terhadap PRI?

Tiga belas tahun pemerintahan Partai Sosialis Arab Ba’ath (Kebangunan) ternyata membawa perubahan sangat besar dalam kehidupan bangsa Irak, dimana Saddam tanpa menyatakan bahwa Lenin, penemu ideologi komunis, sebagai tokoh yang paling dikaguminya. Tolok ukur menilai keberhasilan tersebut dapat dilihat melalui orientasi politik-ekonomis berwatak populistis, yang tetap menyediakan peluang kepada inisiatif perorangan para wiraswastawan.

Di Noorgsingel terletak kantor Lembaga bantuan hukum model Rotterdam di Belanda; Advocaten Kollektief Rotterdam. Di lembaga ini sebelas sarjana hukum dan pengacara berjuang dengan cara mereka sendiri, mereka mulai dari diri sendiri, membatasi diri pada kerja sendiri sambil tetap mempertahankan “warna struktural” kerja tersebut.

Setelah 20 tahun berada dalam tahanan, bekas Presiden Aljazair Ahmad Benbella “kembali” kepada ajaran Islam dan menerima wawancara dari Almajallah di London.  Meski begitu, ia menyatakan diri tetap sebagai seorang sosialis, dengan pengalaman di depan Ka’bah di Mekah sebagai “pengalaman terdahsyat” dalam hidupnya. Hal ini menyajikan dimensi keagamaan yang tidak tercabut dari kenyataan hidup.

Presiden Mesir Muhammad Anwar Sadat memiliki latar belakang keagamaan yang kuat, walaupun akhirnya ia memilih karir militer, berpangkat mayor sewaktu turut menggulingkan monarki di tahun 1952. Sepeninggal Nasser, Sadat memberikan ruang gerak kepada kelompok-kelompok muslim militan di Mesir dan kemudian mengizinkan berdirinya Jama’ah Islamiyah. Di saat yang sama, parlemen menerima penerapan ketentuan hukum pidana Islam sebagai bagian dari sistem hukum nasional, sehingga memicu perdebatan sengit, yang mengarahkan Sadat untuk bersikap keras. Hal ini dikarenakan Sadat belum menemukan cara untuk membuat hubungan permanen atas dasar saling menghormati—bukan saling mempergunakan—dengan kelompo-kelompok Islam.

Ada beberapa persamaan antara perkembangan keadaan di Mesir dan negeri kita dewasa ini, sama-sama menganut kebijaksanaan “pintu terbuka” bagi modal asing disertai alotnya birokrasi. Yang terpenting adalah keharusan menghentikan pemekaran kekuasaan birokrasi pemerintahan, karena ia akan membawa kepada penghancuran kreativitas sektor nonpemerintah.

Presiden Sadat dikenal karena kenegarawanannya, terlihat dalam Keputusan berperang dengan Israel di tahun 1973 dan ketika memutuskan prakarsa perdamaian. Ia sangat pendiam dan sangat sabar, sebagaimana sikapnya terhadap mendiang Presiden Nasser, mahir memanipulasi rasa kesejarahan (sense of destiny) para pemimpin lain, juga mahir merencanakan dan melaksanakan tindakan politik yang sangat kompleks.

Dunia politik Amerika Serikat mempunyai kisah unik yang sering diulang-ulang; seorang pemuda potentisal yang berhasil menjadi anggota kongres atau senator bagian, lalu senator nasional, lalu guberbur negara bagian, hingga akhirnya berpotensi menjadi presiden, dimana kedudukan wakil presiden berarti kecil. Berbeda dengan Husni Mubarak, yang telah tujuh tahun “magang” dalam jabatan kedua. Begitu halusnya perbedaan pembuat sejarah dan yang menjadi catatan sejarah saja, sebagaimana Bung Tomo yang telah puas dengan peran kesejarahannya di 1945.

Tujuh buah kata ternyata menjadi seluruh kandungan sebuah tesis untuk mendapati gelar M.A: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” sebagai anak kalimat yang menjelaskan dasar negara “Ketuhanan”. ‘Terpaksalah’ Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 perihal kaitan Piagam Jakarta atas UUD 1945, diikuti dengan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) sebagai kriteria.

Front Nasional Progresif di Mesir sebenarnya tulang punggung perlawanan kaum kiri terhadap pemerintahan yang tiap hari tampak semakin teknokratis. Masih sulit diperkirakan bagaimana kelanjutan perlawanan front yang dipimpin Khalid Muhyiddin, dimana mereka sama-sama mengagumi perjuangan ideologis mendiang Nasser sebagai sosialisme Arab yang merupakan manifestasi dari sosialisme Islam.

Nasionalisme, sebagai ideologi, semula hanya berbentuk kesatuan semangat sebuah bangsa, dan sering tergusur oleh semangat kesukuan. Di Mesir, muncul nasionalisme ketiga, dimana Nasionalisme loka Mesir ala Sadat sedikit banyak harus mengalah kepada aspirasi Pan-Arabis yang dibalut oleh aspirasi PanIslamistis. Hal ini mengarahkan terbentuknya Dewan Kerja Sama Negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council), yang tidak hanya bersangkut-paut dengan bangsa Arab, tapi juga kawasan lain, termasuk ASEAN.

Massoud Rajavi dan Aboulhasan Bani Sadr dicemooh orang banyak karna gertak sambal mereka ternyata tidak terbukti adanya revolusi melainkan terorisme. Keadaannya sekarang berlainan sam sekali, yang menang, ternyata justru pemberontakan massal tanpa senjata dari kaum mullah, sedikit banyak dalam kolaborasi dengan Mujahedin.

Sebagai pemimpin kursus musik, melukis, dan Bahasa, ia mempertanyakan perihal kasidah sebagai “perwakilah musik Islam” di layar TV, dimana menurutnya musik yang sepatutnya mewakili Islam haruslah yang universal, diakui di mana-mana, seperti lagu pop dan musik klasik, asal jelas diisi pesan keagamaan, dan bermutu tinggi, dihargai orang di mana-mana. Tetapi, benarkah universalitas yang dituntut dari medium music yang “mewakili Islam” itu harus lepas dari warna lokal tempat lahir Islam sendiri, tanah Arabia?

Lebanon saat ini adalah bangsa, bukan hanya negara, yang terpecah belah dalam pegelompokan kecil-kecil selepas perang saudara, bagai remukan kaca yang tidak beraturan dari sebuah cermin yang dahulunya indah. Hilanglah kepeloporang yang didambakan dari Lebanon oleh bangsa Arab keseluruhan, fungsinya sebagai pusat jaringan finansial Arab kini bergeser ke Timur, bermukim di negara-negara Teluk Persia.

Orang Palestina umumnya perantau di luar tanah kelahiran dan mulai melakukan serangan sporadic hingga jadi operasi militer yang melakukan serangan dadakan ke pemukiman-pemukiman Yahudi, dan hadirlah militer PLO, yang berujung pada gempuran Israel atas Lebanon dan Beirut. Sebuah kisah tragedy klasik tentang kelompok benar, tapi kecil dan lemah di hadapan kekuatan lalim yang dahsyat, seperti juga nasib petani dan buruh kecil negara-negara berkembang.

Minggu ketiga September 1982, seorang arsitek revolusi dimakan ciptaannya sendiri: Sadek Ghotbzadeh. Yang menarik adalah “teman seperjuangan”-nya; Ayatullah Kazem Shariat-madari, yang menyadari bahwa kekuasaan tidak dapat ditaklukkan oleh antikekuasaan, dan hanya sikap morallah yang dapat menaklukkan kecenderungan buruk manusia. Perlu ditangisi kematian perlawanan moral di tangan Shariat-madari, yang bisa menjadi titik tolak kebangkitan baru di Iran?!

Komisi Kahan dibentuk pemerintah Israel untuk menyelidiki pembantaian para pengungsi Palestina di Beirut Barat sebagai bentuk tonggak baru: kekuasaan hukum harus diletakkan di atas kekuasaan politik. Mereka mengungkapkan bahwa para pemimpin yang dinyatakan bersalah itu telah bersalah “secara tidak langsung”. Seperti dikatakan pendidik terkemuka Israel, Zvi Kesse, dalam wawancaranya dengan Neqlseek; masa depan Israel ditentukan oleh kemampuannya mencari penyelesaian yang adil terhadap tuntutan bangsa Palestina.

Memang ironis kalua symbol lebih dikenal daripada kenyataan. Hal ini terjadi di Tokyo April 1983, dimana film Gandhi diputar dan Uskup Agung Helder Camara menerima Hadiah Niwano untuk Perdamaian. Bersandar pada asas kasih sayang: petani didorong berani berinisiatif menuju prakooperatif, kaum buruh didorong berani menuntu hak, generasi muda diimbau memperjuangkan hak-hak politik, dan kalangan intelektual diminta memelopori Pendidikan yang relevan dengan kebutuhan golongna miskin.

“Kita masih dalam perang, perang ekonomi melawan Amerika dan Israel. Karena itu, rakyat harus mendukung Presiden dalam kebijaksanaan ekonominya.” Kata Hujjatul Islam Ahmad Khomeini dalam peringatan sang ayah. Sementara itu, Ayatullah Zanjani mengungkapkan bahwa setelah 10 tahun mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, Iran beralih ke Pembangunan ekonomi melalui peningkatan produksi secara masif.

BAB VI: Budaya

“Penghitaman” sekian halaman majalah TEMPO menunjukkan bahwa ia mendapatkan status “diterima” oleh Masyarakat. Sebagaimana spanduknya, TEMPO mencerminkan: jujur, jelas, jernih, … dan jenaka pun bisa.

Seorang pejabat tinggi bercerita tentang banyakan ornag Indonesia memeriksakan gigi ke Singapura karea di Indonesia orang tidak boleh membuka mulut. Protes dengan lelucon memang tidak efektif, kalua dilihat dari sudut pandang politik, tapi ia menyatukan bahasa rakyat banyak dan mengindentifikasi masalah-masalah yang dikeluhkan. Lelucon juga bisa berfungsi sebagai kritik terhadap keadaan tidak menyenangkan di tempat sendiri, bahkan sebagai pelepas kejengkelan orang banyak kepada penguasa. Dari itu, ia harus diberi tempat dalam tradisi perlawanan kultural suatu bangsa, untuk menjaga keseimbangan menghadapi kenyataan pahit dalam lingkup sangat luas.

Di saat “perubahan struktural” seolah-olah monopoli kaum marxis, pemerintah menyelenggarakan seminar perihal hal tersebut dengan dibawakan seorang agamawan. Marx mengungkapkan bahwa perilaku warga masyarakat sangat ditentukan oleh struktur masyarakat itu sendiri (determinisme-ekonomis), dan hal itu membutuhkan penggulingan kekuasaan. Namun, menurut kaum sosial democrat: perubahan dapat dilakukan melalui cara damai, dan setiap struktur memiliki kelengkapan untuk melakukan perubahan. –apa yang mematangkan pandangan kita tentang apa yang harus dilakukan di tempat masing-masing itu struktural.

“Bayangkan, Pak, sering tidak bisa bawa uang lebih seribu perak ke rumah, padahal sudah bekerja dari pagi sampai puku sepuluh malam,” tutur seorang sopir taksi mengatasnamakan nasib orang Karo (tingkat bawah). Hal ini menunjukkan tidak bersambungnya beberapa bagian dari apa yang secara umum dapat dinamai “proses modernisasi”. Modernisasi menumbuhkan sikap menghargai kerja professional, namun berakibat negative bagi sebagian Masyarakat. Dari itu, kesenjangan antara modernitas “semula” dan kenyataan keras setelahnya menuntut modernitas “susulan”.

Pada 1981, seorang ibu dari Semarang membawa pulang nasi tumpeng buatan Istana Merdeka dan menjemurnya hingga kering. Nasi tumpeng memang punya fungsi bermacam-macam, ada yang memperlakukannya sebagai sesajen, turun menjadi “misteri”, menjadi eksotika dari “kekayaan tersembunyi”, diikuti pergeseran historis “melestarikan kebudayaan asli”. Di tempat lain, seorang mubalig melabrak nasi tumpeng, mengharamkan, dan memerintahkan untuk dijauhi. Hal ini menunjukkan adanya pembenturan budaya antara proses islamisasi dan proses penemuan identitas diri sebagai bangsa.

Soeprapto memiliki visi unik di antara deretan gubernur dan walikota ibukota: berpegang pada fungsi pemerintahan sebagai pemerintah daerah. Pendirian “mempersempit jangkauan DKI” itu tercermin juga dalam sikapnya mengelola kehidupan seni di lingkungan Taman Ismail Marzuki, mengarahkan penulis pada sebuah ide Akademi Betawi.

“Gatotkaca Anti-Israel”, sebuah slogan yang tertulis pada jalan aspal menunjukkan bahwa remaja kita telah kehilangan tokoh-tokoh anutan yang actual. Hal ini bisa memudahkan para remaja melakukan tindak kekejaman (sebagaimana tokoh Bonny dan Clyde), dan semakin derasnya arus eksklusivisme etnis dan agama, sebagai implikasi dari hilangnya kredibilitas kepemimpinan yang dibiarkan berlarut-larut.

Tengah malam disertai cuaca gerimis, Toyota Corolla memutuskan untuk berhenti saat lampu merah untuk penyeberangan menyala, dan perselisihan pun terjadi. Aturan hukum akan dipenuhi jika dapat menjamin tercapainya tujuan; minimal yang paling dasar, seperti mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari bagi “orang kecil”. Fungsi hukum adalah menciptakan rasa takur, dan hukum zaman ini lebih berfungsi simbolis. Tidak mengherankan kalau kemudian muncul “tindakan sectoral”; penembakan misterius. Dari itu, marilah menjaga supaya aruran yang “normal” tidak jebol sama sekali; anggap saja menunggu setan lewat.

Salah satu kreasi unik bangsa kita adalah restoran Padang, dimana ia merupakan qua konsep; tradisi memasak orang Minang sekaligus perwujudan dari kepraktisan. Hal ini merupakan bentuk dari kemampuan menjadikan diri pilihan kedua, sebagaimana ia diramu oleh orang Jawa, Sunda, dan seterusnya. Rahasia sukses restoran padang: semangat kerja yang memiliki kemampuan antisipasi, menyerap, dan mempergunakan aspek-aspek usaha yang berorientasi pasar. Mungkinkah dialihkan pada sesuatu yang lebih berlingkup nasional?

Prototipe dokter masa lampau adalah seorang idealis (pekerja sosial yang mengabdi kepada kemanusiaan); tidak hanya menyembuhkan orang sakit tetapi juga memimpin masyarakat. Kini keadaan sudah berubah; banyak dokter yang lebih memikirkan mencari kekayaan secepat mungkin melalui praktek medis dan melalaikan aspek kemanusiaan. Para dokter muda idealis justru sering harus menjumpai kepahitan setelah kembali ke “dunia normal”, dengan “kelengkapan” situasi birokratisnya, sebagaimana kisah seorang dokter muda yang harus berhadapan dengan seorang kiai yang mendapati anaknya harus menjalani operasi transplantasi kulit bibir.

Di tahun-tahun lima puluhan, beredar terjemahan novelet Damon Runyon – Hantu dan Daniel Webster, sebuah kisah penggadaian jiwa kepada setan. Kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia barat berwatak ingin menentukan nasibnya sendiri, bebas dari campur tangan siapa juga. Namun, ada pula film berjudul Oh, God, You Devil! yang menunjukkan bahwa kemewahan tidak sebanding nilainya dengan kebebasan diri sebagai insan.

Sudah lebih dari 50 tahun polemic kebudayaan belangsung antara tradisi dan kebudayaan modern, tanpa satu orang pun yang mencoba melakukan proyeksi substansi yang mereka pertikaian pada kenyataan lapangan sama sekali. Pesantrean sendiri bukan sekadar menjadi pendidikan agama dalam artian tradisional, melainkan menjadi pangkalan untuk mendirikan dan melestarikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Bagaimana memacu kreativitas dalam kelesuan suasana, itulah masalah utama kita saat ini.

Piala Eropa tahun ini diwarnai dengan banyak hal, dimana dari kukuhnya pertahanan sebenarnya muncul serangan-serangan bermutu yang pada gilirannya akan melahirkan gol-gol indah lebih banyak di masa depan. Efektivitas pola permainan, itulah kata kunci kejuaraan Piala Eropa 1992.


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, February 23, 2024 0 comments

Sinopsis "The Great Shifting - Rhenald Kasali" Bahasa Indonesia

 The Great Shifting
by: Rhenald Kasali

Ketika produk menjadi platform, kita perlu menghadapi serangan ekonomi para platform global dengan platform, bukan dengan produk. Sebagaimana Steve Jobs yang mengembalikan kejayaan Apple dengan iPod, kita harus keluar dari perangkap “produk” menuju platform. Sebagaimana Singapura yang menghadirkan Sea Ltd. (seagroup.com), negara yang salah mengandalkan produk pun bisa saja terjungkal. Sebagaimana Havas yang mengakuisisi Victors & Spoils, kita tengah beralih dari paradigma “produk” dalam bisnis konvensional ke online platform dalam perekonomian digital, begitu pula dengan FuelBand Nike. Platform merupakan sebuah blueprint sharing economy yang bersifat multisided dan menciptakan shifting kehidupan. Sejak revolusi digital yang diperkuat oleh globalisasi dan internet of things, perusahaan-perusahaan dan negara telah berubah menjadi tanpa batas (boundaryless). Dunia digital menghadirkan cara baru yang sifatnya multisided dan melahirkan network effect, dan platform hadir sebagai sebuah struktur yang dijalani sekaligus untuk mempertemukan beragam kebutuhan. Platform-based-economy menhasilkan a winner takes all, sehingga bangsa ini membutuhkan banyak platform untuk mengimbangi serangan platform internasional (bukanlah lebih baik mengendalikannya daripada dikuasai?!).

Jika perilaku manusia pindah ke dunia online, psikologi pun berpindah menjadi cyberpsychology. Bayi yang lahir di abad 21 ini, bisa jadi, dibesarkan dengan pola asuh dan hubungan emosional yang berbeda. Platform juga lahir dalam mempertemukan orang-orang yang dulu hidup di alam yang tidak biasa.  Cyberpsychology mulai menggeliat sejak 1990. Sebagaimana obat-obatan terlarang, manusia juga bisa kecanduan dengan pamakain smart-phhone-nya. Efek cyber lainnya adalah online disinhibition effect (ODE). Dunia digital telah “mempermudah” cyberstalking, yang mengarah pada pemerasan, bahkan berlanjut menjadi cyberbullying, yang dapat memicu korban untuk memutuskan bunuh diri. Online games (internet) juga bisa menimbulkan kecanduan, bahkan guncangan-guncangan kejiwaan yang bisa membahayakan nasib orang lain. Dunia maya juga menjadikan hubungan percintaan semakin mudah (kencan online), namun juga seringkali berbahaya. Go online telah mengurangi kontak mata antara bayi dan orangtua, sehingga merenggangkan kedekatan emosional, yang penting untuk kepercayaan diri dan optimisme anak. Dari itu penting untuk dimengerti bahwa teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan cinta manusia.

Cyberspace membuat para pelaku criminal merasa aman bergerak karena mereka dapa menyembunyikan identitas (anonymity), memanipulasi foto atau jati diri, bahkan menggunakan identitas orang lain. Hal ini sebagiamana kasus Dwyer (the master) dan O’Hara (the slave), juga the internet’s first serial killer; Edward Robinso. Hal ini terjadi disebabkan adanya fantasi kekerasan sebagaimana sebuah studi yang mengungkapkan bahwa 50% pria memiliki fantasi kekerasan saat bercinta dan 57% wanita yang menikah mengaku memiliki fantasi diperkosa saat bercinta dengna pasangannya. Hal-hal ini juga menunjukkan kebenaran teori Freud (1899) yang menjelaskan bahwa mimpi yang dialami manusia adalah pemenuhan keinginan (wish fuldillment) dari alam bawah sadar yang ditekan pemiliknya. Fear of missing out (gomo) menjadikan apa yang ada di media sosial berbeda dengan realitasnya, sebagaimana #IWokeUpLikeThis, dan mengarah pada hidup dalam kebohongan. Kisah Lissette Calveiro dan Angela Lee menegaskan bahwa segala hal yang terlihat di lama sosial seseorang kebanyakan adalah kebohongan atau informasi yang dibuat-buat. Kiranya ungkapan “lain di mulut lain di hati” juga berlaku untuk dunia rill dan dunia maya. Powerful-nya big data dalam penggiringan opini publik terbukti dalam insiden penembakan pada Desember 2015.

Waktu merupakan hal terpenting yang menetukan keberhasilan sebuah usaha. Shifting juga tengah terjadi dalam ilmu statistic, dari prinsip time series (time to time) menjadi real time (bergantung pada survei dan sampel). Penemuan Maury(1848) dan Malthus (1826) menunjukkan penggunaan time series, hingga jaringan internet mengubah segala sisi kehidupan manusia. Big data berkembang dalam tiga tahap dan terdiri dari tiga elemen (volume, variety, dan velocity). Kisah Adrian dan Kusno mengungkapkan bahwa internet menggunakan filter buble; menunjukkan sesuatu yang sesuai dengan minat pengguna dan menyembunyikan sudut pandang lain yang berseberangan. Sebagaimana Gojek (heatmap), big data kini dipakai sebagai salah satu “bahan baku” pembuatan system real time. Hampir semua aspek kehidupan bersinggungan dengan teknologi real time; online game & gambling. ramalan cuaca, dan kolaborasi. Teknologi real time akan terus berkembang, sebagaimana AI, machine learning, dan deep learning.

Dalam peradaban digital, kita cukup berbagi peran, aksen, dan jejaring, bukan memiliki semuanya sendiri (dari owning economy ke sharing economy). Pendekatan sharing sesederhana berkantor tanpa gedung (co-working space) carpooling keluarga Pamudjo, RelayRides, power drill, Bookalokal dan EatWith, dimana benturan dengan regulasi merupakan hal yang lumrah. Platform digital melahirkan Gerakan “Do It Yourself” (DIY), seperti Subak di Bali, Song Osong Lombhung di Madura, Paoda di NTT, dan Istana Rakyat Selara Alam di Merapi. Mereka yang berada di puncak tren adalah Uber dan Airbnb. Konsep sharing economy berdiri atas sistem trust, yang memicu tradisi rating, begitu juga dengan Kitabisa.com. kecepatan, kemudahan, akses, dan harga yang lebih murah, menjadi fondasi dari konsep sharing economy, dimana ia juga memberi kesempatan kepada powerless individual untuk memanfaatkan asetnya langsung kepada konsumen tanpa perantara (micro-entrepreneurs).

3D printing akan menibulkan shifting yang lebih besar lagi, sebagaimana Robohand, 3D scanner, Bioprinter, mobile printer 3D. bahkan BIM yang telah berkembang dari 2D ke 7D. Seperti ungkapan Steve Jobs; teknologi yang berkembang sejatinya kembali kepada manusia, apakah manusia mampu menggunakannya untuk hal positif atau malah sebaliknya. Suatu masalah bisa diatasi oleh kehadiran teknologi, tetapi jangan lupa, setiap Solusi selalu menimbulkan masalah-masalah baru.

Kasus ketidakpatuhan dalam berobat—disebabkan waiting game--semakin menurun dengan adanya precision medicine, dimana setiap orang bisa memeriksa kondisi kesehatannya di mana pun dan kapan pun secara real time. Sebagaimana kisah Keluarga Alan, waiting game mempertaruhkan nyawa, dan dr. Viswanathan Mohan menerapkan frugal innovation di India, yang mengubah hubungan impersonal antara dokter dan pasien menjadi personal. Begitu juga halnya dengan CellScope dan fitnees wearable, yang mengarah pada medis autopilot dan self-care; seperti iShrine. Big data berperang penting dalam cara berpikir artificial intelligence merangkai pola berpikir manusia, begitu juga dalam kesehatan, sebagaimana teknologi Mango Mirror.

You can learn anything, for free, for everyone, forever. Sebagaimana entertainment kelas dunia begitu mudah diakses kaum muda (youtube), begitu pula dengan para ilmuwan kelas dunia (ceramah dan riset). Tentu dengan cepat saya mengatakan bukan pekerjaan yang hilang, melainkan job-nya yang berubah, sebagaimana laporan PBB; The Learning Generation. Teknologi dalam Pendidikan dengan sifat yang serba-instan, membuat kemampuan yang dimiliki pun tergolong instan. Sebagaimana metoda “The Power of Yet” di Chicago, ilmu adalah sesuatu yang dinamis. Salah satunya adalah metoda yang dikenal sebagai Massive Open Online Course (MOOC), seperti indonesiax.co.id dan Ruangguru. MOOC menjadikan semuanya tanpa pagar (boundaryless), meruntuhkan batas-batas tempat dan usia. Untuk melakukan shifting di dunia Pendidikan, kita perlu melatih Executive Funcitoning (working memory area, cognitive flexibility, dan inhibitory control) sejak dini (Tk).

Teknologi telah mengubah pikiran, perasaan, dan tindakan manusia, yang memicu kebutuhan akan adanya pengakuan (self-esteem). Dari labor class (pekerja) ke Leisure class (pekerja yang mapan), dan sekarang esteem economy (kumpulan manusia yang rindu pengakuan). Berbeda dengan leisure, esteem seringkali membutuhkan usaha lebih sebagaimana hotel gantung di Tebing Parang dan selfie bawah air di Desa Ponggok. Hal ini sebagaimana Hirarki Maslow perihal kebutuhan manusia: fisik, rasa aman, persahabatan dan cinta, esteem, dan aktualisasi diri. Pencarian pengakuan tersebut telah menciptakan sebuah potensi ekonomi; esteem economy. Tak hanya sektor pariwisata, kuliner pun ikut terkena imbasnya.

Shifting dalam ritual budaya pun bisa terjadi, sebagaimana budaya lobola di Zimbabwe yang menjadi “komersialisasi lobola”. Di Bali, budaya memadik menghadirkan budaya baru; nyentana, dan budaya Ngaben menjadi krematorium. Di era disruption yang membutuhkan kepraktisan, menghadirkan aplikasi kebudayaan seperti Halopkati.com, My Keraton, Lobola Calculator (japuik),

Terlepas dari urbanisasi megacity, Indonesia melakukan shifting ke desa melalui Dana Desa. Hal ini dalam rangka menopang pekerja muda disebabkan hilangnya pekerjaan (shifting teknologi). Esteem Economy mengarahkan BUMDes yang sukses di beberapa Desa, seperti Kalibiru di Kulon Progo, Umbul Ponggok di Klaten, Panggung Lestari di Panggungharjo, juga Jambu Klutuk di Kendal. BUMDes memungkinkan banyak pemuda desa mendapatkan pekerjaan maupun menjadi pengusaha di desanya. Keterlibatan social entrepreneur juga terlihat dari platform Akademi Desa 4.0 yang dikeluarkan Kemendesa, sebagaimana Desa Pujon Kidul.

Internet of things memaksa semuanya berubah, sebagaimana financial technology (fintech). Pelanggan menginginkan proses yang simpel dan biaya yang rendah, dan asuransi menjadi insurtech (insureance technology). Di saat produk asuransi mobil mulai tidak relevan, asuransi kesehatan dan asuransi jasa masih mempunyai prospek yang cerah, sebagaimana smart house dan smart device. Data dan analytics mengubah basis dari kompetisi, sebagaimana Telematik (Telekomunikasi dan Informatika) dalam insurtech. Dari itu, Perusahaan asuransi incumbents harus melakukan shifting, berinovasi atau berkolaborasi sebagaimana Uber Insurance.

Masyarakat semakin terbiasa melakukan berbagai aktivitas keuangannya secara digital; industri fintech mulai menggantikan perbankan. Hal ini sebagaimana Western Union dan Transferwise. Urunan dana (crowdfunding) pun telah shifting  ke fintech, sebagaimana kitabisa.com, contoh nyata perpaduan gotong royong sebagai value Masyarakat kita dengan ekonomi digital di Masyarakat urban. Urunan dana (crowdfunding) pun bisa dipakai untuk membiayai investasi, sebagaimana Kickstarter (dengan contoh Cravar), Indeigogo, dan GoFundme. Fintech memberikan kemudahan untuk mengakses pelayanan finansial, sebagaimana Go-Pay, Amartha, Finansialku, dan Investree. Indonesia sendiri telah memili unicorn (startup dengan nilai valuasi lebih dari 1 miliar dolar AS): Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Dalam platform, olahraga dan game menciptakan lapangan baru yang menggeser boneka, kartu, dan permainan tradisional. Terjadi beberapa kali shifting pada cara bermain anak-anak, mulai dari mainan fisik, kemudian Pindak ke game konsol dan game PC, lalu sekarang bermain game di smartphone. Hal ini sebagaimana Barbie karya Mattle (1960) yang kemudian berhadapan dengan Hasbro dan Lego. Video game telah ada sejak 1970-an, dimana pada 2018 nilai pasar game smartphones mencapai 30,2 miliar dolar sementara PC mencapai 34,3 miliar dolar. Saat ini kita bisa menikmati generasi ke-8 dari game konsol, dimana industri game sendiri telah menghasilkan pendapatan sebesar 106,5 miliar dolar pada 2017. “Gamers”, sebutan untuk orang yang bermain game, kini menjadi profesi pekerjaan untuk beberapa orang, dimana pendapatan e-sports bersikisar 456 juta dolar pada 2017.

Periklanan erat hubungannya dengan strategi komunikasi dan pemasaran, riset, karya kreatif, dan penyebarannya melalui media, dan industri periklanan pun tekenapa dampak disruption. Pada tahun 1700 surat kabar mulai dikenal, dan pada 1906 placement sebagian iklan pun shfting ke radio. Tiga puluh tahun kemudian, televisi mulai hadir disusul dengan teknik percetakan berwarna. Dan di awal abad ini perputaran uang dalam bisnis periklanan telah shifting ke platform digital. Kehadiran dunia digital menimbulkan banyak profesi baru: selebgram, youtuber, data analytics, dsb, yang memicu munculnya influencer sebagai digital advertising. Harley Davidson’s Open Road Festival medio 2017 mengajarkan kita bahwa produk boleh lama namun komunikasi harus berbeda, dimana hal ini juga dilakukan oleh Coca-Cola dan Starbucks. App Belgiumize Me menunjukkan potensi multiplatform untuk meningkatkan awereness publik (marketing gamification), begitu juga dengan Coke On dari Coca Cola, My Reward dari Starbuck, dan Magnum Temptation dari MPH. Shifting dalam industri periklanan pun tak terhindarkan karena advertising dan marketing begitu erat dengan banyak aspek kehidupan manusia, sebagaimana perkembangan teknologi virtual reality (VR), teknologi artificial intelligence (AI), dan digital associates.

Sepinya Pasar Glodok (2017) yang pernah menjadi primadona pada masa 1990-an, menunjukkan bahwa selera Masyarakat telah berubah; dari berbelajan di mal menjadi berbelanja di pasar online atau e-commerce. Kemudahan berjualan online membuat jumlah wirausahawan meningkat drastic. Administrasi perpajakan dan bea cukai pun tengah dibenahi, sehingga kita dituntut untuk beradaptasi; dari offline menuju online. Pasar online dapat menghubungan para produsen langsung kepada calon konsumennya di mana pun berada. Pertumbuhan e-commerce di Indonesia dapat dilihat dari peningkatan yang dialami para pebisnis e-commerce sepergi Bukalapak, Blanja.com, dan JNE. Dari website e-commerce, sekarang telah menuju aplikasi e-commerce melalui smartphone sebagaimana Google Wallet, Tokopedia, dan IKEA Place.

Factory Outlet (FO) pun mulai ditinggalkan konsumen, yang diawali dengan tren celana jeans pada 1990-an, diikuti dengan barang sisa ekspor, dan munculnya internet. Perry pun, sebagai salah satu pendiri FO di Bandung, mengungkapkan hal yang sama, namun ia menyadari shifting dan memindahkan usaha ke kawasan wisata di Lembang. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen pun bisa naik kelas dan gaya hidup pun berubah, dimana hal ini menimbulkan blame trap.

Buatlah diri--produk—lembaga Anda tetap relevan. Kisah Barnes & Noble (peritel buku terbesar AS pada 2017) dan Amazon menunjukkan bagaimana bahanya terperangkap DNA lama. Kisah WIKA--yang awalnya dikenal sebagai perusahan jasa B2B—menunjukkan bahwa shifting bisa dilakukan jika SDM di dalamnya dibekali modal kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni. Begitu juga dengan Hasbro yang terkenal lewat produk mainan Transformers dan My Little Pony setelah sebelumnya menjadi produsen monopoli dan memulai sebagai pedagang kain perca. Juga Astra International yang didirikan oleh William, bekerjasama dengan pemerintah hingga perusahaan-perusahaan multinasional dan meluncurkan Toyota Kijang. Industri media merupakan contoh industri yang peling terkena dampak disruption dan shifting, dan CNN yang menyadari hal itu mengakusisi Beme. Kompas Gramedia pun mengalami pasang surut, dimana ia lahir dari majalah Intisari (1963). Beigtu pula Lindblad Expeditions (1958), penyedia jasa wisata yang melakukan kesepakatan dengan National Geographic pada 2004.

Manajeman memberikan guidance agar pegawai dan penerus melakukan inovasi berkelanjutan dengan ketekunan untuk memperbaiki diri, dimana keberhasilan tidak pernah bersifat final. Kuncinya: selalu tetap relevan, karena keberhasilan tidak bersifat tetap. Hal ini ditunjukkan oleh IBM—berdiri pada 1911 sebagai produsen alat pemotong keju dan daging—yang selalu berusaha untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Di tanah air sendiri, ada PT Telkom Indonesia—lahir pada 1965—yang sebelumnya dikenal dengan PT Perumtel, juga Astra International. Berbeda dengan natural shifting, the great shifting melakukan langkah-langkah “Tomorrow is Today”: menjadikan diri atau produk relevan sepanjang masa. Sementara perusahaan jamu Nyonya Meneer—berdiri sejak 1919—bangkrut pada 2017, Sido Muncul berkolaborasi dengan YouTubers di tahun yang sama.


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, February 2, 2024 0 comments

Sinopsis "Hatta (Jejak yang Melampaui Zaman) - Tempo" Bahasa Indonesia

 Hatta (Jejak yang Melampaui Zaman)
seri Tempo

JIKA masih hidup, dan diminta melukiskan situasi sekarang, Mohammad Hatta hanya akan perlu mencetak ulang tulisannya 40 tahun lalu: "Di mana- mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot.” Hatta tidak antipartai, tapi mengecam para politisi yang menjadikan "partai sebagai tujuan dan negara sebagai alatnya." Pena adalah senjatanya untuk memerdekakan bangsa, sehingga ia ditahan pada 1927, dan menulis pidato pembelaan Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka). Ketika wafat pada 1980, Hatta meninggalkan "30 ribu judul buku" dalam perpustakaan pribadi

Di Desa Aur Kota Bukit Tinggi, Saleha Djamil melahirkan Mohammad Hatta pada 14 Agustus 1902, yang kemudian tinggal di Gedung Tri Arga. Beliau selalu dikisahkan sebagai orang sederhana dan cermat pada waktu. Ia sering jalan kaki sendirian-tanpa pengawal-berkeliling kota setiap usai salat subuh, dan menegur warga yang pekarangan rumahnya penuh sampah. Pelajaran agamanya di masa kanak-kanak dia peroleh dari Syekh Mohammad Djamil Djambek. Masa-masa di MULO juga menjadi periode yang penting saat kesadaran politiknya sebagai anak bangsa. Sebagai anak muda, dia juga menemukan kesenangan hidup di Plein van Rome, lapangan sepak bola yang terletak di alun-alun kota. Di Padang, ada Universitas Bung Hatta yang didirikan oleh masyarakat dan sejumlah tokoh Minangkabau. Sedangkan di Bukit Tinggi, tegaklah Perpustakaan Bung Hatta-yang menyimpan ribuan judul buku.

Sang ayah; Syekh Muhammad Djamil, meninggal tatkala ia masih berusia delapan bulan, dan Mohammad Hatta tumbuh dalam buaian ibu, kakek, nenek, dan paman-pamannya. Setamat sekolah di Padang, pertengahan Juni 1919, Hatta berangkat ke Betawi untuk melanjutkan sekolah, dibawah asuhan Mak Etek Ayub Rais, pemilik Malaya Import Maatschappij, dan berangkat ke Belanda pada 1921. Selama 11 tahun, Hatta bergulat dengan berbagai aktivitas pergerakan di Negeri Belanda, termasuk memimpin organisasi pelajar dari Tanah Air di Eropa, Perhimpunan Indonesia. Pada Juli 1932, setelah sempat mengenyam ruang tahanan di Belanda, Hatta kembali ke Tanah Air. Sekitar bulan Desember 1932, Hatta terlibat dalam polemik dengan Sukarno, mengarahkannya menemani Mak Etek melakukan kunjungan bisnis ke Jepang pada Februari 1933, dimana ia mendapati julukan “Gandhi of Java”. Keduanya kembali ke Indonesia pada awal Mei 1933, dan Mak Etek ditangkap tak lama kemudian.

Bung Hatta, kau bukanlah 100 tahun kesendirian. Percakapan antara kita, sebuah dialog dengan masa silam, adalah percakapan yang tak terhingga. Pada tahun 1933, setelah Bung Karno ditangkap, juga berpuluh-puluh pemimpin lain, kau tak ingin melangkah surut. Kau tetap bersiteguh, juga ketika pemerintah kolonial membuangmu ke Digul. Semua itu agar "di kemudian hari, tanah air kita dapat maju". Dalam rapat Indonesische Vereeniging kau dan teman-temanmu menentukan untuk memberi nama tanah air ini "Indonesia"

September 1921, Mohammad Hatta tiba di Rotterdam Handelshogeschool, dimana ia mendapatkan kebaikan dari pemilik toko buku De Westerboekhandel. Di sana, ia mendapat gelar doctor ekonomi, menjadi Ketua Indonesische Vereeniging dan sempat lima setengah bulan dipenjara karena dituduh menentang pemerintah kolonial. Setelah mula-mula menginap di rumah seorang kenalan--seperti juga pelajar inlander lainnya--ia menetap sementara di Tehuis van Indische Studenten, sebuah asrama khusus bagi mahasiswa Hindia Belanda yang terletak di Jalan Prins Mauritsplein. Kediaman di Jalan Schoone Bergerweg 51 menjadi rumah tinggal Hatta yang terakhir sebelum ia kembali ke Indonesia pada 20 Juli 1932.

5 September 1921, kapal Tambora tiba di Pelabuhan Nieuwe, Waterweg, Roterdam, setelah satu bulan berlayar dari Teluk Bayur, dimana salah satu penumpangnya ialah Mohammad Hatta. Pada 17 Februari 1987, pemeluk Katolik merayakan Karnaval dan sebuah jalan di permukiman Haarlem memperoleh nama Mohammed Hattastraat (Mohammad Hatta), dengan ujung Hattastraat bertemu dengan Sutan Sjahrirstraat (Sutan Sjahrir). Dan pada 12 Agustus 2002 Mohammad Hatta memperingati hari lahirnya yang ke-100.

Menanggapi adanya judul provokatif sebuah karangan: “Is Hatta Marxist?”, Hatta membalasnya dengan risalah berjudul Marxisme of Epigonenwijsheid? ("Marxisme atau Kearifan Sang Epigon?"). Sekitar 10 meter dari pelabuhan, kita dapat melihat baliho besar bergambar Bung Hatta dan Sutan Sjahrir dengan tulisan "Peringatan Satu Abad Bung Hatta", dimana kota tersebut dulu disebut "Klein Europeesch Stad" (Kota Eropa Kecil). Di Banda inilah (11 Februari 1936-25 Maret 1938), keinginan-keinginan Hatta yang bersifat politik disegarkan kembali dengan membaca-baca majalah sambil minum kopi tubruk, sarapan sepotong roti (mereka berlangganan roti kepada warga Arab setempat) dan sebutir telur mata sapi.

Dengan kapal Fommelhaut (1 Februari 1936), Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir tiba di Teluk Neira, Banda, menuju rumah dr. Tjicto Mangunkusumo sebagai orang buangan. Di sana, keduanya menjadikan  Des, Does, Lily, Mimi, dan Ali, sebagai anak angkat. 31 Januari 1942, Hindia belanda memerintahkan Hatta-Sjahrir pulang ke Jakarta.

“Pemimpin berarti suri tauladan dalam segala perbuatannya…,” coretan tangan Hatta bertanggal 2 juli 1949, dua hari sebelum dia meninggalkan rumah yang terletak di Gunung Menumbing, dekat Mentok, Pulau Bangka. Tak jauh dari ruangan itu tergeletak bodi mobil Ford hitam bernomor polisi BN 10. Pada Desember 1948, Belanda menyerbu Yogyakarta (ibu kota Republik Indonesia kala itu) dan menangkap Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta. Selain mengunjungi penduduk, aktivitas favorit Hatta di Gunung Menumbing tidak berbeda dengan di tempat-tempat lain: membaca buku. Aktivitas turun gunung Hatta lebih meningkat ketika Bung Karno dan K.H. Agus Salim turut dipindahkan dari Parapat ke Bangka pada 5 Februari 1949.

Halida Nuriah Hatta, yang masih berusia 14 tahun, menemani sang ayah menengok Digul setelah menghadiri Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Irian Jaya pada 1969 tahun. Ia juga mengunjungi Banda Neira ketika Bung Hatta sekeluarga memenuhi undangan Des Alwi pada April 1973, dimana dua pulau kecil di sana dinamai Pulau Hatta dan Pulau Sjahrir.

Di Digul atau Tanah Merah, dataran terpencil di udik Papua, Mohammad Hatta menanam sayur dan belajar bertukang, ditemani es jeruk lemon kesukaannya. bukan cuma Van Blankenstein, tapi juga bahkan Hatta, seorang muslim taat yang berpendirian "di atas segala lapangan tanah air, aku hidup, aku gembira" itu, menyebut Digul sebagai "neraka dunia". 10 bulan di sana (hingga Desember 1935), Hatta menyibukkan diri dengan membaca saban sore, mengajarkan ilmu ekonomi dan filsafat dua kali sepekan, serta menulis kolom untuk surat kabar Pemandangan sebulan sekali.

Seorang pemuda belia berpose di sebuah rumah bersama enam orang perempuan berkebaya. Itu merupakan sebuah foto sebelum Sang pemuda-proklamator Mohammad Hatta diasingka ke Buven Digul setelah ditahan di Penjara Glodok. Pada Februari 1927 ia mewakili Indonesia menghadiri konferensi menentang imperialisme dan penjajahan yang diadakan di Brussel, Belgia. Seperti Hatta yang "dalam" dan menyimpan magma, foto-foto Hatta menjadi istimewa saat kita menelusuri sejarah di balik sebuah potret.

Jaap Erkelens ikut terlibat untuk berburu foto dalam rangka pembuatan buku Mohammad Hatta Hati Nurani Bangsa. Jaap adalah direktur perwakilan Indonesia untuk Koniklijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV), sebuah lembaga kajian bahasa dan antropologi milik Kerajaan Belanda.

Hatta tampil secara mengesankan dengan sikap seorang sarjana, seorang scholar, yang di samping berjuang dan terlibat aktif secara politik, selalu memberikan perhatian pada perkembangan ilmu pengetahuan dan mengumumkan tulisan-tulisannya menurut tata cara yang jamak dalam dunia akademis. Di antara para bapak bangsa itu barangkali hanya dia seorang (dan Tan Malaka, sampai tingkat tertentu) yang tekun menuliskan buku-buku teks, baik dalam bidang ekonomi (Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi), sejarah filsafat (Alam Pikiran Yunani,), maupun filsafat ilmu pengetahuan (Pengantar ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan).

Kabar itu menyengat Hatta dan membuatnya marah besar: Sukarno memutuskan menikahi Hartini. Berbeda dengan sahabatnya, yang bak Casanova, Hatta seperti kata Deliar adalah seorang puritein (dikenal tak pernah menunjukkan ketertarikan pada Perempuan). Tak cuma soal wanita, dalam banyak hal perbedaan dua tokoh yang dikenal sebagai Dwitunggal ini memang sejauh bumi dan langit. Perbedaan tersebut mencapai puncaknya ketika Sukarno menolak mengesahkan Maklumat X, dan kemudian mencanangkan Demokrasi Terpimpin pada 1956. Pada 20 Juli 1956, Hatta pun mengirimkan surat pengunduran dirinya ke DPR, diikuti dengan gugatan-gugatan terhadap Sukarno. Meski begitu, hubungan keduanya tetap dekat, sebagaimana Sukarno yang meminta Hatta untuk menjadi wali nikah untuk anak sulugnnya, Guntur. Jumat, 19 Juni 1970, merupakan pertemuan terakhir keduanya; Hatta menjenguk Sukarno, yang tengah diopname di rumahsakit tantara.

Rumah panggung berlantai dua di jantung Kota Bukit Tinggi sebagai replica rumah negarawan Mohammad Hatta dikunjungi sekitar 500 orang tiap bulannya. Dan peringatan satu abad Bung Hatta (12 Agustus) mengambil tema "Santun, Jujur, Hemat", yang amat selaras dengan sifat tokoh tersebut. Acara puncak yang direncanakan membutuhkan dana sekitar Rp 7 miliar. PT Pos Indonesia merayakannya dengan menerbitkan prangko edisi seabad Bung Hatta, sementara Bank Indonesia meluncurkan 2.000 keping uang emas dan perak bertajuk "Peringatan Satu Abad Bung Hatta".

Syahdan Hatta, di suatu saat dalam hidupnya, mengemban ide agama (khususnya Islam) dan kebangsaan. Di zaman Jepang, oleh pihak Nahdlatul Ulama, ia pernah ditawari untuk memimpin organisasi ini. Ia tidak keras membela Islam, tetapi semua tindak-tanduk dan tingkah lakunya, termasuk secara pribadi, dan dalam berjuang dan mengemukakan cita-cita (politik, ekonomi, sosial), ia selaraskan dengan tuntutan Islam. Ia turut serta dalam perumusan Pembukaan UUD 1945 dan mengusulkan kata-kata pengganti: "Ketuhanan Yang Maha Esa". Pada tahun 1973 ia mengingatkan Presiden Soeharto agar Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang dimajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat. Di zaman Jepang, oleh pihak Nahdlatul Ulama, ia pernah ditawari untuk memimpin organisasi tersebut.

Des Alwi, anak angkat Hatta, mengungkapkan bahwa di awal masa-masa pembuangan bersama Hatta dan Sjahrir diajak ke Pantai dan ternyata tak bisa berenang, dimana saat menaiki kapal pun Hatta selalu duduk di tengah. Kendati demikian, Hatta dikenang sebagai orang yang berdisiplin, terutama soal waktu, dimana ia saban hari mengelilingi Pulau Banda Melawati kebun pala sekitara pukul 4-5 sore. Di mata Sukarno, anak Bukit Tinggi itu sosok yang serius; tak pernah menari, tertawa, atau menikmati hidup.

Pada tanggal 15 Juli 1945, Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang bersidang di Pejambon, terlibat dalam debat panas: Haruskah kebebasan-kebebasan demokratis--hak menyatakan pikiran dan pendapat secara lisan dan tertulis, hak berkumpul dan hak berserikat--ditetapkan dalam undang-undang dasar atau tidak? Sukarno (dan Supomo) dengan gigih menolak, sedangkan Hatta (Muhammad Yamin, dan lain-lain) mendukung. Hatta: "Janganlah kita memberikan kekuasaan yang tidak terbatas kepada negara untuk menjadikan di atas negara baru itu suatu negara kekuasaan". Tanggal 4 November Hattalah yang menandatangani maklumat pemerintah yang mengizinkan pembentukan pluralitas partai. Dan pada 1957 Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai wakil presiden karena merasa tidak lagi sanggup menanggung kebijakan politik Presiden Sukarno.


 Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


 
;