150 Kisah ‘Umar
Ibn Al-Khaththab
by: Ahmad ‘Abdul ‘Al Al-Thahthaw

Mendapati
sejumlah perempuan kaum Quraisy hendak meninggalkan negeri, Umar berkata:
‘Semoga Allah menyertai kalian.’ Mendapati kaum Quraisy bermusyawarah hendak
membunuh Nabi Muhammad, Umar mengajukan diri dan berpapasan dengan Nu’aim ibn
‘Abdullah yang mengungkapkan bahwa keluarganya telah masuk Islam. Dalam
kemarahan, Umar langsung menemui saudara perempuannya, Fathimah, yang tengah
membaca lembaran surat at-ThaHa bersama suaminya, Sa‘id ibn Zaid. Mendapati
perkataan Umar yang memebaca surat tersebut, Khabbab keluar dari tempat persembunyian
(berharap terkabulnya doa Nabi), dan kemudian mengantarkan Umar menemui
Rasulullah. Dengan kesungguhannya, Umar berkata di hadapan Rasulullah: “Wahai
Rasulullah, bukankah kita berada di jalan yang benar apabila kita mati amupun
hidup?”, mengarahkan Rasulullah keluar dalam dua barisan menuju Masjid
al-Haram, dimana Rasulullah kemudian memberi gelar al-Faruq (pembela yang haq)
pada Umar. Umar menyiarkan keislamannya dengan menemui Jamil ibn Ma‘mar
Al-Jamhi, dan perkelahian terjadi hingha tengah hari. Ketika hendak hijrah ke
Madinah, ‘Umar bermaksud untuk bertemu dengan ‘Ayyasy ibn Rabi‘ah dan Hisyam
ibn Al-‘Ash di perkampungan Bani Ghaffar, dimana Hisyam tertahan dan
‘Ayyasy diperdaya oleh Abu Jahal dan
Harits ibn Hisyam. Dengan menyandang pedang dan busur anak panahnya, Umar
mendatangi Ka’bah untuk melakukan tawaf dan shalat di Maqam Ibrahim, diikuti pengumuman
perihal keberangkatannya untuk hijrah.
Pendapat Umar
sesuai dengan ayat-ayat Allah pada tiga perkara: Sholat di Maqam Ibrahim (QS
Al-Baqarah [2]: 125), ayat hijab, dan nasihat untuk istri-istri Rasulullah (QS
Al-Tahrîm [66]: 5). Doa Umar perihal khamar, diikuti turunnya QS Al-Baqarah
[2]: 219, QS Al-Nisâ’ [4]: 43, dan QS. Al-Mâ’idah (5) ayat 90-91. Juga Adab
meminta izin, QS Al-Nur [24]: 58. Perihal kematian ‘Abdullah ibn Ubay pun,
pendapat Umar bersesuaian dengan QS al-Taubah [9]: 84. Adapun QS al-Nisa’ merupakan
sedekah Allah pada kita.
Di hadapan Sa’id
ibn al-Ash, Umar mengungkapkan bahwa ia hanya membunuh pamannya, Al-Ash ibn
Hisyam ibn al-Mughirah. Dalam perang Badar, Umar menunjukkan tempat kematian
sahabat sebagaimana Rasulullah tunjukkan, dan itu benar adanya, dimana
Rasulullah berbicara pada mereka (ahli badar) yang telah dimasukkan ke dalam
sumur. Mengetahui kedatangan ‘Umair ibn Wahab, Umar segera menemui Rasulullah
dan membawa Umair ke hadapan Rasulullah dengan pedang di lehernya. Menanggapi salah
satu perkataan Abu Sufyan di penghujung Perang Uhud, Umar menjawab: “Tidak
sama, teman-teman kami yang meninggal tempatnya di surga, sementara teman-teman
kalian yang tewas tempatnya di neraka.” Dalam
perang Khandaq, Umar mengungkapkan kekesalannya karna belum shalat Ashar
disaat metahari terbenam, dimana Rasulullah mengungkapkan hal yang sama dan
segera mengerjakan shalat. Pada Perang Hudaibiyah, Umar menyarankan Utsman atas
dirinya sebagai utusan Rasulullah. Pada Sya’ban 7 H, Umar memenuhi perintah Rasulullah
untuk memerangi Bani Hawazin di Turbah dan menolak untuk memerangi Bani
Khasy’am. Setelah Perang Hunain, Umar yang mendapati seseorang mempertanyakan
keadilan Rasulullah, berkata: “Izinkan saya memenggal batang lehernya.”
Mendapati Suhail ibn ‘Amr sebagai tahanan, Umar meminta izin untuk mencabut
gigi seri Suhail, namun Rasulullah menolak. Ketika Perjanjian Hudaibiyah, Umar bertanya
pada Rasulullah “Mengapa kita menghina Agama?”, lalu mendatangi Abu Bakar, dan
kemudian turunlah Surah Al-Fath. Mendapati Abu Sufyan dibawa oleh ‘Abbas ibn
‘Abdul Muththalib, Umar berkata: “Abu Sufyan, musuh Allah! Segala puji bagi
Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian pun.”
Mendapati para
wanita bersembunyi disebabkan kedatangan Umar, Rasulullah bersabda: Demi Zat
yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidak akan ada setan yang menemuimu di
satu jalan yang kamu lalui, kecuali ia pasti akan mencari jalan lain selain
jalan yang kamu lalui itu.’ Rasulullah mengungkapkan bahwa Umar merupakan seorang
jenius dalam mengambil air. Rasulullah juga mengungkapkan perihal seorang
wanita yang berada di sebuah istana (milik umar) di surga. Ketika sakit,
Rasulullah yang mendapati Umar mengimami shalat, segera mengutus orang kepada
Abu Bakar. Mendapati perintah sedekah Rasulullah, Abu Bakar membawa setengah
hartanya dengan harapan mengalahkan Abu Bakar, hanya untuk mendapati Abu Bakar membawa
seluruh hartanya. Mendapati Umar tidak berkenan memberikan maaf, Abu Bakar
pergi menemui Rasulullah, dimana umar yang menyesal tidak memberikan maaf pun
jua pergi menemui Rasulullah. Mengetahui wafatnya Rasulullah, Umar memberikan
pidato, yang diikuti pidato Abu Bakar disertai QS Ali Imran[3]: 144. Umar
kemudian berpidato mengangkat Abu Bakar untuk dibaiat, dimana kaum Anshar
sempat memberikan penolakan, namun Umar berhasil meyakinkan mereka. Mengetahui
wafatnya Rasulullah, pasukan Usamah ibn Zaid meminta kembali melalui Umar,
dimana Abu Bakar memberikan jawaban keras pada Umar. Mendapati penuturan Abu
Bakar perihal memerangi kaum muslimin yang enggan membayar zakat, Umar berkata;
Demi Allah --- aku tahu bahwa dialah yang benar. Mendapati al-Aswad al-Ansi
membakar Abu Muslim al-Khaulani di Yaman, Umar merangkul dan menangis mendapati
Abu Muslim di Madinah. Mendapati penolakan Abu Bakar perihal usulannya atas
harta Mu’adz ibn Jabal, Umar menyampaikan sendiri usulannya pada Mu’adz, dimana
Mu’adz juga memberikan penolakan hingga ia bermimpi. Mendapati kekhawatiran
Rasulullah atas ditawannya sang paman, Abbas, Umar menawarkan diri untuk
menemui mereka. Menanggapi permintaan Uyainah dan al-Aqra’ perihal tanah kosong
yang telah disetujui Abu Bakar, Umar memberikan penolakan tegas (sebagai saksi)
dan mendatangi Abu Bakar.
Di akhir
hayatnya, Abu Bakar meminta Utsman untuk menuliskan wasiat untuk menunjuk
penggantinya, dimana Utsman menuliskan nama Umar disaat Abu Bakar tak sadarkan
diri. Umar menyampaikan khutbahnya di hari pertama menjadi khalifah; “Ya Allah,
sesungguhnya aku ini orang yang keras, maka lunakkanlah aku…”. Mengetahui
ketakutan umat atas kekerasannya, Umar berpidato; “..Maka, aku letakkan sifat
kerasku pada kelembutan Nabi…”. Sementara Abu Bakar dijuluki Khalifah
Rasulullah, Umar dijuluki Amirul Mukminin. Ketika memerintahkan Sa’ad ibn Abi
Waqqash menuju Irak, Umar berwasiat; “..Tidak ada hubungan antara seorang hamba
dengan Allah kecuali ketaatan kepada-Nya…”. Setelah memukuli lelaki dan
perempuan di kolam air Masjid al-Haram, Umar yang bertemu dengan Ali
mengungkapkan ketakutannya akan binasa. Mendapati perbendaharaan Kisra yang
dibawa Sa’ad ibn Abi Waqqash, Umar berkata; “..Namun, segala yang diridhai
Allah jauh lebih baik..”. Mendapati pengaduan seorang istri perihal suaminya,
dan bagaimana Ka’ab al-Asadi memberikan putusan, Umar mengangkat Ka’ab menjadi
hakim di Bashrah. Uyainah meminta bantuan al-Hurr ibn Qais agar bisa
dipertemukan dengan Umar, dimana ia mengungkapkan ketidakadilan Umar, sehingga
Umar pun marah dan al-Hurr membacakan QS al-A’raf[7]: 199. Apabila membuat
larangan, Umar mengumpulkan keluarganya untuk mengungkapkan bahwa ia akan
menghukum mereka 2x lipat jika melanggar larangan-nya. Setelah membagi-bagikan
pakaian rampasan perang, Umar yang memulai pidatonya, mendapati Salman berkata;
“Kami tidak mau mendengar”. Saat keluar dari masjid, Umar menangis mendapati
seorang Wanita (Khaulah binti Hakim) berkata; “..Maka, bertakwalah kepada Allah
terhhadap rakyatmu..”. Mendapati sahabatnya yang menegur orang yang memberika
nasehat, Umar berkata; “Tidak ada kebaikan pada diri kalian jika kalian tidak
mengucapkannya, dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak menerimanya
dari kalian.” Dalam pembagian uang berdasarkan prestasi dan keturunan, Umar
lebih mengutamakan Usamah dibandingkan anaknya sendiri (Abdullah). Mendapati
perbendaharaan putranya, ‘Ashim yang pergi ke Irak, Umar berkata; Ambillah dan
simpanlah di Baitul Mal. Mendapati sang mertua meminta harta dari Baitul Mal,
Umar berkata; “Engkau ingin aku menghadap Allah sebagai raja yang berkhianat?”.
Umar mengirimkan kepada Zainab binti Jahsy bagian harta miliknya (jatah
tahunan), dimana Zainab menyedekahkan harta tersebut dan kemudian meninggal
dunia. Mendapati Umar memasuki sebuah rumah malam malam, Thalhahh mendatangi
rumah tersebut dan mendapati seorang perempuan tua buta berkata: “Celakalah
dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar?”. Mendapati kedatangan
seorang saksi, Umar bertanya; “Apakah engkau pernah menemaninya dalam
perjalanan sehingga engkau mengetahui kemuliaan akhlaknya?”. Ketika keempat
putra al-Khansa syahid di Qadisiyah, Umar berkata; “Berikanlah rezeki kepada
al-Khanza bagi keempat putranya secara terus menerus hingga ia wafat.”
Mendapati seseorang yang hendak menceraikan istrinya, Umar berkata; “..Manakah
yang lebih penting, merawat cinta atau menahan kebencian?”. Umar menuruti
nasihat Jarir ibn ‘Abdillah dalam peristiwa keluarnya angin disaat tibanya
waktu shalat. Umar berkata pada sahabat-sahabatnya; “Bercita-citalah!”, dan
berkata; “Aku bercita-cita muncul orang-orang yang bisa aku mintai bantuan untuk
menegakkan kalimatullah.” Mendapati kedatangan pemuka kaum Quraisy serta
Sebagian bekas budak mereka, Umar mendahhulukan Bilal dan Suhaib, sehingga Abu
Sufyan pun marah. Mendapati kemarahan ‘Ali sebab tidak disejajarkan dengan
lawannya, Umar mencium kepala ‘Ali dan berdoa; “Semoga Allah tidak
menghidupkanku Ketika Abu Hasan telah tiada.” Ketika mengunjungi Makkah, Umar
menerima pengadukan masyarakat perihal Abu Sufyan, sehingga Umar pun
mendatanginya dengan cambuk. Mengetahui ada seoran laki-laki pemberani dari
Syam yang selalu meminum khamar, Umar menuliskan surat untunya: ..QS. Al-Mu’min
[40]: 1-3. Mendapati Tradisi penduduk Sungai Nil, Amr ibn al-‘Ash mengirimkan
surat pada Umar, dan Umar pun membalas surat disertai secarik kertas untuk
dilempatkan ke Sungai Nil. Umar mencium Hajar Aswad dan berkata; “…Kalaulah aku
tidak melihat Rasulullah menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” Umar
memecat Khalid bin Walid dari pimpinan pasukan di Syam disertai surat yang
berisi alasan pemecatan; “ …Aku ingin mereka tahu bahwa Allahlah yang
melakukannya.” Mendapati pensifatan orang Yaman, Umar berkata; “ …orang-orang
yang bertawakal adalah yang menanam benih ke tanah kemudian bertawakal kepada
Allah.” Mendapati seorang pria tua yang mengecat jenggotnya saat menemui pengantian
Wanita, Umar memukulnya dan berkata; “Engkau telah menipu orang.” Mendapati
hadiah (suap), Umar menolak dan mengadilinya, juga berkata; “Jauhilah oleh
kalian segala bentuk hadiah.” Mendapati pembunuhan atas seoran kafir setelah
Islam-nya, Umar berdoa; “Ya Allah! Aku tidak menyaksikan pembunuhan ini, tidak
memerintahkannya, dan tidak juga menyetujuinya.” Mendapati kematian seorang
pria yang berusaha memerkosa seorang pelayan Wanita, Umar berkata; “Itulah
korban yang menjadi hak Allah. Tidak wajib diyat atas pembunuhnya.” Mendapati
penuturan seorang ayah perihal anak perempuannya yang hendak menikah, Umar
berkata; “Apakah engkau ingin menampakkan sesuatu yang telah Allah tutupi?”.
Mendengar ratapan seorang wanita dari sebuah rumah, Umar memukulnya dan
berkata; “Pukul saja wanita peratap ini. Dia menangis bukan karena duka,
melainkan untuk mengambil dirham kalian.” Saat mendatangi negeri Syam, Umar
singgah ke rumah Abu ‘Ubaidah dan mempertanyakan perihal harta di dalamnya,
dimana Abu ‘Ubaidah berkata; “Sesungguhnya barang-barang ini yang bisa
mengantarkan kami ke akhirat dengan selamat.” Suatu Ketika Umar melewati tempat
sampah dan berhenti di dekatnya, sehingga membuat sahabat-sahabatnya terganggu,
lalu ia berkata; “Inilah dunia yang kalian inginkan.” Dalam sebuah perjamuan
Bersama Utsman, Umar berkata: “Sesungguhnya aku telah menyaksikan suatu makanan
dan aku senang bila tidak menyaksikannya lagi.” Umar meminang Ummu Kultsum, Ali
ibn Abi Thalib, dan berkata; “Sesungguhnya aku mendapatkan suatu dari kemuliaan
yang tidak didapatkan oleh orang lain.” Mendapati penuturan sang anak gembala;
“..lalu apa yang akan aku katakan kepada Tuhanku pada Hari Kiamat nanti?”, Umar
membebaskan anak tersebut dan berkata; “Ucapanmu telah membebaskanmu di dunia.
Aku harap Allah membebaskanmu pula di akhirat. Insya Allah.” Dalam perjalanan
menuju Syam, Umar yang mengetahui terjadi wabah di Syam, memutuskan untuk
Kembali, kemudian berkata; “Kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir-Nya
yang lain.” Muawiyah mengirimkan rantai dan uang melalui ayahnya, Abu Sufyan,
kepada Umar, dan mendapati Umar menggunakan rantai tersebut pada Abu Sufyan.
Disebabkan berkecamukanya perang saat fajar, Anas ibn Malik al-Anshari berkata
perihal shalat-nya; “Shalat itu lebih menggembirakanku daripada dunia dan
seisinya.” Umar berkata; “Jika masih diberikan kesempatan hidup, aku akan
berkeliling mengunjungi rakyatku selama satu tahun penuh.” Menghadapi perkara
wanita yang melahirkan anak dengan usia kandungan 6 bulan, Umar menjatuhkan
hukuman rajam hingga Ali mengemukakan alas an QS al-Ahqaf: 15 dan QS
al-Baqarah: 233. Mendapati penuturan Hafshah perihal pakaian dan makanannya,
Umar berkata; “Sesungguhnya perumpamaanku dengan dua sahabatku (Rasulullah saw
dan Abu Bakar)…”. Dikatakan bahwa ‘Umar melakukan tawaf di Ka’bah memakai kain
dengan 12 tambalan. Mendapati kasus tuduhan atas al-Mughirah ibn Syu’bah, Umar
berkata; “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan setan gembira dengan
penderitaan para sahabat Muhammad saw.” Mendapati kematian seorang Yahudi dan
penuturan pemuda yang membunuh Yahudi tersebut disebabkan senandungan, Umar
berkata; “Allah tidak menghukummu, dan engkau tidak terkena qishash karenanya.”
Mendapati sebuah dokumen bertuliskan Sya’ban, Umar memusyawarahkan penetapan
tahun sebagai acuan (16 H). Mendapati penuturan pembantu perempuannya, Umar
berkata; “Aku beritahukan kepada kalian apa yang menjadi hakku dari harta Allah
(Baitul Mal), yaitu dua pakaian…”. Mendapati pemberian 1 dirham temuan yang
diberikan Mu’aiqib pada pelayannya, Umar berkata; “Celakalah engkau.. apakah
engkau ingin aku dituntut umat Muhammad tentang uang satu dirham ini pada Hari
Kiamat?.” Mendapati sang istri, ‘Atiqah, bersedia menimbang minyak wangi, Umar
berkata; “Tidak boleh.” Mendapati penuturan seorang pemuda yang ia pukul karena
berbuat dosa, Umar berkata; “Engkau benar. Mohonkanlah ampunan kepada Allah
untukku, dan balaslah pukulanku.” Mendapati sang anak mengambil sebuah cincin
dari keranjang perhiasan dan memasukkannya ke dalam mulut, Umar mengambilnya
Kembali dan menangis. Suatu hari Umar yang tengah duduk bersama para sahabat
berkata; “Jika seandainya ada yang menyeru dari langit, wahai sekalian manusia,
sesungguhnya kalian akan masuk surga, kecuali satu orang, Aku takut orang itu
adalah aku.” Mewaspadai terjadinya kembali tahun kelabu, mengarahkan Umar
membuat teluk (Teluk Amirul Mukminin). Mendapati seorang Rahib yang kurus dan
lemah, Umar mengangis sebab teringat QS al-Ghasyiyah: 3-4. Mendapati
kekhawatiran orang-orang perihal syair al-Hathi’ah, Umar pun membeli kehormatan
mereka. Utusan kaisar Romawi pergi menemui Umar dan mendapati beliau sedang
tidur di bawah terik matahari dengan berbantalkan tongkatnya. Umar berkata;
“Siapa yang berdagang sebanyak tiga kali, lalu tidak mendapatkan keuntungan,
hendaklahh ia beralih pada usaha lainnya.” Mendapati keadaan salah satu Kambing
Sedekah, Umar berkata; “…Janganlah kalian merampas hak orang lain dan mengambil
harta-harta terbaik mereka.” Mendapati para sahabat yang mengikutinya secara
diam-diam, Umar berkata; “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahatahu bahwa aku
lebih takut kepada-Mu lebih daripada takutnya mereka kepadaku.” Mendapati
kesangsian Zaid ibn Tsabit atas kedatangannya, Umar berkata; “Akulah yang punya
kerperluan, maka aku pula yang harus datang.” Mendapati Mu’aiqib (bendahara
Baitul Mal) sakit, Umar mencarikannya tabib hingga ia didatangi dua orang
laki-laki dari Yaman. Pada suatu malan, karena kekhawatirannya setelah membaca
QS ThaHa: 132, Umar membangunkan orang-orang yang tidur di rumahnya. Mendapati
Umar yang terburu-buru disebabkan seekor unta sedekah yang kabur, ‘Ali berkata;
“Engkau memberikan teladan yang berat bagi penerusmu.” Mendapati penuturan seorang laki-laki dari
Mesir, Umar segera mengirimkan surat pada ‘Amr ibn al-Ash untuk menghadap
bersama anaknya.” Mendapati pandangan tajam orang-orang saat mengenakan pakaian
baru, Umar berkata; “…suatu hari akan pergi seperti Ketika datang.” Mendapati
pemalsuan stempel oleh Mu’an ibn Za’idah, Umar memukulnya sebanyak 100 kali
hingga mengasingkannya. Mendapati keputusan Umar untuk merajam seorang wanita
gila yang berzina, Ali mengungkapkan bahwa pena (catatan amal) telah diangkat
atas tiga orang: orang gila, orang tidur, dan anak kecil. Suatu malam, Umar
melewati rumah seorang pria yang sedang shalat dan membaca QS al-Thur: 1-7,
Umar pun pulang ke rumahnya dan jatuh sakit sehingga tidak keluar rumah selama
satu bulan. Mendapati laporan korupsi gubernur Syam, ‘Iyadh ibn Ghanam, Umar
segera memanggil Iyadh dan memberikannya perlengkapan gembala beserta 300 ekor
kambing. Suatu malam, Umar yang tengah memeriksa kondisi rakyatnya, mendapati
sebuah rumah dimana seorang putri berkata kepada ibunya; “Wahai ibuku! Jika
Umar tidak tahu, sungguh Tuhan Umar mengetahui”, dan Umar pun menikahkan putranya
(‘Ashim) dengan wanita tersebut. Mendapati kaum muslimin melakukan shalat
sendiri-sendiri di malam Ramadhan, Umar berkata; “Seandainya orang-orang itu
aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam, tentu lebih baik.” Saat
tengah menjaga satu rombongan saudagar, Umar yang melaksanakan shalat mendapati
tangisan bayi yang terus menerus, sehingga ia pun mengubah peraturan (jatah
hanya untuk bayi yang sudah disapih) dan memberikan jatah untuk bayi yang baru
lahir. Suatu malam di Shirar, Umar dan pelayannya, Aslam, mendapati seorang
wanita beserta anak-anaknya yang menangis di hadapan periuk karena lapar,
sehingga Umar pun belari ke Gudang untuk mengambil gandum dan daging, dimana
Aslam yang bermaksud membawakan makanan tersebut mendapati Umar berkata;
“Apakah engkau mau memikul dosaku pada Hari Kiamat?”. Saat terjadi gempa, Umar
berkata; “Wahai manusia, tidaklah gempa bumi ini terjadi, melainkan karena ulah
yang kalian kerjaka. Andaikan gempa ini terjadi lagi, aku tidak akan bersama
kalian!”. Mendapati sebuah kemah dimana seorang perempuan tengah merintih
karena hendak melahirkan sementara sang suami menungguinya di luar, Umar segera
pergi menemui istrinya, Ummu Kultsum, dimana ia juga membawa periuk berisi
makanan. Mendapati seorang lelaki yang berjalan berjingkrak-jingkrak, Umar berkata;
“Hentikan berjalan seperti itu”, hingga beliau memukulnya tiga kali. Mendapati
seorang wanita yang terkena penyakit menular tengah tawaf, Umar berkata; “Wahai
hamba Allah, bukankah lebih baik engkau tinggal di rumahmu daripada menularkan
penyakitmu kepada orang lain?!” Sepeninggal Umar seseorang memerintahkan wanita
tersebut untuk keluar, dan wanita tersebut berkata; “Demi Allah, aku tidak akan
menaatinya Ketika dia masih hidup dan mengkhianatinya Ketika dia telah wafat.”
Bersama dengan anak-anak lainnya, Sinan memunguti balah yang terjatuh dari
pohon dan berdiam diri mendapati kedatangan Umar, dimana Umar mengantarkannya
ke rumah. Mendapati keteguhan ‘Abdullah ibn Hudzafah sebagai tawanan Raja
Romawi, Umar pun mencium kepalanya dan mewajibkan setiap muslim untuk
melakukannya. Mendapati seorang pria berbicara dengan seorang wanita di jalan,
Umar memukul pria tersebut hanya untuk mendapati bahwa keduanya adalah suami
istri yang baru tiba di Madinah. Umar mendatangi wanita-wanita yang ditingalkan
suami mereka untuk berperang dan membawa mereka ke pasar untuk memenuhi
kebutuhan mereka. Untuk memperluas masjid, Umar hendak membeli rumah ‘Abbas
hanya untuk mendapati penolakan, sehingga Umar bermaksud mengambil jalan paksa,
namun Abbas mengarahkannya pada Hudzaifah sebagai hakim. Mendapati seorang
pengemis yang masih meminta-minta padahal sudah mendapatkan banyak roti, Umar
berkata; “Kamu bukan pengemis, tetapi pedagang,” lalu memberikan roti-roti
tersebut pada unta-unta sedekah. Suatu ketika Umar menyerempet Salamah hingga
merobek bajunya, dimana setahun kemudian Umar memberinya 600 dirham dan
berkata; “Demi Allah, aku tidak melupakannya.” Mendapati pelayan memberikan
susu dari unta sedekah, Umar berkata; “Celakalah!
Apakah engkau hendak memberiku minum dari api neraka?”. Mendapati penuturan
Ahnaf Ketika tengah mengurus unta sedekah, Umar berkata; “Budak manakah yang
lebih rendah dariku? Sesungguhnya barang siapa yang memimpin urusan kaum
muslimin, dia memiliki kewajiban atas mereka, sebagaimana kewajiban seorang
majikan atas budaknya, yaitu memberi nasihat dan menjalankan Amanah.” Mendapati
sekelompok orang datang dan menyanjugnya sementara ‘Auf menentang hal tersebut,
Umar berkata; “Demi Allahh, Abu Bakar lebih baik daripada minyak wangi dan aku
lebih sesat daripada unta peliharaan.” Mendapati senandungan seorang wanita
saat ronda malam, Umar membatasi waktu kepergian pasukan perang setelah
bertanya pada Hafshah. Mendapati pelayan yang menunggangi kuda berhari-hari
demi seekor ikan yang diinginkannya, Umar berkata; “Engkau tega menyiksa
binatang gara-gara kemauan Umar. Demi Allah, Umar tidak akan memakannya.” Sisa
satu pakaian bagus dalam pembagian pakaian, dimana mereka menyarankan agar
diperuntukkan pada Ummu Kultsum, Umar berkata; “Ummu Sulait lebih berhak
menerimanya.” Umar menyarankan seorang nenek tua untuk masuk Islam, dimana
beliau memenuhi kebutuhannya dan kemudian berdoa; “Ya Allah, aku hanya
menyarankan, bukan memaksanya.” Mendapati seorang badui yang menasehatinya,
Umar berkata; “Wahai anak kecil, berikanlah kepadanya bajuku ini, demi Hari
perhitungan itu, bukan karena syairnya.” Saat tahun kelabu, Umar bersumpah
tidak akan memakan minyak samin, susu, dan daging hingga semua orang hidup
layak. Mendapati seorang budak Nasrani-nya yang menolak masuk Islam, Umar
berkata; “Tidak ada paksaan dalam agama.”
Umar yang
mendapati istrinya (Ummi Kulsum) menangis, segera mamanggil Ka’ab yang
mengungkapkan bahwa “…engkau berada pada salah satu pintu Neraka Jahanam dan
mencegah manusia terjerumus ke dalamnya.” Umar yang tengah menunaikan haji,
mendapati seorang badui berteriak di atas bukti Arafah; “Wahai Khalifah
Rasulullah, demi Allah, Amirul Mukminin tidak akan pernah berdiri lagi di atas
Bukit Arafah setelah ini.” Sepulang haji Umar berdoa; “Ya Allah, usiaku telah
lanjut,.. maka aku memohon kepada-Mu agar dapat mati Syahid di jalan-Mu dan
wafat di bumi Rasul-Mu.” Dalam khutbah Jumat, Umar berkata; “Aku bermimpi dan
menganggap itu adalah pertanda akan tibanya ajalku.” Dahulu Umar tidak
mengizinkan tahanan yang sudah baligh untuk memasuki Kota Madinah hingga
al-Mughirah ibn Syu’bah (Gubernur Kufah) meminta izin untuk Abu Lu’lu’ah
(Fairuz), seorang pandai besi, pengukiran, dan perkayuan. Umar ditikam saat
membaca surat pada rakaat pertama (6 tikaman), dimana sang pelaku juga menebas
saat melakukan pelarian sebelum akhirnya menebas dirinya sendiri. Umar tak jua
sadarkan diri hingga dikatakan padanya; “Shalatlah, wahai Amirul Mukminin!”. Mendapati
hiburan Abdullah ibn Abbas, Umar berkata; “Demi Allah, andai saja aku memiliki
emas sepenuh dunia, pasti akan aku tebus diriku dengannya dari azab Allah Swt.
sebelum aku melihat azab itu.” Menanggapi saran al-Mughirah ibn Syu’bah, Umar
berkata; ”Celaka kamu! …Aku sudah berupaya semampuku dan telah mengharamkan
jabatan itu atas keluargaku.” Mendapati penuturan Abdurrahman ibn ‘Auf perihal
utang-utangnya (86.000 dinar), Umar berkata; “Aku berlindung kepada Allah dari
engkau yang mengatakan itu…” Umar memerintahkan putranya untuk meminta izin
pada Ummul Mukminin Aisyah agar dimakamkan Bersama Rasulullah dan Abu Bakar.
Note:
- dikhususkan bagi yang sudah membaca bukunya [sebagai pengingat].
- bagi yang belum membaca bukunya, amat disarankan untuk membacanya [jika tertarik], sebab setiap penulis memiliki cara penyampaiannya sendiri-sendiri.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact