Friday, October 27, 2023 0 comments

Sinopsis "Sang Penguasa - Niccolo Machiavelli" Bahasa Indonesia

 Sang Penguasa
by: Niccolo Machiavelli

Niccola Machiavelli menghadiahkan sebuah buku (Sang Penguasa) pada yang mulia Lorenzo De’ Medici disertai sebuah surat pengantar.

I: Semua negara dan wilayah kekuasaan tempat umat manusia bernaung berbentuk suatu negara republik atau suatu kerajaan.

II: Bagi kerajaan warisan yang bersifat turun-temurun; cukup untuk tidak melalaikan lembaga-Iembaga yang didirikan oleh nenek moyang raja dan kemudian menyesuaikan kebijaksanaan dengan situasi yang ada.

III: Negara-negara yang setelah ditaklukkan dipersatukan dengan suatu kerajaan yang sudah ada; : pertama, keluarga wangsa raja yang lama harus ditumpas habis; kedua, jangan membuat perubahan-perubahan entah dalam hukum maupun sistem perpajakan mereka. Tetapi kalau orang menguasai daerah-daerah yang berbeda bahasa, hukum, dan adat-istiadatnya, maka penguasa baru harus tinggal di wilayah tersebut, serta mendirikan koloni-koloni sebagai kunci wilayah tersebut, diikuti dengan melakukan pembelaan pada negara-negara yang lemah.

IV: Alasan mengapa Kerajaan Darius yang ditaklukkan Alexander tidak memberontak terhadap para penggantinya setelah kematiannya: semua kerajaan yang dikenal dalam sejarah diatur menurut salah satu dari dua cara, yaitu diatur oleh seorang raja yang ditaati oleh semua penduduk dan para menterinya atau diatur oleh seorang raja dan para bangsawan yang tinggi rendah kedudukan mereka ditentukan oleh garis keturunan mereka yang sudah lama ada. Contoh mutakhir mengenai dua macam pemerintahan tersebut diberikan oleh bangsa Turki dan raja Prancis.

V: Jika negara yang baru saja direbut sudah terbiasa hidup bebas dan mengikuti hukum mereka sendiri, ada tiga cara untuk memerintahnya secara aman. Pertama, dengan menghancurkannya; kedua, dengan secara pribadi bermukim di negara tersebut; dan ketiga, dengan mendirikan suatu oligarki yang akan menjamin negara tersebut tetap bersahabat dengan Anda. Contoh-contoh diberikan oleh bangsa Sparta dan bangsa Romawi.

VI: Orang-orang yang berhasil menjadi penguasa karena daya upaya sendiri dan bukan karena nasib mujur adalah Musa, Cyrus, Romulus, Theseus, dan orang-orang lain seperti mereka, juga Hiero dari Syracuse. Mereka harus bekerja keras untuk memperkuat kedudukannya, tetapi kemudian dengan mudah dapat mempertahankannya.

VII: Penduduk biasa yang menjadi penguasa hanya karena nasib mujur tanpa mengalami kesulitan apa pun untuk naik jenjang tersebut, besar sekali kesulitan yang dihadapinya dalam mempertahankan kekuasaannya. Hal ini ditegaskan oleh kisah Francesco Sforza, penguasa Milan, dan Cesare Borgia, pangeran Valentino.

VIII: Ada dua cara menjadi penguasa tanpa nasib baik atau pun kemampuan, yakni (1) dengan cara jahat dan keji dan (2) rakyat biasa menjadi penguasa di kota kelahirannya sendiri atas persetujuan sesama warga masyarakatnya. Contoh yang pertama ialah Agathocles, raja Syracuse, dan Oliverotto dari From dalam pemerintahan Paus Alexander VI. Karena itu perlu diingat bahwa kalau mau merebut suatu negara, penguasa baru haruslah menentukan berat penderitaan yang ia anggap perlu dibebankan pada rakyat.

IX: Seorang rakyat biasa yang menjadi penguasa karena jasa baik sesama (kekuasaan konstitusional), melalui dukungan rakyat atau bangsawan. Ia yang menjadi penguasa karena dukungan para bangsawan akan menghadapi kesulitan yang lebih besar daripada orang yang diangkat menjadi penguasa karena dukungan rakyat, sebagaimana Nabis, seorang raja bangsa Sparta, berhasil bertahan terhadap kepungan Yunani dan Romawi. Dari itu, seorang raja yang bijaksana harus menemukan cara-cara bagaimana rakyatnya dalam keadaan apa pun, selalu  menggantungkan diri padanya dan pada kekuasaannya.

X: Dalam membahas sifat kerajaan-kerajaan ini, perlu dipertimbangkan satu hal lain, yaitu, apakah raja mempunyai kedudukan sedemikian rupa sehingga, dalam keadaan bahaya, ia dapat berdiri sendiri atau apakah ia harus selalu meminta bantuan dan perlindungan orang lain. Hal ini sebagaimana kota=kota di Jerman yang menikmati kebebasan penuh. Dari itu, seorang raja yang memiliki suatu kota yang kuat dan tidak dibenci rakyatnya, tidak dapat diserang.

XI: Negara-negara gerejani didirikan dengan keuletan atau keberuntungan tetapi dikelola tanpa menggunakan kedua hal tersebut. Pendeknya pemerintahan Paus mengakibatkan kekuasaan mereka tidak begitu dihargai di Italia hingga muncullah Alexander VI.

XII: Dasar setiap negara ialah hukum dan pasukan yang baik. Pengalaman telah menunjukkan bahwa hanya para raja dan negara republik yang memiliki angkatan perang berhasil baik dan pasukan bayaran hanyalah mendatangkan kekalahan. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh Kerajaan Roma dan Sparta, juga Swiss, sementara Chrtago merupakan contoh dalam hal ketergantungan pada pasukan bayaran, juga Sforza atas Milan dan kehinaan Italia oleh Charles.

XIII: Kalau meminta negara tetangga untuk membantu dan mempertahankan negara dengan pasukannya, pasukan itu disebut pasukan bantuan, dan pasukan ini sama tidak bergunanya seperti tentara bayaran. Hal ini sebagaimana dicontohkan Paus Julius II, Hiero dari Syracuse, juga keruntuhan kekaisaran Romawi.

XIV: Raja hendaknya tidak mempunyai sasaran ataupun kesibukan lain, kecuali mempelajari perang dan organisasi dan disiplinnya, karena itulah satu-satunya seni yang dibutuhkan seorang pemimpin. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Francesco Sforza, Philopoemen, dan Cyrus.

XV: Raja harus cukup bijaksana untuk menghindari skandal sehubungan dengan keburukan-keburukan perilaku yang akan menghancurkan negara.

XVI: Seorang raja tidak perlu bertindak murah hati untuk membuat dirinya tersohor, kecuali kalau ia mau mempertaruhkan dirinya; jika ia bijaksana, ia tidak akan berkeberatan dianggap sebagai seorang yang kikir.

XVII: Manusia mencintai menurut kehendak bebasnya, tetapi takut terhadap kehendak raja, dan seorang raja harus mengandalkan apa yang ada padanya, bukannya pada apa yang ada pada orang lain. Ia hanya harus menghindari dirinya dibenci.

XVIII: Sebagaimana Alexander VI, seorang raja tidak perlu memiliki semua sifat baik (penuh perhatian, setia akan janji, bersih, dna alim), tetapi ia harus bersikap seakan-akan memilikinya.

XIX: Kisah bangsa Canneschi menegaskan bahwa seorang raja dicintai oleh rakyatnya tidak perlu khawatir terhadap adanya pembangkangan. Negara yang diperintah dengan baik dan raja yang bijaksana selalu berusaha keras untuk tidak membuat para bangsawan berputusasa dan berusaha memuaskan dan membahagiakan rakyatnya, sebagaimana Kerajaan Prancis.

XX: Mengenai benteng, ia bisa berguna atau tidak, tergantung pada keadaan, dimana benteng yang terbaik yang perlu dibangun ialah menghindari jangan sampai dibenci oleh rakyat.

XXI: Seorang raja harus berusaha agar dari setiap tindakannya, keagungan dan kemuliaan diperolehnya. Dan seorang raja dijunjung tinggi kalau ia menyatakan dirinya secara terang-terangan memihak atau menentang seseorang. Perlu dicatat di sini bahwa seorang raja jangan pernah masuk persekutuan yang agresif dengan seseorang yang lebih kuat daripada dirinya sendiri, kecuali kalau memang terpaksa

XXII: Kesan yang diperoleh pertama kali mengenai seorang raja dan kebijaksanaannya ialah kalau orang melihat orang-orang yang ada disekelilingnya. Dari itu, penting bagi raja untuk bijaksana dalam memilih para menterinya melalu rasa percaya satu sama lain.

XXIII: Nasihat yang bijaksana, dari mana pun datangnya, tergantung pada kebijaksanaan raja, dan bukan kebijaksanaan raja tergantung pada nasihat yang baik.

XXIV: Raja-raja Italia, seperti raja 'Napels, pangeran Milan, dan sebagainya, yang telah kehilangan negaranya, kita akan melihat bahwa mereka semua memiliki kelemahan yang sama dalam hal pengaturan angkatan perang mereka, beberapa dari antara mereka menimbulkan rasa permusuhan di kalangan rakyat atau kalau rakyat memihak mereka, dan mereka tidak tahu cara menjalin persekutuan dengan para bangsawan.

XXV: Benar nasib mujur menguasai separuh dari perbuatan-perbuatan kita, tetapi separuh tindakan lainnya dibiarkan untuk kita atur sendiri. Dan sebagaimana Paus Julius II, lebih baik bersikap impulsif daripada berhati-hati.

XXVI: Setelah membahas segala sesuatu yang saya utarakan, saya bertanya pada diri sendiri, apakah bukan saatnya sekarang ini Italia memilih seorang raja baru?


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, September 29, 2023 0 comments

Sinopsis "Man’s Search for Meaning - Viktor E. Frankl" Bahasa Indonesia

 Man’s Search for Meaning
by: Viktor E. Frankl

Buku ini sekadar cacatan berbagai pengalaman pribadi, penderitaan yang tak putus-putus sebagaimana ditanggung oleh para tawanan Nazi. Mari kita ambil contoh kasus tentang rencana pengangkutan yang secara resmi diumumkan untuk memindahkan sejumlah tawanan tertentu ke kamp lain; tetapi umumnya hampir dapat dipastikan bahwa tujuan akhirnya adalah kamar gas. Setiap orang hanya dikendalikan satu pemikiran: bertahan hidup demi keluarga yang menunggi mereka di rumah, dan menyelamatkan kawan-kawan. Saya, tawanan nomor 119.104, hampir sepanjang waktu ditugaskan untuk menggali dan membuat lintasan jalan kereta api. Sekali waktu, saya menggali sebuah terowongan, tanpa bantuan siapa pun, untuk menempatkan pupa utama saluran air di bawah sebuah jalan, dimana saya mendapatkan sebuah kupon premium (12 batang rokok / 12 mangkuk sup). Seribu lima ratus tawanan menempuh perjalanan dengan kereta api selama beberapa hari: setiap gerbong berisi 80 tawanan, dan berhenti di Auschwitz. Dalam kondisi delusion of reprieve, kami terkurund di dalam barah yang barangkali dibangun untuk menampung dua ratus tawanan, dengan seperlima ons roti sebagai jatah makan untuk empat hari. Dengan meninggalkan barang bawaan di kereta, kami berbaris untuk ditunjuk ke kanan atau ke kiri, dimana 90% ke kiri, yakni ke ruang “mandi”. Kemudian, kami diliputi rasa humor yang menyakitkan; kami tahu bahwa kami tidak bisa kehilangan apa-apa lagi kecuali hidup kami yang benar-benar telanjang. Para tawanan di Auschwitz yang sudah melalui periode syok pertama, tidak lagi takut terhadap kematian. Dua minggu di kamp konsentrasi (fase kedua), kami menyaksikan kematian (pasien), tanpa perasaan apa pun (apati), dan ini terjadi berulang-ulang setiap ada (pasien) yang meninggal. Bagian yang paling menyakitkan dari pukulan adalah hinaan yang menyertainya. Meskipun sempat berselisih dengan seorang Capo, seorang Capo menyukai saya karena saran-saran psikoterapis yang saya berikan dan menempatkan saya di barisan pertama; kebaikan hati seperti itu sangat penting. Karena beratnya kekurangan gizi yang diderita para tawanan (sup encer sekali sehari, ditambah sedikit roti), satu persatu penghuni gubuk meninggal dunia; “Tubuh ini, tubuh saya, sudah benar-benar seperti sesosok mayat.” Waktu yang paling sulit dari dua puluh empat jam kehidupan di kamp adalah saat-saat bangun pagi, ketika sirene tengah malam berbunyi tiga kali. Secara umum, para tawanan juga mengalami apa yang disebut "hibernasi budaya," dengan dua kekecualian, politik dan agama. Satu pikiran membuat saya termenung:Manusia diselamatkan oleh cinta dan di dalam cinta.” Ketika kehidupan batin tawanan mulai meningkat, dia juga menyadari keindahan seni dan alam yang sebelumnya tidak dia sadari. Upaya untuk mengembangkan rasa humor dan memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang lucu merupakan suatu muslihat, bagian dari pelajaran tentang seni kehidupan. Sejalan dengan itu, hal-hal yang sangat sepele pun dapat memberikan kebahagiaan yang amat besar. Saya bersedia menjadi tenaga medis sukarela di sebuah kamp yang dihuni penderita tifus, karena menyadari bahwa kalau memang harus mati, setidaknya kematian saya punya arti. Semua orang benar-benar sudah berubah menjadi hanya sekadar nomor: hidup atau mati-sama sekali tidak penting; kehidupan si "nomor" sama sekali tidak relevan. Ketika para tawanan yang sakit siap dikirim ke "kamp istirahat", nama saya (artinya, nomor tawanan saya) tercantum dalam daftar, dimana tidak ada satu tawanan pun yang yakin bahwa tujuan konvoi ini benar-benar ke kamp istirahat. Hari terakhir kami di kamp konsentrasi, aku kembali bermkasud untuk melarikan diri bersama seorang teman, namun Palang Merah Internasional tiba, diikuti dengan serdadu SS yang memasukkan para tawanan ke truk, dan medan pertempuran sampai ke kamp kami. Apa pun bisa dirampas dari manusia. kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia--kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan. kebebasan untuk memilih  jalannya sendiri. Seorang pria yang tidak bisa melihat akhir dari "eksistensi sementaranya" tidak akan bisa meraih tujuan tertinggi dalam hidupnya. Seorang filsuf Jerman; Spinoza berkata: “Emosi, yang sedang menderita, tidak akan lagi menderita setelah kita membuat gambaran yang jelas dan benar dari penderitaan tersebut.” Tawanan yang sudah kehilangan kepercayaan akan masa depan--masa depannya sendiri--sedang menuju ke arah kehancuran. Kondisi tersebut membawa dampak yang membahayakan bagi daya tahan tubuh mereka, dan akibatnya sebagian besar tawanan meninggal. Pentingnya harapan tersebut sesuai dengan ungkapan; “Dia yang tahu "mengapa" ia hidup, akan mampu menghadapi "bagaimana" dalam bentuk apa pun” (Nietzsche). Tindakan sabotase bisa dijatuhi hukuman gantung, dan pencurian kentang di gudang membuat 2.500 tawanan memilih untuk berpuasa. Dalam prosesnya, saya diminta memberikan ceramah, dimana saya menegaskan pentingnya makna hidup melalui ungkapan Nietzsche: "Was mich nicht umbringt, macht mich starker" (Segala sesuatu yang tidak membunuh saya, membuat saya jadi lebih kuat). Adapun para penjaga kamp, mereka biasanya memang memiliki sifat sadis, namun ada juga beberapa yang bahkan tidak pernah menyentuh kami. Dari itu bisa diungkapkan bahwa Kebaikan manusia bisa ditemukan pada setiap kelompok, meskipun di dalam kelompok yang secara keseluruhan kita kutuk sekalipun. Kita pun tiba pada tahap ketiga dari reaksi mental seorang tawanan: kondisi psikologis tawanan setelah dibebaskan, dimana mereka mengalami “depersonalisasi”, yang mengarah pada kerusakan kesehatan moral. Pengalaman puncak dari semuanya ialah bahwa setelah semua penderitaan yang dia jalani, tidak ada lagi yang perlu dia takutkan-kecuali Tuhannya.

Berbeda dengan psikoanalisis, logoterapi menerapkan metode yang tidak terlalu retrospektif dan tidak terlalu introspektif. Ia lebih memusatkan perhatian pada masa depan, atau pada pencarian makna hidup yang harus dilakukan oleh si pasien di masa depannya (pencarian makna hidup). Riset mengungkapkan bahwa 89 persen orang mengakui bahwa manusia membutuhkan "sesuatu" agar dia dapat hidup. Keinginan tersebut bisa menimbulkan frustasi (frustrasi eksistensial) yang bisa memicu neurosis (neurosis noogenik). Upaya mencari makna hidup bisa menimbulkan ketegangan batin--bukan keseimbangan batin--sebagai prasyarat kesehatan mental. Kehampaan eksistensial mengarah pada konformisme (ingin melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain) atau totalitarianism (melakukan apa pun yang diinginkan orang lain dari dirinya), dan bahkan bunuh diri. Yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna spesifik dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Karena itu, Logoterapi menganggap sikap bertanggung jawab sebagai hakikat utama eksistensi manusia. Menurut logoterapi, ada tiga cara yang bisa ditempuh manusia untuk menemukan makna hidup: (1) melalui pekerjaan atau perbuatan; (2) dengan mengalami sesuatu atau melalui seseorang; dan (3) melalui cara kita menyikapi penderitaan yang tidak bisa dihindari. Salah satu prinsip dasar dari logoterapi: perhatian utama manusia bukan untuk mencari kesenangan atau menghindari kesedihan, tetapi menemukan makna dalam hidupnya. Teknik logoterapi yang lazim disebut paradoxical intention (niat paradoksikal) menekankan bahwa kesenangan harus selalu dan harus tetap merupakan efek samping, dimana kesenangan tersebut akan hancur atau rusak dengan sendirinya jika dijadikan tujuan. Manusia memang makhluk yang terbatas, dan kebebasannya juga terbatas, dimana kebebasan manusia tidak terbebas dari kondisi, namun manusia bebas untuk menyikapi berbagai kondisi.

"Optimisme di tengah tragedi" berarti bahwa seseorang itu optimistis, dan tetap optimistis meskipun dia mengalami "tiga serangkai tragedi kehidupan"; (1) penderitaan (mengubahnya menjadi keberhasilan); (2) rasa bersalah (menjadikannya sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik); dan (3) kematian (menjadikannya sebagai dorongan untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab). Seperti yang sudah kita lihat, manusia bukan berusaha mencari kebahagiaan, melainkan mencari alasan untuk menjadi bahagia; dan kebahagiaan itu bisa diperoleh dengan mewujudkan potensi makna hidup yang merupakan bagian yang tersembunyi dalam setiap situasi. "Kalau pun akhir yang baik hanya terjadi dalam satu dari seribu kasus, siapa yang bisa menjamin bahwa kasus Anda cepat atau lambat tidak akan berakhir baik suatu hari nanti? Namun, pertama-tama Anda harus tetap hidup untuk melihat bahwa hari itu datang, sehingga sejak saat ini tanggung jawab untuk tetap hidup tidak meninggalkan Anda." Makna dalam logoterapi adalah apa (makna) yang terkandung dan tersembunyi dalam setiap situasi yang dihadapi seseorang sepanjang hidup mereka. Dalam Logoterapi, ada tiga jalan untuk menemukan makna hidup; melalui karya atau tindakan, melalui pengalaman atau mengenal seseorang, dan melalui penderitaan atau situasi tanpa harapan. Sebagai bukti hidup dari “argumenta ad hominem” (kekuatan jiwa manusia untuk menentang), Jerry Long berkata; “Leher saya memang patah, tetapi itu tidak akan mematahkan hidup saya.” Hiduplah seakan-akan Anda hidup untuk kedua kalinya, dan bertindaklah seakan-akan Anda sedang bersiap-siap untuk melakukan kesalahan yang pertama kalinya. Frankl mengungkapkan bahwa "Kita sendirilah yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kehidupan kepada kita, dan kita hanya dapat merespons semua itu dengan bertanggung jawab terhadap eksistensi kita."

*****

Tanggal 27 Januari 2006, bertepatan dengan peringatan 61 tahun pembebasan kamp kematian Auschwitz yang menewaskan 1,5 juta orang, untuk pertama kalinya dunia menjadi saksi atas peringatah Hari Holocaust lnternasional. Beberapa bulan kemudian, diperingati pula satu tahun kelahiran salah satu tulisan paling menonjol dari masa mengerikan itu, yangpertama kali diterbitkan di Jerman pada 1946 sebagai A  Psychologist Experiences the Concentration Camp dan kemudian menggunakan judul Say Yes to Life in Spite of Everything. Pada edisi-edisi selanjutnya kemudian dilengkapi dengan pengenalan terhadap logoterapi dan catatan mengenai optimisme di tengah tragedi, atau kiat untuk tetap optimis menghadapi rasa sakit, bersalah, dan kematian. Versi terjemahan lnggrisnya, yang pertama kali diterbitkan pada 1959, diberi judul Man's Search for Meaning. Dalam tulisannya, ia memperingatkan kita bahwa "dunia tengah berada dalam kondisi buruk, tetapi semuanya akan tetap memburuk, kecuali masing-masing dari kita melakukan yang terbaik."


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


Friday, September 1, 2023 0 comments

Sinopsis "Jingga dan Senja - Esti Kinasih" Bahasa Indonesia

 Jingga dan Senja
by: Esti Kinasih

Tari berdiri di barisan depan dalam upacara keduanya sebagai anak SMA. Karena datang terlambat, Ari menyelinap lewat pagar sekolah dan meminta Tari, sebagai perempuan barisan terdepan untuk mundur, dimana Ari kemudian menyelamatkan Tari dari teriknya panas matahari. Tari tidak mampu fokus mengerjakan PR karena teringat cowok tersebut, diikuti dengan pertanyaan teman-temannya, dimana Tari pun kemudian terkejut mengetahui cowok itu adalah Ari, biang onar sekaloh.

Dalam rangka menemani adiknya, Geo, pergi ke dokter gigi, Tari terjebak dalam tawuran, tepatnya saat anak-anak SMA Brawijaya pergi ke SMA Airlangga, Tari yang bersembunyi di samping tong sampah, didapati oleh seorang anak SMA Brawijaya yang kemudian berusaha mengusirnya hanya untuk mendapati Tari memukulkan kamusnya pada ana tersebut. Ari tiba untuk membawa Tari kembali ke sekolah, bahkan mengantaskannya ke kelasnya, yang tengah berada di pelajaran kimia, Bu Pur. Para cewek rela tidak makan pada jam istirahat untuk mendengarkan informasi dari Nyoman tentang Ari, yang ternyata belum pernah pacaran.

Angga, sebagai pentolan SMA Brawijaya, pergi ke SMA Airlangga untuk mengembalikan kamus pada Tari, dimana ia selipkan catatan kecil di dalamnya. Dalam prosesnya, Ari menyadari kehadiran Angga. SMA Airlangga kembali terlibat tawuran dengan SMA Brawijaya yang mendatangi tempat mereka, dimana Tari dan Fio berdiam ketakutan di tengah-tengah. Menyadari hal itu, Ari segera beranjak untuk menyelamatkan hanya untuk mendapati Angga lebih dahulu tiba dan membawa keduanya. Menyadari kepergian anak-anak SMA Brawijaya dengan membawa Tari dan Fio, Ari segera pergi mengejar seorang diri, dimana ia diminta untuk berlutut demi keselamatan keduanya.

Mendapati laporan Bram, Angga pun mengajak Tari untuk pulang, sementara Bram mengantarkan Fio. Dalam prosesnya, Angga meminta Tari untuk menemaninya makan, dan berhasil mendapatkan informasi tentang Tari, termasuk nomor teleponnya. Dalam kecemasan, Ari memaksa teman-temannya untuk bermain futsal hingga larut malam. Ari berangkat pagi ke sekolah dan menanyakan pada Jimmy perihal Tari, dimana Ari kemudian pergi dari sekolah dan meminta Oji untuk mengecek keadaan Tari. Keesokan harinya, Ari langsung pergi menemui Tari di kelasnya untuk mengetahui apa yang terjadi, sekaligus memastikan nama Tari; Jingga Matahari. Bel masuk berbunyi, tapi Ari justru melangkahkan kakinya menuju Kantian, membeli roko dari Mas Wiji. Di jam istirahat, ketika teman-temannya menanyakan apa yang terjadi, Ari kembali datang dan mengajak Ari untuk makan bersama di kantin, dimana Ari kemudian meminta nomor hp Tari dan memberitahu nama lengkapnya.

Keterkejutan Tari perihal nama lengkap Ari dilanjutkan dengan hal lainnya, dimana anak-anak segera mempertanyakan apa yang terjadi. Malam harinya, Tari menelpo Fio, menceritakan apa yang terjadi, dimana Angga kemudian menelpon, bermaksud untuk mengantarkan Tari ke sekolah. Mendapati Angga mengantar Tari hingga depan sekolah, Ari segera menanyakan hal itu pada Tari, dan kemudian membawa Tari ke kelasnya. Wali kelas Tari (Bu Pur) tiba bersama wali kelas Ari (Bu Sam) untuk membawa Tari kembali ke kelasnya hanya untuk mendapati Ari mengikuti. Setelah berdiskusi dengan Fio, Tari mendapatkan kabar bahwa Veronica, putri pemilik Yayasan, mencarinya. Sementara itu, Ari menerima tugas-tugas sebagai hukuman dari Pak Rahardi. Dengan menumpang mobil Pak Isman hingga halte bus pertama, Tari dan Fio merasa lega, tanpa menyadari bahwa Angga mengikuti, diikuti dengan Ari tak begitu jauh di belakang.

Keesokan harinya, Tari mendapati Ari-lah yang datang menjemputnya, dimana Ari memperkenalkan diri dengan sopan pada ibunya. Ari mengendarai motornya dengan sentakan karena Tari tak bersedia untuk berpegangan padanya, hingga akhirnya Tari pun menerima keterpaksaan. Namun tak berapa lama kemudian, Angga tiba untuk mencegat Ari, dan hantaman yang sulit untuk dihadang dengan menopang sepeda motor, membuat Angga berhasil membawa Tari ke sepeda motornya. Ari pun segera mengangkat sepeda motornya dan melakukan pengejaran. Dalam kebingunan kehilangan jejak Angga, Ari menerima telepon dari Angga, dan mencegatnya yang baru saja dari SMA Airlangga. Sementara Tari masih dilanda shock, dan Fio membawanya ke kantin, Ari tiba dua puluh menit kemudian mempertanyakan sikap Tari dengan tegas, yang ternyata Tari balas dengan tegas pula. Penolakan Tari yang ketakutan, membuat amarah Ari memuncak dan keadaan kanti pun porak-poranda. Mendapati keadaan yang sudah diluar kendali, Oji memutuskan untuk menahan Ari, menelpon Ridho untuk datang membantu. Kejadian tersebut menjadi pembicaraan ramai. Di tengah pelajaran, Ari memutuskan untuk pulang, mengunjungi tempat kenangan. Mendapati informasi dari Ridho perihal sepupu Angga yang menjadi anak baru di sekolah mereka, Ari pun pergi ke SMA Brawijaya untuk menemui Angga. Angga pun kemudian pergi menemui Gita bersama Bram. Keesokan harinya, Bram mempertanyakan keseriusan Angga perihal Tari. Saat tengah berkendara, Ari terkejut mendapati motornya ditendang sehingga ia terpental, dan Angga tiba untuk mengungkapkan kemarahannya, yang ia tanggapi dengan santai. Angga pun pergi menemui Tari, mengungkapkan bahwa ia tidak bisa lagi menjemput Tari. Di sekolah Tari mendapati keanehan, dengan kabar bahwa Kak Vero tengah mencarinya. Malam harinya, Tari menerima telpon dari Angga yang menanyakan bagaimana keadaannya. Dalam kemarahan, Tari melabrak Ari di kelasnya, dan harus berhadapan dengan Vero setelahnya. Mengetahui hal itu, Ari segera melompat dari tempat duduknya, dan mendapati Tari hendak terisak dikarenakan bajunya tersobek. Sementara Oji mengantar Tari kembali ke kelasnya, Ari memberikan senyuman amarah pada Vero. Untuk memastikan keadaan, Ari memberikan peringatan pada Tari di depan gerbang sekolah hanya untuk mendapati Tari membalas tantangan.

Dalam rangka window shopping bersama Fio, Tari mendapati keberadaan Ari di foodcourt, yang kemudian mendatanginya dan mengungkapkan diri sebagai Ata, saudara kembar Ari. Setelah mengobrol cupu lama, Ata terkejut mengetahui nama Tari, nama lengkapnya, sehingga ia pun mengungkapkan nama lengkapnya sendiri.

Ari yang tengah duduk di tepi lapangan futsal dan mendapati pandangan ari, segera pergi menghampirinya. Mendapati pesan Ari setelah telepon yang tidak diangkat, Tari berdecak kesal, dan kemudian mengirimkan nomor Ari pada Ata. Ari mendatangi kelas Tari dengan ekspresi kaku, dimana ia mempertanyakan perihal Ata. Di jam olahraga, Tari mendapati Ari ikut serta bermain di lapangan football, dimana Ari mendatanginya dan menggandengnya untuk berlari. Pak Adang tiba untuk menghentikan tindakan Ari, sehingga Tari akhirnya bisa berlatih basket dengan tenang hanya untuk mendapati Fio tiba dan mengungkapkan bahwa Ari telah membawa bajunya. Mendapati seragamnya dipakai oleh Ari dan saling tertawa dengan teman-temannya, Tari hanya bisa berdiam diri, dimana Pak Adang pun tak banyak membantu hingga Tari tak mampu berkonsentrasi dalam latihan. Setelah melepas seragam Tari, Ari kemudian membantu Tari dalam latihan basket, membuat mereka menjadi tontonan. Tari mengungkapkan perbuatan Ari pada Ata, dan Oji kemudian tiba dengan membawa paperbag berisi coklat dari Ari.

Di koridor, Ari menyapa Tari, dan kemudian menerima telepon dari Ata, dimana Ari kemudian menghapus nomor Ata dari hp Tari. Di saat menunggu telepon Ata, Tari mendapati telepon dari Angga, yang ternyata sudah ada di depan rumahnya, sehingga Tari pun tak bisa membuat alasan, dimana Angga menyadari apa yang terjadi dan memutuskan untuk mundur. Keesokan paginya, dengan mata sembap, Tari tiba di sekolah mendekati bel berbunyi hanya untuk mendapati Ari juga baru saja tiba dan menanyakan keadaannya. Di jam istirahat, Tari akhirnya menerima telepon dari Ata, yang menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dimana Ata kemudian mengungkapkan bahwa ia tengah berada di depan sekolahnya.

Selesai jam terakhir, Tari dan Fio segera beranjak menuju gerbang untuk menemui Ata, yang ternyata menunggu di depan kompleks. Dengan mengendarai Everest, Ata membawa Tari dan Fio ke sebuah rumah makan sederhana dan kemudian menanyakan apa yang telah terjadi. Di saat Tari dan Fio tengah membicarakan Ata, Ari muncul dan menengahi mereka, dimana Ari kemudian mendatangi Tari dan Fio yang tengah makan di kantin. Setelah insiden di kantin tersebut, Ari mengirimkan SMS perihal kesungguhannya pada Tari.


Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.


 
;